Home > L Murbandono Hs > Anarki Salah Kaprah

Anarki Salah Kaprah

Oleh: L Murbandono Hs

HARI-hari ini saat di berbagai tempat di Tanah Air dilanda kekacauan brutal dan di sana-sini sampai membawa maut, banyak dari kita menilai situasi itu anarkis. Anarki dinilai sama dengan segala hal buruk. Jangan-jangan, penilaian ini keliru.

Guna menguji keliru atau tidak, perlu ditelusuri hakikat anarki sebagaimana dimaksudkan para pemikir dan pengikut anarki sendiri, dalam bingkai sejarahnya.

***

KATA anarki adalah tiruan kata asing seperti anarchy (Inggris) dan anarchie (Belanda/Jerman/Prancis), yang juga cuma meniru kata Yunani anarchos/anarchia. Ini merupakan kata bentukan a (tidak/tanpa/nihil) yang disisipi n dengan archos/ archia (pemerintah/kekuasaan). Anarchos/anarchia = tanpa pemerintahan.

Cuma itu! Tidak kurang dan tidak lebih. Tidak/tanpa/nihil itu netral. Bisa negatif atau positif. Jika yang ditolak hal negatif, ia menjadi positif. Jika yang ditolak hal positif, ia memang menjadi negatif.

Jadi, keserbanegatifan anarki itu cuma tafsir. Misalnya tafsir para juragan pabrik kamus dan pembuatnya. Mungkin demi kepentingan ideologi tertentu, maka lahirlah kamus yang menyamakan anarki dengan segala hal buruk-salah-tercela.

Padahal, apalagi dalam bingkai kamus, anarki itu cuma teori. Ia bukan ideologi. Perbedaan dua hal itu perlu ditekankan, agar orang memakai sikap yang sama saat memaknai sebuah kata. Dalam teori, kita mempunyai ide dan bisa mengambil jarak dengannya. Dalam ideologi, kita dicaplok ide terkait, hingga sukar mengambil jarak dengannya – dan itulah agaknya yang terjadi dalam contoh pembuat dan juragan pabrik kamus tersebut, ialah mewujudnyatakan ideologi ke dalam kamus.

Dalam grup kamus berkaliber konglomerat mendunia seperti Webster misalnya, anarchy diartikan “kekosongan pemerintahan”. Ini tepat. Tapi lalu ditafsir dan ditambah-bumbui, sehingga menjadi “sebuah keadaan ketiadaan hukum atau kekacauan politik sehubungan dengan kekosongan pemerintahan”.

Hal tersebut disambut hangat perkamusan kita. Sampai kini masih banyak kamus bahasa Inggris/Belanda/Jerman/Prancis ke dalam bahasa Indonesia yang tanpa beban menyamakan anarki = kekacauan = huru hara = kacau balau.

Bahwa kekosongan pemerintahan memungkinkan kekacaubalauan, tidak salah. Letak kesalahannya adalah: kemungkinan menggantikan subyek yang dimungkinkan. Pisau memang bisa membuat luka. Tapi kita tak bisa membuat kamus yang misalnya begini: knife = pembuat luka atau mes = haus darah. Knife (Inggris) dan mes (Belanda) itu artinya ya cuma pisau.

***

JIKA kita mau seimbang mengartikan anarki, ya harus ikhlas mendengarkan para konseptor dan atau sang anarkis sendiri. Ini hal yang normal saja, sebagaimana cara terhormat memahami Islam harus lewat orang Islam, memahami Katolik harus lewat orang Katolik, dan memahami Komunis harus lewat orang-orang Komunis. Kalau lewat orang-orang yang memusuhi mereka, ditanggung kacau balau!

Tapi, jumlah kaum anarkis banyak. Sebab keberadaan mereka sudah lebih dua abad. Pluralitas pandangan tak bisa dihindari. Meski demikian, garis merah anarkisme konsisten dan prinsip terfundamentalnya transparan. Maka ia mudah ditelusuri, sebab hakikat anarki itu cuma menyangkut empat garis merah berikut.

Pertama, anarki adalah perindu kebebasan martabat individu. Ia menolak segala bentuk penindasan. Jika penindas itu kebetulan pemerintah, ia memilih masyarakat tanpa pemerintah. Jadi, anarki sejatinya bumi utopis yang dihuni individu-individu yang ogah memiliki pemerintahan dan menikmati kebebasan mutlak.

Kedua, konsekuensi butir pertama adalah, anarki lalu anti hirarki. Sebab hirarki selalu berupa struktur organisasi dengan otoritas yang mendasari cara penguasaan yang menindas. Bukannya hirarki yang jadi target perlawanan, melainkan penindasan yang menjadi karakter dalam otoritas hirarki tersebut.

Ketiga, anarkisme adalah faham hidup yang mencita-citakan sebuah kaum tanpa hirarki secara sospolekbud yang bisa hidup berdampingan secara damai dengan semua kaum lain dalam suatu sistem sosial. Ia memberi nilai tambah, sebab memaksimalkan kebebasan individual dan kesetaraan antar individu berdasarkan kerjasama sukarela antarindividu atau grup dalam masyarakat.

Keempat, tiga butir di atas adalah konsekuensi logis mereaksi fakta sejarah yang telah membuktikan, kemerdekaan tanpa persamaan cuma berarti kemerdekaan para penguasa, dan persamaan tanpa kemerdekaan cuma berarti perbudakan.

***

PADA empat garis merah itulah anarki berkiprah sejak lahir sampai saat ini. Dimulai sekitar akhir abab XVII oleh kaum buruh di berbagai negara Eropa semisal Rusia dan Spanyol, anarkisme menyebar sampai ke Asia dan Amerika.

Tokoh-tokoh anarkis awal yang terkenal adalah Max Stirner (1806-1856), Pierre-Joseph Proudhon (1809-1865), Mikhail Bakunin (1814-1876), Peter Krapotkin (1842-1921). Mereka tokoh-tokoh anarkis awal yang bukan hanya teoretis tapi berupaya mewujudnyatakan faham anarkisme dengan program-program yang sistemik.

Setelah tokoh-tokoh tersebut tiada, anarkisme seolah-olah koma. Tapi tidak mati. Secara sporadis, terdapat banyak figur yang coba mengembangkan anarkisme di berbagai negara. Di AS bisa dijumpai Emma Goldman dan Alexander Berkman. Mereka berdua akhirnya dibuang pemerintah AS karena dianggap mengganggu stabilitas AS – yang konon the land of the free. Di samping mereka, juga kita kenal Voltairine de Cleyre, yang terkenal dengan puisi-puisi anarkisnya.

Di Italia, gerakan anarkisme telah melahirkan cukup banyak penulis anarkis seperti Errico Malatesta, Luigi Galleani, Camillo Berneri, dan lain-lain.

Dari Rusia, Leo Tolstoy dikenal sebagai penulis anarkisme religius. Karya-karyanya mempengaruhi banyak manusia kualitas unggul semisal Mahatma Gandhi dan Dorothy Day, tokoh Catholic Worker Group. Filsafat mulur-mungkret Ki Ageng Suryamentaram dan atau Saminisme sekitar Blora yang eksentrik itu, siapa tahu juga mendapat ilham dari kenyentrikan anarkisme?

Sejumlah karya pikir para humanis dewasa ini semisal Noam Chomsky, Colin Ward, O’Hara dan Murray Bookchin, mengandung prinsip garis merah anarkisme. Bahkan mereka acapkali didaftar sebagai kaum anarkis.

Muara dari deret panjang karya tulis dan berbagai kegiatan lain kaum anarkis adalah empat garis merah di atas. Untuk mengontrol konsistensi garis merah tersebut, berikut ini empat contoh keyakinan kaum anarkis.

Pertama, anarkisme adalah sebuah sistem sosialis tanpa pemerintahan. Ia dimulai di antara manusia, dan akan mempertahankan vitalitas dan kreativitasnya selama merupakan pergerakan dari manusia (Peter Kropotkin).

Kedua, penghapusan eksploitasi dan penindasan manusia oleh manusia hanya bisa dilakukan lewat penghapusan dari kapitalisme yang rakus dan pemerintahan yang menindas (Errico Malatesta).

Ketiga, kebebasan tanpa sosialisme adalah ketidakadilan, dan sosialisme tanpa kebebasan adalah perbudakan dan kebrutalan (Mikhail Bakunin).

Keempat, kami tidak perlu merangkul dan menggantungkan hidup kepada pengusaha kaya sebab ujungnya mereya untung dan kami buntung. Tanpa mereka, kami tetap bisa mengorganisasikan pertunjukan, acara, demonstrasi, mempublikasikan buku dan majalah, menerbitkan rekaman, mendistribusikan literatur dan semua produk kami, mengadakan boikot, dan berpartisipasi dalam aktivitas politik. Dan kami dapat melakukan semua itu dengan baik (O’Hara).

***

AKIBAT logis sikap anarki di atas, maka ia menentang isme dan atau kondisi yang merecoki cita-citanya. Yang terpenting, tujuh isme dan atau kondisi berikut.

Pertama, melawan kapitalisme – biang diskriminasi ekonomis ialah selalu berujung pada privilese bagi sirkuit lapisan atas. Kaum anarkis, sebagai bagian sirkuit akar rumput, yakin bisa melakukan banyak hal secara independen.

Kedua, melawan rasisme. Kaum anarkis menandaskan semua bangsa, ras, warna kulit, dan golongan adalah sederajat.

Ketiga, melawan sexisme. Kaum anarkis menganggap semua jenis seks: wanita, pria, dan bahkah di luar dua jenis seks itu, memiliki hak yang sama atas apapun.

Keempat, melawan fasisme atau supranasionalis. Kaum anarkis beranggapan tak ada bangsa yang melebihi bangsa lain. Semua setaraf dalam perbedaannya.

Kelima, melawan xenophobia – ketakutan dan kebencian apriori pada hal baru atau asing. Kaum anarkis melawannya sebab xenophobia bisa berkembang jadi fasisme ialah anti terhadap dan menganggap buruk semua hal dari luar.

Keenam, melawan perusakan lingkungan, habitat dan segala bentuk perusakan dan atau tindakan kekerasan terhadap semua makhluk hidup. Maka kaum anarkis menentang segala bentuk percobaan dengan hewan. Itu berarti sewenang-wenang terhadap kehidupan. Padahal, kehidupan tak bisa diciptakan manusia, harus dihargai. Maka banyak kaum anarkis yang hidup vegetarian.

Ketujuh, melawan perang dan 1001 sumber, alat dan perkakasnya, misalnya militerisme. Bagi kaum anarkis, segala bentuk kekerasan atau penghancuran kehidupan adalah nista. Perang adalah sesuatu hal yang sangat tidak berguna bagi dunia dan penghuninya. Maka segala sumbernya harus segera dihapuskan.

***

MEMANG betul, seluruh uraian di atas cuma retorika kaum anarkis. Mungkin lalu dipersoalkan ketidak-cocokannya di dalam praktek. Itu soal terpisah. Bukankah perkara teori yang tidak cocok dengan praktek itu, bisa dijumpai hampir di semua isme dan pandangan hidup?

Tapi secara teoretis, pengidentikan anarki dengan huru hara dan atau kekacauan itu tidak tepat. Apalagi, ada kamus-kamus yang merumuskan anarki secara nekad. Misalnya, anarki adalah (1) sebuah keadaan tidak adanya hukum atau kekacauan politik sehubungan dengan kekosongan pemerintahan, (2) ketiadaan perintah alias kekacauan, dan (3) seseorang yang menggunakan maksud-maksud kekerasan untuk menggulingkan atau melawan pemerintahan.

Repotnya, banyak orang dan bukan cuma di Nusantara tapi banyak manusia di bumi sudah terbiasa menyamakan anarki dengan segala yang serba jelek. Umpama semua kamus yang mencetak pemahaman macam itu dikoreksi, apakah persepsi kita akan anarki lalu berubah? Kalau kita normal, mestinya ya berubah.

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang humaniora dan budaya Pada Radio Nederland Wereldomroep, Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: