Home > L Murbandono Hs > Hati Nurani Kecoak

Hati Nurani Kecoak

Oleh L Murbandono Hs

Manakala negara sedang megap-megap nyaris tenggelam secara nista di dalam lautan utang dan nyaris terkubur secara hina dalam rimba belantara rente dan bunga plus komisi, kok ya tega dan bisa-bisanya terjadi seorang “wapres” naik haji dengan membawa rombongan seratus orang, atau cuma 50 orang kek, atau 60 orang kek, atau 107 orang, sebodo amat! Heran? Tidak usah!

Itu ihwal perkara yang normal belaka di sebuah negara yang sedang sial lantaran sedang dikuasai manusia-manusia berhati nurani kecoak (Informasi lebih jauh dan atau sekolah untuk menjadi manusia berhati nurani kecoak bisa ditanyakan kepada semua koruptor dan pelanggar berat HAM di Indonesia.)

Masalahnya, seratus atau 50, atau 60, atau 107 orang itu menurut ilmu berhitung bukan satu atau dua, tetapi ya sebegitu itu. Dan sebegitu itu kali sekian juta rupiah adalah sebegitu itu kali sekian juta rupiah. Tidak ada seorang wapres pun di Indonesia “mampu dengan penuh sukacita” menutup biaya itu dengan keuangan pribadi, sebab penghasilan wapres jelas hitungannya. Jadi kesimpulannya, biaya tersebut diurus oleh tiga cara. Pertama, bayar sendiri-sendiri, ini tidak masuk akal, sebab dalam konteks ramai-ramai dengan sang “wapres”, adalah sangat menyimpang dari ajaran hati nurani kecoak. Kedua, dari kantung sang “wapres” sendiri yang tentu saja harus dari uang korupsi sebab jika tidak lalu dari mana lagi. Ketiga, menggerogoti uang negara, entah dari bujet lembaga wapres, departemen agama, atau lembaga negara mana pun.

Cuma itu! Alasan dan kilah yang lain-lain, sudah tidak perlu! Semua orang yang masih mempunyai hati nurani tidak akan percaya terhadap sejuta kilah yang isinya tidak sesuai, dan apa lagi bertentangan dengan kesimpulan di atas. Apalagi “wapres”! “Camat” atau “ketua” berbagai ludrukan politik saja bisa korupsi. Di Indonesia, hampir semuaaa pejabat harus korupsi! Itu keniscayaan peradaban hati nurani kecoak di lingkungan elite koruptor dan elite pelanggar berat HAM. Tak ada seorang pun di dunia ini yang percaya, “wapres” tidak korupsi. Dia HARUS korupsi, dipaksa keniscayaan hati nurani kecoak yang menjadi santapan sehari-hari kaum koruptor dan sejenis itu!

Dalam bahasa rakyat, manusia berhati nurani kecoak itu disebut maling dan para penipu. Siapa? Banyak! Dalam konteks ini, di mana perasaan sang “wapres”? Tidak bisakah merasakan, sebagai wapres yang adalah pejabat publik, mestinya peka terhadap semua warga tanpa pandang bulu SARA-nya? Kejadian itu, di samping mengesankan “obral murah” hal-hal yang suci di dalam Islam, juga sungguh-sungguh melukai publik umum non-Islam yang kebetulan “takdir” hidupnya tidak bersangkut paut dengan selebrasi naik haji? Bahkan siapa tahu, tidak sedikit warga Islam moderat yang betul-betul mendambakan berkembangnya pluriformitas di Indonesia, menjadi amat risih atas peristiwa tersebut.

Hanya satu hal yang pasti dalam peristiwa tersebut, yaitu, telah terjadi penyalahgunaan wewenang kekuasaan di negeri ini! Karena itu, hentikan segala imbauan meratap-ratap menangisi tenggang rasa yang cuma retorika berbau ketiak babi yang tidak masuk akal itu. Sudah saatnya semua orang yang masih mempunyai hati nurani berbicara lugas dan jelas untuk hal-hal beginian!

Saya yakin tidak seorang pun warganegara Republik Indonesia ini yang rela jika uang negara dihambur-hamburkan untuk memanjakan hanya agama tertentu, agama apa pun, apalagi jika itu cuma dihambur-hamburkan untuk memanjakan kepentingan keluarga besar, klik, dan komplotnya sendiri.

Jika seorang “wapres” tidak mengenal tenggang rasa di dalam praktek, bagaimana bisa diharapkan rakyat jelata yang melata terseok-seok di gubuk-gubuk pinggir selokan, gelandangan di tiap lampu lalu lintas, para penganggur yang jatah kesempatan perkembangan hidupnya sudah dibikin ludes oleh mekanisme KKN, dan lain-lain rakyat yang sejenis itu, bisa mengenal tenggang rasa?

Kasus di atas makin menegaskan, bahwa lembaga wapres dan departemen agama itu memang betul-betul tidak berguna bagi negara. Mereka harus dibubarkan, syukur sekarang juga, atau dalam tempo yang sesingkat-singkatnya! Sebab keberadaannya hanya merecoki jalan menuju ke sebuah negara sipil sejati yang demokratis, berdasarkan Pancasila dan menjunjung tinggi Bhinneka Tunggal Ika.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: