Home > L Murbandono Hs > INDONESIA, AKU, DERKUKU

INDONESIA, AKU, DERKUKU

Oleh L Murbandono Hs

Menjadi orang Indonesia itu harus normal, tegas, dan jelas. Jangan ikut-ikutan doang. Harus berani berbeda pendapat dan beda penampilan. Jangan seragam menjadi teroris semua. Atau seragam menjadi polisi semua. Ini tidak baik bagi anak cucu,” ujar Derkuku. Hal itu sudah jutaan kali ia katakan, bukan Cuma sejak matahari terbit, tapi sudah sejak bulan dilahirkan dan bintang-bintang dipanen oleh angin.

Terhadap – dan berkat! – Derkuku, aku sudah menetapkan garis. Yaitu garis radikal dalam hal demokrasi, garis anarkis dalam hal kekuasaan, garis komunis dalam hal bagi-bagi rezeki, dan garis gairah dalam hal tukar pendapat dan tukar persepsi. Ini logis belaka, sebab Derkuku adalah sahabatku. Jadi, justru gara-gara fanatik dalam hal kredo kepadanya, aku makin fanatik dalam hal membantah dan menerornya. Sejak bergudang-gudang istilah menjadi rancu, aku sudah konsekuen dan konsisten membuatnya jengkel. Derkuku tidak marah. Malah tiap kali kutendang pantatnya yang satu, ia segera memberikan pantatnya yang lain. “Biar elu puas!” ujarnya sambil terkekeh-kekeh.

Asal muasal relasiku dengan Derkuku menjadi semacam itu, tidak jelas. Dulu aku takut sekali terhadapnya. Dia bisa apa saja terhadapku, semisal memasukkan aku ke neraka, misalnya. Hal itu memang dan tetap selalu bisa, sampai kapan pun, jika dia mau. Tapi kamus dan target Derkuku tidak ke sana. Terbukti dari segala bilur luka-luka kasih di sekujur tubuhnya. Agendanya bagiku hanya satu, memberiku surga. Hanya surga!

Krusialnya, surga yang kali ini dia berikan kepadaku adalah Indonesia. Mirip usulnya mengenai orang Indonesia, tentang Indonesia ini dia bilang, “Indonesia bukan ratap tangis . Dia tegas dan gagah. Meski banyak pemimpin menjadi vampire dan banyak konglomerat menjadi drakula, diapakan pun juga Indonesia itu tetap tujuh belasan ribu pulau dengan gunung, hutan, sungai, dan lain-lain. Kedalaman dan keluasan lautannya, kalau mau, bisa dibendung untuk menenggalamkan Singapura, misalnya. Jadi, rawat dan bimbinglah Indonesia secara baik, benar dan tepat. Sebab Indonesia itu – sebagaimana semua negara di jagat – harus bisa menjadi surga di bumi.”

Pada suatu hari, ketika terjadi gempa bumi dan ada sekitar seratus teroris meledak di pabrik bomnya sendiri, Derkuku menjumpai Tuhan. Dia ketakutan minta dipangku. Tuhan diam saja. Entah, saat itu aku menangis, tertidur, atau tertawa. Tuyul yang tinggal di akar pohon beringin di dekat sawah mengajak aku bunuh diri. Kematian? Ah, betapa menggairahkan! Tetapi aku tidak mau. Bukannya gelisah lantaran urusan dosa atau semacam itu, cuma karena enggan dan malu.

Kejadian itu sudah lama tetapi masih tetap terkenang sebab dicatat oleh, misalnya 28 Oktober 1928, 17 Agustus 1945, 5 juli 1959, 30 September 1965, 21 Mei 1998 dan lain-lain datum yang penting. Sekian kejadian sudah lewat. Para teroris masih banyak. Tapi kabarnya juga sudah ada yang bertobat, bernafas, dan banyak dari mereka yang mulai berlatih memainkan gitar. Para pemimpin mereka sudah banyak yang berada di dalam surga. Kata Derkuku, secara evolutif, mereka yang masih berkiprah di bumi tidak dilarang menjadi malaekat.

Sekarang sesama Warganegara – dalam mimpiku – saling silaturahmi. Semua tampak sopan meski ada yang berjongkok, dan siap siaga, berjaga-jaga menanti hujan, banjir, petir, dan gempa bumi yang tak terduga. Cowok-cowok tampan dan cewek-cewek ayu dengan senyum malaekat menjamu mereka dengan makanan yang lezat-lezat. Derkuku mondar-mandir di antara mereka. Rambutku gatal menjadi  putih semua. Sebagian ada yang rontok. Kejadian itu dicatat oleh Kiai Abdul, tetangga Pak Kadar, tukang arloji. Terdengar lonceng gereja. Petir sahut menyahut. Vihara-vihara berdoa. AS jadi kacau gara-gara Irak. Uni Eropa melawan perang. Jalan-jalan bebas hambatan di Eropa macet sepanjang ratusan kilometer saat musim liburan tiba. Semua negara berlimpah dollar menghambur-hamburkan harta, BBM, enersi elektronik, sibernetik dan enersi manusiawi.  Kelenteng-kelenteng Nusantara mulai ramai dengan wayang potehi. Hutan-hutan di Kalimantan, Papua, Brazil dan mana saja, melengking-lengking minta perhatian. Tiba-tiba aku merasa menjadi makin Indonesia. Trenyuh dan sedih deh!

Tentu saja Derkuku tahu kesedihanku. Tahu sebab musababnya. Brengseknya, dia masih bertanya juga, “mengapa sedih?” Maka aku diam saja. Kesal. Sebelum kutendang, ia sudah lebih cepat menyodorkan kedua pantatnya, sambil terkekeh-kekeh. Maka kuurungkan niatku yang sudah tertebak itu. Aku lalu menjadi serius sekali, tertunduk, menatap rumput mati. Dia merangkulku. Mengajakku pergi, ke mana saja. Mengembara. Makin jauh kami pergi, kami semakin tidak minggat. Realitas ruang waktu keindonesiaan yang konkret justru makin terang dan berbinar-binar. Tak penting itu dekat dan pendek, atau jauh dan lama.

Pengembaraan terus melantur. Aku capek. Lalu di suatu tempat yang entah apa namanya, jangan-jangan surga, Derkuku menyuruh aku istirahat. Aku tertidur pulas bagai bayi sehabis ngempot-empot tetek simboknya. Maka bisa bermimpi dengan enak dan jelas. Mimpi tentang Indonesia dan keindonesiaan.

Dalam mimpi tampak terang benderang, jebulnya Indonesia bukan cuma deret panjang persoalan yang akan datang dan datang lagi. Soal pokoknya adalah  kebelumtuntasan yang larut di dalam lahar dan batu dan batu dan batu. Sebab, cahaya terang benderang memenuhi istana presiden dan semi istana kaum birokrat. Ada rapat. Membicarakan nasib rakyat yang tidak puas. Keputusan rapat, jumlah kambing hitam harus diperbanyak. Demi ketertiban kekuasaan. Ini, tentu saja harus dilawan!

Resep perlawanannya ternyata cuma menggarisbawahi sikap Derkuku mengenai keharusan beda pendapat dan beda penampilan di awal tulisan, yang terdiri atas empat butir mimpi yang berikut:

Pertama, beda pendapat dan beda penampilan adalah keniscayaan di bumi manusia, dan karena itu alamiah, suci dan mulia. Jadi, mari kita saling berbeda pendapat dengan enak! Jangan ragu-ragu berbeda pendapat dengan sesama manusia. Jangan otomatis setuju terhadap apa saja, dan apalagi bersetuju secara bulat utuh, itu adalah kemustahilan!

Kedua, represi dan teror mungkin bisa membungkam beda pendapat. Hanya secara lahir dan sementara, sebab secara batin perbedaan pendapat akan abadi. Jadi, buat apa kita lalu bersitegang batin mengalami 1001 perbedaan pendapat dari sekian kubu yang begitu simpangsiur pada zaman kucar-kacir ini?

Ketiga, betapa runyam Indonesia apabila kompromi, jalan tengah dan tetek-bengek sejenis lahir dari keterjepitan fana sehingga “hormatilah perbedaan pendapat” menjadi komunikasi semu, yang cuma bagian strategi menghalalkan segala cara demi tujuan tertentu, apapun, bahkan demi kepentingan lebih luas bangsa dan negara.

Keempat, karena itu, berilah lahan yang luas dan jalan yang lempang serta ruang kejujuran tanpa batas agar gerak dan ziarah perbedaan pendapat menemukan buminya yang sejati.

Memang empat butir mimpi di atas bukan hal baru. Maka, lebih penting katimbang  hal tersebut, adalah, apabila empat butir mimpi itu sungguh-sungguh bisa berjalan, maka dalam hal beda pendapat ini dengan tenang kita boleh berseru: “Aku tidak setuju kepada apa dan siapa saja, juga kepada diriku sendiri!”

Mungkinkah? Mungkin saja. Sebab hal tersebut, minimal, menyangkut dua fondasi perubahan yang tak bisa ditolak selama manusia hidup, sejauh menyangkut pemerdekaan individualitasnya.

Pertama, tak punya kewajiban berpikir sama bahwa besok persis seperti yang dipikirkan kemarin. Nyatanya, hari ini adalah ziarah yang bertitik tolak hari kemarin menuju hari besok. Kita selalu berada dalam transisi intelektual. Dan, itu menuntut ketidaksetujuan.

Kedua, selalu mempersoalkan asumsi, metode dan konklusi-konklusi sendiri. Ini berarti mengubah perspektif dan mencari deskripsi alternatif untuk data yang sama. Sebab, berapa cara tersedia untuk menganalisis satu kejadian? Apalagi, terdapat berapa cara lain, di luar caraku, untuk hal yang sama tersebut? Mungkin sepuluh, seratus, atau siapa tahu berjuta-juta …

Bangun tidur, kuceritakan mimpiku kepada Derkuku. Dia tersentak. Mungkin tidak setuju, mungkin menguji, “Lhoh! Lalu di mana konsistensi?”

Kujawab enteng, “itu soal laen. Enggak diurus sekarang. Aku capek”. Lalu aku buru-buru lari. Sebab Derkuku sudah ancang-ancang mau menendang pantatku …

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: