Home > L Murbandono Hs > Kegombalan Politik

Kegombalan Politik

Oleh: L Murbandono Hs

POLITIK di Indonesia sebagai bagian politik universal jebulnya gombal belaka. Sebagai sifat ia bisa serius atau lucu, bisa sangat pelik atau mudah sekali. Sedang sebagai substansi ia bisa menjadi perjuangan, kepengecutan, kesenian, ramalan, perang, teror, keblingeran, kesia-siaan, dan tentu saja: kemunafikan!

Di atas itu mungkin bukan otentik pikiran saya, meski mikir sendiri. Sebab itu hal normatif doang, yang bisa dirumuskan oleh semua orang normal. Jika kita sempat menyimak yang digeluti Bernard Russel, Enoch Powell, Eugene McCarthy, Franklin Roosevelt, Galbraith, George Jean Natan, George Orwell, Gheorghe Bernard Shaw, Harold McMillan, Lily Tomlin, Maurice Barres, Nikita Krutchov, Oscar Ameringer, Richard Harris, Theodore Roosevelt, Will Rogers, dan Winston Churchill, apalagi jika kuat mendaftar seluruh fenomena politik di jagat, logisnya kita akan sepakat dengan rumusan di atas. Minimal, kita tak bisa menyangkal bahwa hakikat politik itu menyangkut sembilan kegombalan berikut:

Pertama, politik adalah sesuatu yang memaksa kepala jadi puyeng sebab ia bersangkut paut dengan pemerintahan, lembaga-lembaga, organisasi, jaringan-jaringan penekan, hubungan internasional, tatacara segala tetek-bengek, dan manipulasi memerintah negara. Itulah sebabnya ia bisa menjadi pelik, mudah, lucu dan sekaligus memuakkan. Contoh konkretnya adalah Amien Rais dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

Kedua, politik adalah daya tahan para pemain akrobat memainkan keseimbangan, yaitu menjaga keenakan tontonan saat mereka menyatakan hal-hal yang bertentangan dengan sikap, tabiat, kiprah, dan kelakuan mereka sendiri. Dengan kata lain, politik adalah bukti kemunafikan para elit, saat tidak satunya kata dengan perbuatan, menjadi modal utama. Contohnya adalah Hamzah Haz dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

Ketiga, politik adalah kesenian yang amat canggih sekaligus busuk ialah seni mencari perkara dan mencari-cari kesulitan, yang begitu ketemu lalu dianalisa secara gegap gempita, dengan cara dan sarana penyelesaian yang keliru. Karena itu, satu-satunya modal yang dibutuhkan kaum politikus adalah kepengecutan dan kemunafikan yang betul-betul hebat. Contoh dalam bentuk manusia adalah Akbar Tanjung dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

Keempat, politik adalah keadaan manakala kepada kita dijanjikan akan dibangun sebuah jembatan, di tempat tidak ada sungai. Tapi begitu jembatan itu betul-betul direncanakan pembangunannya, para tukang janji menjadi bingung sendiri. Sebab, politikus kerap kali tidak yakin akan ucapannya sendiri. Maka saat banyak orang percaya pada ucapan tersebut, ia jadi kelabakan sendiri. Contoh pelakunya yang lumayan jelas adalah Megawati dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

Kelima, politik adalah upaya memperoleh dukungan suara kaum miskin dan kampanye mengumpulkan dana dari kaum kaya, sambil menjanjikan kesejahteraan bagi dua kelompok kaum tersebut, ialah manakala mereka satu sama lain saling melindungi. Jadi, kesia-siaan! Sebab dua kaum tersebut mustahil saling melindungi. Dengan demikian di dalam konteks ini, politik adalah kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, yang harus diikuti dengan kemampuan berdalih dan mencari alasan, sebab semua ramalan itu hampir selalu meleset. Contoh aktornya adalah Habibie dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

Keenam, politik adalah perang yang absurd, mengasyikkan dan berbahaya. Sebab dalam perang yang sesungguhnya, kita cuma dibunuh satu kali, sedang dalam politik bisa dibunuh berulang kali. Maka hanya ada dua pilihan di dalam politik yaitu pilihan yang mengerikan dan pilihan yang tidak enak. Harus cerdik memahami aturan mainnya. Tetapi begitu kita mengira aturan main itu segalanya dan amat penting, berarti kita bodoh. Contoh aktornya adalah Wiranto dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya plus semua pelanggar HAM berat penikmat impunitas yang lain.

Ketujuh, politik adalah kawasan tempat segala jenis kritik bisa berkiprah tanpa kendala, sekalipun kendala itu bernama ketidak-tahuan dan bahkan kedunguan. Itu terjadi sebab segala jenis politik selalu mendasarkan diri pada kesepakatan dan keseragaman mayoritas. Maka “keberhasilan” politikus terletak dalam ucapannya mengartikulasikan apa yang kerap dipikirkan mayoritas, dengan cara bersuara paling keras. Jadi, politikus yang “berhasil” bisa dibayangkan. Tetapi membayangkan politikus yang baik, tidak mungkin. Sebab, bisakah kita membayangkan tukang catut yang jujur? Contohnya adalah Gus Dur dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

Kedelapan, politik adalah sebuah mekanisme yang mengirimkan kebebasan ke penjara, hanya gara-gara tiga kaum yaitu kaum konservatif, reaksioner dan kaum radikalis. Kaum konservatis tegak di atas dua kaki yang sehat dan kuat, tetapi tanpa pernah melangkah maju. Kaum reaksioner adalah mereka yang suka berjalan di dalam mimpi, yang melangkah ke belakang. Sedang kaum radikal adalah mereka yang kedua kakinya menancap begitu kokoh di dalam . kentut! Contohnya adalah semua elit politik yang masih bermimpi Indonesia menjadi Negara Islam.

Kesembilan, politik adalah kisah ruwet tentang kere munggah bale, kesempatan dalam kesempitan, output maksimal dalam input minimal, persekutuan cacing dan bunglon dengan serigala, topeng-topeng yang indah, dongeng penuh racun, jebakan-jebakan yang nikmat, dan tentang keajaiban persekutuan manusia dengan setan! Contoh para aktornya adalah semua nama yang telah disebutkan di atas dan semua personil Orde Baru serta semua elit koruptor RI lainnya.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: