Home > L Murbandono Hs > Negara Bingung

Negara Bingung

Oleh: L Murbandono Hs

TEORI model negara beraneka macam, tergantung referensinya dan  siapa dalangnya. Semua mendapat tempat terhormat. Dari  semua model negara yang diajarkan di sekolah-sekolah, pesantren, seminari, kursus-kursus, akademi militer, universitas-universitas, dan entah mana lagi, yang tentunya bagus-bagus, ada sebuah model negara yang membuat saya jatuh cinta kepadanya. Yaitu, Negara Bingung.

      Salah satu ciri negara disebut Negara Bingung ialah bila mayoritas rakyatnya bingung sebab Negara tetap leha-leha jalan terus kayak nggak ada problem, meski sudah dipimpin secara goblok-goblokan. Yaitu, meski dipoles-poles dengan gincu atau parfum atau ayat-ayat sang pencipta langit dan bumi, tetap saja militeristik, kapitalistik, dan feodalistik.

      Pondasi negara macam itu ialah konsesi  “kolonialis” kapitalis mirip-mirip vampir  dari luar negeri  yang bekerjasama dengan kaum borjuis nasional kapitalis semu yang panjang pendek nafasnya bergantung pada jauh dekatnya dengan istana, dan hampir selalu didukung bedil. Pondasi ini punya pilar-pilar berupa aliansi rahasia yang melibatkan para pendekar dan elite kecil  massa keagamaan, sirkuit profesional dan terutama kelas baru. Kelas baru ini – secara salah kaprah disebut kelas menengah – sebenarnya cuma  sirkuit karbitan kelompok bernasib baik yang nyaris tanpa sikap politik atau paling pol ikut-ikutan sebab butuh selamat.

      Sistem pemerintahan  Negara Bingung  diperintah-kendalikan  jaringan yang gelap. Kegelapan ini telah disulap demikian rupa sehingga tampak wajar dan membidani lahirnya dewan khalayak umum yang disebut parlemen yang tak lebih berupa lembaga tempat berlangsungnya bagi-bagi kekuasaan dan rejeki. Jadi, saling berbagi kekuasaan di antara para wakil rakyat dan atau golongan sosial dalam arti yang sesungguhnya tidak terjadi dan atau amat dibatasi.

      Di Negara Bingung parlemen sejati tidak pernah ada. Sebab, parlemen yang hakekatnya lembaga elite  borjuis dan mestinya dicapai secara terbuka dengan perjuangan demokratis, telah berubah jadi gangs dan komplotan yang kerjanya hanya sikut-sikutan demi kepentingannya sendiri dan cum suisnya, serta  selalu brengsek jika sudah berurusan dengan duit. Mayoritasnya, kalau bukan kecu, ya maling. Jika terdapat sekitar 15 persen saja yang jujur, itu sudah keajaiban tersendiri, yang membuat Negara Bingung bisa semakin bingung. Jelasnya, Negara Bingung meniscayakan minimal 85 persen warga parlemen adalah sejenis gentho.

***

CIRI penting lain Negara Bingung ialah pola khas komunikasi sirkuit kekuasaan dengan tentara. Sebab penguasa faham betul bahwa hakikat tentara itu secara historis-universal berwatak komandoisme yang tak memungkinkan demokratis dan cenderung rawan kudeta (tak ada perebutan kekuasaan negara tanpa tentara), maka sirkuit tentara ini dirawat dengan cermat dan dimanja. Terdapat minimal dua jenis pemanjaan yang mencolok. Pertama, kaum ini hampir selalu sukses menjalankan ilmu dan ngelmu  impunitas, terutama jendral-jendralnya, manakala melakukan perbuatan tidak senonoh yang mengerikan. Kedua, kaum ini masih terus dengan segala cara mampu  bertualang mencampuri urusan sipil, sekalipun di atas kertas resminya tidak begitu.

      Jadi, tentara di sebuah Negara Bingung memang bingung sebab pura-pura tak faham telah menyimpang dari hakikatnya sendiri. Sebagai alat-mesin perang menangkal bahaya luar negeri, ia justru terus siap tempur mengantisipasi serbuan dari dalam negeri. Ini kocak sekali sebab mayoritas rakyat tak punya bedil.

      Selain kocak, sebagai negara yang resminya adalah negara sipil,  Negara Bingung juga aneh sebab situasi dan kondisi di atas menandai kecurigaan sirkuit kekuasaan terhadap rakyat. Di sini ada perbedaan tajam dengan negara yang mengedepankan sipil yang sejati, manakala sistem hankam sepenuhnya di tangan rakyat. Di sebuah negara relatif maju dan relatif kecil mungil di Eropa Barat  misalnya, semua warga dewasa yang sehat jiwaraga, menyimpan senjata di lemari rumahnya. Artinya, kecurigaan kekuasaan terhadap rakyat tidak ada. Konsep yang mendasarinya: tiap warga dipersenjatai demi menangkal serbuan luar negeri. Maka di negara macam itu tentara tak gampang pethènthèngan terhadap warga sipil. Mereka sama-sama punya senjata.

      Di Negara Bingung warga sipil tidak dipersenjatai. Konsepnya: rakyat yang dipersenjatai berbahaya bisa dipakai mengkudeta. Yang punya senjata hanya alat negara. Jadi letak kebingungannya ialah asumsi alat negara itu otomatis tak bisa kudeta. Dampak psikososialnya ialah rasa takut rakyat yang tak punya senjata terhadap tentara dan atau alat negara.

      Dalam urusan bedil ini, Negara Bingung memang menghadapi dilema yang dahsyat. Sebab di semua Negara yang termasuk golongan Negara Bingung, hampir selalu masih susah dalam urusan faali dan perut. Jadi, bedil-bedil itu jika dibagi-bagikan, bisa amat berbahaya. Bukannya  untuk menembaki musuh dari luar negeri, atau ambil saja pahitnya untuk mengkudeta pemerintahan yang bengis, misalnya. Tapi paling pol malah hanya diloakin untuk beli beras atau minyak goreng. Itu masih bagus. Lebih gawat malah digunakan untuk modal merampok.

      Dus, dalam urusan bedil ini, Negara Bingung belum pernah menemukan resep yang jitu. Cuma untuk tentara dan polisi doang, atau juga dibagi-bagi kepada masyarakat sipil, masih sama-sama krusialnya. Sebab, bedil dan bedil itu, yang sejatinya biadab pada dirinya sendiri, semakin menjadi biadab di tangan-tangan manusia-manusia yang tidak pernah mampu memberadabkan bedil.

***

DENGAN pondasi dan pilar plus pola khas relasi kekuasaan-tentara seperti di atas, Negara Bingung memberlakukan sistemnya: membela kepentingan modal-investasi-rekayasa kapitalisme global. Kelancaran sistem ini menuntut  kestabilan kekuasaan dengan konsekuensi harus merekayasa hal-hal semu. Indikasi Negara Bingung ialah bila masyarakat  dibanjiri istilah yang hebat-hebat untuk memanipulasi penyimpangan di aneka sektor kehidupan. Seperti misalnya, banyak pejabat dan atau sanak famili dan kerabatnya, ujuk-ujuk mampu berbisnis segala macam komoditi dari parfum, celana dalam, bensin, aspal, serbuk-serbuk mesiu, dan semua barang yang ada di kaki lima.

      Karena itu, dalam kaitan itu, salah satu sektornya yang disebut ekonomi, tak ada distribusi  modal alias pemerataan pembangunan. Yang ada ialah distribusi pengaruh dan atau wewenang di sirkuit kekuasaan, bisa sipil atau militer. Bancakan mendapat wewenang itu  terstruktur demikian rupa yang ujungnya mengacu pada doktrin monoloyalitas negara totaliter demi kemapanan-kenyamanan orang-orang yang sedang berkuasa.

      Kredibilitas otoritarianisme itu tentu saja anjlok di mata warga sendiri dan mengundang kecurigaan internasional. Sekutu asing Negara Bingung, khususnya negara-negara maju  terpaksa bikin skenario demi transisi menuju demokrasi yang tetap harus menjamin stabilitas investasi modalnya untuk jangka panjang. Sejumlah elit negara dipersiapkan untuk mengoper suksesi damai terdiri atas para ekonom, industrialis, pakar dan elite tentara yang diseleksi ketat oleh para “hero” kesayangan bos. Mereka kasak-kusuk termasuk membeli lobi luar negeri, di berbagai kesempatan, seperti di  seminar dan atau konperensi internasional.

      Kegiatan kasak-kusuk di atas menjelaskan mengapa sistem selalu butuh kabinet bayangan, parlemen bayangan, dan gudang-gudang yudikatif bayangan. Hal tersebut sudah tersusun sebelum terjadi pergantian di tiga sektor itu. Komposisinya akan selalu  terdiri atas para kolaborator yang menguntungkan sirkuit statusquo dan kiprah modal asing. Tugas utama mereka ialah memegang mandat merestorasi kapitalisme secara konsekuen. Ini tak mungkin dihindarkan. Sebab, aliansi dengan kekuatan asing dalam ekonomi, politik dan militer itu merupakan sesuatu yang melekat dalam sistem kekuasaan sebuah Negara Bingung.

***

YANG paling menarik dalam Negara Bingung adalah mekanisme demokratisasi. Soal-perkaranya saat jadi gerakan selalu berakhir dengan kebingungan ke banyak pihak. Pemerintah dan oposisi plus rakyat jelata sama-sama bingungnya.

Kebingungan tersebut ditandai berbagai gejala. Upaya reformasi politik yang nyaris mengalami kristalisasi jadi retak cerai berai. Tampil para oportunis di sirkuit demokrat borjuis yang dari sononya palsu dan setengah hati. Juga, muncul para  “hero mediator damai” yang umumnya main keroyok mengutuk dan mendemoralisasi oposisi. Kekuatan oposisi menguap entah ke mana. Tapi konon mereka tetap berupaya membangun kubu anti diktator. Salah satunya ialah mencari dukungan dan solidaritas internasional. Cara, bentuk dan isunya tidak penting. Targetnya sekadar jadi kunci pembuka periode pasca pemerintahan goblok-goblokan.

      Gejala di atas bersifat agak gelap. Yang muncul resmi ialah berbagai manuver di arena politik nasional. Ini jika disikapi secara tepat, akan bagus. Rekonsiliasi nasional antara kubu yang bertikai misalnya, sebenarnya bukan isu hebat yang akan menyumbang tahapan baru menuju reformasi yang konsekuen. Sebab, masih banyak golongan lain di masyarakat yang tidak diikutsertakan. Spektrum mestinya diperluas sebagai realisasi demokratisasi sejati. Semua kelompok termasuk golongan sosial yang pernah dipariakan dan direpresi mestinya juga masuk dalam agenda rekonsiliasi yang terbuka, demokratis, adil.

      Lepas dari seabrek hal lain yang tak mungkin terungkap dalam tulisan pendek ini, soal terpenting Negara Bingung ialah bahwa demokrasi sebagai pijakan memasuki masyarakat modern jadi amat semu. Liberalisme ekonomi masuk lewat pintu depan tapi konservatisme politik masuk dari lubang kakus. Jadi, Negara Bingung telah merawat kontradiksi dalam dirinya sendiri. Ini amat berbahaya bagi eksistensinya di masa depan …..

      Menyimak ciri-ciri yang memprihatinkan di atas, kita boleh bersyukur. RI tidak menganut model Negara Bingung. Kita menganut model negara, yang kita semua sudah tahu menahu judulnya dan segala macam istilahnya….

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Tinggal di Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: