Home > L Murbandono Hs > Demonstrasi Mulia Kaum Anarkis Sejati

Demonstrasi Mulia Kaum Anarkis Sejati

Oleh: L Murbandono Hs

DI musim demonstrasi hari-hari ini mungkin ada baiknya diumumkan bagi yang belum kenal, bahwa terdapat banyak cara demonstrasi yang jitu dan beradab serta mulia, salah satunya adalah dengan anarki yang sejati. Dengan anarki yang sejati, jadi bukan anarki-anarkian atau anarki salah kaprah, demonstrasi menjadi mulia, enak, jenaka, dan amboi! Antara lain terbebas dari kepentingan mencari kekuasaan. Kaum anarkis tidak butuh kekuasaan, produk pemerintahan, yang mereka anggap tidak ada!

Juga, dengan demonstrasi anarkis yang sejati, demonstrasi tak akan terpuruk menjadi demonstrasi-demonstrasian. Susahnya, demonstrasi-demonstrasian ini keniscayaan di sebuah negara yang masih diacak-acak kaum munafik. Ia cuma konsekuensi logis dari empat problem krusial yang menjajah Indonesia.

Empat problem krusial itu, pertama, reformasi menjadi reformasi-reformasian Orde Baru, contohnya “Ketua MPR” dan seabrek perkara ikutannya. Kedua, politik menjadi politik-politikan Orde Baru, contohnya “Presiden RI Ketiga, Keempat, dan Kelima” dan “Ketua DPR” plus seluruh problem ikutannya. Ketiga, perkara mobrot-mobrot Orde Baru, contohnya “Wapres RI” saat ini dan seabrek mobrot-mobrot ikutannya. Keempat, militerisme, contohnya adalah kekaya-rayaan yang tak masuk akal milik jendral-jendral Orde Baru beserta seluruh keruwetan ikutannya.

Harus diakui, empat problem krusial tersebut juga merupakan dua problem kekonyolan sebelumnya. Pertama adalah zaman sejak Dekrit Presiden 1959 sampai 1965. Kekonyolan kedua, zaman Orde Baru. Meski kekonyolan kedua lebih mengerikan tapi secara substansial keduanya sama-sama noraknya, yaitu diubahnya Republik Indonesia oleh “Presiden RI Pertama dan Presiden RI Kedua” secara bertahap menjadi Kerajaan Indonesia Nan Celaka.

Empat problem krusial dan dua kekonyolan di atas sudah banyak dikupas. Jadi tidak usah diurus lagi. Mubazir! Sebab muaranya hanya tentang dusta-dusta. Tapi, tunggu dulu. Dalam kaitan dengan demonstrasi yang menjadi demonstrasi-demonstrasian, ada catatan emas, jangan pernah dilupakan! Jika dalam demonstrasi-demonstrasian itu sampai jatuh korban manusia terbunuh dan atau sekedar sampai mencret-mencret, maka pembunuh-pembunuhnya dan atau sekedar kakus-kakusnya adalah enam problem tersebut.

Sekarang, perkenanlah catatan kecil ini hanya konsentrasi di sekitar demonstrasi mulia yang dilakukan oleh kaum anarkis yang sejati.

Mirip Taman Firdaus

Demonstrasi-demonstrasian berbeda dari demonstrasi. Yang pertama selalu rusuh dan brutal – tidak ada sangkut pautnya dengan anarki – yang tidak jarang membawa kurban luka parah dan bahkan kurban jiwa. Sedang demonstrasi yang baik dan beradab, harus dilakukan – salah satunya – secara anarkis, yaitu, cool, lugas dan jenaka, sehingga akan terbebas dari tindakan kekerasan dan kekonyolan yang biadab.

Karena itu, demonstrasi anarki sebaiknya dikembangkan dalam demo-demo publik, agar Indonesia selamat. Mengapa? Anarki adalah faham yang cuek terhadap aturan, kekuasaan dan pemerintahan. Maka, dewasa ini, demonstrasi anarkis itu paling cocok untuk kawasan geografis yang bernama Republik Indonesia alias RI. Kita tahu, RI adalah sebuah negara yang cukup lama tanpa aturan. Sekitar 36 tahun, zaman Orba 32 tahun dan zaman reformasi-reformasian 4 tahun, di RI ini di atas kertas memang tersedia bergudang-gudang aturan. Tapi di dalam praktek yang melibatkan deret panjang kasus yang mengerikan, tidak ada aturan. Artinya,  tidak ada pemerintahan. Yang eksis di kawasan Nusantara adalah pemerintah-pemerintahan!

Kembali ke demonstrasi yang mulia. Jika faham anarki yang sejati sudah sungguh-sungguh dimengerti dan dihayati kaum demonstran, segala jenis rambu semisal aparat keamanan dan polisi itu tidak akan mampu menjadi penghalang. Mereka dianggap angin, sebab cuma perkakas aturan, karena itu nggak akan diapa-apain. Demonstran hanya konsentrasi menyampaikan aspirasi dengan merdeka dan demokratis. Suasana dalam demonstrasi anarkis mirip Taman Firdaus. Memanas tetapi terkendali, dramatis tetapi santun, jenaka tetapi beradab, dan seterusnya. Barangkali kaum polisi dan atau aparat keamanan akan tertegun-tegun dan terharu, hingga tidak sedikit yang menitikkan air mata. Singkatnya, demonstrasi anarkis membawa kedamaian dan aksi penyelamatan dengan bertumpu terutama pada akal sehat!

Bahwa kaum anarkis memberitahukan sebelumnya kepada polisi akan aksi demonya secara detail, semisal jumlah demonstran, siapa pemimpinnya, waktu tempat rute demo dll, itu bukan karena kepatuhan kepada aturan. Bagaimana bisa patuh, sedangkan aturan dan pemerintah saja dianggap tidak ada. Ada pun penyebabnya, yang terpenting, karena dua hal berikut.

Pertama, semata-mata karena pertimbangan akal sehat dan urusan praktis teknis belaka. Agar lancar dan enak. Sebab kaum anarkis faham belaka, polisi dan segala jenis perkakas pemerintah itu suka cari perkara yang kagak-kagak.

Kedua, ini lebih penting, untuk menunjukkan jati diri sebagai kaum anarkis yang sejati. Dengan itu secara implisit kaum anarki “menagih” polisi untuk membayar utang kepada rakyat, sebab digaji dari duit rakyat. Yaitu dengan bersiap-siap menjalankan tugas menjaga ketertiban dalam demo tersebut, agar berjalan dengan nikmat. Polisi sudah menikmati duit publik, karena itu wajib memberikan kenikmatan kepada publik, semisal kenikmatan di dalam demo.

Apakah dengan demikian lalu secara tidak langsung kaum anarkis menunjukkan tanggungjawab kepada publik? Ya, mungkin juga, cuma kebetulan. Tapi itu tidak penting. Sebab mereka sendiri tidak mau terikat kepada publik, dan apalagi, dominasi sosial yang otoriter. Kaum anarkis hanya bertanggungjawab kepada diri sendiri, yaitu, bebas merdeka terhadap apa saja tanpa mengganggu siapa saja! Bahwa prinsip itu gilirannya malah, misalnya, sesuai dengan hak dan kewajiban warganegara, atau bermanfaat bagi kepentingan lebih luas, itu “tidak sengaja”. Bukan itu tujuan kaum anarkis. Kaum anarkis berdemonstrasi karena kepentingan anarkisnya, atau hati nuraninya, terganggu! Hati nurani adalah titik tolak segala sepak terjang kaum anarkis. Jadi, berangkat dari diri sendiri.

Mengapa terganggu, dan apa kepentingan kaum anarkis? Kepentingan kaum anarkis adalah mencita-citakan ruang dan waktu yang terbebas dari pemerintah yang pada gilirannya selalu melahirkan kemunafikan, kebohongan, kongkalikong, pemberhalaan, penistaan individualitas, rasisme, otoriterisme, militerisme, dominasi sosial, dan segala jenis pembodohan yang lain. Karena itu, untuk dewasa ini, demonstrasi anarkis merupakan demonstrasi yang paling cocok bagi Indonesia. Sebab, Indonesia dijajah pembodohan yang amat dahsyat!

Nah, sejauh pengetahuan saya, itulah “ngelmu” anarki dan anarkisme yang sejati – sekali lagi bukan anarki-anarkian atau anarki salah kaprah – dalam konteks demonstrasi. Tapi bicara soal “prinsip dan filsafat” sejenis itu, sebagaimana bicara soal komunis, kapitalis, materialis dan spiritualis, bisa mengundang diskusi dan debat sepanjang segala abad, karena masalahnya abstrak. Apa pun debatnya, terpenting, lepas dari ekses-ekses negatif yang pernah muncul dalam panggung sejarah yang diperbuat oleh kaum yang menyebut diri anarkis tetapi sejatinya bukan atau minimal keblinger, mendiskreditkan istilah anarki tanpa mau tahu hakikat makna maksud sejati anarki sebagaimana dimaksudkan oleh kaum anarkis sendiri, adalah kelakar yang ajaib, dan bisa menjadi neraka dalam filsafat politik khususnya dan atau ilmu-imu humaniora pada umumnya.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: