Home > L Murbandono Hs > Kepesatan Agama Kekuasaan

Kepesatan Agama Kekuasaan

Oleh: L Murbandono Hs

Dengan kekuasaan, nyaris apa saja bisa diraih. Kekuasaan adalah jalan pintas ke seluruh akses dan aset segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara

Banyak wacana sampai kisruh atau konflik nyata dalam perpolitikan di negara kita hari-hari ini menunjukkan hasrat berkuasa yang merajalela, menghebat, dan akhirnya menjadi Tuhan dalam agama yang baru: agama Kekuasaan! Di depan Tuhan dan agama-agama konvensional terdahulu, Tuhan baru dalam agama baru ini lebih nyata dan lebih dahsyat dampaknya bagi hidup berbangsa dan bernegara.

Agama Kekuasaan itu berkembang pesat. Banyak elite kita menjadi pemeluknya meski sudah mempunyai agama menurut KTP masing-masing. Jadi, riuh rendah politik saat ini bukan fenomena sosial politik belaka tapi sudah menjadi nomena peradaban yang sedang kalap mencurahkan apa saja demi Tuhan di dalam agama Kekuasaan tersebut. Tidak jarang, pihak terkait bahkan sambil mengatasnamakan dan memperalat agama menurut KTP yang masih dipeluknya.

Agama baru itu tentu saja mempunyai ajaran, ritual, misi, panutan, dan lain-lain sebagaimana dalam agama konvensional dan dalam banyak kasus mencampuradukkannya dengan segala unsur agama terdahulu dengan muara mempertuhankan kekuasaan, uang, dan seluruh ikutannya dengan segala cara.

Hadirat Tuhan dalam agama Kekuasaan amat luas. Ia memasuki partai-partai, kantor-kantor birokrasi, lembaga-lembaga pendidikan, tempat-tempat ibadat, kamar-kamar cukong, agenda-agenda media, dan dalam benak nyaris semua pejabat negara serta elite swasta di segala tingkat. Dia juga secara tersirat mudah bisa ditemukan dalam pidato-pidato, demo, seminar, rapat, kisruh di pengadilan, kilah-kilah dalam parlemen, riuh rendah kabinet, dan dalam kampanye-kampanye.

Situasi itu bisa terjadi sebab gerak Tuhan dalam agama Kekuasaan amat lincah. Ia bergerak vertikal, horizontal, melingkar-lingkar dalam skala lokal, nasional, dan global. Bergerak amat cepat dan heboh, ia kadang-kadang merangkak perlahan, diam-diam, lemah lembut, menggiurkan siapa saja yang terlena. Meski nyaris segala gerak Tuhan dalam agama Kekuasaan tidak terduga, tujuan-tujuannya selalu mencolok yakni mengincar semua jabatan segala tingkat di Tanah Air.

Jalan Pintas

Sudah tentu pengaruh Tuhan dalam agama Kekuasaan itu kuat dan dahsyat bagi pemeluknya. Demi Dia, sang pemeluk mempersembahkan segalanya, memeras otak, memalsukan dokumen, melanggar aturan, bertengkar, mengambil risiko, menjual harga diri, berjanji palsu, mencelakakan atau memprovokasi orang, berbohong, mematikan perasaan dan hati nurani. Bukan hanya menjadi tujuan, bagi pemeluknya Dia juga menjadi senjata, alat penekan, pengubah perilaku dan menjadi pengabur moral. Singkatnya, demi Tuhan dalam agama Kekuasaan, pemeluknya mau dan berani berbuat apa saja dengan segala cara.

Itu semua dilakukan agar bisa berkuasa! Dengan kekuasaan, nyaris apa saja bisa diraih. Kekuasaan adalah jalan pintas ke seluruh akses dan aset segala sektor kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara politik, kekuasaan adalah pencipta dan pembangun, semisal menciptakan kejahatan tanpa dihukum dan membangun ruang harta karun tanpa terbongkar. Dia menjadi penggiring informasi, penentu nilai, pencipta makna, bentengisme, dan jika perlu menjadi algojo ideologi.

Secara ekonomis, kekuasaan adalah jalan ke kapital, produksi, distribusi, dan semua kunci berbisnis. Kekuasaan adalah jalan pintas menuju sukses, kelimpahan, dan kejayaan dalam merajai sumber-sumber kekayaan alam berikut teknologi dan ilmu pengetahuan terkait. Secara moral dan kultural Tuhan dalam agama Kekuasaan adalah asas, cara, sumber, akses, citra, rasa, rasio, persepsi, idaman, ikon, kiblat, orientasi, dan tujuan hidup bagi para pemeluknya. Karena itu kredo dan doa paling populer dewasa ini dalam rangka liturgi memuja Tuhan dalam agama Kekuasaan, kira-kira akan begini:

O, Kekuasaan, aku percaya kepadamu dan Engkaulah sesembahan dan tumpuan segalaku. Hanya dengan Dikau aku bisa jaya, kaya, terhormat dan dipuja. Berkat Dirimu kekuasaan-kekuasaan ada padaku sehingga aku bisa apa saja terhadap siapa saja dalam mengembangkan ideologiku dan hasrat-hasratku. Amin.

Tentu saja kelahiran dan terciptanya Tuhan yang baru dalam agama Kekuasaan berbahaya bagi masa depan negara kita namun sekaligus membuat kita mengerti mengapa impunitas bagi otak dan pelaku aneka macam jenis kejahatan besar di Republik Indonesia tidak pernah bisa disentuh dengan apapun.

L Murbandono Hs

Peminat dan pengamat peradaban, tinggal di Ambarawa, Kabupaten Semarang

Sumber: Suara Merdeka, 11 Agustus 2011

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: