Home > L Murbandono Hs > Anti Rumah

Anti Rumah

Oleh L Murbandono Hs

STASIUN Sentral Amsterdam. Ini kali pertama ia ngobrol panjang lebar, setelah perjumpaan kami yang kesekian, dalam rentang waktu berbulan-bulan. Selama itu entah berapa batang rokok dan patat alias kentang goreng saus mayonais ku-upeti-kan, tapi yang kudapat hanya beberapa kalimat kurang informatif, selain basa-basi sejenis “trimakasih” atau “cuacanya bagus ya”.

Jaket kulitnya yang kumal langsung menusuk hidungku, sengak bukan main! Aku terbatuk-batuk. Sebelum berkisah, ia terkekeh-kekeh. Aku takut jangan-jangan dia tahu kalau batukku akibat bau pesing jaketnya. Aku lega. Ternyata karena merasa diri terjunjung dan tersanjung. “Menjadi seperti god,” ujarnya dalam bahasa Belanda dengan logat Limburg yang kental, “kok ada jurnalis dari Peking nanya-nanya nasibku, hehehe.”

Ya, itulah! Dianggap Tionghoa! Padahal tiap kali ketemu selalu kukatakan aku dari Indonesia, dan konon, wong Jawa. Tapi dia pantang mundur menyebut  “jurnalis dari Peking”. Dia tampak senang tiap menyebutkan hal itu. Dan selalu ditambahi, sambil menerima rokok atau patat, “sahabatku”. Dankje vriend ? mijne … uit Peking! Jadi, bagaimana ini? Kulitku lumayan gelap. Mataku tidak sipit, tapi kecil. Apakah kecil dan sipit itu sama? (Tafsir klenik nyai, nenekku, sipit itu lurus dan kecil itu licik, itulah sebabnya di masa kecilku nyai gencar menggempur sifat negatif mata kecil itu dengan jajan pasar tiap hari wetonku, 35 hari sekali. Entah gempuran itu berhasil atau tidak, mana aku tahu.)

Ah, sudahlah. Bagiku semua itu tidak penting. Asal bisa mengeruk info! Dan ? memang asyik. Sejak awal dia nerocos, segera kutangkap, segala hal berbau umum sepertinya mau ia labrak, tendang, dan buang. Tapi cara mengatakannya, o, begitu subtil. Kalem, seenaknya, seperti asal bunyi, ketika menceritakan sikap-sikap hidupnya. Suaranya juga bagus, mantab, pelan, jernih, dan terasa runtut.

Sistematis! Segala-gala menjadi tampak amat jelas oleh ocehannya yang terkesan semau gue. Aku menjadi iri dibuatnya. Sebab hidup di tengah derap sebuah negeri yang tersohor kaya, aku tak pernah mengalami kejernihan akal dan perasaan seperti yang ia tunjukkan. Maksudku, begitu jujur dan polos, terkesan lucu dan seperti bemain-main sebab segala sesuatunya tampak tidak masuk akal, tapi caranya bertutur sedemkian bersungguh-sungguh. Akibatnya, akalbudi kita dibuatnya menjadi simpang siur. Tanpa bisa berkutik.

***

Dia termasuk kelompok yang menyebut diri manusia liar. Tempat mukim tetap, musuh utamanya. Dengan yakin sahabatku itu menandaskan, rumah selalu tidak pernah sehat bagi manusia. Rumah selalu memperbudak manusia. Orang bijaksana tidak pernah terikat pada rumah. Rumah memaksa manusia cari uang, untuk membayar sewa, kontrak, atau cicilan hipotik. Dus, bagi sahabatku, hakikat rumah adalah beban.

Rumah menciptakan syaraf tegang, umpamanya saat mengurus surat-surat dan tetek bengeknya. Rumah itu manja, butuh perawatan, seperti nenek nyinyir. Orang menjadi mudah tersinggung sebab rumah menciptakan lingkungan bertetangga. Dengan rumah, manusia menciptakan nerakanya sendiri, untuk diganggu atau mengganggu. Dengung TV, radio, salak anjing, harus saling mengucapkan salam, dan seabrek kebiasaan dan kegiatan yang umpamanya tidak ada pun, tidak apa-apa. Kegiatan artifisial, kebiasaan semu dan sejenisnya, yang pada ujungnya membuat tegang. Jadi, hakikat rumah adalah alat membuat stres. Ironisnya, pembuat itu sang korban sendiri.

Aku makin terkesima mendengarkan. Dan dia makin bersemangat berbicara. Rumah, katanya, memaksa orang memperlengkapi diri dengan berbagai perabot dan meubel, yang kata diktat kebudayaan bisa menaikkan status. Lantaran rumah, manusia harus hidup berkelompok. Rumah mendatangkan kewajiban-kewajiban. Kita tak bisa meninggalkannya begitu saja. Rumah menciptakan deret panjang urusan artificial yang tidak ada habisnya: ihwal sampah, bergosip dan … pulang!

Padahal, hidup sejati terletak dalam pengembaraan. Manusia harus berkeliaran tanpa tujuan, kalau betul-betul mau mencari kebebasan dan kebahagiaan. Tanpa rumah, tak ada istilah pulang atau pergi. Kita bisa terus pergi. Bukankah hakikat hidup adalah ziarah? Tak satu pun yang tetap. Jangan pernah terikat pada suatu pekerjaan atau kegiatan tertentu, jika kita tidak ingin menjadi budak.  Menjadi tukang sapu jalan atau menteri sama saja hakikatnya, ialah memperbudak diri. Ialah jadi budak sistem kehidupan yang telah diorganisasikan sedemikian rupa, sehingga ujungnya, orang harus bekerja. Pekerjaan menjadi kewajiban, yang dianggap bisa memperkembangan diri. Padahal yang terjadi justru sebaliknya. Pekerjaan membuat manusia mengerdilkan diri. Sebab hakikat bekerja adalah cari duit, cari muka, cari pengaruh, cari status, dan buntutnya: cari kesulitan.

Maka orang harus kembali ke jati dirinya yang asli, ialah kembali ke zaman sekuno mungkin. Ke nenek moyang. Dan itu adalah pengembaraan, kesementaraan, yang membuat orang krasan dan bergairah. Dalam mengembara orang hanya menjumpai kewajiban yang tidak mengikat, terhadap orang lain, tempat atau barang. Orang menjadi lega dan bebas.

Nah, begitulah sikap hidup sahabatku, sang manusia anti rumah dan anti kemapanan.

***

TERHADAP orang-orang sejenis sahabatku, politik Belanda melukiskan mereka sebagai manusia tanpa atap, manusia luntang-lantung, Masyarakat mapan acapkali men-stempel mereka sebagai benalu. Sebab mereka hidup dari tetes-tetes keringat orang lain, pajak! Mereka ini ditatap dengan penuh curiga dan benci. Yah, bisa dimaklumi.

Tapi pada hematku, memaklumi mereka, agaknya lebih asyik. Bagaimana enggak asyik, sebab ia bilang, bahkan dengan berapi-api, uang bukan dewa yang bisa menyelesaikan segala soal. Uang tidak mampu menyelesaikan masalah kebebasan dan kebahagiaan, sebab uang berarti pemilikan. Padahal, kebebasan dan kebahagiaan menuntut bebas dari pemilikan. Akan lebih bagus lagi, melawan pemilikan!

Memiliki hartabenda dan status serta pengaruh membuat manusia menjadi budak. Sebab cepat atau lambat, pada gilirannya tiga hal itu yang justru akan memiliki manusia. Segenap tindakan manusia akhirnya harus diarahkan demi pemenuhan tiga hal tersebut.

Misalnya, pemilikan rumah. Rumah dianggap sebagai tempat berlabuh terakhir tempat manusia menemukan diri. Maka rumah senantiasa dirawat, dikembangkan, diperbesar, diperbaiki, direnovasi, dipermewah, dan entah diapakan lagi, tak ada habisnya. Masih belum puas, beli rumah baru. Begitu terus menerus. Dan, inilah asal usul sifat tamak dan iri, sumber segala stres. Sebab tamak dan iri selalu menciptakan pertikaian, persaingan, kasak-kusuk, kebencian, dan ketidak-bahagiaan.

Maka, sahabatku itu menatap mataku dalam-dalam, jangan pernah sekali-kali punya rumah! Berbahaya. Kita sudah melihat borok-boroknya. Kebahagiaan sejati hanya bisa didapatkan dalam pengembaraan. Hidup liar dan menggelandang adalah cara hidup paling sehat bagi peradaban. Jadi ? tiba-tiba dia berhenti dan bertanya apakah aku beragama, aku diam saja tidak peduli, dia juga tidak peduli akan ketidak-pedulianku, sebab terus bicara makin bersemangat. Ia bilang, jangan sekali-kali menyebut hal-hal rohani jika tidak bisa memahami bahwa ziarah yang paling rohaniah itu hanya bisa ditemukan wujudnya yang konkret dalam hidup liar dan menggelandang.

Aku makin tertegun. Dia makin asyik bicara. Percayalah padaku, katanya, menempatkan rumah sebagai tumpuan terakhir adalah idiot. Sebab hal itu akan menguras enersi, hati dan pikiran. Padahal, rumah bukanlah jagat manusia satu-satunya di bumi ini. Dengan rumah, kita terpaksa punya istilah krasan, betah, kangen, atau sebaliknya. Tanpa rumah, segala istilah itu lenyap. Kita terbebas dari rasa krasan atau tidak krasan, dari rasa kangen atau tidak kangen. Mengapa? Sebab rumah memaksa manusia mempunyai tujuan terakhir. Tanpa rumah, kita tak punya tujuan terakhir, tapi terus menuju ke tujuan yang entah ke mana, pokoknya jalan terus. Manusia akan terus berangkat. Akan terus pergi. Sebab tidak punya ? pulang! Dan, pulang ini membelenggu. Bikin susah saja!

***

Jalan kaki menuju ke tempat parkir. Dingin cuaca Februari menyengat, disengat neraka? Terngiang-ngiang kata sahabat itu “terus berangkat dan terus pergi adalah hakikat hidup manusia yang paling spiritual”. Ziarah. Liar. Menggelandang. Bukankah Tuhan selalu berziarah di sepanjang perjalanan sejarah?

Dia juga masih terus menggelandang. Dia juga tidak pernah pulang. Masih ke mana mana. Berseru-seru. Memanggil-manggil manusia, agar mengerti dan mengenalNya. Siapa yang mengerti. Siapa yang mengenalNya? Aku tidak tahu. Sebab aku harus pulang ke rumahku, di Hilversum.

Di otomat karcis parkir aku termangu. Kulihat angka-angkanya. Brengsek! Biaya parkir itu hampir tiga kali harga tiket kereta Hilversum-Amsterdam pulang pergi. Sahabatku benar. Jadi, apakah aku masih perlu pulang? Kepalaku berdenyut-denyut.

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang Humaniora dan Budaya

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: