Home > YB Mangunwijaya > Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan di Hari Mendatang (Bagian 2)

Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan di Hari Mendatang (Bagian 2)

Oleh Y. B. Mangunwijaya

Orasi Ilmiah Angkatan II Sekolah Ilmu Sosial

5 Agustus 1988, Bentara Budaya

    Semua itu benar, tetapi toh tidak dapat disangkal, sebagai orang yang berkiprah di panggung publik politik yang paling menentukan RI waktu itu, Sjahrir sudah membuktikan diri sebagai seseorang yang pandai dan mengagumkan pengolahan praksisnya sebagai seorang manajer dalam situasi pancaroba yang sangat sulit dan rumit.  Bahkan dapat dikatakan: ia cemerlang berhasil, pantas dikenang oleh bangsa Indonesia dengan bangga.

    Maka sekali lagi saya ingin menyandarkan diri pada apa yang dikatakan Taufik Abdullah selaku sejarawan: bahwa kualitas seorang tokoh sejarah diukur dari: apakah dia, dalam PEMILIHAN SIKAP serta KONSEKUENSINYA, MAMPU MENGAKTUALISASIKAN SUATU KEYAKINAN DASAR, baik pribadi maupun selaku mandataris konstituansi rakyatnya, entah itu eksplisit maupun implisit, yang benar-benar MENGANGKAT HARKAT MARTABAT BANGSA PEMBERI MANDAT ITU ke tingkat BUDAYA BERNASION DAN BERNEGARA YANG LEBIH TINGGI; dan SANGGUP DIUJI OLEH GENERASI-GENERASI BERIKUTNYA.”8   Dengan kata lain: apa yang relevan bagi kini dan mendatang, apa yang dapat kita saring dari Sutan Sjahrir, atau lebih tepat archetype atau CITRAJATI yang terpancar dalam Sutan Sjahrir?  Hal ini dapat kita lakukan lewat pengkajian Sjahrir sebagai manusia, sebagai kawan yang manusiawi, seperti yang terutama ingin dilihat Ali Boediardjo dan kawan-sahabat-sahabatnya tadi, dan dapat kita lakukan lewat pandangan yang lebih mengenai keprihatinan umum: Sjahrir sebagai figur publik.

    Dalam orasi yang sependek ini dan dalam pengakuan keterbatasan saya tentulah tidak semua pendekatan itu dapat saya lalui.  Dan semogalah Anda mengizinkan saya untuk membuat salah satu pilihan saja yang boleh jadi baik untuk dikemukakan sekarang.

    Saudara-saudara budiwati budiwan,

    Manusia tidak akan mampu untuk merealisasikan segala ideal kebajikan dan bakat yang potensial ada dalam dirinya.  Tentulah salah satu atau dua aspek dari kualitas yang mungkin saja potensial dalam dirinya akan lebih ia kembangkan, sedangkan bakat-bakat lain yang real juga tetapi karena keterbatasannya, tidak menonjol bahkan tersisih.

    Jika Soekarno boleh kita jadikan personifikasi dari ideal KESATUAN DAN PERSATUAN serta KESADARAN IDENTITAS BANGSA INDONESIA, dan apabila Mohammad Hatta boleh kita anggap sebagai personifikasi cita-cita Indonesia yang DEMOKRATIS, baik dalam anti POLITIK maupun EKONOMI, ANTI KAPITALISME dan pendekar kerakyatan yang berstruktur KOPERASI, maka dalam diri Sutan Sjahrir kita dapat menemukan pemribadian cita-cita KEMANUSIAAN, PERI-KEMANUSIAAN YANG BERBUDAYA, dan sikap yang sangat tinggi MENGHARGAI MANUSIA INDONESIA SELAKU PRIBADI-PRIBADI, TANPA LEPAS DARI DIMENSI KESOSIALANNYA.  Dalam hal ini kita tidak boleh lupa, bahwa dalam arti luas, bila dibaca mendalam, dengan mengingat sejarah, konteks tumbuhnya, dan maksud tujuannya yang asli, Pancasila maupun Undang-Undang Dasar 45 pada hakekatnya bernafas sosialis dalam arti luas kendati unik, bahkan dalam arti tertentu berhaluan kiri.

    Kata-kata paling indah, yang bagaikan sekuntum bunga teratai putih tenang namun penuh keanggunan indah memekar di tengah lumpur anarki revolusi dan kemelut zaman yang penuh kekacauan dan kebingungan masa itu, ialah pidato radio Sjahrir kepada bangsa yang penuh pertanyaan mencekam pada Hari Ulang Tahun pertama Republik Indonesia, ketika antara lain ia berpesan di tengah teror tentara Belanda dan teriak amarah rakyat Indonesia yang penuk kecemasan:

    “Perjuangan kita sekarang ini bagaimana juga aneh rupanya kadang-kadang, tidak lain dari perjuangan kita untuk mendapat kebebasan jiwa bangsa kita.  Kedewasaan bangsa kita hanya jalan untuk mencapai kedudukan sebagai manusia yang dewasa bagi diri kita.  Oleh karena itu kita sebagai bangsa yang percaya kepada kehidupan, percaya kepada kemanusiaan, berpengharapan kepada tempo yang akan datang.  Kita telah belajar menggunakan alat-alat kekuasaan, akan tetapi kita tidak berdewa atau bersumpah pada kekuasaan.  Kita percaya pada tempo yang akan datang untuk kemanusiaan, di mana tiada kekuasaan lagi yang menyempitkan kehidupan manusia, tiada lagi perang, tiada lagi keperluan untuk bermusuh-musuhan antara sesama manusia.  Sebagai bangsa yang balik muda kita mencari tenaga kita sebagai bangsa di dalam cita-cita yang tinggi dan murni.  Kita tidak percaya pada mungkin dan baiknya hidup yang didorong oleh kehausan pada kekuasaan semata-mata ….”

    “Berhadapan dengan dunia kita tidak menggunakan jalan-jalan dan akal yang licik untuk mencapai maksud kita.  Kita tidak percaya pada jalan-jalan dan akal yang demikian.  Kita siap mengorbankan segala tenaga harta benda hingga ke jiwa kíta, untuk mencapai cita-cita bangsa kita yang tinggi dan murni, akan tetapi kita tidak boleh menggunakan kelicikan dan kebusukan di dalam perjuangan kita.  Kita berjuang sebagai ksatria.  Bagi zaman yang lampau nasionalisme di dalam perhubungan antara bangsa-bangsa sering hanya nasional egoisme dan imperialisme … Kita tidak demikian.  Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapaí derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan dirí sendiri kita, sekali-kali bukan untuk merusakkan pergaulan kemanusiaan … Kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian kita kepada kemanusiaan ..”9

    Dapat dibayangkan, bahwa pada waktu meriam-meriam berbicara dan darah mengalir, rakyat yang bergulat melawan kesulitan-kesulitan payah yang bertumpuk, tidak akan memahami pidato perdana menteri mereka yang terasa jauh di angkasa itu, seolah-olah tanpa realisme sedíkit pun.  Akan tetapi memang Sjahrir lebih berbicara menghadap Belanda, Inggris, Australia dan dunia internasional yang masih terkapar akibat luka-luka parah Perang Dunia II.  Massa rakyat dan pemímpin dekat mereka sudah punya Soekarno yang berbahasa gegap-gempita dan sungguh diminta oleh selera rakyat.. Menghadapi kesulitan sehari-hari di bawah harus digunakan bahasa lain; dan Soekarno serta Sjahrir saling melengkapi.  Sjahrir menghadapkan ke arah dunia internasional wajah RI yang suka damai, yang polos murni, yang tidak ingin licik, dan yang tidak ingin memakai sarana kekerasan dan kekuasaan untuk mencapai tujuan-tujuannya.  Dengan tawaran sikap suka damai dan berbudaya itu Belanda sungguh terpojok, sebab momentum sesudah perang yang membuat orang begitu lelah berkelahi, memang di pihak jalan yang ditempuh Sjahrir alias Republik Indonesia yang sangat menawan simpati.  Walaupun Sjahrir mengatakan RI tidak ingin memakai jalan-jalan licik, dan memang dia jujur tidak bersandiwara dalam hal ini, tetapi toh Belanda terjebak strategis oleh Sjahrir secara fatal.  Belanda tergoda untuk memakaí kekerasan dan perang, dan sejarah mencatat: Belanda dipaksa oleh semua benua, untuk menghentikan perang, mengembalikan para pemimpin RI yang mereka tawan, dan mengadakan Konferensi Meja Bundar dengan acara tunggal: penyerahan kedaulatan bekas Hindia Belanda (kecuali Irian Jaya) kepada bangsa Indonesia yang dari segi militer “kalah”, tetapi dari segi real: JAYA.

    Di dalam monografi “Intellectuals and Nationalism in Indonesia“10 baru-baru ini, J.D. Legge antara lain mengkaji sekali lagi pro dan kontra kebijaksanaan Sjahrir dalam pengembangan tugasnya sebagai nakhoda utama RI pada saat-saat yang paling kritis kala itu, dan ia bandingkan dengan pengandaian apabila garis keras Tan Malaka dan kaum konfrontasi dijalan, Legge berkesimpulan: “Siapa bilang bahwa aksi politik (gaya Tan Malaka dan kaum bersenjata) itu kurang realistis dibanding dengan garis Sjahrir? Dari sudut pandangan radikal, memang, skenario macam itu boleh jadi dapat mengharapkan suatu buah revolusi yang “lebih murni”.  Barangkali. Tetapi suatu skenario semacam itu akan menuntut pemimpin alternatif untuk mencapai suatu derajat penyatuan dari kekuatan-kekuatan nasional yang melampaui kemampuan Soekarno, Sjahrir, Amir, dan Hatta…  Rupanya tidaklah melawan realisme untuk menolak harapan-harapan radikal 1945 itu sebagai harapan-harapan yang tidak realistik, dengan alasan, bahwa biarpun sangat kuatlah semangat, kemiliteran di kalangan Repûblik dalam 1945-1948, SEJARAH WAKTU ITU MEMANG TIDAK BERPIHAK PADA KAUM SENJATA (tekanan dari YBM).  Demikian juga masuk akallah untuk memandang bahwa Sjahrir telah bertindak sepadan dengan kekuatan-kekuatan yang disediakan oleh saat itu … Warna “Eropa” dalam jiwa Sjahrir tidak menghalang-halanginya untuk berbuat senada dengan lingkungan keadaan politik Indonesia” .”11

    Namun, bagaimanakah dengan komentar Sol Tas (wartawan HET PAROOL, Amsterdam, aktivis sosialis demokrat, teman Sjahrir muda ketika masih mahasiswa di Nederland dan teman surat-menyurat di masa pembuangan Sjahrir di Banda): “Di dasar lubuk hatinya, Sjahrir tidak mencintai politik.  Dia terlibat dalam politik dari rasa kewajiban, bukan dari minat.  Dia tidak dikagumkan oleh fenomena yang istimewa, bergolak dan bergairah — kadang-kadang agung, sering kotor, tetapi sama sekali manusiawi — yang kita sebut politik.  Dia tidak merasa terpanggil … Berbahayalah melibatkan diri pada politik semata-mata karena kewajiban: tidak ada keterampilan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa antusiasme dan “keterampilan” politik tidak memiliki antusiasme Sjahrir itu.”

    Kita harus berterima kasih kepada kawan Sjahrir ini, yang mengungkapkan suatu bahan renungan yang begitu jarang kita temui dalam hal-ihwal dan suka-duka terselubung pribadi-pribadi yang kuat, mutiara-mutiara misteri yang sebetulnya sangatlah manusiawi, dan karenanya boleh jadi terdapat pula dalam hati sunyi kita semua juga, tetapi yang tentunya lebih dramatis dan berdaya hikmat terdapat dalam orang-orang yang pernah berperan besar dalam sejarah.

    Dalam hubungan ini sangatlah interesan juga teguran J. de Kadt tadi yang dalam ideologi politik pernah berdampak kepada Sjahrir, dan secara tidak langsung punya akibat besar juga pada perjalanan sejarah Republik kita waktu itu.  Sosialis kawakan Belanda itu, sesudah keluar dari tahanan Jepang dikunjungi Sjahrir, yang sedang jengkel pahit menggerutu tentang kaum nasionalis yang terlalu jauh bekerjasama dengan Jepang.  Sampaí dia menyatakan sama sekali tidak ingin bekerjasama dengan kaum macam itu.  Untunglah de Kadt yang lebih tua dan berpengalaman politik itu menunjukkan kepada Sjahrir, bahwa apa pun yang terjadi, kaum nasionalis kolaborator Jepang itulah yang memimpin Revolusi.  Tidak mau bekerjasama dengan mereka, berarti Sjahrir samasekali tidak akan ambil bagian dalam Revolusi.  Kemudian dari percakapan historis antara Sjahrir, Amir Sjarifuddin dan Ali Boediardjo, sekali lagi Amir Sjarifuddin, yang sudah menjabat Menteri Penerangan dalam Kabinet (Presidensial) I, dan pasti melihat sendiri betapa lesu tanpa visi apa pun Kabinet I RI itu, menandaskan dan mendesak Sjahrir dengan suara meledak: “Kalau engkau tahu semuanya itu, Sjahrir, engkau harus ikut merasa bertanggung-jawab, engkau harus ikut serta!”  Orang lain yang tidak begitu berkaliber perwatakannya pasti akan gembira ditawari jabatan tinggi seperti itu.  Akan tetapi Sjahrir bahkan marah dan menegaskan pendiriannya, bahwa dia ikhlas menolong dengan segala visinya, tetapi itu tidak harus berarti turut ikut, nota bene turut ikut dengan kelompok politikus yang, kecuali Amir, adalah kolaborator Jepang.  Akhirnya Sjahrir toh ikut aktif, dan betapa bagusnya ia mengemban tugasnya itu.  Tetapi itu hanya mau dia lakukan, setelah yakin, bahwa apa yang terjadi benar-benar didukung oleh rakyat, dan sesudah ia diseret oleh para pemuda, antara lain oleh Subadio Sastrosatomo.

    Namun tetaplah kata-kata Sol Tas tadi menggerogot: “Berbahayalah melibatkan diri pada politik semata-mata karena kewajiban: tidak ada keterampilan dapat dilaksanakan dengan baik tanpa antusiasme … Saya tidak berkompeten untuk mempelajari butir penting yang boleh jadi menjadi salah satu alasan, mengapa Sjahrir (menurut T. Sol dan J. de Kadt yang mengenalnya sejak muda dan menyayangkan kecenderungan Sjahrir) untuk “memisahkan diri.”  Dalam penilaian Sol Tas, ini bukan datang dari sebentuk kesombongan dari jenis kaum elit yang mandul.  Namun memang, dalam diri seorang intelektual, dan Sjahrir dapat dihitung dalam kategori ini, keengganan untuk “ikut dalam gerombolan” selalu ada, apalagi kalau sudah terbukti etika sikap politik gerombolan itu terlalu jauh dari peri-kemanusiaan dan sikap fair-play ksatria.  Tentulah ini dapat kita pahami dan kita nilai sah.  Mungkin inilah salah satu butir yang perlu dan pantas kíta pelajari dan diskusikan: pertanyaan berhikmah yang tumbuh dari yang pernah saya sebut “archetype Sjahrir”, di samping “archetype Soekarno” .”12

    Mungkin kita dapat berpendapat sementara, bahwa pada hakekatnya Perdana Menteri RI pertama kita yang dipanggil dengan nama akrab Bung Kecil atau Bung Kancil, memang bukanlah seorang POLITIKUS belaka. DIA NEGARAWAN, yakni warganegara yang, dalam pengabdiannya yang luar-biasa terhadap Negara dan Nasion, tidak menyandarkan pikíran dan langkah-langkahnya pada dalil-dalil kekuasaan atau kehausan (dalam pepatah Belanda) “memenangkan kelereng sebanyak mungkin.”  Tetapi yang lebih memperhatikan “permainan kelereng itu sendiri”.  Menang atau kalah bukan soal besar bagi seorang negarawan, apalagi untung rugi bagi diri pribadi.  Keprihatinan negarawan adalah kepentingan dan kesejahteraan seluruh negara, seluruh masyarakat. Bukan AKU atau KAMI yang penting bagi negarawan, tetapi KITA SEMUA. Bukan hanya BANGSA, NEGARA, MASYARAKAT, KOLEKTIVITAS, dan sebagainya yang ia abdi, tetapi juga kepentingan dan pemekaran MANUSIA-MANUSIA sebagai PRIBADI-PRIBADI yang menjadi warganegara/warga masyarakat itu.  Politikus memperjuangkan kemenangan pemilu berikut, dan bagaimana tampuk kekuasaan dan peti harta dapat ia kuasai.  Negarawan memikirkan PROSES BERNASION dalam jangka panjang, dan teristimewa dalam rangkaiannya dengan hak-hak azasi semua warga-negara.  Negarawan tidak hanya melihat HASIL JADI-nya nanti, tetapi juga PROSESNYA, CARA ORANG MEMENUHI ATURAN PERMAINAN YANG JUJUR.  Negarawan selalu prihatin terhadap perbandingan SIAPA YANG BERUNTUNG DAN SIAPA YANG BERKORBAN, sebab keadilan sosial dan sikap budiwan baginya adalah keharusan implementasi sekaligus indikator apakah negara berfungsi baik demi kepentingan umum atau tidak.  Jenis politikus tidak gentar menghalalkan sembarang jalan dan cara, asal saja sasaran tercapai. Negarawan memperhatikan sopan santun apa lagi moral, harkat martabat manusia, dan dia beresonansi terhadap keyakinan seperti yang terungkap oleh Sjahrir tadi: ” … Kita telah belajar menggunakan alat-alat kekuasaan, akan tetapi kita tidak berdewa atau bersumpah pada kekuasaan.  Kebangsaan kita hanya jembatan untuk mencapai derajat kemanusiaan yang sempurna, bukan untuk memuaskan diri sendiri kita … Kebangsaan kita hanya satu roman dari pembaktian diri kita kepada kemanusiaan ..

    Saudara-saudara budiwati budiwan,

    Kata-kata di atas diucapkan pada tanggal 17 Agustus 1946, empat puluh dua tahun yang lalu.  Namun rasanya tidak pernah kehilangan aktualitasnya, khususnya dan justru pada waktu sekarang, suatu kurun waktu yang semakin tidak membuat kita bangga perihal kemanusiawian, perikemanusiaan, hak-hak azasi warganegara apalagi yang tergolong rakyat bawah yang dina lemah miskin; rakyat yang semakin merasa ditinggalkan dan dikhianati, rakyat yang merasa tidak lagi diwakili atau dibela; suatu zaman yang dalam sekolah diberi tahu bahwa Polisi Belanda PID dan Polisi Militer Jepang Kenpeitai sudah dilenyapkan oleh Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, akan tetapi toh nyatanya masih serba takut untuk mengeluarkan pendapat, karena khawatir dilaporkan oleh yang disebut sampai di pelosok pun sebagai “informan”, kaum “intel”, dan yang bungkam bergetar ngeri bila mendengar tentang cara-cara penganiayaan Polisi agar si terdakwa mau “mengaku kesalahannya”; suatu kurun zaman yang oleh pak Guru di sekolah dipelajarkan, bahwa Belanda dulu itu sangat kejam dengan menindas rakyat dengan pajak-pajak berat, dengan sistem tanam-paksa dan segala macam rodi yang berat, dengan pancingan-pancingan jahat dalam pengerahan kaum buruh perkebunan di Deli, tetapi si murid langsung mengalami bahwa zaman tanam-paksa dan bentuk-bentuk rodi yang kini disebut kerja bakti itu ternyata masih praktek sehari-hari di mana-mana; satu kurun zaman yang tidak memungkinkan anak-anak bukan priyayi atau bukan kaum punya melanjutkan sekolah, hanya akibat kendala struktur kesempatan maupun kelemahan ekonomi; suatu kurun zaman kapan para cendekiawan takut mengungkapkan keyakinan pribadinya; suatu kurun zaman kapan yang leluasa menghukum dan menganiaya anak-anak, kemenakan, menantu, cucu, paman, mertua dan sahabat orang yang salah atau tidak salah telah masuk dalam suatu daftar hitam yang misterius; suatu kurun waktu yang saudara-saudara dapat meneruskan daftar panjang yang menyedihkan ini; yang menimbulkan kesan aneh, seolah-olah Proklamasi Kemerdekaan dari Penjajah tidak pernah diucapkan di Pegangsaan Timur.

 (Bersambung…)

Catatan

8. Pahlawan dalam Perspektif Sejarah”, Prisma No. 7, 1976, halaman 59-60

9. Kumpulan Pidato Presiden Soekarno, Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, Balai Pustaka 1346, halaman 35-36

10. Cornell Modern Indonesian Project, 1988

11. Mengenang Sjahrir, halaman 133

12. Mengenang Sjahrir, halaman 215.-232

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: