Home > YB Mangunwijaya > Komunis

Komunis

Oleh: YB Mangunwijaya

BARU-BARU ini kita dibangunkan lagi oleh isu komunis. Maka, yang penting bagi kita sekarang ialah pemahaman mengenai praktek komunis itu sendiri. Praktek. Bukan hanya filsafatnya, genesis perkembangan historisnya, teori ekonomi dan tesis-tesis kemasyarakatannya. Tak lain supaya kita paham, bagaimana kita harus antikomunis secara benar atau lebih tepat: antipraksis komunis (PrK). Sebab, alangkah dungunya bila kita anti-suatu hal tanpa tahu hal yang ditentang itu. Lebih celaka lagi, anti-sesuatu yang abstrak teoretik, tetapi mesra memeluk pelaksanaan dari sesuatu yang secara abstrak teoretik kita tentang itu. Maka, praksislah yang penting. Kongkretnya, apa ciri.. ciri PrK itu?

Contoh kongkretnya Uni Soviet dulu. Satu partai di sana yang berkuasa dan menentukan segala-galanya. Tetapi, sudilah ingat, Uni Soviet dan RRC pun bersistem multipartai. Ada beberapa partai kecil lain selain Partai Komunis. Hanya, ya, mereka usus buntulah. Paling pol penggembira. Uni Soviet, RRC, Vietnam, Kuba, dan negara komunis lainnya pun menamakan diri negara demokratik. Lengkapnya: demokratik rakyat. Tetapi apakah demokratik dalam arti kedaulatan rakyat yang sebenarnya, seperti yang dicita-citakan Moh. Hatta, Syahrir, dan para pendiri RI? Jelas tidak. Pembentukan atau pemilihan pengurus maupun kader partai pun tidak transparan, sangat misterius, serba rekayasa oleh elite penguasa, dan kongkalingkong sistem sobat tidak jelas. Tetapi efektif.

Pokoknya, dalam negara PrK, kalau Anda tidak ikut partai dominan, mustahil anda bisa jadi pegawai negeri atau manajer bank atau masuk tentara. Nah, tentara PrK itu pun selalu berpihak kepada partai yang satu itu, partai pemerintah. Maka, partai yang lain, ya, usus buntu tadilah.

Nama komunis ada hubungannya dengan kata komune, kelompok gotong-royong. Kepentingan kelompok atau pemerintah selalu mutlak harus menang terhadap kepentingan pribadi perorangan, meski kepentingan pribadi itu sah, hak asasi, amat manusiawi, adil dan amat beradab. Dan caranya memenangkan tadi boleh dengan jalan apa pun, jujur atau menipu, wajar atau nakal atau urik, lewat kerelaan atau intimidasi, teror penganiayaan, korupsi, maupun suapan uang. Pokoknya, sasaran menghalalkan segala jalan.

Dalam pandangan PrK, pemerintah identik dengan negara, dengan masyarakat, dan partai dominan identik dengan rakyat dan negara. Padahal tidak. Maka, dalam konsep komunis, pejabat pemerintah, biarpun oknum yang paling korup dan malas sekalipun, identik dengan negara dan UUD (dan akhirnya sama dengan Tuhan). Maka, jelaslah kini, mengapa kita menentang praksis komunis dalam segala bentuk.

Ciri lain PrK juga amat jelas. Karena PrK itu kolektivisme birokratik totaliter, ekspresinya tampak pada gemar-getolnya dengan semua yang bersifat uniform, seragam. Baju, celana, sepatu, topi, opini, informasi, pernyataan, bahasa ungkapan, argumentasi, selera, organisasi profesi, kepemudaan, olahraga, pendek kata semua dan segala hal harus serba seragam. Dan, karena itulah mereka bukan main suka sekali dengan gerakan langkah seragam alias baris-berbaris dengan salut ala militer.

Tetapi, sulitnya, suatu nasion bukan hanya seonggok semut. Banyaklah pendapat. Maka, dalam sistem PrK, kesatuan pendapat dipaksakan dengan kasar maupun halus oleh penguasa dengan selaskar intel, mata-mata, sensor, dan teror, pengurungan, atau pembuangan dengan penganiayaan sistematis. Lewat segala macam praktek intimidasi dan pembredelan, yang membuat seluruh rakyat bungkam taat ikut-ikutan saja seperti beo. Yang diusahakan selalu aklamasi oleh yang disebut wakil-wakil rakyat yang sudah dipilih dengan jaminan akan setuju dengan apa saja yang digariskan oleh petunjuk atasan. Yang tidak selagu atau sejalan dicap antinegara atau anti-ideologi dan langsung disingkirkan sebagai penggerak subversif atau demokrat liberal, yang tidak mendapat restu karena dianggap antikebudayaan nasional.

Resminya, PrK antikapitalis, tetapi sebenamya kapitalis juga, hanya kapitalis negara yang disetir penuh oleh kolusi elite birokratik, teknokrat, penguasa modal dan informasi, manajer industri, militer dan pemimpin partai dominan. Demikian juga seluruh jajaran peradilan sampai mahkamah agung model PrK ada di bawah eksekutif atau partai yang berkuasa dominan. Keadilan didefinisikan sebagai sesuatu yang cocok- dengan – kehendak – eksekutif.

Yang perlu kita perhatikan khusus ialah fakta bahwa dilihat dari rakyat bawah, hasil praksis komunis dan praksis kapitalis tidak berbeda banyak. Kedua-duanya, misalnya, membelenggu dan menghisap rakyat kecil. Juga sama-sama suka main paksa lewat brain-washing. Hanya PrK memakai cara brutal dan dungu, sedangkan praksis kapitalisme memakai cara halus, canggih, dan seolah-olah membela kebebasan, akan tetapi praktis seluruh keinginan atau selera, bahkan kemauan masyarakat, digiring seragam. Lewat dunia periklanan dan ideologi terselubung; apalagi dalam sistem kapitalisme semua atau di mana macam-macam bentuk kolaborasi, koalisi dan kolusi boleh merajalela tak terkontrol oleh perundang-undangan yang efektif melindungi kaum kecil.

Jadi, yang satu hanya varian dari yang lain, dengan sarana-sarana lain yang seolah-olah berlawanan, tetapi pada hakikatnya sama-sama antidemokratis, antirakyat kebanyakan. Hanya elite kekuasaanlah yang boleh berkuasa memberi arah (membuat kue) sedangkan mayoritas rakyat tinggal menerima petunjuk (dan cuil-cuilan kue sebagai perkenaan pihak elite itu). Lapisan elitelah yang boleh lepas terbang, sedangkan yang lainnya, yang kebanyakan, menjadi landasan yang memungkinkan elite lepas landas. Maka, kita paham dan mendukung bahwa kita harus waspada dan menentang praksis komunis yang diam-diam come back itu.

YB Mangunwijaya

Sumber: Forum Keadilan, 26 Agustus 1996

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: