Home > YB Mangunwijaya > Teologi Pemerdekaan

Teologi Pemerdekaan

Oleh: YB Mangunwijaya

TEOLOGI itu refleksi ilmiah atau paling tidak  — rasional, tentang apa yang dihayati orang beriman. Jadi ia tak identik dengan iman dan juga tak sama dengan agama. Dengan kata lain: teologi ialah pertanggungjawaban daya pikir, rasio, tentang yang dihayati iman. Jadi wilayahnya ada pada dunia rasional dan bila dikerjakan kritis sistematis di dunia ilmiah. Jelasnya, meski kurang tepat, boleh dikatakan: untuk masuk surga bahagia abadi di hadirat Tuhan, tak diperlukan teologi. Tapi ia bukti penghayatan iman dalam sikap serta amal karya.

Namun, sebetulnya setiap orang selalu berteologi. Hanya lazimnya secara spontan. Tak sistematis ilmiah. Bahkan boleh jadi dengan rasio yang amat didominasi emosi atau prasangka atau ketakutan atau nafsu keliru, bahkan yang disebut tak rasional, tapi dia berteologi (sehat, wajar, tolol, tak nalar, dan sebagainya). Maka setiap orang, entah liberal atau komunis atau Pancasilais atau nihilis, selalu memeluk teologi pembebasan, ngawur atau baik dan sistematis, bermutu atau kurang. Entah dari agama mana atau yang tak punya agama sekalipun. Karena bisa saja dan banyak, “resmi” tak beragama tapi “praktis” beriman. Sebaliknya juga banyak: “resmi” beragama tapi “praktis” tak beriman. Sebab, setiap orang merindukan kebebasan. Maka setiap orang normal apalagi yang beragama atau lebih sempurna lagi beriman, sadar atau tidak, betul atau keliru, ilmiah atau spontan, selalu berteologi pembebasan. Sayang istilah pembebasan sering dicap berbau liberal. Maka saya lebih senang menggunakan istilah pemerdekaan.

Seluruh perbaikan tata hukum yang makin adil, segala usaha perikemanusiaan menolong orang miskin dan tergencet, pengembangan ilmu serta kebudayaan manusia yang membela kebenaran, dan sebagainya, berhakikat memerdekakan manusia dari segala bentuk belenggu. Belenggu ketidaktahuan, ketidakadilan, kebohongan. Juga belenggu keterbatasan tenaga otot, penyakit, dan tata kebiasaan manusia yang merugikan diri, belenggu penjajahan dan eksploitasi manusia oleh manusia lain, dan sebagainya. Dalam bahasa iman: belenggu dosa, yakni segala yang merusak tatanan Tuhan agar manusia menjadi manusiawi sejati dan penuh, baik pribadi maupun sosial. Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan perjuangan pemerdekaan ekonomi dan budaya bangsa Indonesia pun diilhami dan diperkukuh oleh teologi pemerdekaan, entah sadar entah tidak, spontan ataupun refleksif dengan memakai teori.

Sesudah Perang Dunia II, di Amerika Latin berefleksilah teologi pemerdekaan “tertentu” yang ingin mengeksplisitkan ilmiah teologis kesetiaan umat kepada tujuan dan tugas hidup para pengikut Yesus. Yakni agar orang tak cuma berpuas diri dengan “menafsir spekulatif’ kodrat dan sifat-sifat Tuhan, kejadian alam, dan siapa manusia itu, termasuk dosa manusia dalam segala bentuk ketamakan, keserakahan, dan kekejamannya. Melainkan juga kongkret “berjuang praktis” untuk “mengubah sistem pembelengguan kongkret” berdasarkan refleksi iman. Jelaslah itu teologi bagus dan memang harus begitu. Yang sebetulnya dipikirkan dan didiskusikan dalam kalangan agama lain juga dengan tentu saja argumentasi lain.

Tapi kemudian timbul soal. “Beberapa” (taksemua) teologi pemerdekaan itu bertekad tak cuma samar-samar umum berkata: pembelengguan akibat dosa manusia. Melainkan tanpa tedeng aling-aling kongkret: pembelengguan oleh sistem kapitalisme dan imperialisme, (lebih diperjelas lagi: Amerika Serikat dan negara maju). Nah heboh pun meledak. Dimaki-maki: marxis, komunis. Persis nasibnya seperti Soekarno, Hatta, dan semua perintis kemerdekaan Indonesia yang dulu juga dimaki-maki Belanda: marxis, komunis.

Memang “beberapa” teologi pemerdekaan itu jujur mengakui bahwa “beberapa” analisis ekonomi sosial Karl Marx-lah untuk pertama kali dalam sejarah manusia membuka mata orang tentang hakikat dan rahasia kapitalisme yang membuat orang miskin relatif makin miskin sedangkan orang kaya kok relatif membubung makin kaya saja. Maka persis dengan yang dilakukan para perintis RI dulu, termasuk yang tekun beragama seperti Mohammad Hatta, Sjafruddin Prawiranegara, atau pemuda Indonesia Arab, Baswedan, “beberapa” teologi pemerdekaan tadi belajar memahami dan memanfaatkan “beberapa” analisis (manusia ilmuwan) Karl Marx yang relevan dan empiris benar demi pemerdekaan kaum miskin dan belenggu eksploitasi kapitalisme, kolonialisme, imperialisme. Tanpa harus menjadi marxis.

Jadi sah dan wajar saja, bahkan sejajar dengan jiwa Pancasila, karena “beberapa” analisis Marx memang betul dan dialah yang pertama dalam sejarah bangsa manusia mengungkapkannya secara ilmiah, sehingga diakui benarnya oleh para ilmuwan dan negarawan dunia liberal sekalipun. Dan begitu mengilhami dan memperkukuh perjuangan para perintis kemerdekaan Indonesia dulu, khususnya Soekarno-Hatta.

Tapi teologi pemerdekaan lalu dibuat heboh, tentu saja oleh mereka yang terkena. Kemudian orang dan ahli teologi Nasrani yang jujur hati, juga di negara kapitalis maju, bertanya (lepas dari Karl Marx): mengapa kok baru di akhir abad ini refleksi iman tentang pemerdekaan kongkret manusia dina, lemah, miskin semacam itu timbul eksplisit dan ilmiah? Bukankah itu terlambat namanya bagi umat yang mengacu diri kepada Alkitab dan Wahyu serta keteladanan Yesus? Setiap orang Kristen yang jujur akan menjawab: Ya, sangat terlambat. Mengapa?

ltu antara lain terjadi karena sekian puluh abad teologi dilakukan terutama oleh kaum terpelajar yang berafiliasi dengan kaum ningrat dan penguasa dunia, dengan bisnis dan dunia uang kolonial imperial. ltu akibat getir perkawinan agama Katolik selama sekitar 1.700 tahun dengan kekuasaan politik negara, dominator ekonomi dan kultur istana ningrat ataupun pedagang dan industrialis.

Sesudah Gereja Katolik di abad ke-19 dicerai paksa oleh Garribaldi dan kaum nasionalis Italia dari kekuasaan negara duniawi, barulah Gereja merdeka dari dunia istana dan politik kekuasaan. Sehingga dapat mulai lagi mengevolusi (yang masih memerlukan waktu lama) kembali ke tujuan dan tugas hakiki pengikut Isa dari Nasaret yang lemah lembut, yang miskin dan menderita, sebagai konsekuensi ajaran-ajaran-Nya tentang kejujuran, kebenaran, keadilan, kecintaan: dengan ciri sikap khas non-violence. Sehingga segala teologi pemerdekaan yang Kristiani sejati selalu berpijak pada prinsip tanpa kekerasan (yang tak identik dengan sikap lembek dan pengecut serba suka mengalah saja).

Tak semua teologi pemerdekaan memakai analisis sosial Karl Marx. Sistem dan struktur kapitalisme dan realitas eksploitasi manusia oleh manusia dapat diterangkan dengan cara lain juga. Memang, tak ada analisis manusia tentang manusia yang 100% benar seputih salju dan 100% salah sehitam arang di dunia manusia ini. Justru karena itulah kita dianugerahi daya pikir, citarasa; dan intuisi, apalagi iman, oleh Tuhan untuk menyaring mana yang punya unsur-unsur kebenaran dan mana yang mengandung partikel kekeliruan.

Berkaitan dengan teologi pemerdekaan, tapi lepas dari pemanfaatan beberapa dalil Karl Marx atau tidak. Jelaslah bahwa rohaniwan sejati tak berpolitik dalam arti aktif terjun dalam pergulatan kekuasaan atau power plays politis, ekonomis, sosial, kultural. Dunia kekuasaan bukan dunia rohaniwan yang masih punya harga diri serta sense of morals and ethics.

Namun, rohaniwan juga makhluk sosial warga masyarakat dan negara. Jadi tetap wajib berpolitik. Tapi politik dalam arti lain, yang lebih asli, yakni menyumbang apa pun ia mampu demi kepentingan dan kesejahteraan jiwa raga masyarakat. Masyarakat umum. Bukan hanya demi golongan seagamanya sendiri. Tidak dalam the realm of power, tapi demi the common good, wilayah kebenaran, kejujuran, keadilan, penyembuhan, cinta kasih, pemerdekaan dan perdamaian, dan sebagainya, agar orang dan masyarakat makin memerdekakan diri, manusiawi, adil, beradab, alias merealisasikan kehendak Tuhan.

YB Mangunwijaya

Sumber: Gatra,  7 September 1996

Categories: YB Mangunwijaya
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: