Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Mengenal Allah melalui Alam Semesta

Mengenal Allah melalui Alam Semesta

Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

Roma 1:16-23

”…mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh” (Rom.1:22). Ayat 22 menjadi ayat yang indah sekali. Firman Tuhan berkata manusia pikir mereka pintar tetapi mereka sudah menjadi bodoh. Dengan kalimat seperti ini kita bisa memahami rahasia keindahan firman Tuhan, apa yang dianggap pintar oleh manusia mungkin dianggap bodoh di mata Allah. Apa yang dianggap bodoh oleh manusia justru adalah hikmat di hadapan Allah.

Buku Tanpa Kata” –buku yang hanya berisi lembaran berwarna tanpa ada satu huruf di dalamnya- dibuat untuk mereka yang sama sekali buta huruf dan tidak pernah belajar membaca. Mungkinkah orang yang tidak pernah belajar, bisa mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus? Jawabnya adalah ya. Orang yang paling sederhana, bahkan anak-anak yang masih kecil bisa mengenal dan mengerti isi Alkitab ini karena Tuhan luar biasa ajaib, memberikan firman Tuhan yang orang sederhana bisa mengerti namun orang pintar juga menghargai kitab suci. Tetapi orang-orang yang pintar mungkin dalam segala kepintaran mereka membaca kitab suci, mereka gagal untuk bisa mengenal keselamatan di dalam Yesus Kristus. Kenapa? Karena Alkitab dengan sederhana bicara, ada perbedaan definisi antara yang Tuhan beri dengan apa yang manusia beri. Bagi manusia, apa itu pintar? Pintar berarti juara kelas. Pintar berarti engkau mendapa gelar yang banyak. Pintar berarti engkau lulus dari sekolah yang paling baik. Apa itu bodoh? Menurut orang, bodoh berarti tidak sekolah. Bodoh berarti tidak lulus sekolah dasar. Bodoh berarti tidak mendapat pendidikan. Itu yang diajarkan oleh dunia ini. Namun Alkitab mengatakan yang sebaliknya. Orang yang tidak berpendidikan tetapi bisa mengenal kebenaran firman Tuhan, Alkitab bilang dia adalah orang yang berhikmat.

Bagian firman Tuhan yang kita baca hari ini berbicara mengenai apa yang menjadi halangan mengapa manusia tidak bisa mengenal dan percaya Tuhan. Setelah mereka tidak mengenal dan tidak mau percaya Tuhan, mereka menganggap diri mereka sudah pintar. Tetapi firman Tuhan berkata, mereka adalah orang-orang yang bodoh.

Ada seorang Ateis –yang tidak mau percaya dan mengaku Tuhan- bukan kita yang mengatakan hal itu tetapi mereka sendiri yang bilang, kami adalah orang Ateis, kami tidak mau percaya ada Tuhan. Suatu kali seseorang bertanya kepada salah seorang Ateis bernama Bertrand Russell, kalau someday terbukti Tuhan itu ada, dan engkau berdiri di hadapan Tuhan, apa yang akan engkau katakan kepada Dia? Bertrand Russell bilang, kalau betul-betul Tuhan itu ada dan saya berdiri di hadapan Dia, saya akan mengatakan ‘I’m sorry God, there is not enough evidence to believe in God.’ Kalaupun akhirnya terbukti Tuhan itu ada, saya tetap punya satu excuse, there is not enough evidence to believe in God. Itu posisi dia. Kenapa dia menjadi Ateis? Menurut dia, karena saya tidak punya cukup bukti untuk membuktikan Tuhan itu ada.

Kalau sdr bertemu dengan orang yang bertanya kepadamu, apakah kamu percaya Tuhan itu ada? Apa buktinya Dia ada? Sdr mungkin akan mengalami kesulitan untuk menjawab karena kelihatannya pertanyaan dia smart dan susah untuk dijawab. Aku tidak bisa melihat Allahmu, bagaimana kamu bisa membuktikan Dia benar-benar ada? Apa yang harus kamu katakan? Jawab kepada dia, apakah kamu tahu apa yang sedang ada di pikiran saya? Pasti dia tidak tahu sebab dia tidak bisa melihat pikiranmu. Tetapi mau tidak mau dia harus mengakui bahwa pikiran itu exist, bukan? Meskipun tidak bisa dilihat, banyak hal di dalam dunia ini kita semua harus mengaku itu exist. Sekarang, walaupun kamu tidak bisa lihat, kenapa kamu tetap tidak percaya bahwa Tuhan itu exist?

Di dunia ini ada dua pandangan besar. Yang pertama adalah pandangan agama yang mengatakan segala sesuatu ada sebab ada yang namanya Allah Pencipta yang menciptakan segala sesuatu. Namun pandangan yang kedua berkontra dengan pandangan yang pertama yaitu Evolusi. Evolusi mengatakan Tuhan tidak ada sebab segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini adalah hasil Evolusi. Sidney Fox, seorang Evolutionist mengatakan “In the beginning life assembled itself.”

Evolusi percaya bahwa segala sesuatu bermula dari sel kecil yang berkembang menjadi banyak dan akhirnya menjadi segala sesuatu yang ada di atas muka bumi secara random, maka tidak perlu jawaban dari Creationist yaitu ada suatu oknum yang pintar, bijaksana dan maha kuasa yang menciptakan segala sesuatu. Segala sesuatu datang dengan sendirinya. Itu sebab semua film dokumentari Evolutionist memulai dengan kalimat, “In the beginning…” persis dengan frase pertama kitab Kejadian. Maka Evolusi merupakan jawaban dari manusia yang dipakai sampai saat ini untuk menentang konsep kepercayaan kepada Tuhan. Dunia ini dengan sendirinya, tidak ada tujuan, tidak ada arti, tidak ada arah dan tidak ada nilai. Kalau orang mau konsisten dengan konsep ini, maka hidup ini tidak punya tujuan dan arti. Tetapi tidak semua orang Ateis hidup seperti itu. Sampai hari ini jujur kalau mau dikatakan argumentasi yang dipakai untuk mengatakan Tuhan itu tidak ada, bagi saya hanya bermuara kepada dua persoalan besar: pertama, manusia pikir sudah mendapat semua jawaban sehingga tidak perlu Tuhan. Jawabannya buat mereka adalah Evolusi tsb. Kalau di tempat kerja sdr ketemu dengan orang Agnostik –berbeda dengan Ateis yang dengan terbuka mengatakan tidak percaya ada Tuhan, orang Agnostik mengatakan Tuhan ada atau tidak ada, aku tidak tahu. Sdr kalau ketemu orang seperti ini sdr harus mengatakan dia seharusnya hidup konsisten dengan prinsip Agnostik yang dia pegang. Kalau dia bilang Tuhan ada atau tidak dia tidak tahu, maka paling tidak dalam sebulan dia harus dua kali ke gereja dan dua kali tidak ke gereja. Kenapa? Sebab mungkin Tuhan ada, sehingga pergi ke gereja dua kali sebulan, dua kali hari Minggu tidak ke gereja sebab Tuhan tidak ada. Sehingga nanti kalau ternyata Tuhan ada, dia tidak terlalu rugi. Kalau ternyata Tuhan tidak ada, paling tidak ada dua kali hari Minggu dia bisa senang-senang, bukan?

Yang kedua, hambatan orang untuk sulit menerima Tuhan Pencipta adalah the problem of suffering. Jadi hanya dua hal ini yang mereka pakai, yaitu mereka mendapat jawaban dari Evolusi sehingga tidak perlu Tuhan. Yang kedua, kalaupun Tuhan ada maka terjadi persoalan filosofis manusia bisa percaya ada Tuhan yang maha kuasa dan maha baik tetapi kenapa ada penderitaan di atas muka bumi ini. Ini adalah pertanyaan klasik yang muncul dari dulu hingga sekarang, persoalan penderitaan dipakai oleh manusia untuk menolak Tuhan yang maha kuasa dan maha baik. Kalau Tuhan itu maha baik, mengapa Dia membiarkan kita berada di dalam penderitaan. Mungkin Dia maha baik tetapi tidak maha kuasa, sehingga tidak sanggup untuk menghapus penderitaan di atas muka bumi ini. Atau dia maha kuasa dan sanggup bisa menghapus semua kesulitan dan penderitaan di atas muka bumi tetapi Dia tidak mau, berarti Dia adalah Allah yang maha kuasa tetapi tidak maha baik. Maka bisa percaya Tuhan itu maha kuasa sekaligus maha baik akan mengalami kesulitan menjawab kenapa ada penderitaan, kenapa ada penganiayaan, kenapa ada bencana alam, kenapa ada orang yang tidak bersalah mengalami penderitaan, kenapa ada orang yang baik bisa ditimpa bencana, dsb? Kalau benar ada Tuhan, kenapa Dia tidak menjaga dan melindungi?

Firman Tuhan di dalam Rom.1 minggu lalu saya membahas ayat 18 bicara soal ketidak-mauan manusia untuk percaya adanya Allah berangkat dari hati manusia menindas kebenaran dengan kelaliman. Itu adalah satu bahasa yang memberitahukan kepada kita manusia sebenarnya tahu Allah itu ada tetapi tidak mau mengakui Dia ada. Itu yang saya sebut sebagai self deception. Manusia tidak mau mengaku adanya Tuhan, manusia tidak mau percaya adanya Tuhan, bukan karena Tuhan tidak memberi cukup bukti kepada kita bahwa Dia exist, tetapi persoalannya karena manusia tidak mau mengaku adanya Tuhan. Tidak mau mengakui adanya Tuhan tidak berarti Tuhan itu tidak ada. Darimana datangnya sikap manusia yang menindas kebenaran itu dengan kelaliman? Itu adalah salah satu akar dosa yang sangat berbahaya sekali. Dosa itu bukan hanya tindakan perbuatan dosa, tetapi salah satu aspek dosa adalah self deception. Ini berangkat dari dialog antara Tuhan dengan Adam waktu Adam sudah jatuh di dalam dosa. Tuhan mengeluarkan tiga pertanyaan kepada Adam, dan dari tiga pertanyaan itu hanya satu yang Adam jawab. “Adam, di manakah engkau?” tanya Tuhan. Adam menjawab, “Ketika aku mendengar langkah kakiMu aku menjadi takut sehingga aku bersembunyi karena aku telanjang.” Lalu muncul pertanyaan kedua dan ketiga, “Siapa yang memberitahumu bahwa engkau telanjang? Kau makankah buah itu?” Adam tidak menjawab dua pertanyaan ini. Yang Adam lakukan justru mempersalahkan Tuhan mengapa memberi Hawa kepadanya. Mengapa Adam tidak menjawab? Apakah dia tidak tahu jawabannya? Dia tahu jawabannya tetapi dia tidak mau menjawab sebab dengan demikian dia masih mempunyai kemungkinan untuk menyimpang. Kalau dia tidak menjawabannya, tidak berarti dia tidak tahu jawabannya. Itu bagi saya adalah self deception.

Paulus mengangkat hal itu. Apa yang ingin manusia tahu tentang Tuhan sudah kasih tahu, melalui alam semesta yang Tuhan cipta, manusia tidak mungkin bisa berdalih. Cornelius Van Til, seorang teolog Reformed, mengatakan di dalam hati manusia yang sedalam-dalamnya sebenarnya tidak ada manusia yang sungguh-sungguh Ateis sejati. Pada waktu seorang Ateis berkata, “Saya tidak percaya Tuhan,” di dalam hatinya sesungguhnya dia menyadari Tuhan itu ada, itulah self decaption. Mulut mengatakan Tuhan tidak ada dan tidak mau percaya kepada Dia, tidak berarti Tuhan tidak ada dan tidak berarti dia jujur mengatakan kalimat itu karena di dalam hati engkau tahu Tuhan itu ada. Itu sebab Van Til mengatakan tidak ada orang yang Ateis sejati.

Minggu lalu saya mengangkat analisa yang menarik dari Paul Tillich, perasaan anxiety muncul di dalam hati manusia membuktikan ada sesuatu di dalam hati manusia yang harus mengaku Tuhan ada. Kalau memang Tuhan tidak ada mengapa di dalam hampir semua kebudayaan manusia ada perasaan takut satu kali kelak setelah mati dia akan dihukum? Dari mana datangnya anxiety itu? Maka tidak heran begitu seseorang mengalami kesulitan atau bencana penyakit, langsung dia berpikir itu adalah satu hukuman. Maka muncul konsep sesajen di dalam kebudayaan manusia. Yang kedua, ada rasa guilty feeling. Dari mana datangnya perasaan itu? Bagi saya jawabannya ada di Rom.1:19 Tuhan sudah memberi satu jawaban, someday waktu ketemu Tuhan Bertrand Russell akan bilang ‘There is not enough evidence to believe in You,’ Tuhan bilang, itu adalah self deception. Kenapa? Tidak perlu menemukan teleskop, tidak perlu menemukan mikroskop, begitu melihat alam semesta ini bahkan anak kecilpun bisa melihat semua itu tidak mungkin datang by chance, tidak mungkin tanpa purpose dan tidak mungkin datang by random. Di dalam hidupmu, segala sesuatu yang exist pasti punya tujuan dan manfaat dan pasti ada desainernya.

Mama di rumah bikin nasi goreng kita tidak bisa bilang “In the beginning nasi goreng is assembled by itself.” Pasti kamu dikeplak mama. Atau kita juga tidak bisa bilang kalau ada nasi, ada kecap, ada telur, ada ayam, lalu biarkan dengan sendirinya akan menjadi nasi goreng. Mesti ada yang memasaknya, bukan?

Alkitab mengatakan, melihat alam semesta manusia tidak mungkin bisa berdalih adanya Tuhan. Manusia ingin lebih mengenal hidup, itu sebab manusia menciptakan tools yang canggih untuk melihat apa yang ada di balik kehidupan ini. Sampai kepada sel yang paling kecilpun begitu dilihat dengan mikroskop elektron untuk berubah menjadi sesuatu itu merupakan satu lompatan science yang tidak mungkin terjadi. Ilmu Pengetahuan memperlihatkan kepada kita, walaupun seorang ayah ingin mentransplantasi ginjal kepada anak sendiri belum tentu tubuhnya mau terima.Dari situ kita bisa melihat bagaimana sel itu begitu unik kepada dirinya sendiri. Melihat dengan teleskop kita baru tahu betapa luasnya alam semesta ini, dan tidak ada seorangpun hingga saat ini bisa tahu berapa luasnya. Makin manusia menemukan makin manusia harus kagum. Namun alam semesta tidak bisa protes terhadap pandangan itu semua. Setelah melihat alam semesta manusia bisa saja berpikir itu semua terjadi begitu saja dengan proses Evolusi dan menganggap sudah menemukan jawabannya dan rasa diri pintar.

Hari ini kita belajar beberapa hal:

Pertama, tidak mungkin manusia bisa menolak bukti adanya Tuhan. Someday kita akan mempertanggungjawabkan hal itu.

Kedua, hidup manusia berdosa memberitahukan kepada kita, Tuhan sudah murka. Mengapa Tuhan murka? Sebab manusia sudah menekan kebenaran Allah dengan kelaliman. Tuhan murka sebab manusia pikir manusia sudah memiliki jawaban sendiri.

Ketiga, di ayat 21 sangat mengerikan sekali di sini dikatakan ciri dari manusia yang berdosa terdiri dari dua sikap ini: manusia tidak memuliakan Tuhan dan manusia tidak bersyukur. Hidup orang yang tidak beriman akan ditandai oleh dua sikap ini, tidak pernah memuliakan Allah dan tidak pernah bersyukur.

Minggu depan saya akan membahas ayat 24 yang lebih mengerikan lagi. Murka Tuhan datang dengan cara Tuhan membiarkan. Semakin manusia berdosa tidak menganggap tidak perlu Tuhan, semakin Tuhan membiarkan. Dengan demikian, someday waktu manusia ketemu Tuhan, tidak mungkin manusia bisa memiliki excuse.

Pdt. Effendi Susanto STh.

19 Juli 2009

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: