AHAB AGONISTES: The Rise and Fall of the Omri Dynasty

February 8, 2012 Leave a comment

Menyatakan Kemuliaan Tuhan Lewat Hidup

January 7, 2012 Leave a comment

Ketika Musa turun dari gunung Sinai–kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu–tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN. Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia. Tetapi Musa memanggil mereka, maka Harun dan segala pemimpin jemaah itu berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. Sesudah itu mendekatlah segala orang Israel, lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai. Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya. Tetapi apabila Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar; dan apabila ia keluar dikatakannyalah kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya. Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN.

Keluaran. 34:29-35

TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang. TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya. Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia! Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka. TUHAN, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka, Engkau Allah yang mengampuni bagi mereka, tetapi yang membalas perbuatan-perbuatan mereka. Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!

Mazmur. 99

Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian, tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu. Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.  Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

II Korintus. 3:12 – 4:2

Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu. Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu, datanglah orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus. Seorang dari orang banyak itu berseru, katanya: “Guru, aku memohon supaya Engkau menengok anakku, sebab ia adalah satu-satunya anakku. Sewaktu-waktu ia diserang roh, lalu mendadak ia berteriak dan roh itu menggoncang-goncangkannya sehingga mulutnya berbusa. Roh itu terus saja menyiksa dia dan hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. Dan aku telah meminta kepada murid-murid-Mu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” Dan ketika anak itu mendekati Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan menggoncang-goncangnya. Tetapi Yesus menegor roh jahat itu dengan keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya. Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. (9-43b) Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Lukas. 9:28-43

Di gunung Sinai Musa menerima Sepuluh Firman Allah. Dia diperkenankan untuk berhadapan dan memandang kemuliaan Allah. Proses pewahyuan firman Allah di dalam diri Musa, bukan hanya disaksikan bahwa Musa dimampukan untuk mendengar “suara” Allah. Tetapi juga Musa diperkenankan untuk “melihat” dan memandang wajah Allah. Kel. 33:11 menyaksikan: “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seseorang berbicara kepada temannya”. Saat Musa berhadapan dengan diri Allah, dia tidak hanya melihat kemuliaan Allah; tetapi juga dia mengalami kehadiran Allah yang dahsyat itu sebagai seorang sahabatnya. Pewahyuan firman Allah dikomunikasikan dalam wajah kemuliaan Allah yang dahsyat, tetapi sekaligus juga tetap tampil bersahabat dan penuh keakraban. Saat Musa turun dari gunung Sinai, tanpa dia ketahui wajahnya bersinar memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Umat IsraeL tidak tahan menatap wajah Musa yang bersinar, sehingga Musa harus mengenakan kain selubung agar ia dapat berbicara menyampaikan firman Tuhan kepada umat Israel.

Walau demikian cahaya kemuliaan Allah yang terpancar di wajah Musa hanya bersifat sementara. Wajah Musa tidak senantiasa mampu memancarkan cahaya kemuliaan Allah yang kudus selama-lamanya. Dia hanya sementara saja memantulkan  cahaya kemuliaan Allah. Tetapi harus diingat, pengalaman spiritual yang dahsyat itu tidak pernah mengubah status atau kedudukan Musa sebagai seorang abdi Allah biasa, walau dia pernah mengalami pengalaman iman yang paling luar biasa. Sebab siapakah di antara umat manusia yang mampu memandang wajah Allah? Sebab “tidak ada orang yang memandang wajah Allah dapat hidup” (Kel. 33:20). Keadaan cahaya kemuliaan Allah yang bersifat temporal ini kemudian dipakai oleh rasul Paulus di ll Kor. 3 untuk menunjukkan perbedaan bahwa cahaya kemuliaan KrIstus sesungguhnya tidak pernah pudar. Musa adalah abdi Allah yang diperkenankan Allah untuk memantulkan cahaya kemuliaanNya. Tetapi Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah itu sendiri (bdk. Ibr. 1:3). Karena itu cahaya kemuliaan Kristus tidak pernah pudar sampai selama-lamanya. Itu sebabnya rasul Paulus berkata:  “Sebab jika yang pudar itu  disertai  dengan kemuliaan,  betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan” [2 Kor. 3:11].

Kitab Injil menyaksikan bagaimana peristiwa transfigurasi terhadap diri Tuhan Yesus terjadi. Luk. 9:29 menyaksikan bagaimana tiba-tiba wajah Tuhan Yesus berubah penuh kemuliaan Allah saat Dia berdoa ditemani oleh Petrus, Yohanes  dan Yakobus. Kini jati diri ke-Tuhan-an Yesus disingkapkan dalam peristiwa transfigurasi itu. Keilahian Kristus saat itu tidak lagi tersembunyi dan tidak terselubung  oleh keberadaanNya sebagai manusia. Pada saat kemuliaan Kristus terjadi maka disebutkan datanglah Musa dan Elia. Mereka berbicara dengan Tuhan Yesus tentang tujuan kepergian dan kematianNya yang akan terjadi di Yerusalem. Musa yang pernah memancarkan cahaya kemuliaan Allah, dan nabi Elia yang pernah  menyatakan kuasa Allah di atas gunung Karmel dengan menurunkan api dari langit. Namun kini mereka secara khusus menjumpai Kristus dalam kemuliaanNya. Keduanya, yaitu Musa dan Elia adalah saksi yang meneguhkan keTuhanan Yesus.

Namun yang harus diingat oleh kita adalah bahwa peristiwa transfigurasi Kristus di atas gunung tersebut bukanlah puncak dari kemuliaanNya. Tuhan Yesus  kelak akan memperoleh kemuliaanNya melalui penderitaan dan kematianNya di atas kayu salib. Cahaya kemuliaan Kristus yang kekal dinyatakan dengan tubuh kebangkitanNya setelah Dia mengalahkan kuasa maut. Kristus sejak dari kekal adalah cahaya kemuliaan Allah, tetapi kebangkitanNya dari maut menyaksikan kedirianNya yang kekal dan mulia kepada umat manusia di tengah-tengah sejarah hidup mereka.

Ketika Petrus dalam peristiwa transfigurasi menyaksikan kedatangan Musa dan Elia, secara spontan dia berkata: “Guru, betapa bahagia bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Luk. 9:33). Perkataan Petrus yang tampaknya sangat simpatik tersebut ingin mengajak Tuhan Yesus, Musa dan Elia untuk tinggal dalam kemah. Tetapi tujuannya agar kemuliaan Kristus tidak lagi terpancar, tetapi terkurung dalam kemah buatan Petrus. Saat Kristus, Musa dan Elia berada dalam kemah buatan manusia,  maka cahaya kemuliaan Allah tidak akan tampak lagi.

Seandainya Kristus berdiam atau tinggal tetap di dalam kemah, Dia tidak akan berangkat ke Yerusalem untuk menyongsong penderitaan dan kematianNya. Ternyata dalam ucapan Petrus yang tampaknya sangat simpatik itu mengandung suatu maksud yang tersembunyi untuk menghalangi rencana keselamatan Allah di dalam kematian Kristus. Bukankah perkataan Petrus tersebut menggemakan kembali bagaimana sikap Petrus yang pernah menarik Tuhan Yesus ke samping dan menegor, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” (Mat. 16:22). Pada saat itulah Tuhan Yesus berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiKu sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” [Mat. 16:23].

Teologi ‘kemah selubung’ dari Petrus sering kali masih menjadi pola hidup umat Kristen. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering tanpa sengaja telah menutupi cahaya kemuliaan Kristus yang seharusnya kita pancarkan kepada sesama.  Dengan pola  hidup yang demikian kita akan lebih menyukai sikap tertutup, dan menikmati keselamatan dan kemuliaan Kristus untuk diri mereka  sendiri. Teologi selubung hanya menjadikan diri kita menjadi pribadi yang egois dan eksklusif. Pengalaman iman yang seharusnya memperkaya integritas dan relasi dengan sesama sering kita redusir menjadi pola hidup yang menarik diri dari pergaulan dengan sesama dan terlena dalam kenikmatan rohani untuk diri kita sendiri. Teologi selubung hanya mendangkalkan, bahkan membelenggu rahasia keselamatan Allah yang seharusnya kita singkapkan dan kita bagi-bagikan kepada sesama di sekitar kita.  Karena itu selaku umat percaya, kini kita semua dipanggil untuk berani membuka selubung agar kita dapat memancarkan cahaya kemuliaan Kristus kepada sesama di sekitar kita.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Berakar Di Dalam DIA, Berbuah Karena KaruniaNYA

January 7, 2012 Leave a comment

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah. Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya? Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”

Yeremia. 17:5-10

 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil. Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin. Sebab itu orang fasik tidak akan tahan dalam penghakiman, begitu pula orang berdosa dalam perkumpulan orang benar; sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.

Mazmur. 1

Jadi, bilamana kami beritakan, bahwa Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, bagaimana mungkin ada di antara kamu yang mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan orang mati? Kalau tidak ada kebangkitan orang mati, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu. Lebih dari pada itu kami ternyata berdusta terhadap Allah, karena tentang Dia kami katakan, bahwa Ia telah membangkitkan Kristus–padahal Ia tidak membangkitkan-Nya, kalau andaikata benar, bahwa orang mati tidak dibangkitkan. Sebab jika benar orang mati tidak dibangkitkan, maka Kristus juga tidak dibangkitkan. Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu. Demikianlah binasa juga orang-orang yang mati dalam Kristus. Jikalau kita hanya dalam hidup ini saja menaruh pengharapan pada Kristus, maka kita adalah orang-orang yang paling malang dari segala manusia. Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.

I Korintus. 15:12-20

Lalu Ia turun dengan mereka dan berhenti pada suatu tempat yang datar: di situ berkumpul sejumlah besar dari murid-murid-Nya dan banyak orang lain yang datang dari seluruh Yudea dan dari Yerusalem dan dari daerah pantai Tirus dan Sidon. Mereka datang untuk mendengarkan Dia dan untuk disembuhkan dari penyakit mereka; juga mereka yang dirasuk oleh roh-roh jahat beroleh kesembuhan. Dan semua orang banyak itu berusaha menjamah Dia, karena ada kuasa yang keluar dari pada-Nya dan semua orang itu disembuhkan-Nya. Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa. Berbahagialah kamu, jika karena Anak Manusia orang membenci kamu, dan jika mereka mengucilkan kamu, dan mencela kamu serta menolak namamu sebagai sesuatu yang jahat. Bersukacitalah pada waktu itu dan bergembiralah, sebab sesungguhnya, upahmu besar di sorga; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan para nabi. Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu. Celakalah kamu, yang sekarang ini kenyang, karena kamu akan lapar. Celakalah kamu, yang sekarang ini tertawa, karena kamu akan berdukacita dan menangis. Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu.”

Lukas. 6:17-26

Ucapan “berbahagia” sering dikenal dari Injil Matius, yaitu dalam khotbah Tuhan Yesus di bukit (Mat. 5:1-12). Karena itu latar-belakang ucapan “berbahagia” di Luk. 6:20-26 sering diidentikkan dengan khotbah Yesus di atas bukit. Namun apabila kita menilik Luk. 6:17 dengan cermat, sebenarnya ucapan “berbahagia” di Luk. 6 bukan berlatar-belakang khotbah Tuhan Yesus di bukit, tetapi Luk. 6 berlatar-belakang di tanah yang datar, yaitu tempat orang banyak berkumpul. Walau demikian khotbah Tuhan Yesus di bukit maupun di tanah datar pada prinsipnya mengemukakan makna “berbahagia” yang spesifik, yaitu yang tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh dunia pada umumnya. Dalam hal ini pengertian “makarioi” yang diterjemahkan dengan “berbahagialah” (LAI) bukan berarti: “semoga bahagia”. Tetapi makna kata “makarioi” lebih tepat menunjuk kepada keadaan “kamu kini adalah bahagia”. Orang-orang yang disebut “bahagia” dalam makna khotbah Tuhan Yesus adalah karena mereka diberkati oleh Allah, sebab  mereka tidak mengandalkan kekuatannya sendiri, atau kekuatan dan kuasa orang lain, namun mereka sungguh-sungguh mengandalkan Allah di dalam seluruh hidupnya.

Di Luk. 6:20, ucapan berbahagia dimulai dengan: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah“. Perkataan dan ajaran Tuhan Yesus tersebut memberikan kekuatan dan pengharapan kepada orang banyak yang mana mereka saat itu kebanyakan adalah orang-orang sederhana, dan orang-orang yang miskin secara duniawi, sebab mereka umumnya hidup tanpa harta milik. Karena mereka miskin dan tidak memiliki sesuatu yang diandalkan, maka mereka hanya mengandalkan pertolongan Allah. Sebaliknya ketika orang merasa dirinya kaya dan merasa telah memiliki segala sesuatu, mereka umumnya memiliki kecenderungan untuk mengandalkan kepada kekuatan dan harta miliknya dari pada kepada Allah. Sehingga sangat tepatlah ketika nabi Yeremia menyampaikan firman Tuhan dengan pesan yang hampir sama, yaitu: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada Tuhan” (Yer. 17:5). Nabi Yeremia menegaskan bahwa orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya sendiri serta berpaling meninggalkan Allah adalah terkutuk. Jadi bukankah makna berbahagia yang diajarkan oleh Tuhan Yesus dalam konteks ini memiliki kesamaan dengan firman Tuhan yang disampaikan oleh nabi Yeremia? Bukankah yang tidak diberkati oleh Allah berarti “terkutuk”?

Dalam realita hidup sehari-hari, tentu tidak dimaksudkan bahwa semua orang kaya dapat digolongkan sebagai oang-orang yang tidak mengandalkan Allah sehingga mereka terkutuk, dan semua orang miskin selalu dapat digolongkan dengan orang-orang yang mengandalkan Allah sehingga mereka diberkati. Lebih tepat dipahami bahwa semua orang yang hanya mengandalkan kekuatannya sendiri, atau mengandalkan kepada kuasa manusia pasti tidak akan diberkati oleh Allah. Sebagai orang berdosa, orang kaya dapat tergoda untuk mengandalkan harta miliknya, maka orang miskin juga dapat tergoda untuk mengandalkan belas-kasihan dari orang-orang yang dianggap lebih mampu, sehingga mereka tidak belajar bertanggungjawab atas kesulitan hidup yang mereka alami. Sebaliknya dalam kenyataan hidup kita juga dapat melihat kehidupan orang-orang kaya dengan sikap rohani yang mengandalkan Allah. Mereka memiliki banyak hal, tetapi hati mereka tidak pernah terikat dengan apa yang mereka miliki sehingga mereka dengan murah hati dan penuh kasih membagi-bagikan berkat yang dimiliki kepada setiap orang yang membutuhkannya. Bagi orang-orang kaya yang demikian, makna berbahagia  bukan karena mereka memiliki banyak hal, karena mereka dapat menyalurkan berkat Tuhan kepada banyak orang. Justru sikap orang kaya tersebut menandakan hidup sebagai orang yang miskin di hadapan Allah.

Dengan pola spiritualitas yang mengandalkan Tuhan dan senantiasa ingin menjadi berkat, nabi Yeremia menyebut setiap orang baik mereka yang kaya maupun yang miskin sebagai: “ia akan seperti pohon yang ditanam  di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah” (Yer. 17:. Gambaran dari pohon yang tumbuh di tepi air dengan akar-akar yang mampu memiliki akses untuk memperoleh air yang dibutuhkan, sehingga pohon tersebut akan tetap memiliki daun yang terus menghijau dan menghasilkan buah secara tetap merupakan gambaran dari kehidupan orang-orang yang berbahagia karena mereka diberkati oleh TUhan. Sangat menarik ucapan nabi Yeremia tersebut sejajar dengan firman Tuhan di Mazmur pasal 1:3, yang juga dimulai juga dengan ucapan: “Berbahagialah!” (Mzm. 1:1). Apabila pohon tersebut dapat bertumbuh, berbunga dan menghasilkan buah  bukan karena kekuatannya sendiri, tetapi karena ia mengandalkan Tuhan. Spiritualias orang beriman dapat tumbuh karena “semua akar-akarnya merambatkan ke tepi batang air”, yaitu bersumber kepada penyertaan dan berkat Allah. Manakala pohon tersebut tidak mendapat suplai air, maka pastilah pohon itu akan mati dan tidak mungkin berbunga apalagi berbuah. Kehidupan orang percaya haruslah berakar di dalam Tuhan, maka pastilah mereka akan berbuah karena kuasa kasih-karunia Tuhan.

Namun pertanyaan yang menggelitik muncul, mengapa manusia cenderung mengandalkan kepada kekuatannya sendiri atau mengandalkan kuasa orang lain, dan tidak mau mengandalkan kepada pertolongan Allah belaka? Tentu ada banyak jawaban dan kemungkinan terhadap pertanyaan tersebut. Namun menurut pandangan saya, karena manusia sering tergoda untuk berpaling membelakangi Allah karena dia ingin menjadi seperti Allah sehingga dia dapat menentukan jalan hidup menurut kehendak dan kemauannya sendiri. Karena itu manusia cenderung untuk mencari sumber kekuatannya dari dirinya sendiri, agar dapat memegahkan diri bahwa mereka dapat mencapai prestasi dengan kekuatan dan usaha mereka sendiri. Memang manusia telah diberi karunia oleh Tuhan untuk menguasai dan menaklukkan seluruh alam ini. Tetapi apakah manusia juga bersedia mempertanggung-jawabkan mandat yang dipercayakan kepada Tuhan? Di sisi lain, kemampuan memiliki dan menguasai banyak hal bukanlah tanda dari orang-orang yang berbahagia. Sebab orang yang berbahagia bukan berorientasi kepada milik dan tindakan menguasai harta milik ataupun hidup orang lain. Tetapi orang yang berbahagia adalah ketika dia mau menjadi alat penyampai berkat keselamatan Allah kepada sesama, seluruh mahluk hidup dan lingkungan hidup ini. Seluruh hidup orang percaya hanya berorientasi kepada kasih Allah dan komitmennya untuk terus menghadirkan syaloom, yaitu keselamatana dan damai-sejahtera Allah di manapun dia berada.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Pertolongan Tuhan Memampukan Kita Menjadi AlatNya

January 7, 2012 Leave a comment

Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.” Kemudian aku bertanya: “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu jawab-Nya: “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi. TUHAN akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong. Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!”

Yesaya. 6:1-13

Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku. Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Mazmur. 138

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

I Korintus. 15:1-11

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Lukas. 5:1-11

Stanley Jones adalah salah seorang pekabar Injil yang pernah melayani di India.  Dia mengisahkan pengalaman hidupnya dalam bukunya yang berjudul: “The Christ of the Indian Road“. Dalam buku tersebut Stanley Jones sebagai seorang misionaris pada awalnya ketika melayani di India sering mengalami ketegangan mental/stress yang membuat dia seringkali mengalami pingsan. Ketegangan mental tersebut terjadi berulang-ulang selama pelayanannya sebagai seorang misionaris. Walau dia sudah mengambil cuti besar pulang ke negaranya di Amerika Serikat untuk menenangkan hatinya, ternyata ketika kembali ke India dia tetap mengalami ketegangan mental. Setelah beberapa waktu lamanya, dia mengambil kesimpulan bahwa dia tidak berbakat dan tidak cocok untuk menjadi seorang misionaris. Namun ketika dia telah memutuskan untuk kembali ke negaranya, saat dia berdoa Stanley Jones seperti  mendengar suara Kristus yang berkata: “Jika kamu mau berpaling kepadaKu dan mau menyerahkan tugasmu kepadaKu, serta tidak merisaukan hal itu lagi, maka Akulah yang akan menyelenggarakan tugas itu”.

   Pengalaman iman tersebut memberi kekuatan mental yang  luar biasa  bagi Stanley Jones sehingga seluruh pelayanannnya sebagai seorang misionaris di India mengalami perubahan dan hasilnya sangat mengesankan. Dia terkenal sebagai seorang pengkhotbah yang penuh semangat dan mampu memberi inspirasi iman bagi setiap pendengarnya. Dalam bacaan pertama firman Tuhan dikisahkan bagaimana nabi Yesaya melihat kemuliaan Tuhan di Bait Allah yang dikelilingi oleh para Serafim yang memuji Allah sambil mereka berkata: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya” (Yes. 6:3).  Dalam pengalaman iman tersebut, nabi Yesaya merasa dirinya sangat najis dan tidak layak di hadapan Tuhan. Dia berseru: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (Yes. 6:5). Menurut istilah Rudolf Otto, pengalaman iman nabi Yesaya mengalami kehadiran Allah yang “tremendum” (menggetarkan dan menakutkan), karena dia menyadari keberdosaannya yang akan menyebabkan dia dapat mati ketika dia berhadapan dengan kekudusan Allah.

   Seharusnya kekudusan Allah akan menghancurkan dan memusnahkan setiap keadaan yang najis dan berdosa. Kekudusan Allah sering digambarkan  bagaikan api yang membakar semua yang jahat, kotor dan yang berdosa. Tetapi sangat menarik, dalam pengalaman nabi Yesaya yang melihat kekudusan Allah tersebut dia justru menyaksikan bagaimana rahmat Allah yang mau merangkul dan memilih dia walau dia najis dan berdosa. Seorang Serafim mendekati dan menyentuh dia, sambil berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (Yes. 6:7).  Walau Allah itu kudus, tetapi kasih dan anugerahNya tidak pernah berubah. Kasih-karunia Allah inilah yang memampukan nabi Yesaya untuk menerima pengutusan sebagai seorang hambaNya. Ketika Allah berfirman: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:. Dengan demikian hakikat pengutusan Allah kepada umatNya sama sekali bukan ditentukan oleh kemampuan, kesalehan, kepandaian dan keahlian mereka. Tetapi yang menentukan adalah pengalaman perjumpaan iman mereka dengan Tuhan, yang telah memilih mereka kendati mereka sadar akan ketidaklayakannya, dan sikap kesediaan mereka untuk terus  diproses, dibentuk  dan dimampukan oleh kuasa Roh Kudus.

   Di I Kor. 15:8-10, rasul Paulus menyaksikan bagaimana kasih-karunia Allah yang begitu besar kepada dia walau dia semula seorang hina dan yang pernah menganiaya jemaat Tuhan. Di ayat 8, dia menyebut dirinya sebagai seorang anak yang lahir sebelum waktunya ketika Kristus berkenan menyatakan diriNya. Seorang bayi yang lahir prematur pada hakikatnya belum siap hadir sebagai seorang insan yang sehat di dunia ini. Seperti itulah keadaan rasul Paulus, dia tidak memiliki kesiapan dan kemampuan apa-apa tetapi ternyata kasih-karunia Kristus melampaui seluruh dosa dan kesalahannya. Manakala dia kemudian dipakai Tuhan dan dapat menjadi seorang hamba Kristus yang begitu berpengaruh dalam kehidupan gereja dan sejarah umat manusia, sama sekali bukan ditentukan oleh kemampuan manusiawinya. Dengan demikian terdapat pengalaman yang sejajar antara nabi Yesaya dan rasul Paulus. Mereka dapat menjadi seorang hamba Tuhan yang luar-biasa dan memiliki pengaruh yang abadi, oleh karena kuasa anugerah Allah yang memampukan mereka. Kekuatan mereka sebagai seorang hamba Tuhan didasarkan pada spiritualitas iman yang telah mengubah seluruh perspektif teologis yang semula bermegah karena kekuatan, kemampuan dan kepandaian diri mereka.

   Perubahan perspektif teologis itulah yang memampukan mereka untuk menyerap dan belajar terus-menerus kehendak Allah. Sehingga tidak mengherankan jikalau berita dari kitab nabi Yesaya dan surat-surat rasul Paulus memiliki suatu dinamika perkembangan teologis, kesaksian dan pemikiran yang begitu bernas, bermutu dan orisinil serta mampu merelevansikan firman Allah dengan kehidupan jemaat pada waktu itu dan kehidupan jemaat masa kini. Perjumpaan nabi Yesaya dan rasul Paulus dengan Tuhan bukan hanya membuat mereka memiliki kesadaran iman akan ketidaklayakkan dan besarnya kuasa anugerah Allah yang terjadi dalam diri mereka. Tetapi pengalaman iman itu juga memberi diri mereka suatu  kekuatan yang mendorong diri mereka untuk secara dinamis dan progresif membangun berita firman Allah yang berkuasa dan penuh wibawa kepada umat di zamannya.

   Demikian pula dengan tanggungjawab iman kita. Agar kita dapat berperan secara lebih efektif sebagai alat di tangan Tuhan, maka tidaklah cukup jika kita hanya berdasarkan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan saja. Tetapi yang lebih utama lagi adalah apakah pengalaman perjumpaan dengan Kristus memampukan kita untuk mengalami perubahan perspektif teologis yang mendorong diri kita secara dinamis untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar kita dapat  menyampaikan berita dari firman Tuhan yang makin bermutu dan mengena dengan kehidupan yang nyata. Kesalahan yang lain adalah banyak sekali di antara kita hanya menekankan upaya belajar berbagai ilmu pengetahuan dan mengembangkan diri dalam berbagai program pembinaan, tetapi seluruh upaya belajar tersebut  menutup mata  dan mengabaikan  pengalaman perjumpaan dengan Tuhan secara personal, sehingga berita yang kita sampaikan seringkali kering, hambar dan tidak memiliki wibawa rohani.

   Kini yang dipakai oleh Tuhan sebagai alatNya, tidak lagi terbatas kepada para pejabat gerejawi saja. Tuhan dapat memakai siapapun! Karena itu kita semua sebagai umat Allah adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus seharusnya  makin membuat kita peka dengan panggilanNya yang kudus, dan kesungguhan untuk terus mengembangkan diri. Sehingga berita firman Tuhan yang kita sampaikan dalam berbagai aspek kehidupan dapat menjadi berita firman Tuhan yang makin efektif untuk menjangkau setiap orang yang ada di sekitar kita. Jika demikian, apakah kita selaku hamba Tuhan atau anggota jemaat telah dapat menjadi alat di tangan Tuhan yang efektif?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Belajar Selalu Merenungkan dan Memberitakan Firman Tuhan

January 7, 2012 Leave a comment

“…maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.  Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.  Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.  Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.  Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah. (8-8) Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.  Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.  Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!

Nehemia 8:1-10

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. (19-9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. (19-10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, (19-11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. (19-12) Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar. (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. (19-14) Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. (19-15) Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Mazmur. 19: 1-14

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

I Kor. 12:12-31

Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

Lukas 4:14-21

Bagi orang beriman, firman Tuhan selalu menempati tempat yang sangat utama dalam kehidupan mereka. Pemazmur mengungkapkan: “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm. 19:8-9). Sehingga tidak mengherankan jikalau umat Israel setelah kembali dari pembuangan di Babel, mereka berkumpul untuk mendengarkan pembacaan hukum Taurat. Di Neh. 8:3 disebutkan Ezra membacakan firman Tuhan kepada umat Israel, yaitu laki-laki dan perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. Mereka tidak terlebih dahulu mengadakan pesta untuk merayakan peristiwa sukacita karena telah kembali umat dari pembuangan. Tetapi yang dilakukan oleh umat Israel adalah terlebih dahulu mereka menyatukan diri untuk belajar merenungkan dan mengerti firman Tuhan.

Di Nehemia. 8:4 disebutkan bahwa Ezra membacakan firman Tuhan tersebut di depan pintu Gerbang Air dari pagi sampai tengah hari. Pembacaan Alkitab tersebut secara bersengaja dilaksanakan di depan pintu Gerbang Air, yang juga tempat itu diberi predikat sebagai: “the glory of the city“. Yang mana air bermakna sebagai sumber kehidupan, sehingga firman Tuhan dimaknai pula sebagai sumber kehidupan bagi umat percaya. Yang menarik pembacaan Alkitab tersebut dibacakan oleh Ezra dari pagi sampai tengah hari. Jadi pembacaan Alkitab dan uraiannya hampir mencapai 6 jam! Umat Israel tetap bertahan mendengar pembacaan firman Tuhan sekian lama karena mereka haus akan firman Tuhan tersebut. Bandingkan dengan Mzm. 42:2 yang berkata: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah“. Jika demikian, seharusnya kita selaku umat percaya juga memiliki sikap yang selalu haus akan firman Tuhan. Firman Tuhan tersebut bukan hanya kita baca hanya dalam kebaktian hari Minggu, tetapi seharusnya kita baca setiap hari. Kalau kita selalu haus akan firman Tuhan, justru penambahan pembacaan Alkitab tersebut justru membawa rasa sukacita.

Pada satu sisi kita dapat melihat umat Israel sebagai umat yang selalu haus untuk mendengarkan firman Tuhan, tetapi pada sisi lain kita juga dapat melihat mereka seringkali menjadi umat yang cenderung mengeraskan hati. Itu sebabnya umat Israel sering gagal untuk menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan. Tampaknya mereka hanya gemar “mendengar” (to hear), tetapi mereka gagal untuk belajar “mendengarkan” (to listen) firman Tuhan. Sehingga ketika Tuhan Yesus menyatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21), mereka menunjukkan sikap penolakan untuk mengakui Yesus sebagai penggenap nubuat nabi Yesaya. Di Luk. 4:29 disebutkan lalu mereka bangun, menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke terbing gunung dengan tujuan untuk membunuh Dia. Sebenarnya keadaan rohani umat Israel dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak berbeda dengan sikap hidup kita sendiri. Pada satu pihak kita menampakkan sikap yang sangat rohani dan haus untuk mendengar firman Tuhan, tetapi sikap dan perbuatan hidup kita justru bertolak-belakang dari kehendak Tuhan. Apabila firman Tuhan yang kita dengar kudus dan benar adanya, tetapi kita sering mengeluarkan perkataan yang penuh dengan kesombongan, menyebarkan kebencian, memberi stigma negatif terhadap diri seseorang, dan merendahkan sesama yang kita anggap lemah.

Rasul Paulus memberi nasihat: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (I Kor. 12:13). Apabila kita menyadari bahwa setiap diri kita merupakan satu tubuh di dalam Kristus, maka seharusnya kita menghormati setiap orang. Bahkan kita wajib memberi penghormatan khusus kepada sesama yang kita anggap kurang “penting”. Di I Kor. 12:23, rasul Paulus berkata: “Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus” . Tidaklah cukup bagi kita hanya sebagai pendengar firman Tuhan yang saleh, tetapi lebih dari pada itu kita dituntut untuk menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan yang setia dengan memberlakukan kasih Tuhan secara nyata kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.

Manakala perkataan dan perbuatan kita bertentangan dengan firman Tuhan, walaupun kita selalu merasa haus akan firman Tuhan sesungguhnya kehidupan kita belum sepenuhnya dikuasai oleh firman Tuhan. Nilai-nilai kebenaran firman Tuhan tersebut belum diserap di dalam roh dan jiwa kita, sebab kehidupan kita masih dipenuhi oleh nilai-nilai yang duniawi. Untuk melihat apakah kita telah menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan, dapat dillihat seberapa besar nilai-nilai firman Tuhan tersebut kita nyatakan dalam perkataan dan perbuatan kita. Semakin perkataan dan perbuatan kita menghasilkan kebenaran, keadilan dan damai-sejahtera maka kerohanian kita tersebut dapat menjadi suatu cermin bahwa hidup kita makin dipenuhi oleh kebenaran firman Tuhan. Jika demikian, di manakah kita berada? Apakah kita selaku jemaat Tuhan hanya sebagai pendengar yang haus akan firman Tuhan, ataukah juga kita menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

Developing a Biblical World View

January 4, 2012 Leave a comment

This course is the first in the Third Module of training of Harvestime International Institute. Module One, entitled “Visualizing,” communicates the vision of spiritual harvest. The Module Two courses on “Deputizing” provide basic training to equip you to fulfill this vision. Module Three courses explain how to expand the vision  you have received by sharing with others what you have learned.  You will learn how to train laborers for spiritual harvest who will be able to train others also:

And the things that thou hast heard of me among many witnesses, the same commit thou to faithful men, who shall be able to teach others also.  (II Timothy 2:2)

This continuing cycle of training is called “multiplying” because it multiplies the spiritual labor force.

Developing a Biblical world view is basic to spiritual multiplication. Having a Biblical world view means you see the world on the basis of what is revealed about it in the Bible. You do not look at the world as  politicians, economists, or educators. You do not view the world in terms of your own culture.  Instead, you view the world as God sees it. You begin to understand it from His perspective. To “develop” means to acquire something or to expand knowledge in a certain area. This course  will expand your knowledge of the world in which you live for the purpose of multiplying spiritual laborers.

This course explains the “world view” revealed in the Bible, the written Word of God. It traces the subject from the book of Genesis through Revelation.   It explains God’s plan for the nations of the world from the beginning through the end of what we call “time.” This course presents the believer’s responsibility to the nations by introducing the challenge to become a “World Christian.”

These lessons discuss current global spiritual conditions, stressing the urgent  need to spread the Gospel to unreached people groups of the world. The lessons also focus on the responsibility of the Church in the world and you will begin to see the world as God sees it. But as faith without works is dead (James 2:26), a Biblical world view without personal involvement is also not effective. This course will challenge you to become more than a mere spectator with a Biblical world view. You will be motivated to become a participator who is an active part of what God is doing in the world today.

Blessings in Jesus.

 

Download   PDF  DOC  MOBI  PRC

Categories: Free & Legal Ebook

Pergi Untuk Diutus Menyampaikan Kabar Baik

January 4, 2012 Leave a comment

Bacaan : Yer. 1:4-10; Mzm. 71:1-6; I Kor. 13:1-13; Luk. 4:21-30

Saat seseorang masih muda dan belum berpengalaman akan cenderung  bergaul hanya dengan teman-teman sebayanya. Dia tidak akan mau untuk melakukan sesuatu yang  mengandung  risiko tinggi seperti sikap penolakan atau sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya. Sangat menarik, Yeremia menerima tugas pengutusan dari Allah justru ketika ia masih muda-belia. Yeremia bukan hanya sekedar dipanggil untuk memberitakan firman Tuhan, tetapi juga dia mendapat tugas khusus yaitu: “Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” (Yer. 1:10). Pengutusan Allah tersebut mengandung suatu tugas yang sangat berat, berbahaya dan memiliki lingkup area  yang sangat luas bagi bangsa-bangsa sekitar Israel. Nabi Yeremia tidak hanya dipanggil untuk memberitakan firman kepada umat Israel saja, tetapi juga dia harus menyatakan suara kenabiannya dan firman Allah yang dapat membinasakan dan meruntuhkan kerajaan-kerajaan!

Apabila Yeremia yang masih muda itu bersedia melaksanakan tugas pengutusan itu, pastilah karena ia yakin akan panggilannya sebagai seorang nabi. Dasar keyakinan iman Yeremia untuk melaksanakan pengutusan dan panggilan Allah yang sangat besar dan berisiko tersebut adalah:

  • Allah telah mengenal Yeremia jauh sebelum dia lahir dari kandungan ibunya (Yer. 1:5a)
  • Sebelum dia dapat percaya dan mengenal Allah, Allah terlebih dahulu telah memilih dan menetapkan Yeremia sebagai nabi atas bangsa-bangsa (Yer. 1:5b, 5c).
  • Janji penyertaan dan perlindungan Tuhan selama dia setia melaksanakan tugas panggilannya sebagai seorang nabi (Yer. 1:8)
  • Berita yang akan disampaikan kepada bangsa-bangsa yaitu firman Allah telah diletakkan terlebih dahulu oleh Allah di dalam mulutnya (Yer. 1:9).

Dengan demikian Yeremia melaksanakan tugas pengutusan untuk memberitakan firman Tuhan bukan karena ia bersandar kepada kekuatan dan kemampuannya sendiri. Dalam melaksanakan tugasnya, pastilah Yeremia akan mengalami berbagai hal yang sangat pahit, menakutkan dan mengerikan dalam kehidupannya. Bagaimana mungkin Yeremia  yang masih muda belia, belum berpengalaman dan hanya seorang diri dia harus menyuarakan kebenaran firman Tuhan kepada banyak orang? Pastilah Yeremia memiliki pengalaman panggilan dari Tuhan begitu nyata, unik dan personal sehingga dia sangat yakin akan penyertaan dan pertolongan dari Allah. Dengan sangat indah, Mzm. 71:6 melukiskan kehidupan orang beriman yang hanya bersandar kepada Allah: “KepadaMulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji”. Jadi sumber kekuatan spiritual dari Yeremia adalah karena ia bertopang kepada Allah yang telah memilihnya sebelum dia lahir dan yang telah menetapkan Yeremia sebagai hambaNya.

Dengan bekal kesaksian dari pengalaman Yeremia yang tegar menghadapi penolakan dari umat Israel dan orang-orang di sekitarnya, kita kerapkali dapat terjebak untuk mudah membenarkan diri saat orang-orang di sekitar menolak diri kita. Dalam hal ini kita terlalu mudah menyamakan diri kita sendiri dengan nabi Yeremia. Seakan-akan diri kita merupakan pengejawantahan kembali pengalaman personal nabi Yeremia. Berita yang disampaikan oleh nabi Yeremia memang sangat tajam, tetapi dia tidak menonjolkan perkataan yang kasar; dia mengemukakan hukuman Allah secara lugas tetapi bukan untuk mendiskreditkan sesama, tetapi bertujuan agar umat bertobat; dia berani menyingkap dosa umat tetapi sekaligus dia memberitakan firman Tuhan yang memberi pengharapan. Sikap nabi Yeremia tersebut justru sering tidak kita lakukan dengan baik. Perkataan-perkataan kita sering gemar mengutip firman Tuhan (Alkitab) untuk  pembenaran diri  dan menutupi segala bentuk sikap egoisme kita. Atau mungkin perkataan-perkataan kita cenderung sering kasar, meremehkan, penuh kecurigaan dan sikap yang mudah menghakimi orang lain. Sehingga seringkali perkataan dan ucapan kita sering menjadi “bisa” (racun ular) yang meracuni atau mematikan semangat dan harapan hidup dari sesama kita.

Berita firman Allah yang tajam menusuk, bukanlah bertujuan untuk mencerai-beraikan dan merusak kehidupan umat manusia tetapi untuk membangun. Berita firman Tuhan harus disampaikan secara benar, lugas, dan obyektif tetapi dengan tujuan kasih. Dalam hal inilah kasih Allah harus menjadi dasar utama dari seluruh pemberitaan firman Tuhan. Bandingkan dengan perkataan rasul Paulus: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku“. (I Kor. 13:2-3). Ketika berita dari firman Allah tersebut telah kita sampaikan dengan penuh kasih, kesediaan berkorban, dan hati yang tulus, namun kita tetap ditolak oleh sesama maka Tuhan telah berjanji untuk menyertai dan melindungi diri kita.

Kita semua dipanggil untuk memberitakan firman Allah di semua aras atau berbagai bidang kehidupan, bukan hanya di gereja; tetapi juga di rumah/keluarga, hubungan-hubungan pribadi, di tempat pekerjaan, di sekolah/kampus, di masyarakat dan di arena sosial-politik sesuai dengan tugas panggilan kita masing-masing. Tetapi apakah firman Tuhan tersebut telah kita sampaikan secara benar, lugas, obyektif namun tetap dilandasi dengan kasih; ataukah sebaliknya perkataan dan ucapan-ucapan kita justru  dilandasi oleh pola pikir duniawi tetapi dengan bungkus/kemasan firman Tuhan?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono