Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (7): Miscommunication and Misunderstanding about Intimacy

Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (7): Miscommunication and Misunderstanding about Intimacy

Nats: Ams.12:4, 1 Pet.3:1-7, Kid.7:6-13, 8:7

Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya. Tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya” (Ams.12:4)

Dua minggu terakhir ini saya bicara mengenai aspek kesulitan di dalam relasi antara suami isteri muncul disebabkan karena ketidak-mampuan mereka berkomunikasi dengan bahasa yang saling dimengerti satu sama lain. Maka miscommunication dan misunderstanding merupakan faktor yang sangat penting sekali untuk dimengerti di dalam keharmonisan suami dan istri. Persoalannya sederhana saja, tinggal bagaimana kita lebih memahami pasangan kita membutuhkan tehnik, kemampuan dan edukasi. Itu sebab mari kita belajar sama-sama dari kebenaran firman Tuhan dan dari pengalaman begitu banyak orang boleh menjadi berkat bagaimana sdr dan saya bertumbuh di dalam relasi sebagai suami dan isteri yang dikehendaki oleh Tuhan.

Saya mengingatkan para suami bagaimanapun sesudah menikah, sdr tidak boleh “close the chapter” dan menganggap proses perjalanan cinta itu sudah selesai. Isteri itu ingin terus menerus diyakinkan oleh suaminya bahwa engkau begitu mencintai dia setiap saat dan itu dibuktikan dengan sikap dan tindakan yang konkrit darimu. Ini adalah kebutuhan setiap isteri karena umumnya wanita memiliki insecurity ketika dia merasa tidak ada lagi cinta di tengah-tengah hubungan kalian. Tetapi berbeda dengan para pria. Sebelum menikah, laki-laki rela mengejar wanita dengan luar biasa. Namun setelah wanita bertekuk lutut dan menyatakan cintanya, maka pria menganggap misinya sudah selesai dan komplit. Inilah yang sering menjadi penyebab timbulnya pertengkaran dan percekcokan di antara suami isteri. Yang kedua, bagaimana kita memahami hubungan suami isteri lebih indah yaitu dalam hal lebih mengerti bahasa cinta yang berbeda di antara mereka. Gary Chapman menulis buku “Five Love Languages” bicara mengenai lima bahasa cinta yang mungkin berbeda antara suami dan isteri. Persoalan bisa muncul bukan karena sudah tidak lagi saling mencintai, tetapi karena masing-masing berbicara dengan bahasa yang berbeda sehingga menimbulkan kesalah-pahaman di dalam komunikasi. Gary Chapman mengatakan paling tidak ada lima bahasa cinta, yaitu:

1. Word of Affirmation, yaitu seseorang merasa dia dicintai kalau pasangannya mengeluarkan kata-kata yang bersifat affirmation, admiration, dan encouragement kepada dia. Suami yang mempunyai bahasa cinta ini ingin mendengar isterinya say “I love you,” menyatakan caring dengan kata-kata yang mesra, dsb.

2. Acts of Service, yaitu seseorang menyatakan cinta dengan melakukan pelayanan yang kelihatan. Mungkin isteri sdr tidak bisa mengatakan “I love you,” tetapi sdr tidak pernah kekurangan makan setiap hari. Dengan menyediakan makanan yang enak dan lezat untuk dia itu adalah bukti cintanya kepadamu. Kalau itu yang menjadi bahasa cinta isterimu, maka diapun ingin sdr menyatakan cinta dengan cara dan sikap yang sama. Buat dia, dia tidak perlu kata-kata yang mesra, tetapi inisiatif sdr mengerjakan tugas-tugas di rumah tanpa diminta adalah tanda cinta sdr yang konkrit untuknya. Jika act of service yang dia lakukan untukmu mendapat respons penolakan, maka itu akan menjadi suatu kesedihan yang dalam baginya.

3. Gifts, yaitu ada orang menyatakan cintanya dengan memberi hadiah-hadiah yang berkesan. Itu yang menjadi bahasa cinta dia dan dia juga ingin pernyataan sdr diberikan dengan hadiah-hadiah yang berkesan. Maka sdr mungkin perlu belajar bagaimana memberi sesuatu kepadanya.

4. Quality Time, cinta dinyatakan dengan kehadiranmu di sisinya, mendampinginya, berada di sekitarnya, bercakap-cakap dengannya, dsb.

5. Physical Touch, orang yang memiliki bahasa cinta ini akan merasa dicintai kalau dia mendapatkan sentuhan dan belaian. Namun Gregory Popcack mengingatkan orang yang mahir menyatakan satu bahasa cinta cenderung menggunakannya terus sehingga tidak berusaha belajar menggunakan bahasa yang lain. Berbicara dengan bahasa cinta yang berbeda seringkali menjadi faktor penyebab miscommunication yang terjadi. Akhirnya pasangan yang tidak mendapatkan pemenuhan di dalam bahasa cintanya, mungkin setelah belasan tahun menikah, mengeluh bahwa dia tidak lagi dicintai oleh pasangannya. Kalimat seperti ini saya rasa tidaklah terlalu benar, sebab bisa jadi bukan cintanya sudah tidak ada tetapi ada dua aspek penting mungkin confused di situ. Satu, yaitu waktu membahasakan cintanya berbeda sehingga pasangan merasa tidak dicintai. Kedua, cinta tetap ada tetapi bentuk dari cinta itu mengalami perubahan. Kalau seseorang mengatakan dia merasa pasangannya tidak mencintai dia lagi, mungkin asumsi di baliknya adalah dia ingin cinta pasangannya terus menerus bersifat romantis. Sdr yang sudah lama menikah akan mengalami perubahan. Awalnya romantis, tetapi mungkins etelah lima sepuluh tahun cintanya akan mengalami perubahan. Ini yang disebutkan oleh Dr. Les Parrott waktu membahas mengenai 5 stages of love yaitu:

1. Romance: ini adalah tahap di awal relationship. Sdr duduk bersama, ngobrol, itu merupakan keindahan yang tidak habis-habisnya.

2. Power Struggle: ini mungkin terjadi setelah pernikahan berusia 3-5 tahun dimana pasangan menghadapi banyak pertengkaran dan keributan. Masing-masing pihak ingin mengambil kontrol atas keluarga. Mungkin keributan karena anak, karena pekerjaan, karena karier, dsb. Dalam fase ini pasangan belajar bagaimana mengatasi power struggle ini.

3. Cooperation: dalam fase ini pasangan mulai saling bekerja sama, saling mengasihi dan saling membantu. Masing-masing berpikir pasangannya bisa mengambil keputusan yang lebih baik dan mempercayakan hal-hal tertentu diatur olehnya.

4. Mutuality: di situ bukan lagi cinta romantik tetapi lebih merasa pasangannya sebagai “soul mate” dimana masing-masing saling membutuhkan, menjadi pendamping. Itu akan terjadi pada waktu pernikahan mungkin sudah berjalan 25-50 tahun. Di situ intimacy terpenuhi waktu duduk sama-sama, jalan sama-sama, dsb.

5. Co-Creativity: ini fase yang matang di dalam perjalanan cinta seseorang sehingga pada waktu kita menjadi lebih tua, kita menemukan cinta itu menyebabkan mereka tidak lagi melihat mereka berdua tercipta untuk eksklusif satu sama lain, tetapi cinta mereka bisa mengalir bagi orang-orang di sekitar mereka dan mendatangkan kontribusi yang indah di dalam komunitas mereka.

Hari ini saya secara khusus akan bicara mengenai hal yang konkrit yaitu bagaimana ekspresi cinta itu dinyatakan di dalam hubungan suami isteri yaitu hubungan seksual mereka. Kalau ditanyakan secara jujur kepada pria, umumnya buat mereka cinta itu diekspresikan di dalam hubungan seksual. Maka suami merasa tidak ada lagi cinta di antara dia dengan isterinya, ujung-ujungnya akan berkaitan dengan hubungan seksual yang tidak harmonis di antara mereka. Dia mungkin tidak lagi merasakan kehangatan cinta dari isterinya. Setiap kali suami menginginkan hubungan seksual itu, isteri mengeluh cape, atau mau menidurkan anak dan akhirnya dia sendiri yang ketiduran. Akhirnya suami kecewa dengan sikap isterinya dan merasa tidak dicintai lagi.

Ketika isteri mengatakan suaminya sudah tidak lagi mencintai dia, yang dikeluhkan umumnya suami tidak lagi romantis dan yang ada di pikirannya hanya seks semata-mata. Dulu mungkin dia pulang membawa surprise hadiah untuk isterinya, mengajak dinner berdua, baru diakhiri dengan hubungan di kamar tidur yang berkesan. Kata isteri, “Sekarang boro-boro. Yang ada sekarang dia bersikap kasar dan setelah hubungan berakhir dia tidur ngorok menghadap dinding.”

Itu sebab saya ingin bicara mengenai hal yang begitu konkrit menjadi struggle di dalam relasi suami isteri yaitu di dalam memahami konsep mengenai cinta di dalam hubungan seks mereka. Pria dan wanita memang berbeda di dalam beberapa hal. Para suami perlu mengerti bahwa berhubungan seks dengan suami adalah daftar paling akhir dari “list to do” mereka karena yang ada di pikiran isteri dipenuhi dengan kegiatan rutin mulai dari mengurus anak sampai mengurus rumah tangga yang tidak habis-habisnya. Bangun pagi yang langsung terpikir adalah mengurus anak, masak, mencuci pakaian, menyeterika, membersihkan kamar mandi, buang sampah, memotong rumput, dst. Tetapi sebaliknya bagi suami hubungan seks ada di prioritas nomor satu. Maka tidak ketemu, bukan? Maka kita perlu mengerti akan beberapa hal Pertama, kita harus terima bahwa secara naturnya isteri memiliki sexual drive yang lebih rendah daripada suaminya. Itu berkaitan dengan aspek hormonal, itu juga berkaitan dengan periode siklusnya. Sexual drive pria itu “eveready” sedangkan wanita tidak seperti itu. Maka dari hal itu saja kita sudah bisa menemukan bahwa sexual drive pria dan wanita berbeda luar biasa.

Kedua, sexual drive pria itu bermesin jet sedangkan sexual drive wanita bermesin diesel. Artinya, di dalam intimacy pria tidak membutuhkan waktu yang panjang sedangkan sexual drive wanita dimulai dari pagi hari dan berakhir di malam hari. Itu sebab Dr. Kevin Leman menulis buku “Sex begins in the Kitchen” untuk mengajarkan kepada suami, kalau mulai dari pagi hari isteri sudah stress menghadapi persoalan di dapur maka jangan harap persoalan di kamar tidur nanti malam menjadi indah. Malam akan diisi dengan persoalan dapur, persoalan kamar mandi yang bocor, persoalan sekolah anak, dll. Pria tidak seperti itu. Penulis “Men are like waffles and Women are like Spaghetti mengatakan otak pria lebih berbentuk seperti wafel yang punya kompartemen yang terpisah-pisah sedangkan pikiran wanita saling melibat satu sama lain. Maka bicara mengenai intimasi seksual akan berkaitan dengan dapur, akan berkaitan dengan vacuum cleaner, akan berkaitan dengan kamar mandi, dsb. Pria punya kompartemen seperti wafel, urusan kamar mandi sendiri, dapur sendiri. Tidak seperti wanita, bagi pria, bau tulang ikan di dapur tidak akan mengganggu kamar tidur bahkan di otaknya dia bisa ubah itu menjadi bau mawar. Maka untuk isteri mengerti otak suami itu simple sekali, otaknya berkotak-kotak, kadang-kadang tidak ada isi di dalamnya. Otak pria mudah memilah persoalan. Wanita tidak seperti itu. Itu sebab menyadari bahwa wanita itu bermesin diesel maka bagaimana sebagai pria perlu belajar teknik ini. Dengan mengerti hal ini, pria yang mau menjalani hubungan yang indah di malam hari harus rela berbagian sejak pagi hari, dengan inisiatif membantu di dapur dan di sekitar rumah, sehingga isteri melihat suami yang penuh perhatian akan menjadi lebih rileks dan bahagia.

Ketiga, sexual drive isteri itu tidak ada kaitannya dengan tubuh suaminya. Wanita tidak merasa terganggu dengan penampilan suami, apakah dia bertubuh atletis atau tidak. Sehingga suami perlu mengerti dan tidak usah kuatir begitu isteri tidak bergairah menyambut suami, itu tidak ada hubungannya dengan penampilan fisik sdr. Tetapi dalam hal ini isteri perlu mengerti bahwa demikianlah yang ada di dalam pikiran suamimu. Jadi sexual drive isteri bukan berkaitan dengan penampilan tubuh suami tetapi berkaitan dengan hatinya, berkaitan dengan emosionalnya, berkaitan dengan perasaannya. Sehingga kalau hari ini dia penuh dengan sukacita, segala sesuatu bisa berjalan dengan beres, maka sexual drive isteri akan berkembang dengan baik. Sehingga sebagai seorang suami, sdr belajar memperhatikan hal-hal yang kecil dan membantu membereskan segala sesuatu supaya kita bisa menyenangkan isteri kita.

Tetapi berbeda dengan suami, maka wanita harus menyadari aspek ini, beberapa hal berkaitan dengan sexual drive pria. Banyak isteri salah mengerti bicara mengenai seks dan love. Banyak isteri berpikir suaminya hanya mau seks saja. Ini adalah konsep yang keliru. Sdr perhatikan kenapa Alkitab menyebut salah satu kebutuhan yang paling penting dari pria adalah soal respek. Baik Petrus, baik Paulus, baik penulis kitab Amsal, semua berkaitan dengan respek. Isteri yang cakap, artinya isteri yang memiliki attitude yang appropriate sewaktu deal dengan suaminya adalah mahkota bagi suaminya. Tetapi isteri yang disgraceful, yang melakukan hal-hal yang memberi hormat kepada suaminya, Amsal mengatakan itu seperti penyakit bagi tulang suaminya. Petrus mengatakan, hai isteri, tunduklah kepada suamimu. Dengan cara seperti itu, suamimu yang tidak percaya Tuhan, yang mungkin menghina dan kasar kepadamu, tetapi dengan sikapmu yang calm, gentle spirit, itu bisa mengalahkan kekerasan hati suamimu. Bukan soal berdandan yang membuat suamimu tertarik tetapi bagaimana engkau respek dan hormat kepada dia, itu yang penting. Jujur kalau ditanya kepada suami, sebenarnya bukan seks itu sendiri yang menjadi penting tetapi bagi suami sebenarnya yang penting adalah sexual fulfillment. Maksudnya adalah seks bagi suami itu bukan hanya berkaitan dengan sexual drive tetapi berkaitan dengan dua kebutuhan yang lain yaitu kebutuhan direspek dan kebutuhan dibutuhkan. Sehingga pada waktu seorang isteri mengatakan “tidak” kepada suaminya seringkali menjadi miscommunication di dalam intimasi seksual dimana suami merasa dia tidak lagi direspek dan tidak lagi dibutuhkan oleh isteri. Padahal itu sama sekali tidak ada di pikiran isteri. Tetapi buat kebanyakan suami ketika penolakan terjadi, dia merasa isterinya tidak membutuhkan dia lagi. Rejection dan penolakan seringkali dikaitkan suami seperti itu. Kalau begitu, bagaimana menyelesaikannya? Maka kita perlu mengkomunikasikannya dengan benar bagaimana di dalam relasi intimasi itu kita jadikan sebagai sesuatu yang indah dan yang Tuhan berkati.

Sekali lagi kita mengerti apa itu “rohani” bukan dalam pengertian tidak berhubungan seksual. Itulah yang ditegur oleh Paulus kepada ajaran guru-guru palsu yang muncul di gereja Korintus dan di gereja dimana Timotius melayani. 1 Kor.7:1-5 memperlihatkan Paulus menjawab pertanyaan dari jemaat bahwa ada ajaran di gereja Korintus bahwa lebih baik bagi pria untuk tidak kawin. Buat Paulus mengingat bahaya bisa terjadi hubungan seksual yang tidak benar, dia menganjurkan pria untuk menikah. Dan selanjutnya dia mengingatkan bahwa di dalam pernikahan suami tidak boleh egois dan hanya memikirkan diri sendiri, tetapi mengutamakan isterinya, dan demikian juga sebaliknya isteri berkewajiban memenuhi kebutuhan suaminya. Sebab inilah prinsipnya: ketika kita menikah kita sudah memberi hidup kita kepada pasangan kita, maka masing-masing tidak lagi berkuasa atas dirinya sendiri tetapi tubuhmu menjadi milik pasanganmu. Namun ada masanya mungkin tidak ada hubungan seksual untuk sementara waktu dan atas persetujuan dua belah pihak demi untuk fungsi spiritualnya yaitu mungkin untuk berdoa khusus, dsb tetapi tidak boleh lama-lama karena itu berbahaya. Paulus tidak mau jemaat jatuh ke dalam hubungan seksual yang tidak benar. Maka pernikahan bukan saja keinginan Tuhan yang dirancangNya sejak penciptaan, tetapi pernikahan itu juga merupakan salah satu institusi yang Tuhan berikan dengan tujuan untuk mencegah tidak terjadi bahaya percabulan dan hubungan seksual yang tidak benar.

Di dalam surat kepada Timotius 1 Tim.4:3 ada ajaran yang beredar bahwa orang Kristen tidak boleh berhubungan seksual karena itu adalah hal yang tidak rohani, hubungan seksual dianggap dosa. Ini sekarang bukan hanya menjadi pendapat orang tetapi menjadi larangan. Ada orang yang melarang orang untuk menikah, ada orang melarang makan itu dan ini, maka Paulus bilang itu adalah ajaran sesat. Kenapa? Muncul prinsip teologisnya: karena semua yang Tuhan cipta itu baik dan berkat dari Tuhan yang harus kita terima dengan ucapan syukur kepada Tuhan. Jadi seks tidak ada kaitannya dengan soal rohani atau tidak rohani. Hubungan intimasi seksual merupakan anugerah Tuhan bagi manusia yang hidup di atas muka bumi ini. This is part of His good creation. Tuhan beri kemampuan berhubungan seksual sebagai bagian yang Tuhan cipta di dalam diri sdr yang diekspresikan di dalam kehangatan intimasi menjadi suatu ucapan syukur dan menjadi sesuatu yang indah bagi kekuatan hubungan antara suami dan isteri.

Terakhir, ada 5 hal yang ingin suami katakan kepada isterinya tetapi dia tidak sanggup dan tidak tahu bagaimana menyatakannya:

  1. Bahwa dia sangat mengasihi isterinya, tetapi kata-kata itu mungkin sulit keluar dari mulutnya.
  2. Bahwa dia ingin isterinya lebih memperhatikan penampilan dirinya. Betapa mereka ingin melihat isterinya charming dan put effort di dalam penampilan.
  3. Bahwa dia butuh dihormati baik de depan umum maupun di dalam rumah.
  4. Bahwa dia butuh lebih sering dalam hal seksual intimasi tetapi dia tidak berani mengatakan hal itu kepada isterinya.
  5. Bahwa dia ingin isterinya mengerti ada begitu banyak beban berat di dalam pikirannya bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga dan ingin berusaha mati-matian bekerja bagi kesejahteraan keluarga. Inilah lima hal yang suami ingin nyatakan kepada isterinya cuma tidak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata dari mulutnya tetapi itu memenuhi pikirannya.

Kiranya semua ini menjadi satu pengertian yang membuka hati dan pikiran kita supaya kita bisa memiliki komunikasi yang lebih dalam di dalam hubungan suami dan isteri.

Pdt. Effendi Susanto STh.

14 Desember

About these ads
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: