Home > YB Mangunwijaya > Wawancara dengan YB Mangun Wijaya: “Kalau Tidak Ada Demokrasi, Tak Ada Perlindungan Anak”

Wawancara dengan YB Mangun Wijaya: “Kalau Tidak Ada Demokrasi, Tak Ada Perlindungan Anak”

Budayawan yang juga pastor pada gereja Katolik di Yogyakarta ini memang memahami beragam masalah — mulai politik, sosial, bahkan budaya. Hani Pudjiarti dari TEMPO Interaktif mewawancarai Romo Mangun lewat telepon mengenai Hari Anak Nasional pada 23 Juli 1996, yang ditandai dengan merebaknya kasus pelecehan seksual anak-anak pada dua minggu terakhir ini. Berikut petikan wawancaranya.

Sudah manusiawikah perlindungan terhadap hak anak di Indonesia?

Akibat dari sistem politik, ekonomi, dan budaya yang meraja (menguntungkan, Red) beberapa pihak saja, hak anak-anak itu tidak terlindung. Melindungi anak itu sebenarnya tergantung pada mentalitas bangsa dan pendekatan terhadap struktur ekonomi. Kalau hal itu tidak ada, ya tidak ada perlindungan; kalau ada, ya ada perlindungan.

Kesemuanya ini bagian penting dari demokrasi; kalau tidak ada demokrasi, ya tidak ada perlindungan. Wong perlindungan hak untuk yang dewasa saja nggak ada, apalagi perlindungan untuk anak? Anak itu dianggap non eksistis (tidak ada, Red) dalam suatu sistem yang tidak demokratis. Jadi perlindungan tidak akan terwujud sebelum mental dan struktur politik, ekonomi, sosial dan budaya diubah. Bahkan dalam suku primitif sekali pun — seperti suku di Irian Jaya, suku Nomad, dan suku Kubu — anak dilindungi.

Bagaimana keterkaitan antara ketiadaan perlindungan anak kebanyakan dengan kasus kejahatan seksual, seperti sodomi pada anak jalanan yang merebak belakangan ini?

Ah, saya tidak pernah percaya kalau soal sodomi itu berbuntut pembunuhan seksual. Orang sodomi itu tidak membunuh anak, kok. Dan itu praktek yang sudah lama — tidak ada pembunuhan, hanya karena soal seksual saja. Pembunuhan itu kalau ada masalah; biasanya anak-anak ini tahu banyak tentang perdagangan obat-obat terlarang, seperti heroin dan ectasy, serta perdagangan barang-barang ilegal lainnya. Nah, kalau mereka menjadi saksi-saksi utama di dalam dunia gelap tersebut, mereka dibunuh. Jadi, kalau motivasi dibunuh karena soal sodomi, saya nggak percaya. Kesemuanya dibuat begitu, seolah-olah itu soal seksual. Anak-anak itu tahu banyak, karena mereka sering disuruh mengedarkan heroin, obat-obat terlarang, dan hal-hal yang kriminal. Kalau mereka tahu terlalu banyak dan itu berhubungan dengan ecstasy, itu baru logis mereka dibunuh. Mungkin memang ada sodomi, tapi bukan itu alasannya mereka dibunuh.

Maksud Anda, isu sodomi ini hanya untuk mengalihkan perhatian saja?

Ya, saya kira tidak salah, juga bukan kebenaran seluruhnya. Mungkin hanya kebenaran separuh saja. Mungkin bukan hanya ada sodomi; tapi untuk membunuh dengan argumentasi atau motivasi sodomi tersebut, saya nggak percaya. Orang yang homo tidak membunuh kok.

Tapi untuk maksud apa ada upaya mengalihkan perhatian masyarakat?

Soal sodomi sudah lama beberapa tahun yang lalu, tapi mengapa baru dibunuh sekarang, logis saja kalau muncul banyak pertanyaan. Saya yakin mereka memang mengetahui banyak hal mengenai kebobrokan orang-orang gede, maka mereka (anak jalanan, Red) harus dibunuh.

Siapa sebenarnya anak-anak jalanan itu?

Yang dimaksud anak jalanan di sini sebenarnya bukan anak-anak miskin yang punya orang tua, atau yang asongan. Bukan itu. Tapi mereka adalah sungguh-sungguh anak jalanan yang lari dari orang tua, dan tidak punya rumah. Mereka ada di tempat mereka bisa bertahan hidup. Seharusnya mereka dijadikan anak negara atau di bawah naungan negara. Sayangnya karena negara kita sudah semakin menjauh dari Pancasila, ya banyak sekali anak-anak jalanan itu melebar.

Menurut data resmi UNESCO pada dua tahun lalu, sudah tiga puluh ribu jumlah anak jalanan di Jakarta. Itu belum termasuk jumlah di Surabaya, Semarang, Medan, Yogyakarta, dan sebagainya. Yang pasti, dalam setiap tahun jumlah itu terus bertambah. Mestinya kita malu, sebab di negara Pancasila ini nggak boleh ada, tapi nyatanya kok ada?

Kalau mereka tahu banyak hal, mengapa mereka tidak berusaha melapor?

Ya, mereka kan punya alasan lain atau satu argumentasi yang lain — dan kita harus tahu mengapa mereka tidak lapor. Mereka harus tetap bertahan hidup dengan segala hal yang mereka tahu, kalau mau selamat. Hal macam ini yang tidak pernah kita pahami. Apabila kondisi negara kita seperti di negara Barat — yang pelaksanaan perlindungan anaknya bagus, mapan, dan efektif — mereka kalau ada apa-apa lapor pada polisi atau lainnya.

Menurut Anda apa faktor utama yang mengakibatkan mereka menjadi anak jalanan?

Mereka itu kan lari dari keluarga karena suatu hal yang tidak beres dalam keluarga itu. Mana ada anak yang lari; itu kan melawan kodrat. Anak selalu mencari perlindungan, dan biasanya perlindungan pada orang tua kandung. Tapi kalau orang tua kandungnya saja sudah sadis, ya mereka lari; kan tidak sulit cari motivasi. Seharusnya pihak pemerintah intervensi kalau ada orang tua yang jahat pada anaknya, supaya mereka nggak lari dan diberikan perlindungan.

Apakah peran lembaga yang ada seperti Yayasan Kesejahteraan Anak dan Remadja Indonesia (YKARI) dalam memberikan perlindungan kepada anak masih minim?

Di Indonesia kan sampai sekarang bisanya baru sekian, karena akar yang fundamen dan jadi dasar di kita belum ada, yaitu undang-undangan perlindungan anak. Jadi ini masalah nasional, bukan masalah beberapa lembaga sukarelawan. Perundangan nasional selalu tergantung pada yang membuat undang-undang, dan melihat apa yang diprioritaskan. Sekarang UU yang prioritas adalah UU perusahaan yang intinya pada soal industri dan bisnis — itu dianggap menjadi penting dan mentalnya mengarah ke situ. Tapi anak? Bagi mereka non eksistim, atau makhluk-makhluk kecil yang bisa diapakan saja dan dianggap itu urusan orang tua. Mereka tidak mempunyai arti dan belum dihargai sebagai warga negara penuh. Jadi anak itu ya mereka kasihan dan romantis menghadapi anak. Tapi soal kesungguhan efektif menglindungi anak, belum ada UU-nya.

Idealnya, apa yang dibutuhkan anak supaya mendapat perlindungan dengan baik?

Datangnya dari keluarga mereka sendiri atau inti family-nya seperti ayah, ibu, dan anak. Umumnya keluarga di Indonesia mengenal nucleous family, jadi keluarga inti di Indonesia hampir tidak ada, yang ada extend the family. Keluarga ayah, ibu, anak, itu romantik ada di dalam ideal dan abstraksi ilmiah saja, tapi kenyataannya di Indonesia extend the family dari RT, RW, kelurahan, kecamatan dan terus meluas. Di Indonesia baru tercapai satu dua keluarga inti. Akibatnya hak mereka inginkan patuh kepada ayah dan ibunya tidak tercapai.

Bagaimana dengan background pendidikan yang mereka miliki selama ini?

Itu semua bukan soal pendidikan. Bangsa kita itu sedang apa dan mentalnya apa, rohnya apa? Bukan pendidikan kok; ini hanya faktor kecil saja dari seluruh suasana bangsa. Persoalan ini terjadi karena sistem yang sudah memburuk di bangsa kita. Sistem negara yang baik adalah jika tidak ada itu anak jalanan dan telantar.

Menurut Anda, bagaimana solusi yang harus ditempuh dalam masalah anak ini?

Wah soal solusinya itu jawabannya bisa mudah dan gampang — kesemuanya tergantung pada generasi muda. Seperti yang solusinya Hindia Belanda, siapa yang menyelesaikan soal itu? Ya generasi muda pada waktu itu. Coba kalau mereka diam dan tidak dapat berbuat apa-apa, ya tetap Hindia Belanda sampai sekarang. Demikian masalah anak, ya sama saja harus tergantung generasi muda.

Pada acara puncak peringatan Hari Anak Nasional di Taman Mini pada 23 Juli kemarin, mereka (anak-anak, Red) harus ceria dan bahagia, menurut Anda?

Ya, anak-anak harimau bisa bergembira ria di negeri macan Asia ini. Tapi anak-anak lain, anak-anak babi, kambing, rusa itu, ya susah untuk bahagia apalagi gembira. Yang bisa bahagia pergi ke Ancol dan berpesta hanya anak harimau tok — dan itu yang terjadi di Indonesia.

Sumber: Edisi 22/01 – 26/Jul/1996

 

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: