Home > YB Mangunwijaya > MANUSIA, GURU, NEGARAWAN SUTAN SJAHRIR DAN RELEVANSINYA KINI DAN DI HARI MENDATANG

MANUSIA, GURU, NEGARAWAN SUTAN SJAHRIR DAN RELEVANSINYA KINI DAN DI HARI MENDATANG

Orasi Ilmiah Y. B. Mangunwijaya (Bagian 1)

Oleh Y. B. Mangunwijaya

Orasi Ilmiah Angkatan II, Sekolah Ilmu Sosial

5 Agustus 1988, Bentara Budaya, JAKARTA

   Sahabat-sahabat dari Sekolah Ilmu Sosial yang tersayang serta para tamu undangan yang terhormat,

    Dalam bulan ini kita memperingati lagi Hari Proklamasi 17 Agustus 1945. Maka perkenankanlah saya, dalam kesempatan pembukaan tahun pengajaran Sekolah Ilmu Sosial yang sangat saya hargai ini, dan dalam kalangan para undangan yang sangat terpilih dan budiwati-budiwan, mengajak Anda mengenang bersama seorang nakhoda Republik Indonesia kita pada tahun-tahun paling awal, yang berkat kecerdasan analisis dan praksis politik tingginya, namun terutama berkat kemuliaan sikapnya, tanpa berlebihan boleh dikatakan berjasa menyelamatkan Soekarno-Hatta dalam kepemimpinan bangsanya yang sedang bergelora-revolusi; dan dari segi lain: memenangkan seluruh perang diplomasi karena berhasil memikat simpati dunia internasional dan memojokkan Belanda kolonial waktu itu.  Namanya, yang (dalam iklim “kemarau panjang” sejak tahun 50-an sampai sekarang sudah Anda kenal sifat-sifatnya), sengaja atau tidak sengaja dibuat dilupakan dalam pelajaran sejarah di sckolah atau di luarnya, ialah: Sutan Sjahrir; Ketua Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (berfungsi darurat sebagai semacam Parlemen RI) yang pertama, dan tiga kali dalam tahun-tahun kemelut penuh krisis 1945-1947, oleh Soekarno Hatta ditunjuk menjadi menteri perdana.  Maka tidak berlebihan pula, Sutan Sjahrir dapat dicatat sebagai tokoh ke-3 dalam kepemimpinan tiga-serangkai yang kala itu benar-benar bekerja-sama sebagai suatu tim-kerja yang ternyata historis sangat efektif dalam mengatasi krisis yang sangat menentukan dalam sejarah awal Republik Indonesia.

    Sebelum Perang Pasifik pecah, para pemimpin nasionalis kita memang sudah berpengalaman dalam pergerakan politik berukuran partai.  Tetapi menghadapi dunia internasional pada kedudukan suatu pemerintah negara, apalagi yang harfiah masih harus mati-matian memperjuangkan status de jure-nya, jelaslah tidak satu orang pun yang berpengalaman; dan belajar dari contoh negeri lain yang sama situasinya tidak mungkin juga.  Maka sungguh bukan noda, bila pada saat itu, Soekarno-Hatta sekali pun, (yang nota-bene masih dalam bahaya dapat diseret ke pengadilan Sekutu yang jaya, sebagai penjahat-penjahat perang kolaborator Jepang) mengalami juga saat-saat kebingungan yang dapat berakibat fatal bagi kelangsungan Republik yang begitu muda tanpa pengalaman itu.  Peristiwa Demonstrasi raksasa di Lapangan Ikada (Banteng) 19 September 1945 yang biasanya dicatat sebagai hari heroik Soekarno, pada kenyataannya lebih melukiskan kebimbangan dan kepanikan Soekarno waktu itu dan seluruh Kabinet, daripada sikap Pemimpin Besar Revolusi. “1

    Orang sekarang sulit membayangkan, bagaimana gelapnya bulan-bulan sesudah Proklamasi itu.  Keserbabimbangan para pemimpin nasional, yang hampir semua adalah mantan birokrat-birokrat Pemerintah Hindia Belanda dan Pendudukan Jepang di satu pihak, di pihak lain kesimpangsiuran, kekacauan, kesewenangan, kebengisan akibat panik, bahkan suasana anarki di dalam massa rakyat yang tiba-tiba harus menghadapi suatu vakum kepemimpinan sangat otoriter selama ratusan tahun dengan segala reaksi tanpa rem yang menyusulnya. Sembarang kelompok pemuda bisa saja menculik orang yang tidak disenangi atau dicurigai sebagai kakitangan NICA (Netherlands Indies Civiel Administration) atau mata-mata Belanda, hanya karena di dalam tasnya terdapat sekeping cermin rias, atau busananya ada sesapuan warna merah dan putih dan kebetulan ada birunya.  Sebelum naik kereta-api orang antri panjang untuk diperiksa dulu dalam WC, diteliti (maaf) pangkal-pahanya, apa di situ ada cap NICA seperti cap sapi, atau tidak.

    Dalam suasana serba anarki dengan ratusan laskar “samurai-samurai” muda yang dalam overacting mereka menunjukkan suatu ketakutan yang tersembunyi, di tengah kekalutan ekonomi masyarakat dengan pemerintah yang tidak jelas strategi-dasarnya, dipanggillah Sutan Sjahrir oleh para pemuda dan didorong oleh satu-satunya non kolaborator Jepang, Amir Sjarifuddin untuk maju sebagai nakhoda bahtera negara.”2   Ketajaman analisnya dan penggarisan strategi dasar yang menentukan arah Republik kita selanjutnya tertuang penuh dalam Manifes Politik RI tanggal 1 November 1945.”3

    Salah satu jasa besar Sjahrir kepada negara waktu itu, yang orang lain satu pun tidak mampu, ialah menyelamatkan kedudukan Soekarno-Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden, sekaligus penyala semangat juang massa rakyat, dari ancaman diadili oleh sekutu sebagai kolaborator Jepang; justru lewat taktik struktur Kabinet model Komite Nasional Indonesia Pusat (salah-kaprah disamakan dengan model demokrasi liberal, demokrasi Barat dan sebagainya, yang tidak ada sangkut-pautnya) sehingga Soekarno-Hatta secara formal “can do no wrong” dan tetap pada pucuk pimpinan massa rakyat Indonesia.

    Jasa besar lain ialah, bahwa pada saat-saat Soekarno sedang bimbang dan tidak tahu kemana, Sjahrirlah yang memberi jalan keluar atau memberi dorongan untuk teguh.  Di dalam kemacetan bulan Oktober-November 1945 misalnya, dan dalam saat-saat di mana demagogi dan slogan tidak dapat berbuat banyak, ketenangan dan penguasaan situasi Sjahrir serta realismenya yang tidak kehilangan akal dan mampu dingin berkalkulasi, disertai kedewasaan dalam pengaturan langkah-langkah unik yang dikagumi para perwira intel Inggris sekalipun (yang laporan-laporannya kepada Lord Louis Mountbatten dan Kementerian Luar Negeri Inggris yang akhirnya bersikap sangat merugikan Belanda) sangatlah menolong.  Melebihi para pemimpin nasional lain waktu itu, kemampuan untuk membedakan mana kekalahan/kemenangan taktis dan mana kekalahan/kemenangan strategis, kemampuan untuk mengidentifikasi siapa musuh kecil dan siapa yang dapat menjadi musuh besar, ketangkasannya untuk memperkecil jumlah lawan dan memperbesar jumlah kawan dalam percaturan dunia yang masih serba terluka akibat perang dunia yang begitu dahsyat, berhasil memperkokoh kedudukan Republik Indonesia.  Sehingga, menurut kesaksian kawan-kawan pejuang maupun pihak luar-negeri, Sjahrir selalu kelihatan riang, tidak pernah pesimis, dan penuh keyakinan, bahwa jebakan diplomasi yang dari awal mula ia pasang, akhirnya berhasil, walaupun orang lainlah nantinya (Moh. Natta dan Moh. Roem kemudian), yang memegang kemudi.  Maka berkat keterampilan (tetapi juga teladan fair-play dalam alam demokrasi KNIP itu) sekali lagi: tidak ada sangkut-pautnya dengan demokrasi “liberal” (dan jiwanya yang berakar pada realita revolusi yang unik proses jalannya), Sjahrir dapat mengajak Soekarno-Hatta untuk berpartisipasi aktif dalam jalan diplomasi dan jalan penonjolan ciri budaya dan cinta jalan damai dari RI menghadapi dunia internasional.

    Sering dikatakan, bahwa Sjahrir dengan strategi diplomasinya dinilai terlalu mengalah kepada Belanda, terlalu mengharapkan bantuan dunia luar, terutama Inggris dan Amerika Serikat; sedangkan dia kurang menghargai bobot dan kemampuan juang rakyatnya sendiri.  Alasan tuduhan sedemikian tidak tanpa dasar, karena sering Sjahrir sendiri memberi kesan diri yang terlalu intelektual, sehingga sulit dipahami pejuang rakyat biasa yang lebih suka pada selera pidato-pidato Soekarno yang berakar dalam hati mentalitas rakyat massa yang tidak canggih, dan yang menginginkan jawaban konkret dan sangat mudah teraba.

    Namun sebetulnya Sjahrir jauh lebih yakin tentang kekuatan real dari rakyat di bawah, dan lebih melihat adanya modal plus dari RI, dibanding misalnya dengan Soekarno.  Arnold Brackman (wartawan dan Kepala Biro United Press waktu itu) melihat perbedaan persepsi dan visi yang sangat dalam antara Soekarno dan Sjahrir.  Bertuturlah Brackman di tahun 1947: “Sekalipun situasi politik aneh dan setiap hari semakin memburuk, dan tanpa dapat dihalangi menjurus ke arah “aksi polisi” pertama, Sjahrir kelihatan santai, sama sekali tidak cemas ataupun susah.”  Di tahun 1948, sesudah Persetujuan Renville yang membuat setiap pemimpin RI merasa lesu dan minder karena rasanya RI kok serba kalah, Brackman bertemu lagi dengan Sjahrir dan juga Soekarno.  Apa yang ia saksikan sungguh unik dan belum pernah kita dengar, karena yang tahu hanya tiga orang tadi.  Brackman si wartawan asing, yang leluasa dapat meneliti di daerah-daerah pertempuran di pihak RI maupun Belanda, bercerita kepada Sjahrir, bahwa setiap kali di daerah Krawang dan Cirebon ada patroli Belanda menghampiri desa, seluruh penduduk desa melarikan diri kecuali beberapa orang sangat tua-renta atau sakit.  Padahal disebut-sebut, seolah-olah Belanda sudah menguasai daerah-daerah itu.  Ketika sedang melaporkan berita situasi senyatanya itu, yang rupa-rupanya tidak pernah sampai pada telinga para pemimpin tertinggi RI waktu itu, termasuk Soekarno, dan yang karena itu merasa lesu, Soekarno masuk.  Bertuturlah Brackman: “setelah Soekarno masuk kamar dan saling berbicara serba tawa, sekonyong-konyong Sjahrir jadi serius dan dengan suara mantap berkata: “Ceritakanlah tentang pengalamanmu di Krawang.”  Sesungguhnya apa yang terjadi setelah itu adalah, bahwa Sjahrir mengejek dan memarah-marahi Soekarno dalam bahasa Inggris: “Nah, kan”, ia berkata, “tambah lagi laporan pandangan mata yang merupakan bukti nyata bahwa rakyat masih berada di pihak kita, bahwa Belanda tidak menguasai daerah”. Demikian Sjahrir terus melanjutkan menegur Soekarno, berulang-ulang dalam bahasa Inggris, Soekarno menerimanya dengan marah dan waktu menjawab, ia menggunakan bahasa Belanda. Lalu dua-duanya mulai berdebat hangat dalam bahasa Belanda … Itulah pertama kali saya menyaksikan sendiri suatu contoh dari perbedaan politik tajam dalam watak dan pandangan hidup yang terdapat antara Sjahrir dan Soekarno.”  “Sjahrir menyadari kelemahan-kelemahan rakyat Indonesia – suatu bangsa yang miskin, percaya akan tahayul dan secara politik mudah terpukau.  Tetapi•walaupun demikian, keyakinan Sjahrir terhadap kemampuan bangsanya sendiri, kepercayaannya akan masa depan gemilang mereka, tak tergoyahkan, tetap mantap, sekalipun terlalu idealistis.” “Soekarno, tokoh kebanggaan nasionalis, lincah dan menarik, santai dalam pertemuan dengan satu orang ataupun waktu menghadapi rapat raksasa, ahli pidato dan nasionalis berapi-api, tidak memiliki keyakinan dasar dan kepercayaan akan kemampuan bangsanya sendiri.  Sampai mati tidak akan saya lupakan kejadian tersebut.”4

    Di dalam ekspresi Soekarno dan Sjahrir di atas, kita melihat dua sikap dasar yang secara diametral mewakili kaum yang merakyat dan kaum priyayi feodal, sehingga kejadian di dalam kamar antara Soekarno dan Sjahrir yang disaksikan oleh Brackman tadi ternyata sekarang masih mengandung hikmah aktual dan relevan untuk kita renungkan.

    Namun seyogyalah kita memperhatikan juga peringatan J. de Kadt yang pernah menjadi kawan dan guru semazhab sosialis sebelum Perang Dunia II: “Sjahrir tidak perlu dipuja sebagai seorang keramat”; dengan susulan saran yang baik: “ia harus dipelajari dan didiskusikan.”5   Dan benarlah juga apa yang dipersaksikan Ali Boediardjo: “Bagiku pentingnya Sjahrir adalah pertama-tama dirinya sebagai manusia, tidak seperti kebanyakan orang mau melihatnya, yakni sebagai seorang politikus yang berjuang mencapai kekuasaan.”6   Dan benarlah, baik kawan maupun lawan mengakui, bahwa Sjahrir pada dasarnya bukan politikus yang berambisi kekuasaan atau nama tenar apalagi pencari harta.  Menjadi Ketua Badan Pekerja KNIP pun ia harfiah ditarik (dalara istilah dulu: didaulat) untuk memegang pimpinan dalam kemacetan dan kesimpangsiuran Revolusi.  Menjadi perdana menteri pun bukan karena sesuatu yang dia dambakan atau dia pertahankan mati-matian.  Charles Wolf (Ph.D. pernah Vice Consul di Jakarta), senada dengan Ali Boediardjo, bahkan ekstrem berungkap: “Sjahrir telah salah diketengahkan sebagai seorang pemimpin politik, organisator, operator dan manajer … bakat-bakatnya dan kepribadiannya ialah bakat-bakat dan kepribadian seorang guru, seorang ilmuwan, seorang ahli filsafat dan seorang penulis.” 7

 (Bersambung )

 Catatan

1. Baca Laporan Margono Djojohadikoesoemo, pendiri dan Presiden Direktur Bank Indonesia

2. Baca Laporan Margono Djojohadikoesoemo, pendiri dan Presiden Direktur Bank Indonesia

3. Baca Dr. A. Halim, “Sjahrir yang Saya Kenal”, Mengenang Sjahrir, halaman 102

4. Mengenang Sjahrir, halaman 295-296

5. Mengenang Sjahrir, halaman 266

6. Mengenang Sjahrir, halaman 116

7. Mengenang Sjahrir, halaman 291

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: