Home > Ignas Kleden > Dimensi Teknis Kebudayaan dan Dimensi Budaya Dalam Teknologi

Dimensi Teknis Kebudayaan dan Dimensi Budaya Dalam Teknologi

(Pokok Pikiran Untuk Diskusi “Hubungan Antara Kebudayaan dan Teknologi”, Kantor Menteri Negara Ristek, 16 Mei 2001)

Pertanyaan tentang hubungan teknologi dan kebudayaan adalah pertanyaan tentang arkheologi ilmu pengetahuan. Istilah arkheologi digunakan di sini tidak dalam pengertian ilmu purbakala, tetapi dalam pengertian epistemologis sebagaimana diperkenalkan oleh filosof post-strukturalis Perancis Michel Foucault. Mengikuti Foucault, penyelidikan tentang hubungan antara kebudayaan dan teknologi yang hendak kita laksanakan sekarang, dapat dilakukan dengan menempuh dua prosedur yang berlainan, yaitu prosedur horisontal yang terdapat dalam sejarah pemikiran atau sejarah ilmu pengetahuan (history of thought, history of ideas, history of philosophy, history of sciences), atau juga dapat menempuh prosedur vertikal yang diajukannya dalam arkheologi ilmu pengetahuan.

Sejarah pemikiran melihat suatu gagasan berkembang dari waktu ke waktu, sebagai “suatu disiplin tentang awal dan akhir, deskripsi tentang kontinuitas yang serba samar yang selalu berulang kembali, dan tentang terbentuknya kembali perkembangan secara linear dalam sejarah”. Sejarah pemikiran juga melukiskan “bagaimana masalah, konsep, dan tema-tema berpindah dari bidang filsafat tempat semua ini dirumuskan ke dalam wacana-wacana ilmiah dan politik” Dengan demikian sejarah pemikiran adalah “suatu disiplin tentang interferensi, deskripsi tentang lingkaran-lingkaran konsentris yang mengelilingi berbagai karya, menggaris-bawahinya, menghubungkannya satu sama lain dan memasukkannya ke dalam apa pun yang lain dari dirinya”. Namun demikian semua ini dilakukan dari luar setiap bidang tersebut, di mana masalah, gagasan dan konsep-konsep tersebut dianggap telah selesai dan dijadikan suatu basis empiris yang non-reflektif untuk membangun berbagai formalisasi yang dikehendaki.

Arkheologi pengetahuan sebaliknya menolak asumsi dan metode sejarah pemikiran, yang memandang semuanya dari luar, tetapi memasuki wacana itu sendiri, dan memberikan seluruh perhatian kepada wacana, dan bukan terutama kepada apa yang ditunjuk dan dianggap sebagai isi wacana tersebut.

Pertama, arkheologi dalam arti ini tidak memperlakukan pengetahuan sebagai dokumen, yaitu sebagai tulisan yang menandai atau menunjuk suatu pikiran, tetapi sebagai suatu bangunan sendiri, sebagai monumen. Kalau dokumen bersifat alegoris, maka sifat alegoris ini ditolak dalam arkheologi.

Kedua, sejarah pemikiran melihat suatu gagasan dalam hubungan dengan perkembangan yang ada sebelumnya, persamaan dan perbedaan, sebagai suatu fase dalam kontinuitas yang terus berulang, sedangkan arkheologi selalu memperlakukan setiap wacana sebagai sesuatu yang spesifik, dan mempertanyakan peraturan-peraturan mana yang membentuk wacana tersebut. Sejarah pemikiran mencari doktrin yang sama tetapi selalu berubah dalam setiap zaman, dan karena itu cenderung bersifat doxologis, sementara arkheologi adalah suatu analisa diferensial.

Ketiga, sejarah pemikiran mencoba mendeskripsikan genesis suatu gagasan, dan bagaimana gagasan itu muncul dan diterima. Arkheologi tidak berurusan dengan genesis tetapi dengan praktek-praktek wacana dan aturan-aturan yang mengatur praktek-praktek tersebut. Keempat, sejarah pemikiran berurusan dengan identitas, baik dari pengarang mau pun karyanya. Selalu diusahakan untuk memperlihatkan suatu inti gagasan yang sama cenderung kembali dalam berbagai bentuk yang analog (sama tetapi berbeda), yaitu suatu suksesi dalam waktu. Sebaliknya, arkheologi berurusan dengan suksesi dalam ruang, yang diatur oleh dua prinsip utama yaitu “rules of exclusion” dan “hierarchical order”. Prinsip pertama menentukan apa yang boleh masuk dalam wacana atau harus ditolak, dan prinsip kedua menunjuk urutan-urutan bobot wacana pada suatu masa.

Penolakan Foucault tentang dasar, ground atau foundation dalam setiap wacana semakin menyadarkan kita bahwa dasar itu tidak sepenting sebagaimana diperlakukan dalam semua foundationalist philosophy, karena dasar itu dibuat saja untuk suatu keperluan, dan selain itu yang menentukan suatu wacana bukanlah dasarnya, tetapi peraturan-peraturan yang membentuk dan mengatur wacana tersebut. Contoh yang jelas barangkali dapat ditemukan pada tokoh-tokoh ilmu pengetahuan yang telah diakui kewibawaannya oleh komunitas ilmu pengetahuan internasional. Albert Einstein misalnya berulangkali mengakui bahwa konsep-konsep dan gagasan adalah sepenuhnya hasil ciptaan pikiran manusia yang diterjemahkan ke dalam bahasa, dan konsep-konsep ini tidak bisa diinduksikan dari pengalaman-pengalaman yang kita peroleh melalui pancaindera. Akan tetapi kecenderungan kita menggabungkan keduanya telah membuat kita percaya begitu saja bahwa ada hubungan di antara keduanya.

“… the concepts which arise in our thought and in our linguistic expressions are all — when viewed logically — the free creations of thought which cannot inductively be gained from sense experiences. This is not so easily noticed only because we have the habit of combining certain concepts and conceptual relations (propositions) so definitely with certain sense experiences that we do not become conscious of the gulf — logically unbridgeable — which separates the world of sensory experience from the world of concepts and propositions”.

Dilema yang diajukan oleh David Hume sampai sekarang tidak dapat dijawab secara memuaskan bahkan oleh Kant sendiri. Dalam mengetahui suatu benda, orang atau atau obyek, apakah yang kita ketahui itu suatu benda atau orang atau obyek bersangkutan, atau sebenarnya reaksi indera kita terhadap benda, orang, atau obyek tersebut? Jawaban Einstein sebaiknya dikutip di sini:

It is the very essence of our striving for understanding that, on the one hand, it attempts to encompass the great and complex variety of man’s experience, and that on the other, it looks for simplicity and economy in the basic assumptions. The belief that these two objectives can exist side by side is, in view of the primitive state of our scienctific knowledge, a matter of faith. Without such faith, I could not have a strong and unshakable conviction about the independent value of knowledge.

This, in a sense, religious attitude of a man engaged in scientific work has some influence upon his whole personality. For apart from the knowledge which is offered by accumulated experience and from the rules of logical thinking, there exists in principle for the man in science no authority whose decisions and statements could have in themselves a claim to “Truth”. This leads to the paradoxical situation that a person who devotes all his strength to objective matters will develop, from a social point of view, into an extreme individualist who, at least in principle, has faith in nothing but his own judgement. It is quite possible to assert that intellectual individualism and scientific eras emerged simultaneously in history and have remained inseparable ever since”.

Ini pula sebabnya, bahwa bagi Einstein, kejelasan pikiran dan kompleksitas pengalaman manusia merupakan dua hal yang sulit digabungkan. Kompleksitas ini khususnya menyangkut makhluk hidup, yang mempunyai demikian banyak variabel yang hampir tidak bisa dikontrol sepenuhnya. Hal inilah yang membuat sang genius ini selalu skeptis tentang ilmu-ilmu biologi dan ilmu sosial, dan menyebabkannya memutuskan untuk membuat karier ilmiahnya dengan menyelidiki alam mati dan bukannya alam hidup. Ucapannya yang sering dikutip dalam hubungan ini ialah: “living matter and clarity are oppositesthey run away from one another”.

Kembali ke bahan pembicaraan kita hari ini, maka saya menduga bahwa tema teknologi dan kebudayaan ini telah dipilih, karena pemikiran kita masih berkutat pada beberapa kepercayaan yang kita warisi dari teori modernisasi dan barangkali juga dari alam pikiran yang sangat mengunggulkan teknokrasi. Asumsi-asumsi ini dapat diuraikan secara ringkas sebagai berikut.

Pertama, dilihat dalam sejarah perkembangan umat manusia diandaikan bahwa kebudayaan dengan teknologi yang maju, adalah kebudayaan yang lebih tinggi taraf perkembangannya dari kebudayaan tanpa teknologi, karena dengan adanya teknologi alam raya semakin dapat dikuasai. Kebudayaan yang memakai pesawat terbang, komputer, dan telepon dianggap lebih maju dari masyarakat yang hanya memakai kuda, pena dan tinta atau berbicara dari muka ke muka. Hal ini menyebabkan distingsi yang kadang-kadang dibuat antara kebudayaan tinggi dan kebudayaan rendah, atau antara kebudayaan dan peradaban.

Kedua, dilihat dari perkembangan ilmu pengetahuan sendiri, diandaikan bahwa ilmu pengetahuan yang mampu menerjemahkan produk pengetahuannya menjadi teknologi lebih maju taraf perkembangannya dari ilmu pengetahuan tanpa teknologi. Teknologi sangat membantu perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, sambil memberi lebih banyak waktu luang kepada manusia, yang sudah dibebaskan dari kerja fisik. Teknologi dari dirinya dianggap mempunyai suatu watak yang liberal.

Ketiga, dilihat dari perkembangan rasionalitas, maka diandaikan bahwa masyarakat yang telah dimasuki oleh teknologi, akan semakin menyesuaikan dirinya dengan tuntutan dari rasionalitas tersebut. Di sini sering dilupakan kemungkinan lain bahwa kebudayaan suatu masyarakat yang belum cukup disiapkan untuk menerima teknologi, justru akan menyerap teknologi itu tidak sesuai dengan tuntutan rasionalitas teknologi tetapi sesuai dengan kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam kebudayaan itu, yang menyebabkan teknologi itu tidak berfungsi atau mengalami disfungsi.

Keempat, dalam suatu masyarakat teknologis, bukan saja kehidupan alam dapat diatur dengan bantuan teknologi, tetapi juga kehidupan sosial dan kebudayaan. Engineering dalam dunia fisika dianggap dapat diterjemahkan ke dalam dunia sosial dalam bentuk social engineering. Demikian pula kontrol terhadap masyarakat dapat dilakukan dengan cara-cara yang meniru kontrol dalam teknologi.

Kelima, diandaikan bahwa setiap persoalan dapat diterjemahkan menjadi masalah teknis, sehingga siapa pun mempunyai pengetahuan teknis yang memadai tentang suatu bidang, dapat mengatasi masalah yang muncul dalam bidang keahliannya dengan kemampuan teknis semata-mata. Politik, ekonomi, kebudayaan, tidak mempunyai masalah sendiri, tetapi segala masalah dalam bidang tersebut dapat diterjemahkan menjadi masalah teknis dan karena itu dapat juga dipecahkan secara teknis.

Tentu saja belum semua asumsi modernisasi dan teknokrasi tercatat lengkap dalam daftar ini tetapi beberapa masalah di atas dapat ditinjau kembali di sini, untuk melihat wacana kita tentang teknologi dan kebudayaan, dan apakah ada peraturan-peraturan tertentu yang membentuk wacana tersebut, dan kepentingan apa saja yang tersembunyi di balik pembentukan peraturan-peraturan tersebut.

II

Dalam tahap perkembangan dunia sekarang, teknologi menjadi terlalu penting untuk dipikirkan hanya oleh para teknolog. Dengan merujuk kepada teori kebudayaan dapatlah dikatakan bahwa teknologi merupakan salah satu unsur terpenting pada masa kini yang membentuk material culture atau kebudayaan fisik.  Pembangunan infrastruktur, media elektronik, komunikasi moderen, bahkan permainan anak-anak yang dapat dilihat diberbagai toko mainan, menjadi tak terbayangkan tanpa teknologi.

Sudah jelas bahwa perubahan yang terjadi pada kebudayaan fisik bukan tanpa pengaruh kepada tingkahlaku dan kemudian juga kepada alam pikiran dan dunia gagasan. Pada waktu pesawat tv. masih hanya dimiliki oleh satu dua keluarga pada akhir tahun 60-an dan awal tahun 70-an, maka tv. menjadi sarana untuk pertemuan sosial banyak keluarga yang datang menumpang menonton pada keluarga yang memiliki tv. Tahun 80-an dan 90-an mengalami perkembangan yang lain. Pada keluarga-keluarga yang mampu, tersedia bahkan beberapa pesawat tv. di kamarnya sendiri, tanpa perlu berkumpul dengan anggota keluarga lain.

Ilustrasi ini menunjukkan bahwa kehadiran sebuah benda teknologi dapat mempengaruhi tingkahlaku sekelompok orang, apakah mereka lebih suka berkumpul bersama, atau lebih senang menyendiri tanpa terganggu.

Ini juga sebabnya bahwa beberapa peneliti teknologi cenderung membedakan tiga aspek utama teknologi, yaitu teknologi sebagai prosedur atau kerja, teknologi sebagai ilmu pengetahuan, dan teknologi sebagai benda fisik atau artefak.  Dengan lain perkataan, teknologi juga dapat dilihat menurut tiga aspek kebudayaan, yaitu teknologi sebagai dunia ide dan gagasan, teknologi sebagai tingkahlaku dalam bekerja, dan teknologi sebagai produk fisik.

Hubungan di antara ketiga aspek teknologi tidak sulit untuk dipahami. Suatu pengetahuan baru mengenai gejala alam kemudian diterjemahkan menjadi prosedur kerja, dan prosedur kerja ini kemudian kembali menghasilkan kebudayaan fisik. Hubungan di antara ketiga aspek itu rupa-rupanya tidak bersifat linear dan searah, tetapi lebih mungkin merupakan hubungan yang bolak-balik. Contoh yang jelas adalah pertanian dan industri. Dalam dunia pertanian kehidupan sangat tergantung pada alam. Waktu berputar menurut siklus alam, dan dianggap suatu sumberdaya yang tak-mungkin-habis (inexhaustible resource).

Dalam dunia industri waktu sangat ditentukan oleh gerakan mesin, harus dikuantifikasikan, berjalan linear, dan menjadi suatu sumberdaya yang dapat habis. Konsep tentang waktu-yang-dapat-habis, pada gilirannya membuat orang untuk lebih awas terhadap penggunaan waktunya, tidak mudah menerima setiap orang yang datang mengobrol. Musim dalam dunia pertanian merupakan waktu yang jauh lebih panjang dan longgar dari time-table dalam dunia industri yang serba ketat.

Konsep tentang waktu juga mempengaruhi tingkahlaku orang dalam bekerja. Beberapa kelompok karyawan percetakan tidak lagi bangun pada waktu matahari terbit, tetapi pergi tidur pada waktu fajar menyingsing karena mereka harus melayani mesin percetakan pada shift tengah malam. Jam kerja ayah pada tengah malam dengan sendirinya juga akan mengubah acara dalam keluarga bersama anak-anak.

Pada pihak lain dapat terjadi juga bahwa perubahan pada basis materil kebudayaan tidak diikuti dengan segera oleh perubahan dalam tingkahlaku, dan juga perubahan dalam cara berpikir. Contohnya adalah pembukaan jalan tol. Di beberapa tempat seperti halnya jalan tol Jakarta – Bogor, jalan tol melewati beberapa daerah di mana tinggal banyak keluarga yang masih mempunyai hubungan kekerabatan yang erat. Kebiasaan kunjung-mengunjungi di antara keluarga-keluarga itu adalah hal yang galib dalam kebiasaan mereka. Ketika jalan tol dibuka mereka terpisah oleh jalan itu sementara kebutuhan mereka untuk saling mengunjungi tidak bisa dihentikan begitu saja. Yang kemudian terjadi adalah mereka meneruskan kebiasaan kunjung-mengunjungi dengan menyeberang jalan dengan risiko yang amat tinggi, dan risiko itu diperbesar karena jembatan penyeberangan hampir tidak ada.

Demikian pun perubahan pada dunia alam pikiran tidak dengan sendirinya mengubah tingkahlaku seseorang. Hubungan antara pikiran dan tindakan, masih tetap merupakan teka-teki dalam sosiologi, dan karena itu tidak mengherankan kalau pada suatu saat kita bertemu dengan orang-orang yang sangat hebat pengetahuannya dalam fisika modern tetapi tingkahlakunya sehari-hari masih berorientasi pada kepercayaan yang bersifat takhyul.

Khusus mengenai teknologi ada sebuah pengandaian yang dinamakan asumsi tekhnomorphie.  Di sini diandaikan bahwa begitu teknologi diterapkan dalam suatu masyarakat dan dalam suatu kebudayaan, maka dengan sendirinya orang-orang dalam masayrakat tersebut akan bertingkahlaku sesuai dengan tuntutan teknologi itu. Sayang bahwa pengandaian itu tidak selalu benar. Kalau asumsi itu benar maka penggunaan komputer misalnya akan menghasilkan penulisan buku lebih banyak, atau penulisan karangan ilmiah yang lebih subur. Di Indonesia, jumlah buku yang terbit setiap tahunnya tidak berbeda dan mungkin berkurang setelah orang mempergunakan komputer. Di sini terlihat bahwa teknologi komputer menjanjikan dua hal, yaitu efisiensi yang lebih tinggi dan fasilitas bekerja yang lebih mudah dan lebih nyaman. Yang diterima oleh terbanyak pengguna komputer adalah kenyamanan bekerja dan bukannya tingginya efisiensi. Dengan demikian komputer lebih banyak diterima sebagai keasyikan baru dan bukannya cara berproduksi baru.

III

Teknologi adalah hasil ciptaan akalbudi manusia. Filosof Inggris, Sir Bertrand Russel, merumuskan hubungan ilmu dan teknologi dengan rumusan yang amat sederhana. Menurut dia dengan akalbudinya manusia mempunyai dua kemampuan. Pertama, akalbudi memberinya kemungkinan mengetahui berbagai hal. Kedua, akalbudi yang sama memberinya kemungkinan menciptakan berbagai hal. Ilmu adalah pengetahuan. Sedangkan teknologi adalah penciptaan.

Dalam sejarah ilmu pengetahuan jelas terlihat bahwa hubungan antara pengetahuan dan penciptaan, antara ilmu dan teknologi tidak selalu berjalan sejajar. Yunani Antik misalnya adalah suatu masa dalam sejarah dunia yang paling subur menghasilkan pengetahuan khususnya dalam bentuk yang kita kenal sekarang sebagai filsafat Yunani. Renungan-renungan kosmologi berkembang dengan suatu kecanggihan yang bahkan sampai sekarang pun masih mengagumkan. Akan tetapi dengan satu perkecualian yaitu penemuan Archimedes, seluruh masa itu tidak menghasilkan perkembangan teknologi yang berarti.

Sebaliknya, dalam Imperium Romanium teknik mengalami perkembangan pesat, baik dalam teknologi perang, transportasi mau pun perencanaan kota, pembangunan jalanraya, jembatan dan terowongan. Diduga awalmula teknik sipil berasal dari masa itu.  Sementara itu ilmu pengetahuan mengalami masa-surut yang menyolok. Tidak sejalannya perkembangan ilmu dan teknik pada awalnya langsung berhubungan dengan nilai-nilai kebudayaan, di mana teknik yang berkaitan dengan kerja-tangan dianggap hanya cocok untuk pada hamba-sahaya, sedangkan pengetahuan dan ilmu adalah para orang-orang kelas-atas yang mempunyai waktu dan kesempatan untuk memikirkannya. Dorongan untuk perkembangan teknik untuk meringankan pekerjaan belum mendesak, karena kerja berat selalu dapat dilakukan oleh tenaga-tenaga para hamba-sahaya.

Di Yunani Antik ilmu pengetahuan masih berpusat pada pengembangan rhetorik, logika dan renungan-renungan metafisik tentang alam semesta. Hal-hal tersebut tentu saja dilakukan oleh mereka yang relatif sudah terbebas dari keharusan bekerja tangan untuk mempertahankan kelangsungan hidup.  Ketika kerajaan Romawi runtuh, ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani diambil-alih, diselamatkan dan dikembangkan lebih lanjut dalam kebudayaan Islam, dan dari kebudayaan Islam diambil-alih ke Barat pada pertengahan abad Pertengahan, dan kemudian mekar kembali semenjak renaisans.

Perbedaan antara ilmu sebagai kerja otak (opus spirituale) dan teknik sebagai kerja tangan (opus manuale) kemudian juga menimbulkan konflik tentang apa yang harus menjadi orientasi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Apakah ilmu harus berorientasi kepada kebenaran, atau harus berorientasi kepada kegunaan? Dilema itu rupa-rupanya dipecahkan pertama kali dalam kalangan ilmu-ilmu alam melalui teknologi, sekurang-kurangnya dengan menempuh dua cara.

Pertama, penelitian ilmu alam menemukan hukum-hukum alam, yang pada prinsipnya berdiri di atas asas kausalitas. Pengetahuan mengenai kausalitas itu kemudian diterjemahkan menjadi norma bagi tindakan. Jadi apa yang dianggap sebagai sebab dalam teori kemudian ditetapkan sebagai peraturan dalam praktek. Suatu keniscayaan ilmiah (scientific necessity) kemudian dalam praktek membawa keharusan normatif sebagai implikasinya.  Kalau diketahui bahwa tingkat suhu tertentu akan menyebabkan fragmentasi yang lebih cepat dalam makanan matang, maka dalam praktek kemudian dibuat peraturan bahwa untuk mengawetkan makanan matang, makanan tersebut harus disimpan dalam kulkas dengan suhu yang rendah.

Dalil tersebut tidak selalu berlaku, dan dalam praktek inkonsistensi antara pengetahuan dan tingkahlaku terlihat amat jelas dalam masalah ekologi. Sudah diketahui bahwa berbagai jenis polusi yang dibuat di bumi kita akan berpengaruh secara merusak terhadap lapisan ozon. Akan tetapi dengan pengetahuan seperti itu hampir tidak ada negara yang dapat mengendalikan industrinya agar tidak lagi memproduksi alat-alat teknologi yang menghasilkan polusi yang membahayakan keadaan ozon.

Khusus mengenai penggunaan teknologi tinggi seperti pembangunan rektor nuklir, rupa-rupanya keberatan yang banyak diajukan tidak ditujukan kepada kemampuan para insinyur dan ahli-ahli nuklir kita tetapi tertuju pada kepada etos kerja yang mendasarinya. Pertama, kalau kemampuan kita untuk membereskan sampah kertas, kaleng dan plastik, belum terbukti, bagaimana dapat kita percaya bahwa kita bisa membereskan sampah radioaktif? Kedua, di negara kita mungkin belum ada banyak ahli nuklir independen yang dapat melakukan kontrol sosial terhadap prosedur kerja dan akibat-akibat sampingan dari reaktor nuklir.

Di sini terlihat dua asas budaya. Semakin rendah teknologi, semakin mudah dia dikontrol secara sosial, karena akibatnya bisa segera terlihat oleh orang-orang yang tidak mempunyai pengetahuan teknis khususnya seperti halnya makanan dalam kulkas. Sebaliknya semakin tinggi teknologi, semakin sulit penerapannya dikontrol secara sosial, karena untuk itu dibutuhkan pengetahuan teknis yang tinggi, yang hanya dipunyai oleh orang-orang ahli. Implikasinya ialah bahwa penerapan teknologi tinggi memerlukan dukungan etos yang lebih tinggi dalam diri para ahlinya, karena mereka semakin terhindar dari kontrol sosial secara langsung. Teknologi tinggi yang tidak disertai etos yang tinggi dengan mudah membawa bencana.

Asas yang kedua menyangkut batas kekeliruan (eror margin). Semakin rendah teknologi, toleransi terhadap kekeliruan semakin besar. Sebaliknya semakin tinggi teknologi, toleransi terhadap kekeliruan semakin kecil, dan dalam hal teknologi nuklir kemungkinan kekeliruan seharusnya dapat dieleminasikan sampai mendekati nol. Kalau kita mengendarai mobil dan pintu mobilnya longgar maka bahayanya tidak begitu besar. Kalau hal yang sama terjadi pada pesawat terbang maka bahayanya berkali-kali lebih besar.

Yang menjadi soal ialah bahwa kekeliruan tidak hanya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan, tetapi juga kurangnya perhatian dan disiplin. Pengetahuan teknologi adalah masalah keilmuan. Tetapi perhatian dan disiplin adalah masalah etos kebudayaan. Kalau kita memperhatikan disiplin sosial kita dalam penggunaan telepon umum misalnya, maka sulit dipercaya bahwa dengan disiplin sosial seperti itu teknologi nuklir akan dijalankan dengan etos kebudayaan yang memadai.

Selain hubungan antara kausalitas dan norma, hubungan antara pengetahuan dan keguanaannya juga muncul dari dalam watak ilmu alam sendiri. Prinsip kausalitas dalam ilmu berbunyi: siapa yang mengetahui sebab A sebagai sebab akan dapat mengetahui juga munculnya B sebagai akibat. Prinsip pengetahuan dalam ilmu ini kemudian diterjemahkan menjadi prinsip tindakan dalam teknologi: siapa yang sanggup menciptakan A sebagai sebab, akan sanggup juga menghasilkan B sebagai akibatnya. Hubungan kausal dalam ilmu kemudian diubah menjadi hubungan fungsional dalam teknologi. Dalam hubungan kausal sebab menerangkan akibat; dalam hubungan fungsional sebab menciptakan akibat.  Untuk memakai bahasa ilmu sosial, kausalitas sebagai theory of knowledge dalam ilmu kemudian mengalami transformasi menjadi theory of action dalam teknologi. Atau dengan kata-kata yang gampang, prinsip kausalitas sebagai dalil epistemologi berubah menjadi prinsip kerja dalam teknologi.

IV

MASALAH hubungan ilmu dan teknologi, yaitu hubungan antara kebenaran pengetahuan dan manfaat pengetahuan, perlu ditinjau agak mendalam karena dua sebab. Pertama, dalam sejarah ilmu pengetahuan, khususnya sejarah perguruan tinggi, hubungan itu tidak selalu dapat dirumuskan dengan memuaskan. Di sini Einstein patutlah dikutip sekali lagi:

There arises at once the question: should we consider the search for truth or, more modestly expressed, our efforts to understand the knowable universe through constructive logical thought as an autonomous objective of our work? Or should our search for truth be subordinated to some other objective, for example, to a “practical” one? This question cannot be decided on a logical basis. The decision, however, will have considerable influence upon our thinking and our moral judgement, provided that it is born out of deep and unshakable conviction. Let me then make a confession: for myself, the struggle to gain more insight and understanding is one of those independent objectives without which a thinking individual would find it impossible to have a conscious, positive attitude toward life.

Kedua, dalam praktek di Indonesia ilmu selalu dihubungkan dengan teknologi dalam istilah IPTEK, seakan-akan hubungan itu tidak mempunyai masalah dalam dirinya.

Dalam sejarah perguruan tinggi di Barat, hubungan antara kebenaran pengetahuan dan kegunaan pengetahuan ternyata menghadapai berbagai masalah.

Sebagai contoh, bagaimana membedakan ilmu murni dari ilmu terapan? Masalah ini berhubungan dengan pandangan budaya tentang status sosial dari dua kepandaian tersebut. Ilmu murni dianggap lebih dekat dengan artes liberales (liberal arts) yaitu kepandaian orang-orang bebas dan merdeka. Sedangkan penerapannya dalam kepandaian-kepandaian yang bersifat teknis dianggap dekat dengan artes serviles (servile arts) yang sebelumnya dilakukan oleh para hamba-sahaya.

Dengan munculnya penghargaan yang semakin meningkat di Inggris dan Perancis pada abad 17 dan 18 terhadap penemuan-penemuan teknis, kemudian terjadi pergeseran dalam pembedaan ini menjadi dua jenis kepandaian yaitu ilmu sebagai pure arts dan teknik sebagai useful arts. Dalam perjalanan waktu, penghargaan terhadap penemuan teknik semakin meningkat karena Lembaga-lembaga Ilmu Pengetahuan di Eropah kemudian juga menjadi pemegang monopoli dalam memberikan hak paten kepada penemunya. Syarat yang diajukan adalah bahwa penemuan itu harus bersifat baru dan bermanfaat. Syarat ini diajukan baik oleh Royal Society di Inggris, Academie des Sciences di Perancis, mau pun oleh Accademia del Cimento di Italia, yang merupakan akademi pertama di dunia yang didirikan pada 1657 untuk memajukan eksprimen-eksperimen ilmu pengetahuan. Di Inggris, Royal Society dibentuk dengan Royal Charter yang menjadi anggaran dasarnya pada 1662. Tujuannya adalah “to improve the knowledge of natural things and all useful arts”.

Betapa pun penghargaan kepada penemuan-penemuan teknis semakin meningkat, namun sudah pada masa itu diberi wanti-wanti terhadap apa yang dinamakan “the corruption of learning”, yang artinya “knowledge still degenerates to consult present profit too soon”.  Keyakinan tentang bahaya dari “the corruption of learning” ini rupa-rupanya tetap dipegang oleh orang-orang industri sampai masa yang belakangan.  Werner von Siemens dari Jerman yang memberi perhatian besar kepada pengembangan dan pendidikan ilmu-ilmu teknis selalu menekankan pentingnya penelitian ilmu pengetahuan yang bebas dari pamrih-pamrih materil yang terlalu besar, dan keinginan untuk mendapatkan manfaat langsung yang serba cepat.

Contoh di atas menunjukkan bahwa bahkan para industriawan yang paling ambisius pun memahami pentingnya suatu unsur budaya dalam ilmu dan teknologi, yang di sini boleh dinamakan asketisme budaya. Yaitu pandangan atau keyakinan bahwa untuk memperoleh kemajuan dibutuhkan kemampuan menahan diri (self-control/self-restraint) bahkan terhadap akibat-akibat baik dari apa yang sedang dilakukan pada saat ini. Salah satu prinsip dari the spirit of capitalism sebagaimana dirumuskan oleh Max Weber berbunyi: “the earning of more and more money, combined with the strict avoidance of all spontaneous enjoyment of life”, dapat ditemukan padanannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan bahkan teknologi.

Sosiolog Robert Merton merumuskan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di Inggris yang demikian subur pada abad 17 di Inggris yang puritan, amat didukung oleh sifat “disinterestedness” sebagai salah satu etosnya. Sikap ini berarti “the scientist should not exploit his findings for personal gainfinancial, honorific or otherwise.

Merton juga pernah melakukan penelitian terhadap proceedings dari penelitian-penelitian yang dibiayai oleh The Royal Society di Inggris antara 1661-1662. Di sana dia menemukan bahwa 40% hingga 70% dari penelitian-penelitian tersebut sebetulnya tidak ada manfaatnya secara langsung untuk kebutuhan hidup sehari-hari pada waktu itu.

Arketisme budaya ini tidak hanya bersifat personal tetapi juga bisa bersifat institusional. Perlawanan terhadap pemanfaatan ilmu untuk tujuan-tujuan praktis pada mulanya mendapat bentuk yang paling tegas dalam kalangan akademia Jerman, terutama berkat pengaruh filsafat idealisme. Ilmu dan filsafat dianggap jalan untuk mendapatkan kebenaran melalui ilmu pengetahuan. Di bawah tekanan pengaruh humaniora yang kuat dari orang-orang seperti Wilhelm v. Humboldt, universitas dianggap sebagai tempat untuk menjalankan pendidikan melalui ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan bukannya harus melayani pemanfaatannya dalam teknologi, tetapi harus melayani pengembangan kepribadian dan kematangan manusia melalui olah ilmu pengetahuan. Semboyan Humboldt Bildung durch Wissenschaft (pendidikan melalui ilmu pengetahuan) masih merupakan ilham utama pendidikan tinggi Jerman bahkan sampai sekarang.

Jalan keluar dari konflik antara kebenaran pengetahuan dan pemanfaatan pengetahuan akhirnya dilakukan secara praktis. Di Paris selain universitas yang berorientasi kepada perkembangan ilmu secara murni didirikan Ecole Polytechnique yang pertama di dunia pada tahun 1794, yang kemudian diikuti oleh pembangunan Sekolah Politeknik di seluruh Eropah: di Praha tahun 1806, di Karlsruhe tahun 1822, di Zuerich tahun 1855. Di Jerman kemudian timbul pembahagian antara Universitas dan Fachhochschule, di mana yang tersebut terakhir ini lebih mengkhususkan dirinya pada ilmu-ilmu yang bersifat teknis.

Jalan keluar yang lain adalah bahwa para ilmuwan yang terlibat dalam pengembangan ilmu-ilmu teknis kemudian didirikan asosiasi sendiri di luar universitas, 1822 didirikan Gesellschaft Deutscher Naturforscher und Aerzte (GDNAe), 1831 didirikan British Association for The Advancement of Sciences (BAAS), dan 1848 di Amerika didirikan American Association of Sciences (AAAS). Tujuan lembaga-lembaga tersebut adalah menggalakkan pengembangan ilmu-ilmu khusus dengan spesialisasi khusus. Lembaga-lembaga tersebut kiranya dapat dibandingkan dengan LIPI dan BPPT di Indonesia, sekali pun pembahagian tugas antara kedua lembaga tersebut sampai saat ini, sepengetahuan saya, tidak begitu jelas.

V

KEADAAN di atas mencerminkan secara implisit sebuah pertanyaan tentang teknologi. Apakah teknologi muncul sebagai jawaban terhadap masalah yang muncul dalam kebutuhan hidup sehari-hari ataukah teknologi didorong perkembangannya oleh kemajuan ilmu pengetahuan yang memungkinkan penerapan temuan-temuannya secara teknis?

Kalau diambil kemungkinan pertama, maka yang perlu diselidiki adalah dalam suasana seperti apa kebutuhan-kebutuhan hidup sehari-hari mendorong orang untuk kreatif secara teknis? Jawaban terhadap pertanyaan tersebut kuranglebih sama dengan jawaban terhadap pertanyaan tentang subur atau tidak suburnya kreativitas dalam kesenian, manajemen, olahraga atau bahkan bidang lain.

Sekali pun dapat disebutkan berbagai syarat, namun ada sebuah syarat yang menjadi conditio sine qua non untuk perkembangan daya-cipta yaitu keadaan di mana kemampuan inventif, kesediaan mencobakan sesuatu yang baru dan tidak lazim, keberanian untuk keluar dari common sense umum, bukan saja tidak dihalang-halangi tetapi juga didorong untuk berkembang. Dorongan untuk berkembang ini di tanah air kita sekarang dirangsang dengan sayembara-sayembara, khususnya lomba ilmiah di antara para remaja seperti yang dilakukan oleh LIPI.

Di dalam sejarah ilmu pengetahuan dan teknologi dorongan melalui uang dan hadiah juga sering dilakukan. Pada waktu negara-negara Eropah Barat mulai berlayar ke Timur untuk mencari daerah-daerah baru sejak abad ke 16, maka salah satu kesulitan terbesar pada waktu itu ialah menentukan tempat kapal yang sedang berlayar pada garis lintang, karena cara lama dengan merujuk kepada letak bintang dianggap kurang tepat. Tahun 1598 raja Philip III dari Spanyol menjanjikan hadiah 1.000 Kroner untuk orang yang sanggup menemukan cara menentukan tempat suatu titik pada garis lintang. Pada waktu yang kira-kira sama Parlemen Belanda menjanjikan hadiah 10.000 Florin untuk penemuan yang sama. Di Inggris didirikan Board of Longitude untuk maksud penelitian yang sama, dengan janji hadiah antara 10.000 hingga 20.000 Pound. Setelah satu abad lewat dan masalah itu belum terjawab, pemerintah Perancis pada tahun 1716 masih menjanjikan 100.000 Lire.

Sekali pun hadiah besar yang dijanjikan itu diberikan dalam bentuk uang, tetapi karena hadiah itu diberikan oleh pimpinan kerajaan atau parlemen atau dengan restu kerajaan, maka nyata dengan jelas bahwa penelitian tentang penentuan tempat pada garis lintang sangat didorong oleh dukungan politik yang luarbiasa. Dukungan politik semacam ini penting sekali, karena kegairahan untuk penelitian buat sebahagian didorong oleh ada tidaknya kesempatan dan keleluasaan untuk melakukannya, dan ada tidaknya apresiasi terhadap usaha seperti itu.

Pada titik itulah muncul titik simpul yang menghubungkan teknologi dengan bidang lain di luarnya. Kesempatan untuk penelitian banyak berhubungan dengan suasana dan iklim politik. Sebagai contoh, kalau pertimbangan keamanan menjadi begitu dominan, sehingga keinginan untuk melakukan penelitian, khususnya penelitian yang independen kemudian harus memperhitungkan keamanan politik dari penelitian yang akan dijalankan, hal ini dapat menghilangkan kegairahan untuk penelitian. Sedangkan apresiasi terhadap penelitian adalah sebuah masalah sosial-budaya dan masalah birokrasi.

Apresiasi terhadap penelitian terlihat dari penghargaan masyarakat terhadap hasil yang dicapai seseorang atau sekelompok peneliti dalam pekerjaan mereka. Kalau kita membandingkan hadiah untuk pemenang olahraga dan hadiah untuk seorang remaja yang dapat melakukan penemuan baru dalam bidang teknologi, maka penghargaan itu masih amat kecil. Demikian pun penghargaan itu terlihat dari perlakuan birokrasi dan manajemen terhadap peneliti. Apakah peneliti dihargai sebagai sebuah profesi setingkat profesi lainnya, atau peneliti hanya dapat menumpang bekerja sebagai tenaga pada suatu service unit lain dalam perusahaan.

Pada titik ini patutu dicatat apa yang oleh Einstein dinamakan individualisme intelektual, yaitu kesediaan seorang peneliti untuk pertama-tama mengandalkan pernilaian dan pendapatnya pada pertimbangannya sendiri, dan bukan pada kewibawaan otoritas mana pun. Demikian pula individualisme intelektual ini sangat penting dalam berhadapan dengan kolektivisme intelektual di Indonesia pada saat ini. Dengan istilah ini saya maksudkan, apresiasi masyarakat lebih mudah diberikan kepada berbagai pertemuan berupa seminar tempat banyak orang berkumpul, daripada kepada seorang peneliti yang terbukti sudah melakukan penelitiannya dengan baik. Khusus untuk bidang ilmu-ilmu sosial dan humaniora, masyarakat kita pada saat ini nampaknya tidak memberi banyak waktu untuk penelitian yang tenang dan memerlukan waktu. Apa saja yang sedang diteliti ingin diketahui dengan cepat hasilnya, dan hal ini membuat para peneliti harus mempertimbangkan dan bahkan dikontrol oleh harapan masyarakat dan tidak mempunyai kebebasan cukup untuk menyelesaikan penelitiannya secara tenang dan matang.

Kalau kita percaya bahwa penemuan dalam penelitian keilmuanlah yang akan mendorong perkembangan teknologi, maka apakah yang menjadi prasyarat agar supaya ilmu dapat berkembang dengan bergairah?

Dalam sosiologi ilmu pengetahuan biasa dibedakan dua tahap perkembangan ilmu, yaitu tahap perkembangan pra-paradigmatis dan tahap paradigmatis ilmu pengetahuan.  Tahap pertama menunjuk kepada perkembangan ilmu yang masih merupakan perpanjangan kehidupan sehari-hari ketika ilmu dilihat sebagai jalan untuk mengatasi masalah-masalah praktis, entah masalah teknis, masalah sosial atau bahkan masalah politik. Tahap yang kedua menunjuk pada tahap di mana suatu bidang ilmu pengetahuan mempunyai suatu masalah penelitian yang cukup luas, yang menjadi pegangan dan orientasi para ilmuwannya untuk bekerja dan melakukan penelitian, di mana program itu juga cukup kuat untuk menahan intervensi kepentingan luar yang bisa mengganggu pekerjaan penelitian.

Pada tahap yang pertama, ilmu dikendalikan oleh pengaruh-pengaruh eksternal, sedangkan pada yang kedua ilmu dikendalikan oleh suatu paradigma yang diterima dalam komunitas ilmuwan. Paradigma itu akan menentukan apa yang menjadi bidang penelitian, struktur pembentukan teori di dalamnya, masalah penelitian apa yang harus dijawab oleh penelitan, serta bagaimana komunikasi antara ilmuwan yang satu dengan ilmuwan yang lainnya. Dengan lain perkataan, perkembangan ilmu pengetahuan pada akhirnya menuntut adanya otonomi ilmu pengetahuan yang tidak selalu boleh diintervensi baik secara politik atau pun secara birokratis.

Di sini suasana paradigmatis ini biasanya ditandai oleh ketegangan, yang oleh Thomas Kuhn dinamakan ketegangan antara professional skill dan professional ideology.  Dalam keahliannya kaum profesional dalam ilmu bisa saja bekerja dalam suatu status quo di mana mereka dimintai jasa-jasanya untuk memecahkan soal, dengan menggunakan keahlian yang mereka miliki. Akan tetapi dalam bidang keahliannya mereka juga diajar untuk bekerja menurut disiplin keilmuan yang mereka kenal dan hal ini membuat mereka kadang-kadang harus bertentangan dengan kemauan suatu establishment, karena mereka dipaksa untuk mengerjakan sesuatu yang menurut disiplin mereka tidak dapat dikerjakan, atau tidak dapat dikerjakan menurut cara yang diminta.

VI

Pembangunan budaya teknologi di Indonesia pada saat ini perlu mempertimbangkan kedudukan sosial dan kedudukan politik dari para ilmuwan di bidang ilmu alam dan para teknolog, karena hal ini akan banyak pengaruhnya terhadap pembentukan budaya politik. Dalam suatu negara di mana keahlian vak semakin dibutuhkan maka persoalan legitimasi akan mendapat tantangan yang semakin besar pula.

Di dalam masyarakat demokratis persoalan legitimasi dipecahkan berdasarkan pengakuan yang diberikan oleh orang-orang yang diperintah terhadap kelayakan suatu orde politik yang memerintahnya (Legitimacy means a political order’s wothiness to be recognized, kata filosof Jerman Juergen Habermas).  Dalam praktek legitimasi politik ditentukan oleh pengakuan dan loyalitas dari konstitutuensi politik.

Kalau kemudian semakin banyak ilmuwan profesional dan para teknolog memasuki politik, maka pengakuan terhadap meraka tidak lagi didasarkan kepada siapa yang memilih mereka, tetapi lebih kepada berfungsi atau tidak berfungsinya keahlian mereka.  Dengan demikian, Prof. Widjojo Nitisastro atas satu dan lain cara tetap diperlukan dalam politik Indonesia sekarang bukan karena dukungan dari konstituensinya tetapi karena keahliannya yang amat dibutuhkan dalam perencanaan ekonomi dan pengendalian keadaan ekonomi.

Seterusnya, seorang yang memenangkan dukungan politik yang luas adalah orang yang juga berhasil sebagai figur publik yang dikenal luas oleh masyarakat. Adalah masyarakat yang memberikan pengakuan tentang layak tidaknya seorang sebagai politikus. Sebaliknya pengakuan terhadap ilmuwan dan kaum profesional selalu berupa recoqnition by peers among peers. Jadi yang menentukan layak-tidaknya seorang ilmuwan dan seorang teknolog adalah komunitas akademik dan komunitas profesional.  Kalau hal ini tidak diawasi sejak semula, maka masukya kaum ahli ke dalam politik lambatlaun akan menimbulkan semacam oligarkhi para ahli yang dalam bentuk moderen dikenal sebagai teknokrasi. Oligarkhi seperti ini dapat mengancam atau sekurang-kurangnya menggeser bentuk partisipasi masyarakat luas dalam kehidupan politik yang demokratis. Sebaliknya, kalau kualifikasi ilmuwan diserahkan kepada masyarakat berdasarkan kriteria popularitas misalnya, maka terjadi pengaburan kriteria ilmiah yang lambat-laun akan menimbulkan vulgarisasi yang luarbiasa yang membuat merosot pencapaian ilmiah.

Selain kehidupan politik, teknologi juga besar pengaruhnya dalam bidang persepsi terhadap kenyataan dan sosialisasi seorang anak. Sekali pun pengaruh dan akibat gejala ini belum banyak diidentifikasi, namun perubahan persepsi dan bentuk sosialisasi sudah dapat dilihat semenjak sekarang. Hal ini terjadi karena teknik moderen tidak lagi hanya memproduksikan benda-benda, tetapi juga memproduksikan tanda-tanda. Mobil Mercedez dan BMW misalnya tidak hanya memberikan kemudahan kepada pemakainya tetapi juga suatu status sosial tertentu. Jadi bukan hanya efek secara teknis dan ekonomis, tetapi juga efek secara semiotik.  Mobil di sana bukan hanya menjadi alat dan sarana, tetapi juga tanda. Teknologi bukan hanyalah suatu bentuk interaksi manusia dengan benda-benda, tetapi juga interaksi manusia dengan tanda-tanda.

Pada tahap yang lebih canggih, tanda-tanda ini kemudian diproduksikan dalam industri. Jadi anak-anak tidak lagi bermain bola benaran di halaman sekolah, tetapi cukup dengan duduk di depan pesawat video dan menyetel sebuah program pertandingan sepakbola. Juga anak-anak yang suka kekerasan cukup puas dengan menyetel program yang memperlihatkan duel seorang wanita yang kejam yang menghabiskan semua laki-laki penantangnya. Anak-anak kecil di kota tidak lagi memelihara kucing atau anjing di rumahnya, tetapi cukup memelihara electronic pet.

Dengan ringkas, sengaja tak sengaja teknologi moderen turut menciptakan virtual world dan virtual reality, di mana tanda-tanda itu tidak lagi merujuk kepada apa yang ditandai, tetapi kemudian menjadi berdiri sendiri dan dapat menjadi dunia lain yang berdiri berdampingan dengan dunia real. Seberapa besar proses semiotisasi masyarakat ini masih berlangsung dan apa yang akan diakibatkannya untuk kehidupan sosial budaya kita belum bisssa diramalkan seluruhnya sekarang.

Yang dapat dikatakan, dunia sosial sekarang bukan merupakan satu-satunya dunia di mana kita hidup, karena ada juga dunia virtual, yang turut diproduksikan oleh teknologi. Ada peneliti sejarah teknologi yang mencoba membuktikan bahwa perkembangan teknologi benda-benda berjalan paralel dengan teknologi tanda-tanda. Perbandingan tersebut dapat dilihat dalam ikhtisar di bawah ini.   Tidak begitu jelas apakah paralelisme ini merupakan suatu deskripsi historis ataukah hanya suatu konstruk teoretis untuk memahami secara ideal typical hubungan di antara teknologi sebagai perangkat produktif dan teknologi sebagai piranti semiotik.

Bidang & tingkat

Perkembangan          Perkembangan alat

produksi materil        Perkembangan perekaman

memori melalui simbol

Alat masih bersatu dengan organ tubuh

Organ sebagai teknologi: tangan, tinju, jari, kuku, gigi

Tradisi lisan dalam bahasa, nyanyian dan tarian

Alat mulai terpisah dari tubuh

Alat sebagai perpanjangan / substitusi organ: pisau, palu, tang Teknologi tanda

tanda: gambar, huruf

Terlepasnya alat dari gestikulasi tubuh

Kerekan, busur

Teknik cetak press: kayu dan timah

Terlepasnya mekanik dari motorik tubuh

Mesin otomotorik: mesin uap, kincir           Dokumentasi, kartotek, indeks

Kontrol dilepaskan dari ingatan

Mesin otomatik

Sibernetika, komputer

VII

KESIMPULAN

Makalah ini amat terbuka. Namun demikian pokok-pokok pikirannya secara singkat dapat diulang sekali lagi pada akhir karangan ini.

Pertama, penerapan teknologi tidak cukup hanya mengandalkan technical know-how, tetapi selayaknya dan semestinya didukung oleh pengetahuan mengenai keadaan sosial-budaya yang mencukupi mengenai tempat di mana teknologi itu diterapkan. Penerapan teknologi tanpa pengetahuan sosial-budaya dapat mempunyai dua akibat. Kemungkinan satu, penerapan itu tidak berhasil. Kemungkinan lainnya, sekali pun penerapannya berhasil, akibat sampingan begitu tinggi, sehingga social cost yang muncul mungkin jauh lebih besar daripada manfaat yang dibawa oleh teknologi itu.

Kedua, teknologi menjadi tempat di mana dipertaruhkan dua kepentingan ilmu pengetahuan yaitu unsur kebenaran pengetahuan dan manfaat pengetahuan. Hubungan di antara keduanya penuh dengan dilema sehingga menganggap bahwa pengembangan ilmu selalu harus dihubungkan kegunaannya, mungkin akan membuat perkembangan ilmu justru tidak produktif.

Ketiga, untuk teknologi tinggi, keahlian teknis para teknolog hendaknya disertai suatu etos profesi yang tinggi. Kontrol sosial terhadap para ahli sendiri dan rekan-rekan mereka sendirilah yang harus mengontrol diri mereka sendiri, karena kontrol sosial oleh masyarakat tidak mungkin dilakukan karena mengandaikan suatu tingkat pengetahuan teknis yang tinggi, yang justru tidak dipunyai oleh anggota masyarakat yang bukan ahli.

Keempat, kemampuan menerima suatu teknologi rupanya tidak hanya mengandalkan tingkat kecerdasan tetapi juga tingkat disiplin. Kekeliruan dalam menjalankan teknologi tidak selalu disebabkan karena seorang kurang tahu tetapi juga karena dia kurang perhatian dan belum mempunyai kebiasaan (habit) untuk mengikuti disiplin dan bukan melanggarnya.

Kelima, pengandaian bahwa teknologi hanya mengubah dunia materil, pada taraf sekarang tidak benar seluruhnya, karena teknologi langsung mengubah alam pikiran dan tanggapan. Dunia materil diubah dengan memproduksi benda-benda, dunia tanggapan diubah dengan memproduksi tanda-tanda.

Keenam, semakin besarnya peranan para ahli dalam politik, dapat membawa kita kepadda oligarkhi para ahli, yang dapat menggeser partisipasi masyarakat luas dalam suatu sistem politik yang demokratis.

Ketujuh, berfungsinya teknologi tidak saja tergantung kepada sifat teknologi itu sendiri tetapi juga sangat tergantung kepada wacana tentang teknologi. Penyelidikan tentang wacana ini besar manfaatnya untuk melihat peraturan-peraturan yang dianut dalam kalangan teknologi untuk menjalankan fungsinya, dan apa yang terdapat di balik peraturan-peraturan itu, yang seringkali memperlihatkan dirinya dalam topeng-topeng ilmiah dan filosofis, yang memerlukan kritik untuk mengungkapkannya dan meninjau atau kalau perlu mendekonstruksinya sekalian.

Ignas Kleden

Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

Jakarta, Mei 2001

Categories: Ignas Kleden
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: