Home > L Murbandono Hs > INDONESIA DAN BENANG

INDONESIA DAN BENANG

Oleh: L Murbandono Hs

BENANG ruwet kusut yang menggunung! Itulah kesan pertama seorang seniman benang manakala menonton krisis multisektor dan multikompleks di Indonesia Raya. Dan benang di masa sekarang, kita tahu, tidak sesederhana dahulu. Dalam warna saja misalnya, amat warna-warni. Bukan cuma “klasik” dengan duabelas warna – sudah termasuk putih dan hitam – tetapi telah menjadi ratusan, dan bahkan ribuan warna. Belum dari sudut ukuran, teknik pintal, dan bahan-bahannya, “kompleksitas” benang bisa kian seru.

Maka untuk membayangkan “benang ruwet kusut yang menggunung”, tidaklah semudah merumuskannya. Singkat kata, betapa “elok” benang ruwet dan kusut yang menggunung tersebut. Lalu bagaimana bisa diurai? Darimana memulainya? Dan mungkinkah?

Bagi kita yang tidak pernah bersentuhan dengan benang, kekusutan benang yang sampai menggunung itu mungkin langsung bikin panik atau jengkel. Apalagi, jika kita sudah kaya! Akan dengan enteng membuang tumpukanbenang kusut itu ke tempat sampah, atau membakarnya, lalu beli yang baru. Habis perkara!

Bagi seniman benang, cara semacam itu dianggap “dosa”. Di samping menandai kemalasan daya juang dan keputus-asaan, itu juga menandai kemiskinan ikatan emosional dan ketidakpekaan akan sejarah. Betapa pun ruwet dan kusut benang tersebut, betapa pun menggunungnya, benang-benang itu adalah bagian kita sendiri. Suka atau tidak. Sekali pun mungkin kita tidak ikut-ikutan dalam proses lahirnya keruwetan dan kekusutan dalam benang tersebut. Jadi, mari kita urai benang tersebut dengan sistem yang benar dan baik.

Sistemnya mudah, kok. Sebab sudah terlalu ruwet kusut dan menggunung, maka ya cari ujungnya. Kalau ogah dan nggak ketemu-ketemu juga ujungnya, ya comot saja seadanya warna yang saat ini betul-betul kita butuhkan. Eii, mulai macet? Pelan-pelan buka bagian kusut yang longgar dan bisa diselamatkan sampai betul-betul selamat. Lalu mulai mencari warna yang lain. Demikian, terus menerus, tahap demi tahap. Tidak mungkin sekaligus dalam sekali gebrak. Lha, kalau ada yang sudah jadi simpul mati? Yah, apa boleh buat, gunting! Dan buang! Memang sayang. Tapi apakah ada jalan yang lain?

Jadi, dalam mengurai dan membereskan benang ruwet kusut yang sudah menggunung, terdapat dua prinsip yang tak bisa dihindarkan. Pertama, harus konsentrasi memilih perkara yang jelas mencolok dan selesaikan sampai setuntas mungkin. Kedua, selalu akan ada korban.

Soalnya sekarang, mana dari sekian banyaaak perkara di Indonesia, yangsudah jelas-jelas mencolok mata, sehingga mata tiap orang Indonesia menjadi silau karenanya? KKN? Pelanggaran HAM? Bukan! Perkara paling gawat Indonesia saat ini adalah gelagat Orde Baru dan militerisme mau ngotot bangkit dari KO-nya. Jika perkara terpenting ini terselesaikan, yang lain-lain, semisal KKN dan Pelanggaran HAM, itu soal kecil.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: