Home > YB Mangunwijaya > Pemecah Pusel dan Pemikir Paradigma

Pemecah Pusel dan Pemikir Paradigma

Oleh: YB Mangunwijaya

Kita tahu mengapa pencerdasan kehidupan bangsa dinilai begitu penting oleh para perintis dan pendiri RI kita sehingga perlu dicantumkan dalam Mukadimah UUD 1945. Jadi bersifat “abadi”. Penjajahan dalam bentuk apa pun dan oleh siapa pun bekerja dengan manipulasi dan eksploitasi massa rakyat yang dibiarkan bodoh. Maka para perintis RI merasa wajib untuk mencegah kemungkinan bangsa Indonesia berstatus merdeka tetapi diperbodoh terus sehingga tahi-tahu sudah kembali ke zaman colonial lagi, mudah dimanipulasi dan dieksploitasi dengan cara baru oleh siapalah entah. Agar esei ini tidak terlalu berlarut-larut, sementara di sini belum dibedakan antara cerdas, cerdik, cendekia, pandai, pintar, mahir, lihai, bijak, arif, genius, sarjana, pakar ahli, cendekiawan, pujangga dan sebagainya.

Para Pemecah Teka-Teki Pusel

Manusia cerdas ada beberapa macam. Salah satunya ialah yang oleh Thomas S. Kuhn disebut para pemecah pusel (puzzle-solvers) atau pemecah teka-teki silang. Anda tahu puzzle, pusel, permainan berupa gambar pada kardus yang digunting dalam potongan-potongan, dan yang oleh si pemain harus disusun utuh kembali. Yang disebut teka-teki silang juga sudah jelas.

Industri mobil penuh dengan kaum puzzle-solvers. Prinsip mobil sejak zaman Ford I kuno sama saja, tetapi para ahlinya tanpa henti memperhalus mempercanggih memewahkan menyamankan menyempurnakan mobil tanpa ada habis-habisnya.

Sejak abad pertengahan prinsip baling-baling sama saja. Tetapi kaum pemecah teka-teki silang tanpa jemu mencari bentuk dan system baling-baling pesawat terbang yang member dorongan semaksimal mungkin dan sangat hemat bensol, seperti yang dipasang pada pesawat Gatotkaca N-250.

Jenis jeruk atau semangka tanpa biji, atau padi gogo unggul yang berbulir cepat dan banyak, tahan lama dan lezat rasanya, itulah karya mereka. Demikian juga dalam dunia komputer. Pendek kata, super-ahli mengutak-atik jawaban berbagai masalah yang prinsip jawabannya sebenarnya sudah tersedia. Tinggal teknik penerapan mendetil dengan efisiensi dan hasil kenikmatan maksimal yang masih harus dicari di utak-atik bagaikan menyelesaikan teka-teki silang setuntas mungkin.

Biasanya mereka kaum sains dan teknologi, industri dan bisnis. Tetapi juga dalam dunia politik praktis mereka hadir, (bagaimana merekayasa pemilu yang luber, tanpa harus luber misalnya), dalam ekonomi, sosiologi, ilmu militer dan cabang-ranting sains lain, tetapi juga dalam seni-dapur dan catering atau pencipta iklan terdapat para pintar jenis “pemecah teka-teki silang atau pusel”.

Pemikir Paradigma

Manusia cerdas tipe lain ialah para pemikir yang prestasinya bukan dalam menyelesaikan suatu pulau masalah, melainkan mendalami global suatu dunia bahkan galaksi masalah. Mereka tidak mengurusi masalah dahan ranting daun, tetapi radikal (dari kata radix = akar) menggali ke akar-akar atau prinsip-prinsip dasar keseluruhan masalah. Misalnya pertanyaan yang sering didiskusi antar para kawula muda: dalam situasi sekarang dan mendatang mana yang lebih tepat untuk Indonesia: Negara kesatuan model Soekarno-Soepomo atau Negara federal yang disukai Mohamad Hatta? Ekonomi berdasarkan primer pertumbuhan atau berdasarkan primer penghapusan pengangguran? Membuat kueh sebesar-besarnya dulu (oleh elit yang tahu), ataukah: kueh entah besar entah kecil dibuat bersama-sama lalu langsung saling dibagi? Ini tipe pemikir kritis / alternatif atau pengkaji paradigma.

Paradigma, para pembaca budiwati-budiwan tahu, ialah suatu tubuh struktur nilai-nilai, keyakinan, cara berpikir, cara pandang, teori, metode strategis maupun teknik taktis perekaan praktis dan sebagainya, yang merupakan suatu keutuhan dengan ciri-ciri, sikap, serta pilihan pertanyaan dan penjawaban tersendiri yang organis saling konsisten. Gamelan dan orkes simfoni punya paradigma sendiri-sendiri. Demikian juga republik dan kerajaan, pesawat terbang dan kapal, dunia sains dan dunia mistik, dan sebagainya.

Para cerdas paradigmatik ini biasanya masuk atau paling sedikit sangat dekat dengan dunia pembentuk kehidupan, pembut sejarah, negarawan, kaum innovator revolusioner bahkan dunia filsafat yang merombak atau mengubah suatu paradigm mapan tetapi penuh ketidakberesan dan kontradiksi ke arah suatu dunia cara-pikir dan cara-pandang yang lain sama sekali. Di sini termasuk para genius seperti Newton, Einstein, atau teoretisi seperti Copernicus, Francis Bacon, Darwin, Freud, Adam Smith, Hegel, Descartes, Karl Marx, dan banyak pemenang hadiah nobel, yakni jenis orang-orang pemikir teori dasar, pembuat tonggak sejarah yang mengganti “dunia” yang satu dengan “dunia” yang lain.

Dalam dunia politik / kemasyarakatan; Soepomo, Urip Soemohardjo, Simatupang, Djuanda, adalah puzzle-solvers. Sedangkan para pemikir paradigmatik misalnya Soekarno-Hatta, Sjahrir, yakni kaum revolusioner, pemikir strategi jangka panjang atau pengubah seluruh kehidupan masyarakat maupun pribadi. Sama seperti Gandhi, Nehru, Mao Tse-tung, Ho Chi Minh, Yasser Arafat, dan lain-lain. Dalam dunia pendidikan kita mengenal nama-nama seperti Froebel, Montessori, Piaget, Dewantoro, mereka adalah pemikir sekaligus pejuang pengubah paradigm. Dalam arti kiasan tipe genius paradigmatik sebenarnya semacam nabi.

Bila pakar pemecah teka-teki silang berpikir secara logis (lewat alur sistem yang sama dan mapan), maka para pemikir paradigmatic dalam istilah Edward de Bono, berpikir lateral (keluar alur ke alternatif samping). Kadang-kadang puzzle-solvers sekaligus adalah genius paradigmatik keluar alur juga (Soekarno Hatta), tetapi tipe yang akhir ini memang relatif langka. Apalagi dalam negeri yang dirajai feodalisme.

Teranglah kebanyakan warganegara kita bukan nabi dan tidak minta dijadikan nabi, melainkan puzzle-solvers masalah-masalah yang besar maupun yang paling sehari-hari sekali pun, seperti bagaimana menyelesaikan pusel teramat sulit: melunasi utang bertumpuk ganda dan memberi  nasi kepada keluarga dengan gaji yang pada tanggal 10 setiap bulan sudah habis. Sebagian universitas-universitas kita mengajar mahasiswi(a) menjadi puzzle-solvers, dan sebagian mengajar bagaimana murid-murid mereka semakin memperbanyak masalah dan teka-teki yang harus dibereskan oleh puzzle-solvers, termasuk para pemulung dan polisi.

Pemecah teka-teki silang menggeluti soal bagaimana Indonesia ikut bergerak memanfaatkan system kapitalis dunia, supaya secara pribadi ikut kaya sambil merasa memperbesar kueh nasional. Negarawan dan pemikir paradigmatik bertanya lain: Apakah dalam UUD 45 ada tempat untuk sistem kapitalis yang sungguh maupun semu? Atau: Jika sistem kapitalisme hanya dapat bekerja dengan tumbal-tumbal atau koloni dalam arti luas, dengan akibat empiris bahwa yang miskinlah yang akhirnya memperkaya orang yang sudah kelewat kaya melalui macam-macam mekanisme yang melekat pada system tetapi terselubung, maka paradigm dan strategi besar apa yang seharusnya dijalani oleh suatu bangsa yang mayoritasnya dari abad ke abad berperan sebagai tumbal? Dan sebagainya. Tentu saja batas-batas antara kaum pemberes pusel dan pengubah paradigma itu sering tidak tajam dan saling membaur. Atau dua-duanya dihayati.

Ada Dua

Ada dua kategori pemikir paradigmatik. Yang satu menangani masalah-masalah yang tidak berpengaruh langsung kepada kehidupan manusia, yakni misalnya para pengotak-atik mobil bertenaga matahari sebagai pengganti tenaga gas-letus. Atau penggantian teori ruang homogen oleh teori ruang melengkung selaku akibat gravitasi.

Namun ada kategori kedua yang langsung menyangkut baik-buruk kehidupan manusia dan masyarakat, bahkan sangat berkadar moralitas. Misalnya Mohamad Hatta berupa sistem ekonomi kekeluargaan nasional yang mengendap dalam Pasal 33 UUD 45 (yang praktis diganti dengan paradigma Ersatzkapitalismus). Atau ide paradigmatik “Daulat Rakyat” Mohamad Hatta juga yang lebih suka Negara federal bagi Indonesia, yang lain sama sekali dari paradigma Negara integralistik Soekarno dan Soepomo. Juga paradigma kekuasaan kehakiman yang independen dari kekuasaan eksekutif maupun legislatif, yang lain sama sekali dari paradigma kekuasaan yudikatif dan legislatif di bawah kekuasaan eksekutif. Dan sebagainya.

Tentulah kita memerlukan semua jenis manusia cerdas di atas tadi, baik para pemecah teka-teki silang maupun yang menggeluti masalah-masalah paradigmatik. Hanya bagaimana perbandingan ramuannya, dan kurun waktu kapan dan kapan kita lebih memerlukan yang satu atau dua daripada yang lain, itulah yang perlu dikaji. Namun rupa-rupanya saat ini kita cukup inflasi dengan macam-macam kaum pemecah teka-teki silang, sedangkan amatlah kekurangan pemikir paradigmatik. Itu bila dipandang dari bawah.

YB Mangunwijaya

Sumber: Kompas, Rabu, 1 Mei 1996.

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: