Home > YB Mangunwijaya > Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan di Hari Mendatang (Bagian 3)

Manusia, Guru, Negarawan Sutan Sjahrir dan Relevansinya Kini dan di Hari Mendatang (Bagian 3)

Oleh Y. B. Mangunwijaya

Arnold C. Brackman tadi menyaksikan: “Sjahrir (1950) sangat cemas mengingat masa depan Indonesia.  Pandangannya jauh lebih luas daripada pandangan sempit kedaerahan kecil serta wilayah kepulauan Nusantara belaka yang dimiliki oleh banyak anggauta kaum nasionalis.  Ia menyadari sekali bahwa manusia masih bertarung dengan “emosi-emosi dasar” dan bahwa manusia pun masih terikat pada masa lampau nenek-moyang tanpa menggunakan pikiran.  Hal ini telah dicatatnya dalam MANIFES POLITIK-nya (Perdjoangan Kita), tahun 1945 … Kekuatirannya yang terbesar adalah bahwa Revolusi Indonesia akan macet pada taraf revolusi nasional (saja), korban yang gampang jadi mangsa demagogi kiri ataupun kanan.”13

    Tidak berbedalah esensinya dari yang disaksikan Brackman adalah kesaksian Prof. G. MacTurnan Kahin: di tahun-tahun akhir 50-an: “Kemungkinan akan suatu masa depan politik Indonesia yang sangat otoriter sifatnya secara terus-menerus mengganggu pikirannya dan merupakan pokok pembicaraan yang sering kali muncul dalam pembicaraan-pembicaraan yang terjadi antara kami berdua setelah penyerahan kedaulatan.  Ia sering mengecam peranan Soekarno, akan tetapi umumnya lebih cemas secara mendalam mengenai apa yang dianggapnya sebagai potensi otoriter yang terkandung dalam kekuasaan PKI dan Angkatan Darat.

    Catatan-catatan saya menandakan, bahwa waktu kami membicarakan Soekarno pada tanggal 11 Maret 1959, ia berpendapat bahwa “tanpa tokoh Soekarno”, orang-orang Jawa tidak mempunyai kepemimpinan yang efektif”, dan bahwa “tanpa suatu pemimpin pusat karismatik demikian, banyak orang PNI dan mungkin juga orang NU akan berpaling ke PKI untuk mencari suatu pemimpin.”  Kemudian ia lebih banyak melihat bahaya ini terdapat pada TNI daripada pada PKI.  Dalam pembicaraan-pembicaraan terakhir antara kami, dalam bulan Januari 1961, ia mengatakan bahwa Soekarno bukan hanya gagal dalam usaha untuk “membangun sayap kiri radikal non-komunis yang efektif”, melainkan bahwa ia tak berdaya “mengimbangi TNI secara efektif dengan mempergunakan PKI.”  Ia melihat ˝arah gejala dominan semenjak tahun 1956″ sebagai “peranan dan kekuatan militer yang makin meningkat sebagai faktor politik dan dalam pemerintahan.”

    Keadaan darurat (SOB) yang terus berlaku telah “digunakan untuk meningkatkan kedudukan serta peranan kaum militer dalam segala sektor kehidupan ekonomi, dengan memberi status yang lebih terkemuka dan baru.  Dan dengan cara demikian menjadi VESTED INTEREST sebagai kelompok vang mendapat perlakuan utama”.  Ia percaya bahwa “secara sadar ataupun tidak sadar” kaum militer “tengah digembleng menjadi kelompok politik”.  TNI, demikian menurut penglihatan Sutan Sjahrir, tidak lagi takut akan bahaya PKI dan memandangnya sebagai pemilik “hanya potensi suara belaka, tanpa kekuasaan militer atau materi.”  Pihak TNI ingin memancing PKI untuk mengadakan aksi, demikian ia berkata, “karena merasa yakin bahwa kaum komunis tak bertenaga dan dengan demikian TNI mempunyai alasan untuk menghantam mereka.”  Sambil merenungkan masa depan, pada permulaan 1961, Sjahrir menarik kesimpulan bahwa, ditilik dari segi neraca sebenarnya serta potensi kekuasaan militer: “Indonesia bukannya lebih condong ke kiri, melainkan ke kanan”.  Demikian sitat yang panjang yang saya kutip dari kesaksian pakar sejarawan tentang Revolusi Indonesia, Prof. George McTurnan Kahin ;”14 sitat yang sudah tidak membutuhkan komentar dari saya karena sudah jelas uraiannya.

Saudara-saudara yang budiwati-budiwan,

    Kalau kita telusur apa sajakah yang rupa-rupanya menjadi latar belakang sikap-sikap oknum-oknum kuasa yang teramat mudah mengorbankan manusia-manusia sebangsa demi sesuatu kenasionalan yang abstrak tetapi begitu diterima seperti suatu aksioma yang tidak perlu diperdebatkan?  Salah satu ialah ideal yang dari awal muta melekat pada kaum nasionalis, dari zaman perintisan kemerdekaan kita sampai sekarang, ialah ide INDONESIA RAYA.  Kebangunan nasionalisme bangsa kita tumbuh dalam susunan dan iklim dunia di bawah bayangan imperial.  Para pemuka kita yang mendominasi panggung pergerakan politik sebagian besar adalah kaum priyayi terpelajar atau yang mengidentifikasi diri dengan dunia priyayi itu.  Dalam benak mereka ide-ide Britania Raya, Jerman Raya, Nipon Raya, Asia Timur Raya dan sebagainya sangat teresap.  Dengan penuh rindu-damba orang-orang obyek kolonial ini, yang pernah membaca tentang keagungan Mojopahit dan Kerajaan Mataram atau Ternate, dengan memandang peta Hindia Belanda yang begitu luas dan sering disebut oleh para romantikus sebagai Groot Insulinde alias Nusantara Raya, dapat dipahami, lalu bermimpi tentang Indonesia Raya sebagai sesuatu kompensasi psikologis yang pantas diraih.  Maka refrein Lagu Kebangsaan kíta dalam teks aslinya dulu berbunyi: Indonesia Raya, Mulia Mulia dan seterusnya yang agak dimodifikasi dengan pergantian predikat mulia dengan merdeka.  Namun istilah Indonesia Raya tetap tidak hilang, dan inilah yang seumumnya hidup secara implisit maupun eksplisit dalam dambaan setiap pejabat maupun penatar sampai hari ini.

    Mungkin contoh Britania Raya yang imperialis-kolonialis atau Jerman Raya yang cauvinis-sombong tidak sangat menarik, tetapi teladan Dai Nippon yang dapat memadu kemajuan teknologi Barat dengan kebudayaan pribumi Timurnya, dilengkapi ide Kesemakmuran Bersama Asia Timur Raya yang dipropagandakan Militerisme Jepang selama pendudukannya yang pendek tetapi berdampak mendalam tidaklah pernah hilang.  Jepanglah mahaguru mereka dalam impian suatu Indonesia Raya, mengikuti ideal Japan Incorporated, dan yang belum lama ini tercetus oleh Menteri Perdagangan Arifin Siregar sebagai Indonesia Incorporated.

    Dalam ideologi tersebut, yang penting ialah KOLEKTIVITAS Indonesia, BANGSA Indonesia, NASION Indonesia, NEGARA Indonesia, MASYARAKAT Indonesia, BENDERA Indonesia, NAMA HARUM Indonesia dan sebagainya.  Kepentingan si manusia pribadi Indonesia hampir.tidak dihiraukan, karena segala pikiran untuk menampilkan pribadi, individu, perorangan, dengan hak-hak azasinya dan sebagainya selalu dicap liberal, asing, barat, impor, dan sebagainya, lupa, bahwa lawan yang paling ampuh untuk memerangi komunisme yang ultra-kolektif dan yang mereka takuti, justru ialah kekuatan dan peneguhan pribadi-pribadi dan kemanusiaan yang menghormati hak-hak azasi pribadi yang memungkinkan pembentukan manusia Indonesia Pancasila yang kuat.  Dengan istilah lain (dan justru inilah yang ditekankan oleh Sutan Sjahrir pagi diní): bahwa kemerdekaan BANGSA Indonesia hanyalah jembatan belaka demi pencapaian MANUSIA¬MANUSIA Indonesia yang berjiwa merdeka; dan bukan suatu Indonesia yang sebagai badan kolektif adalah merdeka tetapi (seperti yang berulang dipidatokan oleh Bung Karno, mengutip Multatuli): “Indonesia sebagai nasion yang kuli di antara bangsa lain, dan bangsa yang terdiri dari kuli-kuli.”  Dalam ungkapan Bung Karno/Multatuli tersebut dapat dikatakan bahwa pemerdekaan bagian pertama sudah berhasil (relatif), tetapi bagian yang kedua, yang menjadi dambaan Sutan Sjahrir dan setiap warganegara yang berakal sehat, sama sekali belum tercapai.  Bahkan dari sudut pandangan massa rakyat, kini kita sudah melorot lagi pada taraf Hindia Belanda dulu, untuk tidak mengatakan lebih minus dari dulu.

    Saya tidak ingin menganjurkan mengembalikan jarum jam dengan mendambakan suatu sistem demokrasi-partai-banyak dengan suatu anarki model tahun lima-puluhan dan enam-puluhan, akan tetapi toh dapat dikatakan, bahwa kurun waktu sepuluh tahun 1945-1955, dengan segala .penyakit masa kanak-kanaknya yang tak terelakkan dalam proses berkembang menjadi dewasa, adalah kurun waktu yang benar-benar bersifat REPUBLIK, suatu nasion yang bukan kuli diantara para bangsa, dan suatu nasion yang tidak terdiri dari kuli-kuli.

    Saudara-saudara pendengar yang sabar hati,

    Kutipan di atas yang cukup panjang itu semogalah dapat menghantar kita kepada suatu perenungan yang tidak hanya relevan untuk hari kini dan hari depan, khususnya bagi Generasi Muda, akan tetapi yang boleh jadi dapat dikualifikasi sebagai permasalahan “abadi”, yang dalam setiap kurun waktu selalu muncul substansinya walaupun dalam bentuk yang berbeda-beda, yakni masalah suara hati nurani yang terpanggil untuk berbuat nyata (juga dalam wilayah kerja politik) yang sering berlawanan dengan yang disebut realitas praktis politik yang sering mulia namun sering kotor.  Dengan kata lain: dilema antara sang filsuf dan sang politikus praktis, antara sang guru dan sang penggarap lapangan.  Hanya kadang-kadang dalam suatu kurun waktu tertentu yang luar-biasa dan itu lazimnya hanya berlangsung pendek, sang filsuf dan sang politikus/negarawan dapat bersenyawa dalam satu pribadi, seperti yang pernah terbukti dalam diri manusia budiwan seperti Mohammad Hatta atau Sjahrir.  Dalam arti dan batas-batas restriksi tertentu dalam diri Soekarno pula, namun Soekarno yang muda, antara 1945 dan 1950; hanya lima tahun kíta pernah mengalami seorang Soekarno yang negarawan budiwan sekaligus guru bagi bangsanya.  Saya masih ingat dalam bulan-bulan menjelang agresi Belanda Juli 1947 di Yogyakarta, dalam kesempatan yang waktu itu disebut “Kursus Pemuda” yang dibina langsung oleh Bung Karno, betapa ajaran-ajaran Soekarno muda masih humanis dan demokrat.  Ia menyatakan, bahwa kami para pemuda tidak boleh membenci Belanda sebagai manusia atau bangsa, tetapi boleh membenci kolonialisme mereka dan ajaran-ajaran lain yang tidak baik.  Pada kurun waktu yang tak lama dalam diri Soekarno pun kita menyaksikan persenyawaan antara figur guru dan figur politikus yang membanggakan.  Namun rupa-rupanya Sejarah Bangsa Manusia masih harus dimatangkan dan didewasakan lebih lanjut, agar peristiwa ideal itu tidak hanya dimungkinkan lagi sebagai perkecualian langka tetapi menjadi kelaziman yang normal.  Ataukah harapan seperti ini terlalu berlebihan dan sama sekali tidak realis?  Predikat realis biasanya mengandung pertanyaan yang rumit, saling bertentangan, sebab selalulah mungkin satu atau beberapa alternatif sama-sama berhak disebut real.  Boleh jadi pertanyaan tadi memang tidak dapat dijawab dengan argumentasi rasional belaka, dengan kalkulasi cermat ataupun pendugaan yang cerdas belaka.  Saya kira di síni pun pedoman iman perlu diminta nasehatnya.  Kita yakin, bahwa manusia ítu cenderung dan dari dalam dirinya selalu mendambakan yang baik dan yang lebih baik dalam arti integral.  Keyakinan ini secara final-menentukan tidak datang dari argumentasi nalar belaka, tetapi suatu intuisi, atau berkat suatu wahyu dari luar yang melampaui daya perhitungan manusia.  Jika kita percaya bahwa, bagaimana pun, dalam evolusi perkembangan mental dan sikap manusia ada suatu pertumbuhan yang kendati pelan tetapi pasti ke arah yang baik dan yang lebih baik, kendati banyak kendala dan kelemahan masih menghalang-halangi evolusi itu, maka kita dapat optimis, bahkan optimis yang merupakan sinonim dari realis.  Kemudian soalnya tinggal: konkret, dalam gerak evolusi tersebut, kita berdiri di pihak mana.  Bung Karno yang sering pandai membuat perumusan-perumusan popular yang mudah terjangkau orang biasa, pernah berkata tentang THE OLD ESTABLISHED FORCES dan THE NEW EMERGING FORCES. Soekarno tentu saja berbicara lebih pada dimensi politik praktis dan perayuan massa.  Tetapi jika perumusan yang pada hemat saya bagus dan sugestif itu kita beri tafsiran yang lebih berbobot dan lebih masuk dalam jatidiri permasalahan dasar manusia, maka dalam soal dilema antara sang guru dan sang politikus tadi kita dapat mengharapkan suatu fajar baru yang bukan khayalan, tetapi real.  Hanya tentulah, seperti dalam setiap evolusi, kita tidak menghitung hanya dengan tahun atau dasawarsa.  Yang menentukan dan yang berharga bagi kita bukanlah kapan hari bahagia itu datang, tetapi apa, yang kita masing-masing mampu sumbangkan demi percepatan datangnya hari itu.  Dengan kata lain secara lebih konkret: dalam evolusi mengarah ke dunia yang lebih baik, khususnya di Tanah Air kita, kita memilih berdiri di mana, kita memihak mana: the old established forces dengan segala “homo homini lupus“-nya, dengan segala neo-kolonialisme, neo-Macchiavelianisme dan segala pedoman “sasaran menghalalkan segala jalan” dan sebagainya, ataukah kita, dengan sadar akan segala kelemahan namun kekuatan terselubung dalam diri kita masing-masing, entah dengan jalan maupun irama apa asal bermoral, kita, ikut menggabung dalam the new emerging forces yang mengarah ke segala perbaikan dunia dan pemekaran potensi-potensi positif dari kemanusiaan manusia kita, seutuh dan sebersih mungkin.  Dan jikalau renungan hari ini mengenai seorang negarawan yang sekaligus adalah seorang guru budiwan yang pernah dimiliki oleh bangsa kita, namun yang sayang kurang dipahami dan dihargai oleh suatu iklim “musim kemarau” yang memang dari kodratnya tidak memungkinkan sikap menghargai dia tersebut, dia, seorang manusia yang bukan ‘orang suci’, yang tidak bebas kesalahan, namun yang memiliki kebesaran jiwa untuk menghargai mereka yang membunuhnya, berkat kematangan dan pemahamannya yang dalam tentang siapa itu manusia dan siapa itu politikus, maka kita dapat memandang ke hari-depan, khususnya ke Generasi Muda sekarang, dengan penuh harapan.

Terima kasih,

Jakarta, 5 Agustus 1988

Y.B. Mangunwijaya

Catatan

13. Mengenang Sjahrir, halaman 296-297

14. Mengenang Sjahrir, halaman 302-303

Appendix

Tentang jasa-jasa Perdana Menteri Pertama RI kita ini sementara sudah cukuplah diuraikan panjang lebar dalam dua buku popular yang merupakan bunga-rampai dari berbagai saksi sejarah maupun analisis TOKOH-TOKOH DALAM KEMELUT SEJARAH (Penerbit LP3ES cetakan 19, diterjemahkan dalam bahasa Jepang) dan MENGENANG SJAHRIR (editor: H. Rosihan Anwar, Gramedia 1980).  Demikian juga karya ilmiah George McT Kahin, NATIONALISM AND REVOLUTION IN INDONESIA (Ithaca Cornell University Press, 1952) yang merupakan studi pendekatan pertama dan karenanya terhitung karya standar; demikian juga karya B.R:O.G. Anderson, JAVA IN A TIME OF REVOLUTION: OCCUPATION AND RESISTENCE 1944-1945 (Ithaca, Cornell University Press, 1972) yang meneliti mendetil tahun pertama Revolusi, dengan perhatian khusus pada alur-alur serta dampak berbagai ideologi yang ikut bergerak di situ; A.J.S. Reid, INDONESIAN NATIONAL REVOLUTION 1948-1950 (Melbourne, Longman, 1974) yang mengamati benih-benih persekutuan-persekutuan politik di tahun-tahun kemudian dan kegagalan revolusi sosial; J.R.W. Snail, BANDUNG IN THE EARLY REVOLUTION 1945-1946 (Ithaca, Cornell. Modern Indonesia Project, 1964); A.J.S. Reid, THE BLOOD OF THE PEOPLE (Kuala Lumpur, Oxford University Press 1979) dan A. Luca THE BAMBOO SPEAR PIERCES THE PAYUNG: THE REVOLUTION AGAINST THE BUREAUCRATIC ELITE: NORTHE CENTRAL JAVA IN 1945 (PhD Dissertation, Australian National University, 1980) keduanya penelitian sejarah lokal semasa Sjahrir menjabat perdana menteri; Audrey R. Kahin, ed., REGIONAL DYNAMICS OF THE INDONESIAN REVOLUTIONUNITY FROM DIVERSITY (Honolulu, University of Hawaii Press, 1985) yang meneliti konflik-konflik lokal di daerah dengan perjuangan kesatuan nasional; dan khususnya J.D. Legge, INTELLECTUALS AND NATIONALISM IN INDONESIA, A STUDI OF THE FOLLOWING RECRUITED BY SUTAN SJAHRIR IN OCCUPATION JAKARTA (Ithaca, Cornell Modern Indonesia Project, 1988) yang menganalisis dua generasi PSI serta pengaruh dan dampaknya.

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: