Home > YB Mangunwijaya > CBSA: ‘Cah Bodho Sangsaya Akeh / Arang’

CBSA: ‘Cah Bodho Sangsaya Akeh / Arang’

Oleh: Y.B. Mangunwijaya

Perubahan Ekonomi Politik Sosial dan kultural selama sekian abad mengharuskan tunas-tunas muda mengolah pergulatan hidup yang berkonteks serba baru lagi kompleks. Sehingga mau tidak mau (diajari atau intuitif tahu sendiri) terdorong mencari jalan sendiri. Dalam soal jodoh misalnya, lapangan kerja, gaya hidup bahkan ketaatan kepada agama pun dan lain-lain. Si Tunas seolah-olah bukan tunas lagi atau penerus tongkat estafet, melainkan menjadi (ekstermnya) ‘mahkluk’ lain.

Ekonom sosilog mungkin akan menerangkan itu sebagai akibat loncatan budaya agraris feodal berekonomi tertutup ke fase historis budaya urban, ke ekonomi industrial masyarakat terbuka global dan seterusnya. Para ulama mungkin geleng-geleng kepala melihat itu sebagai gejala murtad akibat sekularisme dan kemaksiatan dunia Barat kafir. Politikus (bukan negarawan) mungkin mencapnya sebagai sikap liberal kaum sipil yang tidak patriotik dan sebagainya. Namun pendidik yang baik (berdasarkan pengetahuan sejarah kebudayaan bangsa manusia yang luas) biasanya akan menyambutnya dengan tersenyum, karena tahu memang itulah wajar selalu terjadi kapan pun dalam sejarah perkembangan manusia serta nasion ke arah pendewasaan diri.

Pendewasaan atau emansipasi, pemerdekaan serta kesanggupan bertanggung jawab sendiri dan sebagainya adalah kata-kata lain untuk perkara sama. Tentulah kita diingatkan, dan memang benar, bahwa kaitan masa lampau jangan kehendaknya dibuang begitu saja karena kodrat manusia memerlukan akar-akar, kenang-kenangan yang bila dipotong akan melayukan identitas diri serta vitalitas hidup. Namun tetap sah, wajarlah bila anak atau remaja terdorong untuk merdeka mencari sendiri jawaban pertanyaan banyak sekali yang ia hayati. Alias memproses realisasi diri agar semakin dewasa dan bertanggung jawab menuju orangtua atau guru (dan pemerintah juga), bahkan si manusia muda sendiri, karena banyak serba tidak jelas ke mana arahnya.Maklumlah segala yang tidak jelas biasanya kita artikan sebagai bahaya bahkan malapetaka.

Oleh karena itu dunia hubungan tradisional angkatan tua dan generasi tunas selalu kita temukan pola dasar pendidikan yang maunya hanya ingin menasihati dan menatar, memberi pedoman, mengarahkan, menginstruksi, mengkomando, mengindokrinasi, menyuruh menghafalkan, mempawangi sembarang apa yang dianggap harus dilakukan si anak/murid agar berhasil. Tentu saja berhasil menurut versi generasi tua. Agar menjadi orang terhormat (menurut selera babe), masih ditambah dengan gelar ‘berguna bagi nusa dan bangsa’ (sesuai doktrin penggalang) sebagai penerus tongkat estafet (bikinan Angkatan 45) dan sebagainya, dan seterusnya. Sebetulnya itu tadi BUKAN PENDIDIKAN melainkan sosialisasi namanya, mempawang agar anak tunduk kepada adat sosial yang dianggap satu-satunya yang sah oleh orangtua/masyarakat.

Bertanya dan Mencari

Pendidikan dalam arti manusiawi yang adil dan beradab menurut tingkat kesadaran dunia masa sekarang lainlah. Tetaplah masih diakui bahwa murid memerlukan bimbingan kaum tua, pengajaran bahkan hukuman disipliner bila perlu, akan tetapi semangatnya lain. Teristimewa menghadapi zaman pembaharuan sekaligus pancaroba penuh ketidakpastian. Dalam situasi seperti itu pendidik yang diminta masa kini dan mendatang sebenarnya bukan lagi guru, suhu dalam arti klasik, lebih celaka lagi penatar, komandan, birokrat, pawang, dan sebagainya. Melainkan sewujud abang, kakak, bahkan kadang-kadang adik. Yang jelas: sahabat atau pendamping. Yang SADAR mengakui JUJUR bahwa yang paling berhak menggurui si murid sebenarnya ialah si murid itu sendiri. Namun yang (dialektis) tahu juga, bahwa si anak atau murid memang dari kodratnya meminta bahkan menuntut bimbingan atau pendampingan, pengajar dan pendidik yang penuh perhatian terhadapnya.

Dalam dunia persekolahan, kita sering bingung memperbincangkan kurikulum, THB, NEM, Ebtanas dan sebagainya. Ini dapat dipahami, karena memang itu perkara-perkara yang tidak boleh kita remehkan. Tetapi dari segi pendidikan serta pengajaran juga, itu semua hanyalah piranti saja atau rambu-rambu. Kalangan SD pantas gembira bahwa kurikulum baru boleh disebut sudah baik, walaupun dalam beberapa hal penting masih kurang. Kebebasan relatif yang mendorong kreativitas guru demi murid secara positif juga sudah terasa dalam kehendak pihak Depdikbud. Yang masih amat menghambat sekolah menjadi baik ialah antara lain sistem evaluasinya, THB, NEM, EBTA dan sebagainya yang top-down dan biasanya merepotkan bahkan sering counter-productive karena menyuburkan komersialisasi buku-buku wajib dan lain-lain yang sering sungguh justru memperbodoh murid, bahkan salah pertanyaan-pertanyaannya.

Selain itu silahkan hitung berapa saja kursus bimbingan tes alias kepawangan serba dril mahal yang menjamur dimana-mana dan yang merupakan bukti paling gambling, betapa gagalnya cara pembelajaran dunia persekolahan kita. Yang melelahkan anak tetapi dianggap mutlak perlu. Hanya karena si murid atau orangtua takut. Namun entahlah dari mana harus dicari titik terang, karena ini warisan sejarah panjang dari sekian ordo yang sangat ruwet dan yang sebetulnya bukan masalah pengajaran dan pendidikan, melainkan soal ekstern rebutan rejeki, sehingga sementara kita lewati dulu saja, meski soal penting sebetulnya.

Belajar adalah Eksplorasi

Yang perlu diusahakan ialah kesepahaman bahwa kita mendidik atau mendampingi murid, pertamadan terutama demi hari depan si murid itu. Hari depan yang harus diolah dan dibentuk oleh dia sendiri. Hari depan yang serba kejutan dengan macam-macam hal yang baru tak terduga, dan yang harus ia pelajari atau latih tanpa bisa bertanya pada catatan-catatan sekolahnya dulu.

Jadi si murid abad ke-21 harus punya modal kemampuan khas untuk mencari sendiri. Dengan kata lain ia harus sudah punya kebiasaan eksplorasi sendiri, berani dan tahu caranya bertanya dan memperoleh/merebut/mencuri (dalam arti baik) informasi. Sama saja, kemajuan bangsa tergantung pada perhatian nasion dalam bidang riset dan pengembangan, alias unsur dan kemampuan eksplorasi.

Pernah modal utama produktivitas adalah kerja tenaga, lalu tanah. Kemudian modal uang dan alat-alat produksi. Menyusul informasi. Bukan hanya menerima informasi akan tetapi menggali menjaring informasi baik dari alam maupun manusia. Maka negara maju ditandai oleh intensitas dan kualitas eksploratifnya dalam riset dan pengembangan. Mental eksploratif adalah modal bekal yang paling menentukan dalam dunia perguruan tinggi atau laboratorium perusahaan besar. Namun ini harus dimulai sangat dini. Maka harus sudah ditanamkan mulai SD-6 tahun dan diteruskan sampai perguruan tinggi. Mental research and development harus mendarah-daging dalam pelajar Indonesia. Apalagi bila ia tidak mampu meneruskan studi ke jenjang sekolah tinggi atau menengah. SD-6 tahun harus sudah bermodal daya atau taruhlah nafsu eksplorasi. Lebih daripada seorang mahasiswa, karena pergulatan hidupnya akan lebih berat. Biduk kecil jauh memerlukan ketangkasan mengarungi ombak dan angin daripada kapal tempur angkatan laut.

Tujuan mata pembelajaran pengetahuan alam sosial, tak terkecuali agama atau lebih tepat IMAN ialah usaha pemberian informasi amat penting. Tetapi itu hanya punya arti apabila mempu menyalakan ketangkasan, selera dan nafsu bertanya serta eksplorasi di dalam mentalitas si murid. Baik bagi yang meneruskan ke studi tinggi, bahkan lebih-lebih lagi justru bagi yang tidak meneruskan sekolah karena miskin kesempatan.

Belajar Bertanya

Jean Piaget-lah yang pertama menunjukkan jalan psikologi perkembangan daya-intelegensi si anak lewat eksplorasi aktif. Misalnya: dari pengalaman dan petunjuk ibunya seorang balita Jawa tahu, anak ayam yang sudah berkali-kali ia lihat bernama kuthuk. Ia puas dengan pengetahuannya itu. Keadaan puas itu keadaan equilibrium (keseimbangan) atau stabilitas dalam benak. Tetapi suatu pagi ia melihat seekor binatang mungil persis anak ayam kok enak-tenang saja masuk selokan dan berenang. Sesuatu yang belum pernah ia lihat. Keseimbangan pikirnya guncang. Tetapi kemudian ia tenang lagi dengan konsep baru: ‘itu kuthuk banyu’ (anak-ayam-air).‘Ibu, ibu, itu kuthuk banyu !’. Namanya: meri (anak itik)’ – ‘Miri ? –Mnne-ri.’ Si balita tertawa: ‘Mmmeri. Lucu. Meri.’

Tepatlah waktu masukan ibunya itu, yang datang sesudah si anak mengkonstruksi sendiri konsep baru tentang binatang seperti dan semungil anak ayam yang bisa berenang. Perkembangan intelegensi anak berjalan dari equilibrium yang satu lewat guncangan disequilibrium ke equilibrium yang baru. Aktivitas guncangan yang dihayati di dalam dan oleh dirinya itu (dan orang dewasa sekali pun) sangat perlu dan vital untuk semakin kaya pemahamannya tentang berbagai hal. Dan inilah fungsi pertanyaan dan eksplorasi yang tumbuh dari dalam si anak (maupun orang dewasa). Bukan pertanyaan lemparan dari luar yang hanya dihayati sebagai gangguan batu jatuh saja. Kecuali bila pertanyaan itu bagaikan biji tanaman ekstern yang masuk benak dan hati, lalu tumbuh dari dalam pada inteligensi si anak. Atau dalam bahasa filsuf Socrates, “kita semua yang di luar anak hanyalah bidan, bukan yang melahirkan.”

Oleh karena itu mengasah inteligensi anak/murid/mahasiswa memerlukan pengguncangan tadi, baik secara spontan tetapi terutama dalam SD sampai dengan universitas secara sistematis. Namun bertanya pun perlu latihan dan bimbingan. Sebab ada pertanyaan yang jiplakan, yang asal ditanyakan, yang TOLOL, yang sama sekali bukan pertanyaan, yang cerdas, yang berguna, yang genial dan sebagainya. Maka sungguh saying sekali bahwa TIDAK BANYAK KALANGAN PARA PENDIDIK dalam dunia pendidikan dasar kita yang sadar dan yakin perlunya system CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif) yang bahkan celakanya secara umum ditinggalkan dan diperolok-olok sebagai CBSA = CAH BODHO SANSAYA AKEH (Anak Bodoh Semakin Banyak). Tetapi ini sebagian terbesar memang kesalahan sistem evaluasi THB, NEM, EBTA, EBTANAS dan lain-lain yang, jika diteliti betul-betul, akhirnya datang dari dan terpengaruh oleh warisan kekuasaan-kekuasaan ekstern yang relatif sedikit sekali bahkan sering sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan pengajaran dan pendidikan.

Dalam SD eksperimental kami (anak-anak miskin, gedung sekolah saja tidak punya) di Yogyakarta, CBSA mati-matian (karena memang tidak mudah bagi guru) kami kembalikan lagi. Bahkan ada mata-pembelajaran khusus mengenai seni bertanya. Namun sudilah ingat, PARA GURU PUN HARUS DILATIH JUGA UNTUK MENANGGAPI PERTANYAAN-PERTANYAAN PARA MURID yang macam-macam itu secara semakin bijaksana. Saya sebut semakin karena para guru pun sudah bertahun-tahun ada yang berpuluh tahun, hanya penatar atau pawang belaka, sama seperti lebih dari sejuta guru atau dosen kita yang tidak suka bila murid/mahasiswa suka bertanya.

Sungguh interesan menyimak perkembangan si anak dan hal-hal apa yang mereka tanyakan. Masih banyak memang yang kurang “bermutu”, tetapi itu dapat ditingkatkan. Namun ada yang bertanya hebat: misalnya anak perempuan heran: ‘Mengapa roda truk tiba-tiba bisa berputar?’ Soal otomotif. Ada yang sebetulnya sudah masuk mikro-biologi: ‘Kenapa Riki rambutnya keriting dan saya tidak?’Ada yang eksistensial: “Mengapa ayah ibu saya itu kok selalu cekcok?’ Sampai pada pertanyaan tingkat filsafat: Mengapa orang punya pendapat berbeda-beda?. Bahkan ada yang psikologis klinis atau bahkan teologis: ‘Bagaimana seandainya kita ini punya jiwa dua?’ Akhirnya kami lebih prihatin tentang kemampuan guru untuk menjawab anak secara arif bijaksana dari pada tentang kemampuan si murid yang hampir 100 persen tidak kami ragukan lagi, bahwa mereka anak-anak Indonesia yang cerdas bahkan sering amat cerdas.

Dengan kata lain. Yang memprihatinkan bukan si anak zaman sekarang, khususnya yang miskin dalam sekolah miskin, melainkan justru system pembelajaran yang ‘menimpa’ si anak. Sebagai rahmat dan berkat, paling tidak sebagai bidang penolongkah yang baik? Sehingga CBSA artinya Cah Bodho Sangsaya Arang (Anak Bodoh Semakin Jarang)? Ataukah jangan-jangan malah sudah merata sebagai perusak dan PEMERKOSA?

Y.B. Mangunwijaya

Pendiri Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar

Sumber: Kompas, Rabu, 22 Mei 1996.

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: