Home > L Murbandono Hs > HAKIKAT CINTA (1)

HAKIKAT CINTA (1)

Oleh: L Murbandono Hs

PROLOG

Catatan kecil ini tidak punya pretensi ilmiah, dan memang babar blas tidak ilmiah, jika hal ilmiah dimaksudkan harus ada referensi, harus ada nama profesor, harus ada judul buku dan kapan terbitnya, harus ada nomor halaman, harus ada catatan kaki, dan hal-hal hebat lain yang semacam itu.

Jika model ilmiah kayak begituan dilakukan, dengan berpuluh-puluh rak buku yang ada di rumah saya, ditambah ratusan rak buku yang ada di perpustakaan kota, hanya dengan menyingkati bab-babnya, dan atau mencupliki catatan kakinya saja, atau dengan cara mengumpulkan indeks yang ada kata “cinta”, tiap hari kita semua bisa memproduksi berpuluh-puluh halaman ihwal perkara cinta.

Jadi, model begituan sudah saya anggap kuno, sekuno orang yang menganggap gagah-gagahan naik mobil pribadi, sebab naik sepeda atau naik becak atau jalan kaki lebih modern. Tapi saya tidak melarang siapa saja yang masih melakukan hal semacam itu. Saya sendiri sudah pensiun dari hal-hal semacam itu.

Jadi, catatan kecil ini sepenuhnya tergantung pada gerak jari jemari saya di tuts-tuts mesin tulis yang patuh kepada jalan pikiran yang mungkin ada di kepala saya. Cuma itu! Ibarat pesilat, saya bersilat dengan tangan kosong. Tanpa pedang dan tanpa mantra. Saat mencatat, babar blas nggak ada satu buku pun di meja kerja saya. Singkatnya, hakikat cinta ini memang ditulis sak sukak sukak saya sendiri. Sebab, hakikat cinta adalah sak sukak sukak diri sendiri. Harap maklum.

SATU

Sejauh cinta ditelusuri dalam bingkai kepentingan publik luas, barangkali bukan saja di Indonesia melainkan di seluruh jagat, sulit ditemukan cinta yang sejati. Meski para koruptor dan pelanggar HAM tingkat kakap masih menyimpan cinta bagi anak istri suami kerabat sahabat dan klik sendiri, tetapi sebab ujungnya merugikan kepentingan umum, maka cinta mereka agaknya bukan cinta melainkan “cinta”. Masalahnya, cinta tidak pernah berdusta.

Dan, adakah koruptor dan pelanggar HAM tingkat kakap yang tidak melakukan dusta? Tapi dalam dusta, tetap saja bergulung-gulung gelombang “cinta” mereka terhadap siapa saja, yang membuat enak kepenak hidup mereka. Dus, “cinta” akan selalu membuat enak kepenak bagi pihak terkait. Tetapi cinta, belum tentu. Karena itu mereka lebih memilih “cinta” katimbang cinta.

Yang mau dikatakan dalam dua alinea di atas adalah, baru dalam satu diskursus ketika perkara cinta dikaitkan dengan koruptor dan pelanggar HAM kakap, segera tampak, betapa rumit berbelit cinta itu. Tetapi rumit dan berbelitnya cinta itu niscaya. Di dalam sebuah nilai yang bersifat agung, mulia, dalam, padat, halus, lentur, fundamental dan sekaligus luas, akan selalu tertumbuk pada kerumitan semacam itu. Nilai-nilai semacam itu amat banyak. Di samping cinta, termasuk dalam terminologi yang mempunyai nilai sekaliber itu misalnya adalah kebenaran, kebaikan, keadilan, perikemanusiaan, kesejahteraan, perdamaian, solidaritas, keihklasan, kejujuran, dan terminolgi sejenisnya.

Artinya, semua terminologi tersebut bisa terlukiskan dan dirumuskan menjadi apa saja, tergantung individu-individu yang mengatakannya. Dan, individu adalah kata kunci untuk bisa menelusuri hakikat, makna dan maksud cinta.

Sebab menyangkut individu, maka cinta bisa menjadi seluas mega, sehalus angin, sekuat tembaga, sekencang cahaya, selentur kelenturan yang paling lentur. Apabila Anda menjalani ziarah dan menekuni penelusuran perihal perkara cinta, tak bisa lain kecuali menelusurinya sebagai fenomen peradaban yang paling individual, yang barangkali bisa ditemukan pada individu-individu besar dan atau dianggap besar di dalam sepanjang sejarah. Pada umumnya – jadi tidak semua – individu-individu yang disebut sebagai nabi, rasul, sufi, dan kaum bijak, adalah orang-orang yang memancarkan cinta. Bahkan ada juga lho, individu-individu tertentu yang seolah-olah identik dengan cinta sendiri!

Sebab cinta menyangkut individu, dan tiap individu mau tak mau akan selalu berurusan dengan cinta, tidak mengherankan jika cinta, di zaman apa saja, selalu laku dan laris sebagai sebuah tema. Mengapa? Sebab, tak bisa digugat, cinta merupakan perasaan terpenting dan terindah dalam hidup manusia, tapi sekaligus, ia juga fenomena psikis yang mempengaruhi jalan pikiran sehingga orang terkecoh mempercayai aneka mitos yang tidak benar. Tentang keterkecohan dan mitos akan dikupas di bagian lain catatan kecil ini.

Sekarang soal cinta dan ilmu pengetahuan dulu. Pertanyaan berabad-abad yang sampai sekarang masih tetap menggantung sebagai pertanyaan dan tak pernah terjawab adalah: bisakah cinta menjadi ilmu pengetahuan? Di universitas mana diajarkan ilmu cinta ini? Apa nama ilmunya? Di lingkungan fakultas apa ilmu ini diajarkan?

Sampai sekarang, tidak pernah jelas jawabnya, kecuali bahwa cinta adalah fenomena atau gejala psikis. Cinta adalah gejala kejiwaan. Ia tak bisa ditelusuri atau diteliti, sekurang-kurangnya sampai saat ini, dengan metode penelitian ilmu-ilmu murni atau eksakta, yang bisa diandalkan obyektivitasnya.

Itu bukan berarti bahwa mengenai cinta, tidak pernah bisa dikatakan sesuatu yang berlaku umum dan absah, tetap bisa, sekalipun cinta lebih mengacu pada pengalaman individual, pengalaman pribadi, pengalaman perseorangan, yang bagi tiap individu selalu unik dan hanya satu-satunya.

Pengalaman ini tak bisa diukur di laboratorium. Sampai sekarang belum ditemukan alatnya, dan entah apa memang akan ada alatnya. Mengenai cinta, orang hanya bisa mendiskripsikan, merumuskan, membicarakan, yang tentu saja, karena ini bersifat pengalaman individual, tak bisa dihindari akan bersifat subyektif. Menelusuri cinta tak bisa lepas dari subyektivitas perseorangan.

Soalnya, bagaimana ihwal subyektivitas itu, lalu bisa menjadi sesuatu yang berlaku umum dan sah? Dalam rangka logika, hal ini akan bisa menjadi buku atau ensiklopedi tersendiri. Tapi dalam rangka penelusuran kita, cukuplah kalau dikatakan, pengalaman individual yang bersifat subyektif itu, jika ia merupakan akumulasi atau penjumlahan banyak individu, tetap akan bisa dilihat benang merahnya. Dan benang merah itu adalah, subyektivitas pada gilirannya akan melahirkan atau membentuk realitas.

Subyektivitas pengalaman pribadi bukan sesuatu yang bernilai-kurang. Ia dasar pembentuk realitas. Berhadapan dengan cinta, orang harus berani mengambil jarak dengan pendekatan-pendekatan ekstrim yang hanya bertumpu rasionalitas dan intelektualitas. Pengalaman unik tiap individu harus menjadi kata kunci. Hanya dengan ini orang akan memperoleh pemahaman yang mendekati benar tentang cinta.

Sebab kunci memahami cinta adalah pengalaman pribadi, maka ukuran atau normanya adalah pribadi yang bersangkutan. Norma cinta adalah anda sendiri, diri kita sendiri yang mencinta. Kitab suci, peraturan dan segala wasiat para bijak atau nabi hanyalah alat bantu. Sebab pada akhirnya terpulang pada diri kita sendiri. Norma utamanya adalah anda sendiri, kita sendiri. Norma-norma di luar diri kita, adalah tetek-bengek, yang jika mengganggu, tak usah digubris!

Cinta, pada hakekatnya yang terdalam, adalah pembebasan dan pemerdekaan diri. Dan pembebasan selalu membahagiakan. Ini hanya bisa dirasakan oleh orang yang bersangkutan, anda sendiri, kita sendiri. Rahasia cinta letaknya bukan di buku-buku atau nasehat dukun atau psikiater, melainkan dalam batin kita sendiri. Cinta adalah perkara membangunkan isi batin kita sendiri.

Jika isi batin terbangun, maka terbuka perasaan. Jika perasaan terbuka, akal tak menjadi kaku melulu rasional-intelektualistik, melainkan jadi akal yang diterangi budi. Nah, inilah yang disebut akal budi. Jadi, cinta adalah perkara akal budi. Hanya akal-budi yang mampu menerangkan penghayatan. Cinta adalah soal penghayatan atau pengalaman individu dalam suatu suasana tertentu.

Karena itu, cinta adalah suasana. Sebuah situasi yang dialami pribadi-pribadi tertentu. Yakni suasana manakala hati, akal-budi dan batin bangkit dan merasa bebas dan bahagia. Kebebasan dan kebahagiaan adalah kata-kata kunci untuk memahami cinta. Bebas dan bahagia tidak ada, adalah tanda tak adanya cinta.

Namun untuk memetik kebebasan dan kebahagiaan itu acapkali sukar, pelik dan penuh ranjau. Ini menuntut keberanian dan tekat. Yakni tekat untuk menyadarkan perasaan sendiri, bahwa mengenai cinta, tak ada norma di luar diri yang bisa mengukur atau menghakimi isi hati dan akal-budi perseorangan. Normanya ada di dalam individu yang bersangkutan, anda sendiri, kita sendiri.

Satu hal menyedihkan tentang cinta adalah, sampai saat ini, banyak manusia tak pernah bisa total, tuntas dan purna dalam memperkembangkan cinta mereka. Cinta mereka terhalang banyak kendala. Memang, kendala-kendala itu, ada yang benar dan baik. Tapi yang terbanyak dalam kehidupan sehari-hari, kendala-kendala itu bikinan dan semu, alias kendala-kendala mubazir, atau bukan berhala yang dibesar-besarkan seolah berhala, hanya akal-akalan dan demi kepentingan pihak-pihak tertentu, yang tidak ada sangkut pautnya dengan kepentingan sang pencinta sendiri.

Dengan ini mau dikatakan, segala hal di luar sang pencinta, entah itu norma atau hukum atau tradisi atau apa saja, bukanlah di tempat pertama, sejauh itu tidak membawa kebahagiaan, kepuasan, kesehatan dan kebijaksanaan. Cinta adalah jalan menuju ke kebahagiaan, kepuasan, kesehatan dan kebijaksanaan. Anda dalam naungan cinta jika anda bahagia, puas, sehat dan bijak. Dan puncak cinta adalah ketika sang pencinta mengenal dan menemukan dirinya sendiri.

Buku-buku tentang cinta yang eksplisit menerangkan cinta individual, sejauh kami tahu, jumlahnya sedikit. Kalaupun ada, yang akan anda temukan adalah jenis-jenis cinta ideal seperti cinta kepada Tuhan, kepada alam, kepada sesama, kepada dunia, yang sekalipun indah, dan malahan kebablasan indahnya, sehingga tidak realistik, yang tak mampu menjawab ziarah cinta pribadi yang sedang anda ziarahi, cinta anda yang personal.

Di belahan dunia barat atau negara-negara industri, buku-buku tentang seksualitas bisa banyak anda jumpai, tapi buku-buku tentang cinta – minimal cinta dalam arti yang saya dambakan – amat terbatas. Seksualitas, sebagai salah satu aspek cinta manusiawi, memang selama beberapa dasawarsa belakangan cukup banyak diteliti secara ilmiah oleh kalangan medis dan psikologi. Tapi penelitian ilmiah tentang cinta, nyaris tak pernah dilakukan secara serius.

Cinta, memang soal kejiwaan, kejiwaan individu, kejiwaan personal. Tetapi ilmu jiwa sendiri, psikologi, tidak secara langsung dan lugas serta eksplisit mengangkat cinta sebagai disiplin ilmu yang tegas. Yang kita temukan dalam psikologi adalah tes-psikologi, psikologi klinis, psikologi perkembangan, ilmu tingkah laku dan ilmu karakter, psikologi periklanan, psikologi perusahaan, statistik orgamus, dan sejenisnya. Tapi, di mana itu psikologi cinta?

Jadi, cinta dalam psikologi sukar ditentukan letaknya. Sebab cinta tak dapat diteliti hanya ilmiah empiris-eksperimental. Secara kuantitatif ia tak bisa diukur dan tak bisa dihitung dengan utak-atik komputer. Jadi di mana letak cinta? Dalam psikologi-filosofis barangkali? Yang ini, justru kurang menjadi perhatian para psikolog. Atau dalam agama? Agama memang sibuk dengan soal jiwa, roh dan cinta, tetapi seberapa jauh kadar ilmiahnya?

Sampai di sini, kita serasa buntu. Di mana cinta bisa kita telusuri? Yang jelas, cinta selalu mengacu pada rasa dan batin. Cinta adalah soal tentang bagaimana mengurangi rasa cemas, tentang bagaimana mempertebal percaya diri, tentang bagaimana memperoleh kedamaian batin dan tentang bagaimana memupuk semangat hidup.

Kita terpuruk dalam soal dan permasalahan cinta, ketika kita bertanya: bagaimana saya harus hidup? Bagaimana bisa hidup lebih bahagia? Mengapa saya depresif? Mengapa saya seperti dimusuhi di mana-mana? Bagaimana saya mesti membebaskan ketegangan semacam ini? Bagaimana saya bisa jadi sedikit lebih bebas? Dan, masih sederet pertanyaan lain. Itu semua soal cinta.

(BERSAMBUNG)

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Tinggal di Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: