Home > L Murbandono Hs > Hati Nurani Tentara

Hati Nurani Tentara

Oleh: L Murbandono Hs

TRAGEDI di Aceh (ada tentara tewas oleh “oknum” masyarakat dan ada warga Aceh tewas oleh “oknum” tentara) adalah bagian tragedi nasional yang lebih luas: ada sederet panjang peristiwa seram-seram di berbagai tempat dan waktu yang melibatkan sejumlah oknum tentara, membuat Rakyat, yang adalah ibu kandungnya, bertanya-tanya.

Maka di sebuah musim krisis ibu kandung itu dengan berpedoman akal sehat dan berkompas niat baik mengarungi semua sudut Nusantara tempat ia berbincang dengan anak-anak kandungnya, sejak surya terbit sampai tenggelam. Akhirnya ia tidak tahan, menangis, menutup perbincangan. “Sebenarnya, apa maumu, anak-anakku?”

Seiring pertanyaan itu, sebagai ibu sejati yang percaya ibu dan anak tak bisa dipisahkan, ia bicara panjang lebar toh bernas dengan suara merdeka. Semua  kekecewaan dan bahkan kegusarannya, ia tumpahkan. Sebab ibu normal tidak takut terhadap anak-anak kandungnya sendiri. Ia serbu mereka dengan 1001 pertanyaan pokok, melakukan kewajiban seorang ibu yang sejati. Ia tagih janji-janji mereka yang tetap ia percayai. Ia bertanya, antara lain, dunia bersama macam apa yang akan mereka bentangkan di negeri tercinta. Salah satu yang terpenting adalah keprihatinannya mengapa anak-anak kandungnya itu agaknya tidak mau tahu bahwa segala hal seram-seram yang kini meneror bangsa adalah akibat logis substansi mereka sebagai mesin keseragaman di setiap tempo dan detik.

Anak-anak itu tersentak dan lalu menjawab serentak. Begini:

Meski kami terpukul tak suka pernyataan itu tapi jika kenyataannya begitu maka kami harus mengaku dengan tulus, sebab kami tetap anakmu. Apalagi, tegur kegusaran ibu tanpa kebencian, selain keprihatinan, yang terasa memberi pelita menuju suara pembaruan.

 Kami, sebagian anak-anakmu, adalah tentara. Dunia kami berbeda dari dunia saudari-saudara kami yang lain. Dunia kami meniscayakan aba-aba, kedisiplinan, kepatuhan. Itu harga mati, ibu! Sebab kami harus mengoperasikan segala akses dan mesin perusak semisal 1001 senjata yang amat berbahaya tanpa penyeragaman dalam harga mati tersebut.

Maka ibarat pohon, jika harga mati itu diolah secara murni, akan memberikan buah-buah yang menghidupkan. Jadi, segala yang menghidupkan adalah tujuan dan target harga mati itu. Jika ia ternyata tak membuahkan hal-hal yang menghidupkan tetapi justru menyebarkan kengerian, sungguh, itu bukan maksud kami! Perlukah kami bersumpah untuk kali yang kesekian bahwa apa yang ibu dambakan, sebuah dunia tempat kita saling berkisah menanggalkan sumber-sumber kebencian, menjadi dambaan kami juga?

Ibu kandung itu diam. Termenung. Tidak mengiyakan. Tidak membantah. Angin tropis menyapu gunung-gunung. Anak-anak kandung itu melanjutkan:

Maka, jika ibu bertanya dunia seperti apa yang akan kami bentangkan, jawabnya masih sama, yaitu mewujud-nyatakan sumpah kami yang dulu-dulu juga. Meski situasi menggiring “salah urus-langkah-tingkah” sebagian dari kami telah mencoreng sejarah kami, tetapi sumpah sebagai pembela kejujuran, kebenaran, keadilan, pencinta perdamaian dan akan berbakti kepada negara dan bangsa, tidak bisa kami ubah. Sebab itulah hakikat/makna eksistensi kami. Apakah ada sesuatu yang lain? Jika jawaban itu harus dirumuskan, kata-kata lain semacam apa yang bisa lebih menyejukkan semua anak bangsa?

Bahwa jawaban semacam itu akan dianggap retorika belaka ketika negara kita sakit macam sekarang dan ketika begitu banyak hati manusia terluka, kami pahami  sejujur hati. O, betapa mulia sebuah sumpah! O, betapa sulit memulihkan kemuliaannya ketika ia terbiasa disalahgunakan sehingga jadi sampah!

Yang ingin kami katakan adalah, umpama batu, kami adalah batu-batu kali yang diam di tempatnya hingga ekologi terjaga. Jika terpaksa, bolehlah jadi fondasi jalan tol atau bangunan, tetapi bukan batu yang dilemparkan untuk merusak apalagi mematikan. Umpama pisau, kami adalah pisau produk teknologi fungsional sehingga memudahkan manusia memanusiawikan kehidupan, dan bukannya pisau pembuat luka.

Jika sebagian kami ada yang jadi batu-perajam-akal dan atau pisau-peluka-jiwa, bagi kami yang asali, itu salah tempat, tak penting salah prosedur atau salah struktural sebab diskursus tentangnya telah jadi rutinitas macet yang amat melelahkan semua anak bangsa. Apapun terjadi, jika kami memang batu dan atau pisau, kami tetap batu dan atau pisau, dan tidak bisa dipaksa untuk menjadi sesuatu yang lain.

Artinya, ujungnya, kami memang dan hanya perkakas dan alat. Alat apa saja. Alat filsafat, alat politik, alat budaya, alat kepentingan, dan bahkan alat kejahatan. Ia netral, bisa baik atau buruk, terpulang siapa di balik alat tersebut. Jadi ibu, bimbinglah kami sesuai kenyataan obyektif kami itu. Kenyataan sebagai perkakas!

Jadi manakala kami bersumpah, mohon tafsirkan itu sebagai sumpah sebuah mesin. Tapi sebagai mesin yang berniat fungsional, percayakah ibu, bahwa hati kami tergetar dahsyat ketika ibu menyatakan masih percaya pada janji kami dan ketika ibu dengan putus asa menyatakan masih menyimpan harapan romantis tentang kami, seolah-olah harapan itu bakal menjadi kemustahilan dalam dunia-bersama kita?

Tiba-tiba, anak-anak kandung itu menangis. Artinya, dari mesin mereka kembali  jadi manusia biasa. Sebab kabarnya, tentara tidak faham akan tangis. Tampak mereka harus melewati pergulatan batin yang dahsyat, sampai akhirnya melanjutkan kata-katanya:

Maafkan kami, ibu. Setelah menimbang dari segala penjuru, akhirnya cuma itu yang bisa kami katakan. Sebagai tentara yang mempunyai dunia khusus dengan harga mati di atas, secara prosedural kami berada dalam posisi bisu karena tali-temali yang amat rumit. Yaitu formal, melibatkan semua terminologi militer. Dan material, melibatkan segala kiprah politis yang tengah berjalan ialah keterpurukan kami dalam benang kusut konflik kepentingan dan kekuasaan yang sebagaimana kata ibu, tanpa nurani.

Dalam keterpurukan itu kami harus bermain, untuk survive, dalam menyikapi game amat ruwet yang melibatkan 1001 diskursus raksasa seperti pembebasan versus penindasan, dwifungsi, distribusi rezeki bangsa, dan daftar panjang agenda/perkara kenegaraan.

Artinya, seluruh pertanyaan ibu (semisal “apa yang terjadi dengan kami” dstnya) yang kaya makna akan ihwal eksistensial dunia-bersama, tak satupun bisa kami jawab. Jawabnya tersimpan di lemari besi. Siapa pemegang kuncinya, sebagian dari kami tidak tahu juga. Mudah-mudahan saja, kuncinya tidak hilang dan atau menghilang.

Seberapa jauh hal ini bisa difahami semua anak bangsa hingga dunia-bersama punya pegangan mengalkulasi kemungkinan masadepan yang lebih baik, jawabnya, lagi-lagi berada di lemari besi yang tadi. Tetapi situasi obyektif semacam ini, bagi kami tentara yang asali, tidak membuat kecil hati. Itulah keniscayaan yang harus dihayati bagi mereka yang bertekat memilih dunia khusus yang saat ini kami jalani.

Sekalipun demikian, berbagai teguran ibu semisal menyesalkan penggunaan kekerasan, kelangkaan kemurahan hati, kekian-asingan kami dari keheningan hingga mustahil menangkap Suara Sejati, kepatuhan buta, kebenaran tanpa perangkap, penyempitan kami akan makna dunia-bersama hingga terbentang sebuah dunia yang boleh jadi aman tapi dingin menggetarkan, dan masih banyak teguran positif yang lain, semuanya itu kami simpan di relung hati terdalam sebagai modal kami menuju dunia-bersama masadepan yang lebih baik dan lebih bermutu.

Bahkan modal yang amat berharga! Teguran itu minimal mengingatkan hakikat kami yang asali, ialah himpunan anak bangsa yang dipercaya menjadi mesin dan alat-alat perusak/pemusnah. (“Habitat” ini membuat sebagian dari kami cenderung berprinsip to be or not to be manakala dihadapkan masalah, apalagi jika menyangkut kesetia-kawanan korps, dan bukannya prinsip saling-berbagi dalam pluralitas dunia-bersama.) Maka penggunaannya, harus amat hati-hati. Ia perlu diatur pengatur. Siapa? Sirkuit di luar kami? Sebab mesin tak bisa mengatur dirinya sendiri? Tentangnya, sebaiknya dibicarakan oleh semua anak bangsa, di sebuah meja perjamuan, hanya dengan kata-kata! Jika kita sudah tak percaya kepada daya-makna kata, ke mana dunia kemanusiaan akan kita bawa?

Apalagi, di jantung kehidupan tertulis, awal dari segala awal adalah kata …

Anak-anak kandung itu resah. Sebab telah mengatakan sesuatu di luar garis? Entahlah. Tapi berangsur-angsur mereka menjadi tenang. Mungkin itu disebabkan mereka telah mengungkapkan sesuatu yang sesuai isi hati. Maka sekarang kita tahu, anak-anak kandung itu tentara sejati. Entah di manapun mereka berada.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: