Home > Ignas Kleden > KESENIAN DAN SIMBOLISME KEBUDAYAAN

KESENIAN DAN SIMBOLISME KEBUDAYAAN

Oleh: Ignas Kleden

BARANGKALI suatu truisme untuk mengatakan sekali lagi kesenian adalah bagian kebudayaan. Namun demikian, setelah lewat Kongres Kesenian Indonesia I (3-7 Desember 1995) di Jakarta, beberapa implikasi kebenaran tersebut mungkin perlu dibicarakan lagi sebagai kerangka umum untuk meninjau kedudukan kesenian dan perkembangannya di Indonesia kini dan hubungannya dengan perkembangannya sosial. Sebagai bagian kebudayaan, kesenian pun tak dapat mengelak dari sifat khas kebudayaan sebagai ungkapan diri manusia. Salah satu sifat khas kebudayaan adalah simbolisme, atau sifat simbolik tiap kebudayaan dan karena itu juga sifat simbolik tiap ekspresi kesenian. Sifat simbolik kebudayaan lahir dari kenyataan hubungan antara dunia alam pikiran manusia serta perwujudannya secara fisik, entah dalam tingkah laku sosial, atau dalam suatu hasil fisik kebudayaan, tidaklah bersifat kausal, fungsional atau linier, di mana nilai budaya dianggap menjadi sebab, sedangkan tingkah laku sosial dianggap sebagai akibat. Hubungan antara dunia alam pikiran dan perwujudannya secara fisik selalu bersifat simbolik dan karenanya juga bersifat ambivalen. Ambivalensi antara dunia alam pikiran dan perwujudannya secara fisik terjadi sekurang-kurangnya pada dua tingkat. Pertama, suatu tingkah laku sosial misalnya dapat mengungkapkan suatu nilai tetapi sekaligus juga dengan itu dapat menyembunyikan suatu nilai lain. Kedua, suatu tingkah laku sosial tidak selalu secara “lurus dan setia” mengungkapkan suatu nilai dalam alam pikiran seseorang, karena tingkah laku yang sama pada gilirannya dapat menyimpang dari dan “mengkhianati” nilai dalam alam pikiran dan kemudian mendorongnya berubah. Karena itu, suatu tingkah laku sosial dapat menjadi realisasi fisik nilai tertentu, tetapi juga sebaliknya, suatu nilai dapat menjadi terjemahan mental pola-pola tingkah laku sosial seseorang atau bahkan terjemahan mental pengalaman seseorang dengan dunia materil. Simbolisme ini bukanlah teori besar tetapi hal yang dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Harmoni yang amat disanjung sebagai suatu sifat umum kebudayaan Indonesia misalnya, di satu pihak dapat mengungkapkan adanya kerukunan dan saling pengertian, tetapi di pihak lain dapat menjadi selubung yang menyembunyikan konflik, pertikaian atau bahkan dendam. Demikian pula halnya sifat tidak-berterus-terang. Di satu pihak terlihat sebagai ketakutan mengungkapkan kenyataan, tetapi dapat pula menyatakan apresiasi pada perasaan orang lain untuk tidak melukainya. Ia menyembunyikan kebenaran untuk menyatakan kebaikan. Simbolisme merupakan watak umum kebudayaan mana pun, dengan perbedaan apa yang diungkapkan dan apa yang disembunyikan masing-masing kebudayaan tidaklah sama.

KESENIAN dan hasil kesenian adalah suatu ekspresi kebudayaan yang mengungkapkan nilai keindahan. Gerak, bunyi, kata serta garis dan warna adalah perwujudan fisik nilai-nilai keindahan yang bergetar dalam diri sang seniman. Namun demikian, keindahan pada dasarnya bukanlah suatu nilai yang berdiri sendiri, tetapi berinteraksi terus-menerus dengan nilai kebudayaan dan nilai kehidupan lainnya. Bisa dikatakan keindahan adalah terjemahan estetis pengalaman kejiwaan, pengalaman sosial atau pengalaman keagamaan seseorang atau sekelompok orang. Seorang biasa akan mengucapkan doa dengan kalimat yang biasa atau bahkan dengan menggunakan rumusan doa yang tersedia, tetapi penyair seperti Sutardji Calzoum Bachri menyampaikannya dalam sajak mencekam. Demikian pun persoalan yang timbul karena berbagai kontradiksi sosial-ekonomi ditanggapi tidak hanya oleh ahli politik dan analis ekonomi tetapi juga oleh penyair, pelukis atau seniman lain. Hanya kalangan terakhir ini tidak menyampaikannya dalam rumus ilmu ekonomi tetapi melalui idiom estetika yang menjadi “bahasa” mereka. Sebuah contoh, yang saya ingat, adalah kumpulan sajak Agus R Sarjono berjudul Kenduri Air Mata (Forum Sastra Bandung, 1994). Metafor puisi yang dipakainya ternyata tidak hanya mempersonifikasikan alam tetapi juga gejala sosial atau bahkan gejala ekonomi. Tidak lagi diceritakan percakapan burung dan bulan atau awan dan matahari, tetapi percakapan penuh lambang antara buldozer dan pematang sawah yang harus pergi sebelum fajar pagi.

KOREOGRAFER Sardono menceritakan kepada saya pengalamannya berjumpa dengan tarian tradisional di berbagai daerah (Kalimantan, Flores, Bali, Iran). Tarian itu ternyata bukan sekadar olah-gerak tubuh untuk menghasilkan keindahan koreografis, tetapi juga terjemahan koreografis berbagai masalah ekonomi, sosial dan ekologis. Gerak jalan orang-orang suku Dani di Irian pada pagi atau sore hari ketika udara dingin, menurut Sardono, adalah embrio gerak tari yang amat dinamis. Kedua lengan disilangkan di dada dengan telapak tangan menggapai bahu, adalah gerak melindungi tubuh dari dingin udara, tetapi sekaligus juga dengan itu disiapkan awal tarian yang amat dinamis. Tarian adalah usaha melawan dingin, menghangatkan badan, memproduksi dan menyalurkan energi tubuh dan dengan demikian mengatasi keterbatasan yang ditentukan iklim dan cuaca. Menggali dan mendalami tarian tradisional, demikian Sardono, akan membantu menemukan kunci tentang bagaimana persoalan ekonomi, ekologi, masalah religius atau konflik kejiwaan suatu kelompok etnis mendapat pengungkapannya secara koreografis. Melihat suatu tarian berarti memahami struktur-dalam (deep structure) suatu masyarakat. Untuk memparafrasekan sebuah ucapan Geertz yang terkenal: tarian adalah cerita sekelompok orang tentang diri mereka melalui gerakan tubuh, dan inskripsi cerita tersebut tidak dalam huruf tetapi dalam gerak. Hal yang sama tentu saja dapat dikatakan tentang seni lukis, seni musik atau teater rakyat. Dengan demikian kesenian pada dasarnya mengungkapkan dua hal sekaligus. Pertama, keindahan itu sendiri (lukisan indah, musik bagus, atau sajak menggetarkan). Kedua, kesenian adalah terjemahan atau versi estetik pengalaman atau persoalan (religius, politik atau ekonomi) yang menyentuh dan menggugah sang seniman. Kesenian dan kreasi seni adalah respons estetik sang seniman pada persoalan yang masuk ke dalam medan-relevansi tanggapannya. Seniman, sama seperti anggota masyarakat lainnya, adalah orang- orang yang terkena persoalan masyarakatnya, merasakan akibatnya, mencoba memahami maknanya, dan kemudian memberikan responsnya. ***

SEJAUH menyangkut persoalan sosial, maka dipersoalkan sejauh mana kesenian berhubungan dengan kehidupan masyarakatnya. Di sini pun sekali lagi kelihatan hubungan yang penuh ambivalensi. Di satu pihak kesenian seakan menerjemahkan persoalan masyarakatnya ke dalam ungkapan artistik dan memberinya sofistikasi dan sublimasi estetik. Kesenian adalah bagian kehidupan sehari-hari. Di pihak lain kesenian menjadi saat orang mengambil jarak dari kehidupan sehari-hari, semacam cuti dari rutinitas sosial-budaya, dengan cara meremehkan hal-hal yang sehari-hari dianggap penting, dan memperlakukan sebagai penting dan bahkan merayakan hal-hal yang sehari-harinya tidak mempunyai fungsi langsung dalam kegunaan dan kepraktisan yang berhubungan dengan kebutuhan sehari-hari. Tidaklah mengherankan suatu karya seni betapa pun abstrak dan esoteriknya, akan mengandung historical and social underpinning dalam dirinya, yaitu watak kesejarahan atau watak sosial dari tempat dan waktu di mana kesenian itu dihasilkan. Penghayatan suatu karya seni yang intens (apalagi bila dibantu metode hermeneutik kesenian yang tepat) akan selalu bisa menyingkap akar sosial dalam ekspresi seni. Pengungkapan akar sosial dalam kesenian tidak lagi tergantung pada niat seniman sendiri. Sebabnya, entah seorang seniman ingin dengan sadar mengungkapkannya, entah seniman itu tidak sengaja menyampaikannya, entah seniman itu secara sengaja ingin menghindari atau menyembunyikannya, watak sosial kesenian itu akan terungkap juga. Suatu ekspresi artistik, yang berhubungan dengan masalah kemasyarakatan, sangat tergantung dari proses budaya yang memungkinkan dan memantapkan hubungan itu. Bila kemudian suatu masalah sosial ditimpakan begitu saja pada ekspresi artistik yang ada, maka yang terjadi adalah semacam kekerasan estetik (aesthetic violence), di mana hubungan asli antara seni dan masalah sosialnya dihentikan begitu saja untuk menampung masalah sosial lain, yang barangkali asing untuk ekspresi artistik yang tersedia. Pada titik itu masalah sosial yang ditumpangkan tersebut kehilangan hubungan yang organis dengan ekspresi artistik yang tersedia. Sementara ekspresi artistik yang ada belum disiapkan melalui suatu proses budaya yang matang untuk menerjemahkan secara estetik masalah sosial yang barangkali tidak sesuai dengan idiom kesenian yang ada. Dengan demikian, hubungan antara ekspresi kesenian dan watak sosialnya adalah hubungan yang jauh lebih halus, peka, rumit dan canggih daripada sekadar hubungan antara bentuk dan isi atau wadah dan muatan. Ekspresi kesenian bukanlah bentuk yang dapat menampung atau menerima isi maupun titipan pesan apa saja. Dalam dialektik bentuk dan isi, bukan hanya bentuk menentukan isi tetapi juga sekaligus isi akan memilih dan menentukan bentuknya sendiri. Pada titik itu diperlukan semacam kritik seni yang, di samping mampu mendalami ekspresi artistik melalui disiplin estetika, sanggup pula menyingkapkan watak kebudayaan dan watak sosial kesenian yang dikaji melalui semacam hermeneutik kesenian. Persoalan adalah bagaimana membaca sebuah kesenian sebagai teks yang ditulis suatu masyarakat tentang diri mereka, dan mengapa pula suatu masyarakat menuliskan teks mereka dengan tipografi tertentu. Kritik seni seperti itu akan mengungkapkan pula bagaimana simbolisme ekspresi kesenian dapat dimanfaatkan berganda: dia dapat mengungkapkan persoalan secara artistik dan menyadarkan orang untuk menyelesaikannya, atau dia menyembunyikan persoalan yang sama di balik selubung estetik, dan menggantikan penyelesaian sosial dengan kepuasan estetik semata-mata. Kesenian adalah pernyataan diri secara estetik tetapi dapat juga menjadi pelarian estetik persoalan sosial. Kritik kesenian yang dapat menyingkapkan dilema tersebut, pada akhirnya bukanlah kritik estetik semata-mata tetapi sekaligus menjadi kritik kebudayaan dan kritik sosial. Simbolisme kesenian dan simbolisme kebudayaan, akhirnya juga menjadi simbolisme masyarakat. Persoalan sosial yang gagal diselesaikan secara sosial, masih selalu dapat diselesaikan secara simbolik, estetik dan artistik. Pada titik itu kesenian bukanlah ekspresi estetik kondisi masyarakatnya, tetapi substitusi estetik untuk kondisi masyarakatnya. Ternyata simbolisme kesenian menghasilkan dilemanya sendiri, yang penyelesaiannya sangat tergantung pada kondisi sosial masyarakatnya. Karena kesenian yang tidak mendapat kebebasan untuk mengungkapkan masalah sosial secara estetik, akhirnya akan menjadi semacam selubung estetik bersulam indah untuk menutupi bopeng dan buruk-rupa wajah masyarakatnya.

Ignas Kleden,

Sosiolog, Peserta Kongres Kesenian Indonesia I.

Categories: Ignas Kleden
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: