Home > L Murbandono Hs > HAKIKAT CINTA (2)

HAKIKAT CINTA (2)

Oleh: L Murbandono Hs

Dalam penelusuran hakikat cinta ini, di bagian lalu antara lain ditemukan, bahwa sekali pun ternyata cinta amat kompleks dan luas, toh muaranya selalu menyangkut individu, pribadi, sebagai norma dan puncak cinta. Karena itu, cinta, bisa menjadi apa saja tergantung sang individu terkait.

Kenyataan adalah, pada umumnya tak ada individu yang bisa lepas dari situasi sosial. Karena itu, legimitas cinta juga harus ditelusuri dari letaknya dalam bingkai sosial. Daripada ribut-ribut, okelah, anggap saja asumsi tersebut betul, meski sejatinya masih dibutuhkan debat dan diskusi plus uraian dan elaborasi yang lebih luas.

Nah, jika cinta memang bersangkut paut dengan masalah sosial, maka muara gunjang ganjing dan hiruk-pikuk gugat-kilah-opini di sekitar politik dan atau politik-politikan di Tanah Air kita itu, agaknya menyiratkan kerinduan public akan cinta. Banjir KKN dan eyel-eyelan soal HAM adalah tanda paling transparan mengenai keamburadulan menangkap cinta. Barangkali mereka berdoa, moga-moga selagi hidup, sempat melihat cinta bersemi di setiap ufuk pagi.

Sialnya, makhluk yang bernama cinta ini dewasa ini agaknya ngilang-ngilang melulu. Di mana dia? Bagaimana sejatinya wajah aslinya? Jawabannya bisa apa saja. Sebab cinta itu kata besar yang kualitasnya sama dengan kebenaran, kebaikan, kejujuran, keadilan, kemuliaan dstnya yang selalu diklaim sebagai hal yang dimiliki oleh siapa saja yang mengatakannya.

Sebagai manusia yang mengandung rasa dan akal dan akal-akalan, tiap orang bisa dan boleh merumuskan cinta sesuai kualitas dan kodrat masing-masing. Tidak mengherankan terdapat seabrek-abrek versi cinta. Ada cinta tegak lurus, cinta bengkok, cinta kiwir-kiwir, cinta monyet, cinta sejati, cinta harta, cinta ibu, cinta tanah air, cinta Romeo Yuliet, cinta homo, cinta lesbian, cinta rohani, cinta abadi, cinta kilat, dan sejuta satu jenis cinta yang lain. Ia bisa menjadi biang konflik apabila setiap pencinta memaksakan persepsi cintanya kepada orang lain, yang belum tentu sepaham.

Soalnya, mengapa sang cinta suka ngilang-ngilang melulu? Banyaklah kemungkinannya. Di antaranya, barangkali pusing memikirkan diri sebagai biang konflik. Sebab, rumusan cinta yang satu sering terbentur rumusan yang lain, dan tak bisa dipertemukan. Jika demikian, adakah gunjang-ganjing yang gelap justru bisa menjadi basis menuju ke cinta?

Mengapa 1001 rumusan cinta tidak bisa bertemu dan akur? Ini wajar saja. Meski ujungnya selalu aduhai, tetapi cinta itu sekaligus urakan dan liar. Ia samasekali tidak punya norma. Akal, alasan, kilah, opini dan apa saja bisa dilakukan demi cinta, yang sebetulnya cuma cara untuk menipu. Manipulasi dalam memformulasikan cinta itu tentunya bikin sebal. Sebab, utak-atik merumuskan apa saja, apalagi merumuskan cinta, hanya untuk membela kejahatan, adalah kriminal. Ya, kita boleh sebal akan situasi semacam ini, tapi pengalaman tiap individu di dalam sejarah sarat bukti bahwa cinta itu menjadi begitu amat rentan dan ringkih, sebab kebohongan bersifat abadi.

O, jadi agaknya cinta bersangkut-paut dengan sejarah? Bukan cuma bersangkut- paut, bahkan sejarah itu ibu cinta, sebab cinta adalah pesaing sang waktu, gudang segala perbuatan besar, saksi masalalu, teladan masakini dan monitor masadepan. Ia lentur tetapi tidak bisa patah. Ia selalu mengapung di atas kepalsuan, bagai minyak di atas air. Karena itu, mari kita sama-sama mengucapkan cinta, barangkali setan akan malu!

O, betapa hebat nilai, hakikat dan maksud cinta, sehingga tidak jarang kita bisa menjadi nekat karena tersetrum dia. Dalam rangka kenekatan itu, bahkan umpama Tuhan tidak krasan di dalam cinta lalu meninggalkannya, mungkin kita berani memilih cinta dan membiarkan Tuhan pergi. Ini logis saja. Sebab, cinta itu begitu kokoh dan perkasa sehingga Tuhanpun tak mampu mengubahnya.”

Entahlah, garis merah macam apa yang bisa ditarik dari seluruh deskripsi di atas. Rasanya ruwet sekali dan tidak ada garis merahnya. Kecewa? O, jangan! Meski situasinya menjadi semacam itu, agaknya cinta itu tidak serumit yang kita duga. Sebab, fondasi yang tak boleh diganggu gugat adalah, cinta tidak pernah rumit atau pelik. Cinta menjadi seolah-olah rumit, karena muncul opini, kilah dan akal-akalan, yang selalu muncul di setiap zaman berganti. Karena itu, manusia harus mempunyai pegangan. Tuhan, dan atau Alam, telah dengan gratis  menganugerahi manusia akalbudi, agar mampu memilih antara cinta dan kepalsuan. Manusia harus memilih, sebab tidak bisa memiliki keduanya sekaligus.

Sukarkah pemilihan itu? Samasekali tidak. Sebab panduannya jelas. Jangan lupa, cinta adalah tujuan pemaduan pemikiran (spekulasi) dengan pengalaman (pengetahuan empiris) di bawah bimbingan akal. Jika di dalam praktek hal tersebut tampak sulit, itu logis belaka. Sebab, mengatakan cinta itu sukar, sebagaimana menyembunyikannya.

Nah, sekarang kita seperti masuk lingkaran setan, dalam menelusuri cinta. Mula-mula dikatakan rumit dan kompleks, lalu dikatakan mudah sebab pedomannya jelas, tapi ujungnya tetap saja sukar manakala akan dikatakan atau disembunyikan. Jadi, bagaimana ini? Tidak usah bagaimana-bagaimana, sekali pun mutar-muter tadi tetap saja membuat cinta serasa berbebelit-belit. Agaknya memang betul, cinta itu memang bisa apa saja. Cinta bisa menjadi ini atau itu tapi sekaligus bukan ini dan bukan itu. Masalahnya, cinta itu bukan kenyataan, bukan argumen dan bukan kesimpulan sebab substansinya tergantung sumbernya. Makna cinta tergantung pengucapnya, jadi, relatif. Tapi secara normatif harus dikatakan, bahwa, cinta adalah rangkuman segala legitimasi yang terkumpul dari aneka fakta yang terbukti membahagiakan, yang cuma bisa ditemukan di dalam laku keutamaan. Maka, cinta adalah pengetahuan yang mampu memahami keutamaan sebagai sumber kebahagiaan.

Rupanya, cinta bisa bukan saja melebar, tetapi berkobar-kobar. Pantas saja jika cinta itu sejak masa purba dicari-cari, sebagai kerinduan tak terpuaskan, dewa orang-orang bebas, dan Putri Sang Waktu. Tetapi sekalipun berkobar-kobar, tapi tetap dihadang keraguan. Masalahnya, cinta adalah cahaya menyilaukan hingga orang menangkapnya dengan mata tertutup, takut buta. Cinta memang prasyarat kebijaksanaan, tetapi begitu kebijaksanaan ditemukan, atau seolah-olah sudah ditemukan, lalu muncul keraguan.

Jadi, keraguan agaknya juga harus masuk di halaman, apabila cinta itu ibarat buku. Tetapi apa yang meresahkan dari keraguan? Bukankah dia cuma sisi lain dari kepercayaan? Jika hal ini masih dikejar juga dalam penalaran logika, tidak usah kuatir, sebab cinta itu justru baru menjadi relatif jelas jika disandingkan dengan kepalsuan dan keraguan. Logika dan penalaran tentangnya, bisa disimak dari tiga jalur penalaran.

Pertama, cinta itu bagai cahaya matahari, menyilaukan, membuat orang enggan memandangnya berlama-lama. Cinta memang maya tapi bisa jadi perangkap. Sekali manusia terperangkap, ia akan terus gelisah mencarinya.

Kedua, kepalsuan itu bagai cahaya bintang-bintang yang indah, memikat banyak orang. Dari sini manusia bisa terjerumus dalam cinta semu dan palsu, yang manakala terbongkar, akan jadi faktor yang menghancurkan diri sendiri.

Ketiga, dalam konteks dua jalur penalaran tersebut, muncul keraguan, sebagai faktor yang melekat dalam cinta. Keraguan menjadi prasyarat menuju cinta. Dengan bijak menyikapi keraguan, maka ziarah mencari cinta tak akan tegang ialah “menerima” kepalsuan dan kebobrokan sebagai realitas hidup. Juga, menerima sosok gelap tersebut sebagai “jodoh” atau sisi lain cinta.

Apabila tiga jalur itu penalaran itu dikembangkan, maka akan tak seorang pun bisa mengklaim diri sebagai wasit, manakala berhadapan dengan fenomena bernuansa cinta. Sebab, cinta selalu beriring dengan kebaikan dan keindahan, yang membuat manusia menemukan keberanian baru untuk menghadapi apapun.

Bahwa kebaikan dan keindahan mengiringi cinta, itu sudah pasti, bukanlah hal baru. Soalnya, dalam wujud apa dua hal itu bersangkut paut dan atau mewujud di dalam cinta. Mungkin, di dalam kebijaksanaan, artinya jika Anda mencinta dimohon menjadi bijaksana, sehingga Anda akan menjadi baik dan indah. Ini gampang. Lalu bijaksana dalam hal cinta itu, yang bagaimana? Barangkali, adalah dalam hal memahami, bahwa mengetahui cinta tidak identik mencintai cinta itu sendiri, mencintai cinta tidak identik bersukacita tentangnya dan atau mengatas-namakannya. Karena itu, cinta selalu merupakan kesadaran yang ditemukan di dalam mawas diri. Jika itu memang terjadi, maka memang betul, bahwa cinta itu cerdas, luas, dalam dan tak bisa dihancurkan apa dan siapapun. Tapi dalam perwujudannya yang semacam itu, manakala seseorang mencintai yang lain, jika mengatakannya, akan selalu diekspresikan secara sederhana dan tanpa polesan.

Tapi yang acapkali terjadi, justru orang tidak mengatakan apa-apa, sebab cinta memang tidak membutuhkan kata-kata.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: