Home > L Murbandono Hs > Agama adalah Agama

Agama adalah Agama

Oleh L Murbandono Hs

AGAMA? Menurut siapa tentunya adalah apa, mengapa, bagaimana, di mana, bagaimana dan siapa serta siapa. Jadi bisa apa saja, mengapa saja, bagaimana saja, di mana saja, bagaimana saja dan siapa saja. Apakah jelas? Kalau tidak dan atau belum jelas, bisa tanya Derkuku.

Menurut Derkuku sahabatku yang suka begini dan begitu, agama adalah sebuah kata yang bisa membuat hati berdebar-debar, otak berdenyut-denyut, tangan bergerak, kaki krugat-kruget, dan seluruh anggauta badan melakukan entah apalah. Apakah jelas? Kalau tidak dan atau belum jelas, bisa tanya Derkiki.

Menurut Derkiki, agama adalah sesuatu yang katanya bagus yang mestinya membuat orang berkelakuan bagus juga. Tetapi yang pasti betul, agama itu pasti tidak ada jika tidak ada manusia. Lha bagaimana bisa diketahui adanya sebab yang bakal mengetahui adanya saja tidak ada? Jadi, manusia lebih penting katimbang agama.  Nah, begitulah keterangan yang seterang-terangnya dan sejelas-jelasnya mengenai hubungan manusia dengan agama. Keterangan semacam ini penting, agar membuka mata batin kalbu manusia mengenai hakikat, makna, dan maksud agama tersebut. Sekali lagi, yang sebenar-benarnya dan yang sesejati-sejatinya. Sehingga mata kita semua terbuka bagai matahari pagi yang terang benderang.

Jadi, sekali lagi, manusia lebih penting katimbang agama. Sebab manusia bisa membuat agama. Dan agama tidak bisa membuat manusia. Terus — yang membuat manusia siapa? Yang membuat manusia adalah sepasang lelaki dan perempuan, mereka bersetubuh, si perempuan hamil, lalu lahirlah manusia baru.

“Lho? Bukan Tuhan yang bikin manusia?”

“Saya nggak tahu! Tanya saja sama ginekolog, atau bidan, atau Mbah Dukun yang

menolong kelahiran manusia baru tersebut. Siapa tahu bisa memberi keterangan.”

“Tapi di dalam Kitab Suci ada disebut bahwa cgsdjhqdnqdodfvcwyqrqfqaydl.”

“Bagus!”

“Juga dalam ayat tiga dikatakan cwfbwiubwjognekgjvfsacnfjjggmlsbaufvqif’.”

“Bagus!”

“Selanjutnya juga tafsir jkifbbfwbfbfk,jfhpkkmncvfekfvaifvqojuyvis.”

“Bagus!”

“Percaya atau nggak?”

“Bmmmmmbahdvjhdvjkb cwvshjw kvjhjahdavahv.”

“Kamu ini atheis ya?”

“Kjadvwhfvwevfhfeirhv.”

Dari dialog yang rada-rada gendheng di atas, agaknya ihwal perkara agama ini bisa panjang sepanjang jalan kenangan dan lebar selebar segala yang paling lebar. Amat mustahil bisa didongengkan atau ditulis secara gampang-gampangan sebab agama itu jumlahnya bukan satu atau dua atau sepuluh, melainkan beribu-ribu. Ya, sekali lagi, ribuan dan ribuan. Jadi, agar jelas, bukan Cuma satu!

Alhasil, ngomong apa pun dan umak-umik model apa pun, buka-buka buku-buku yang setebal apa pun dan sekumal apa pun, tetap saja orang saling gebuk-gebukan kalau dalam urusan agama ini memang maunya gebuk-gebukan. Jadi, buat apa? Lebih baik menggoreng tempe sudah jelas hasilnya, dapat tempe goreng, sehingga bisa menemani dirimu entah lagi ngetik atau baca atau sedang kucek-kucek mata.

Sekalipun katimbang gebuk-gebukan ngurusin agama lebih baik menggoreng tempe, tapi agar urusa perkara agama itu bisa memuaskan banyak pihak, maka hal-hal mendasar dalam agama itu harus tetap bisa diurus dengan akal sehat. Agama yang tidak mampu menghadapi akal sehat, bukanlah agama, mungkin tipu-tipu. Agama semacam itu, tak bisa dipercaya. Berbahaya. Bisa merusak akal sehat. Tidak manusiawi! Agama yang sejati, yang benar-benar suci dan mulia, harus manusiawi.

Nah, hal-hal yang mendasar dalam agama itu, di antaranya sebagai berikut. Agama adalah sarana dan pedoman bagi manusia untuk menuju kepada Tuhan. Mengapa manusia harus menuju kepada Tuhan? Ya tidak ada yang tahu. Kebanyakan ya ikut-ikutan saja. Karena kultur. Tradisi. Patuh pada nenek moyang. Cuma kebetulan. Dan lain-lain.

Yang jelas, seluruh wacana tentang Tuhan itu, sekalipun sudah ditelusuri di sekolah-sekolah dan atau padepokan teologi dari agama apa saja, juga di  kantor-kantor agama apa saja, di lembaga dan atau tokoh-tokohnya, di segala apanya saja, dan itu sudah berl angsung selama berabad-abad, Tuhan itu masih saja berupa hipothesis, atau paling pol thesis, dan karena itu tidak tabu untuk terus ditelusuri, diuji dan dikaji. Anehnya, meski Tuhan itu sudah berabad-abad diuji, Dia terus menerus lulus. Nyatanya, sampai detik ini, masih saja dikaji dan diuji. Dan Tuhan sendiri masih eksis dengan segala problematika dan wacanaNya.

Sekalipun secara ekstrim Dia dianggap sebagai Sang Entah misalnya, Dia tetap diakui sebagai sumber segala yang baik, benar, mulia, suci, indah, damai, tenteram, selamat, sumber segala hal yang positif, dan terpenting sumber cinta segala cinta. Karena i tu, Apapun, Siapapun, Di Manapun, Kapanpun dan Mengapa pun Tuhan itu, tidak pernah menimbulkan masalah. Dia dianggap Sang Ada atau Sang Tidak Ada, sama saja. Dia tidak peduli. Tuhan tidak menjadi lebih besar atau lebih kecil, karena diadakan atau ditiadakan. Dilecehkan pun, Dia tetap Hidup. Dia tak perlu dibela. Dia sudah Mahakuat.

Bagi, di Hadapan, dan di Mata Tuhan, semua orang, asal menuju ke arah kebenaran, kebaikan dan cinta, sudah pas dan tepat sebagai manusia. Artinya, ia sudah menuju kepada Tuhan, sekalipun barangkali tidak mengakui adanya Tuhan. Dan bagi Tuhan sendiri, jika Dia memang Ada, tidak akan mengusili orang semacam itu. Bagi Tuhan, menjadi manusia dengan betul-betul memanusia secara baik dan benar, artinya manusiawi, jauh lebih penting katimbang harus menggunakan sarana atau pedoman, artinya agama, yang ini atau yang itu. Bahkan sekalipun yang bersangkutan tidak memilih salah satu agama apa pun. Itulah sebabnya, Tuhan itu disebut Mahapembebas.

Tuhan itu pembebas yang membebaskan. Tuhan tidak pernah membelenggu! Itulah sebabnya, oleh banyak agama, Tuhan itu disebut Mahabesar dan Mahapengampun. Kebesaran Tuhan itu, salah satu tandaNya di bumi adalah fakta dengan tersedianya sarana dan pedoman, berupa keberlimpahan agama di dunia. Sebagaimana sudah dipaparkan, bukan cuma satu atau dua atau cuma sepuluh, bahkan terdapat beratus-ratus atau malahan ribuan agama di dunia. Semua menuju ke Tuhan. Menuju ke Cinta, dasar segala kebaikan dan kebenaran.

Lalu mungkinkah, ada agama yang bisa mengklaim diri sebagai satu-satunya sarana, satu-satunya jalan, satu-satunya pedoman, bagi manusia, untuk menuju kepada Tuhan? Ada. Agamanya orang-orang gila!

L Murbandono Hs

Rakyat biasa Warganegara RI

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: