Home > L Murbandono Hs > Doa dan Komunis

Doa dan Komunis

Oleh: L Murbandono Hs

BARANGKALI di Indonesia saat ini banyak orang berdoa. Mendoakan Indonesia yang lagi ruwet riuh rendah agar bisa menjadi sejahtera seperti di surga. Akan terkabulkah doa tersebut? Agaknya tidak! Sebab Indonesia ini negara sial!

Bagaimana tidak sial? Nyaris semua orang yang “berkompeten” kalem-kalem saja dijajah dusta-dusta yang begitu berkuasa di pilar-pilar penting mayoritas elit negara. Mereka, yang mestinya diharap menjadi kubu terakhir kejujuran dan bisa menjadi tumpuan ratap tangis, tidak sedikit yang karena sudah telanjur lama menikmati perzinahan dengan dusta, malahan berkiprah dengan mental preman rusak, ikut-ikutan memberangusi upaya-upaya membongkar kepalsuan.

Jadi, jujur saja, segala jenis doa di Indonesia saat ini sudah menjadi amat krusial. Segala cara dusta yang masih dibiarkan mencabuli Sabang sampai Merauke itu, bisa membuat batal ritus mulia segala jenis doa.

Dusta Merajalela

Salah satu dusta paling keji di Indonesia adalah menyangkut soal vonis mati bagi komunisme sebagai suatu paham hidup. Keji, sebab dusta itu telah merusak akal sehat, sebagai salah satu sumber daya hidup manusia untuk benar-benar menjadi manusia yang manusiawi. Gus Dur, dengan jiwa agung ketulusan democrat yang punya komitmen akan pluriformitas, telah menawarkan pencerahan tentang itu, dengan usul pencabutan TAP MPRS XXV/1966. Nilai kebenaran dan kebaikan yang terkandung di dalam usulan tersebut, oleh “banyak” atau “amat sedikit” orang, telah ditentang dan diprotes dengan 1001 ilmu dusta.

Mengapa dusta? Sebab pelarangan sebuah paham hidup itu tidak bisa ditemukan di segala ilmu dan ngelmu di bumi, kecuali ilmu ngibul dan ngelmu bohong. Fondasi kebohongan tersebut, ya sang arsitek pelarangan, Soeharto, yang sudah telanjur dicatat sejarah sebagai tukang ngibul dalam “banyak” kasus penting. Tapi mengingat Indonesia ini sial, ya beginilah jadinya. Masih saja ada orang, karena saking pinternya, “berjuang” untuk melestarikan monumen pelarangan yang tidak masuk akal itu. Pinter, sebab pelestarian monumen gila itu bisa mengamankan segala dosa percabulannya dengan Orde Baru di masa lalu.

Gus Dur, meski Anda bukan malaekat yang tentunya tidak lepas dari “noda”, tapi untuk urusan merobohkan monumen keculasan itu, terimalah simpati saya! Anda gagah berani! Di zaman kekuasaan Orde Baru, usul semacam itu bisa membuat orang diculik, dikarungkan atau ditenggelamkan ke laut.

Apakah Soeharto anti komunis? Saya kagak tahu. Menilik kecerdasan sekolahnya hingga mampu menjadi serdadu KNIL, tulis wartawan kawakan Belanda William Oltmans dalam sekitar 100 halaman surat pribadinya kepada Soeharto, amat repot bagi Soeharto untuk menjadi manusia anti komunis. Orang yang anti adalah orang yang mengerti apa yang di-anti-nya. Bagaimana bisa anti komunis, kalau tidak mengerti komunis? Menurut Oltmans, Soeharto bukan anti, tapi cuma curiga, dengki, dan sewenang-wenang kepada komunis. Oltmans tidak ngawur! Hal itu telah tertulis dalam puluhan kitab dan ribuan halaman kertas ceramah yang bisa ditemukan di semua perpustakaan universitas terkemuka di dunia. Muara seluruh isi dokumen adalah, banyak orang komunis mengetahui borok, dosa, cacat, manipulasi dan terutama kelicikan Soeharto. Jika mereka dibiarkan hidup bebas, dikuatirkan akan berpidato membongkar segala cacat dan dosanya.

Lepas dari girap-girap Soeharto terhadap komunis yang sepenuhnya urusan pribadinya, secara objektif faktual dan ilmiah, atau cukup dengan akal sehat, TAP MPRS XXV/1966 itu dengan amat mencolok melanggar lima produk peradaban. Pertama, melanggar UUD 45. Kedua, melanggar Pancasila dan 10 Perintah Allah. Ketiga, melanggar Bhineka Tunggal Ika. Keempat, melanggar HAM Kelima, melanggar semua ajaran agama sejati yang betul-betul suci mulia yang membawa kedamaian.

Dari lima pelanggaran itu, penulis ogah mengupas pelanggaran pertama sampai dengan keempat. Percuma! Di samping akan selalu bisa dilawan dengan ilmu “pokoknya” dan ngelmu ngibul, ia perlu ruang luas, semisal sekian seminar dan konperensi. Maka, penulis terbatas memilih pelanggaran yang kelima saja. Di samping soalnya gampang dan jelas, juga mengingat Indonesia suka pamer ke mana-mana sebagai negara yang memuliakan agama.

Agama Sejati

Mengapa Tap MPRS XXV/1966 melanggar ajaran agama? Jawabnya bisa sepanjang jalan kenangan. Tapi yang terpenting, menyangkut sepuluh fondasi berikut:

Pertama, sebab TAP tersebut tidak masuk akal sehat, yang menjadi dasar terpenting semua agama. Agama yang tidak mampu menghadapi akal sehat, bukan  agama, mungkin kerak fosil purba. Agama macam itu tak bisa dipercaya, berbahaya, merusak akal sehat, dan terpenting: tidak manusiawi! Sebab agama sejati yang suci dan mulia itu, harus manusiawi.

Kedua, agama adalah sarana dan pedoman bagi manusia untuk menuju kepada Tuhan. Mengapa manusia harus repot-repot menuju kepada Tuhan segala? Juga, siapa Tuhan itu, kok orang harus menuju? Tentu saja tidak ada yang tahu. Kebanyakan ya ikut-ikutan saja. Karena kultur. Tradisi. Patuh pada nenek moyang. Cuma kebetulan. Dan lain-lain.

Ketiga, seluruh wacana tentang Tuhan itu, meski sudah ditelusuri di sekolah-sekolah dan padepokan teologi dari agama apa saja, juga di kantor-kantor agama apa saja, di lembaga dan atau tokoh-tokohnya, pokoknya di segala apanya saja, dan itu sudah berlangsung selama berabad-abad, Tuhan masih saja berupa hipotesis, atau paling pol tesis, dan karena itu tidak tabu untuk terus ditelusuri, diuji dan dikaji. Anehnya, meski Tuhan itu sudah berabad-abad diuji, Dia terus menerus lulus. Nyatanya, sampai detik ini, masih saja dikaji dan diuji. Dan Tuhan sendiri masih eksis dengan segala problematika dan wacanaNya.

Keempat, sekalipun secara ekstrim Tuhan dianggap sebagai Sang Entah misalnya, Dia tetap diakui sebagai sumber segala yang baik, benar, mulia, suci, indah, damai, tenteram, selamat, sumber segala hal yang positif, dan terpenting sumber cinta segala cinta. Karena itu, Apa pun, Siapa pun, Di Mana pun, Kapan pun, Bagaimana pun dan Mengapa pun Tuhan itu, tidak pernah menimbulkan masalah. Dia dianggap Sang Ada atau Sang Tidak Ada, sama saja. Dia tidak peduli. Tuhan tidak menjadi lebih besar atau lebih kecil, karena diadakan atau ditiadakan. Dilecehkan pun, Dia tetap Hidup. Dia tak perlu dibela. Dia sudah Mahakuat.

Kelima, bagi, di hadapan, dan di Mata Tuhan, semua orang, asal menuju ke arah kebenaran, kebaikan dan cinta, sudah pas dan tepat sebagai manusia. Artinya, ia sudah menuju kepada Tuhan, sekalipun mungkin tidak mengakui adanya Tuhan. Terhadap orang macam itu, Tuhan tidak akan usil. Bagi Tuhan, menjadi manusia yang berusaha memanusia secara baik dan benar, artinya manusiawi, jauh lebih penting katimbang harus menggunakan sarana pedoman agama, yang ini atau yang itu. Bahkan sekalipun yang bersangkutan tidak memilih salah satu agama apa pun. Itulah sebabnya, Tuhan disebut Mahapembebas. Dia Pembebas yang membebaskan. Tuhan tidak pernah membelenggu!

Keenam, oleh banyak agama, Tuhan disebut Mahabesar dan Mahapengampun. Kebesaran Tuhan itu, salah satu tandanya di bumi adalah fakta dengan tersedianya sarana dan pedoman, berupa keberlimpahan agama di dunia. Bukan cuma satu atau dua atau cuma sepuluh, bahkan terdapat beratus-ratus atau malahan ribuan agama di dunia. Semua menuju ke Tuhan. Menuju ke Cinta, dasar segala kebaikan dan kebenaran. Di luar kubu agama, Tuhan makin menunjukkan KebesaranNya, dengan fakta ketersediaan 1001 kubu faham hidup.

Ketujuh, dari keserbanekaan agama dan faham hidup itu, mungkinkah, ada agama yang bisa mengklaim diri sebagai satu-satunya sarana, satu-satunya jalan, satu-satunya pedoman, bagi manusia, untuk menuju kepada Tuhan? Juga masuk akalkah, jika ada pemeluk agama yang mengklaim diri paling benar, sehingga memaksakan kebenarannya sendiri bagi pemeluk agama yang lain? Betulkah agamanya memang mengajarkan hal begitu? Bagaimana kalau sang pemeluk itu keliru? Bukankah agama dan sang pemeluk itu dua hal yang berbeda?

Kedelapan, selama bumi masih di dalam jagat dan jagat masih di dalam bumi, agama apa pun masih di jagat dan semua masih mencari-cari. Selama bumi disebut dunia dan dunia masih disebut bumi, maka nama segala nama di dalam agama, seribu istilah dan terminologi, segala nabi dan orang-orang suci, masih terus dicari-cari dan ditelusuri

Kesembilan, agamaku agamaku, agamamu agamamu. Kitab suciku kitab suciku, kitab sucimu kitab sucimu. Nabiku memang nabiku, nabimu memang nabimu. Faham hidupku, faham hidupmu. Tapi itu semua bukan berarti harus saling mengganggu. Sebab semua orang harus selalu bertemu. Jadi marilah, ayo, rukun damai bersama-sama. Sebab semua orang hidup di dunia yang sama. Dengan hak dan kewajiban yang sama. Itu fakta!

Kesepuluh, perbedaan agama dan perbedaan faham hidup bukan cacat. Itulah kenyataan hidup yang sehat. Perbedaan dan pluriformitas itu rahmat, bukan untuk digusari, justru harus disyukuri. Sebab itu semua justru menandai Kemahaluasan Tuhan, Sang Mahapenampung segala sesuatu. Sebab Tuhan merangkul segala sesuatu.

Terlantar Oleh Dusta!

Dari sepuluh fondasi korelasi agama, Tuhan, dengan TAP MPRS XXV/1966 di atas harus menjadi jelas, Tuhan tidak melarang beraneka ragam paham hidup, termasuk komunis. Di samping membebaskan ribuan agama, Tuhan juga tak akan pernah menindas segala paham hidup. Sebab paham hidup itu ada di benak dan di batin pihak terkait. Paham hidup tidak bisa dilarang. Percuma! Bagaimana bisa melarang jalan pikiran orang? Yang bisa dilarang dan atau dihukum adalah tindakan-tindakan yang biadab, apa pun yang melatar-belakangi tindakan tersebut. Tapi paham hidupnya sendiri, tidak bisa diapa-apakan.

Tidak mengherankan jika Gus Dur mengusulkan pencabutan TAP yang tidak masuk akal itu. Sayang. Usul Gus Dur yang amat signifikan sebagai karya kebudayaan (politik) yang bisa menjadi fondasi reformasi dan demokratisasi, masih diharu-biru. Terlantar. Oleh siapa? Cuma oleh dusta dan dusta! Salah satu alasan pembatal sejuta doa dan semiliar doa. Selamat berdoa!

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: