Home > L Murbandono Hs > Jakarta Dan Indonesia Masadepan

Jakarta Dan Indonesia Masadepan

Oleh: L Murbandono Hs

JAKARTA! Ada diwartakan, you kelak berupa kota museum sebab ibukota RI masa depan terletak di Tenangsari, Kalteng. Mimpi ini secara nekat ini sudah telanjur tersurat di dalam dongeng sesudah tidur untuk orang dewasa yang berjudul Indonesia Abad XXV (cerber penulis di Majalah Mingguan Hidup, Jakarta, Juni-Nopember 1989).

Menurut dongeng tersebut, luas Jakarta masadepan sama dengan Jakarta sekarang. Fasilitas umum yang tidak bergerak, misalnya panjang jalan raya dan gedung-gedung megah modern, kurang lebih juga sama. Yang berbeda cuma jumlah penduduk ialah kurang dari dua juta jiwa. (Jumlah penduduk Jakarta saat ini menurut feeling akal sehat sekitar 10 sampai 15 juta). Sepeda, dokar dan gerobak – dengan teknologi roda supermodern merajai jalanan sebab tanpa bahan bakar. Tidak ada kemacetan. Di angkasa bersliweran sepeda-sepeda terbang. Sebagai kota museum, Jakarta tenang, bebas polusi. Rata-rata warga Jakarta bergairah, ramah-tamah, selalu sibuk gotong royong dan saling menolong.

Jakarta menjadi kota museum, menaati peradaban zamannya. Kota museum, bukan berarti dimuseumkan atau merosot nilainya. Itu tuntutan sistem peradaban Indonesia kelak yang mengharuskan semua daerah, distrik, dusun, kota dan kampong berfungsi dan berperan, sehingga tak ada warga yang kapiran karena tinggal di tempatnya sendiri. Jadi, kemuseuman Jakarta itu selaras dengan blueprint Republik Indonesia masadepan yang sudah adil makmur ketika urbanisasi sudah sirna. Buat apa orang berurbanisasi jika bisa berkembang hidup enak di desa dan kampung sendiri? Dan itu terjadi di semua kota dan desa di Indonesia. Semua orang hidup enak.

Semua? Ya, rata-rata warga RI hidup enak. Juga para pembantu rumah tangga (PRT). Di Indonesia masadepan PRT dilindungi UU ke-PRT-an. Mereka punya jam kerja antara 36-40 jam sepekan. Kerja lembur diatur ketat yang membahagiakan semua pihak. Cuti PRT tiap tahun 30 hari kerja alias 42 hari konkret. Sakit, melahirkan anak, orangtua dan atau sanak famili meninggal, menjadi hari libur. Maka, sekalipun rata-rata warga RI cukup kaya dan menghayati budiluhur, tetap tidak gampang mempekerjakan PRT. Apalagi, UU dengan tegas menyebutkan tiap majikan harus menghormati dan memperlakukan PRT sebagaimana dia menghormati dan memperlakukan diri sendiri.

***

INDONESIA makmur. Jakarta jadi kota museum. Perubahan fungsi Jakarta dari ibukota negara di abad XX menjadi kota biasa abad XXV yang berkarakter permuseuman itu berfondasi pada pelaksanaan konsekuen prinsip desentralisasi daerah-distrik-kota. Prinsip ini emoh sentralisasi. Semua daerah-distrik-kota bukan cuma diakui tapi justru harus mengurus dan mengembangkan potensi kawasan sendiri.

Maka antara Tuban di Jatim dengan Cape Town di Afrika Selatan atau antara Sintang di Kalteng dengan Marseille di Prancis misalnya, berlangsung hubungan dagang yang gencar, saling impor dan saling ekspor, sehingga Kas Negara Pusat kewalahan menerima upeti – padahal cuma 1 persen dari hasil pemasukan dua tempat tersebut. Keberhasilan Tuban dan Sintang itu cuma dua contoh kecil sebagai bagian keberhasilan umum dan merata di setiap daerah-distrik-kota di seluruh Indonesia.

Jakarta kota museum dan Indonesia makmur. Maka rakyat biasa sudah mulai merawat kuku-kuku kakinya. Polisi hampir tak pernah mengurus pencuri, paling pol kerjanya cuma menegur dan mengoreksi – dengan ramah-tamah – para ABG yang ugal-ugalan. Di mana-mana bisa dilihat tentara dan rakyat saling berangkulan. Indonesia jadi negara panutan dunia. Bahasa Indonesia sudah jadi bahasa internasional. Lebih separuh penduduk bumi menggunakannya. Sebab bagian lain bumi ingin mengenal lebih jauh Indonesia dan ingin menjadi sahabat Indonesia. Di mata dunia, Indonesia identik dengan kemuliaan, kemanusiaan, kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan yang beradab.

Zaman keemasan Indonesia tersebut bersangkut paut dengan sistem dan cara mengurus negara yang berfondasi ketidak-pamrihan. Itu membuat kultur berbangsa dan bernegara yang khas, yakni, semua pejabat adalah milik masyarakat. Rumahnya terbuka. Makin tinggi jabatan seorang pejabat, gaya hidupnya makin sederhana, makin sedikit pengawal pribadinya, pagar rumahnya makin pendek dan kunci-kunci rumahnya makin sedikit. Maka menjadi presiden berarti menjadi manusia yang secara total bertekat dimiliki rakyat. Keterbukaan presiden habis-habisan. Ia cuma punya sebuah kunci ialah kunci kamar tidur. Ia babar blas tidak punya pengawal. Buat apa? Ia yakin dicintai rakyat sehingga ke mana saja akan selamat sebab tiap rakyat otomatis jadi pengawalnya.

***

SAAT Jakarta jadi kota museum, sistem kekuasaan telah mewujudnyatakan prinsip distribusi rejeki dan distribusi fungsi dari semua daerah-distrik-kota. Mereka merancang, mengurus dan mengembangkan potensi sendiri. Setiap daerah-distrik-kota juga punya karakter yang unik. Ini bukan saja positif secara kultural tapi juga bisa menjadi modal dan akses demi kepentingan ekonomis. Maka, beban kesibukan Jakarta terbatas di sekitar permuseuman. Tak ada kegiatan lain. Ini dikuatirkan bisa menyerobot jatah kegiatan kota-desa-kampung di luar Jakarta, semisal mengganggu akses dan kesempatan kerja mereka. Jakarta konsekuen tak mau melakukan kegiatan lain. Sebab selain bisa meracuni kekhasan karakternya, juga cuma menambah urusan ialah membuat curiga daerah-distrik-kota di luar Jakarta.

Jadi, Jakarta disiplin menjalankan tugasnya sebagai kota museum. Ia Cuma dipenuhi gedung-gedung museum, pegawai dan turis-pengunjung museum, serta segala sesuatu yang bersangkutpaut dengan museum dalam bentuk sekolah, kursus, lembaga riset, universitas dan 1001 bentuk lain. Dengan cara itu akhirnya Jakarta menjadi kota berkarakter dwitunggal ialah kota turis-edukatif atau kota edukasi-turistik.

Jakarta dipercaya menjadi kota museum karena representatif menampilkan Indonesia masasilam. Di zaman keemasan serba makmur itu, pemerintah RI merasa perlu terus-menerus mawas diri. Salah satu caranya adalah intens menengok ke masalalu. Masadepan tak perlu terlalu dirisaukan sebab selalu sudah bisa ada dalam genggaman. Apapun yang dikehendaki Indonesia, jika mau, pasti terkabul.

Maka, para turis bisa menonton suatu masa saat Indonesia umumnya dan Jakarta khususnya masih ambur-adul, dalam bentuk museum hidup. Tersedia 1001 gedung keprihatinan, besar dan kecil, berinisial resmi atau swasta. Di situ dipamerkan aneka aktifitas dan shows tentang masasilam yang runyam. Shows terbagi dalam dua bagian besar ialah atraksi dalam gedung dan atraksi di udara bebas.

Atraksi dalam gedung misalnya mempertontonkan kongkalikong pejabat dengan cukong, rakyat pusing mengurus KTP, maling digebuki polisi, mahasiswa dibungkam tentara, pejabat jujur yang tak pernah naik pangkat, bursa teori antikorupsi, jurnalisme bengong dan garong, jendral galak, buku-buku bohong, dan 1001 keprihatinan lain.

Dalam atraksi di udara bebas, para turis bisa menyaksikan atraksi keprihatinan itu dari sebuah menara lewat teropong khusus. Maka tampaklah jalan-jalan raya yang macet, para pelacur dilemparkan ke truk, kucing-kucingan tukang becak versus petugas, penjambretan di oplet, pengemis mencubiti bayi sewaan, senyum rupiah polantas, pesta preman, dan 1001 keprihatinan yang lain.

Semua atraksi keprihatinan sebagai bagian aktifitas permuseuman itu dilakukan para aktor-aktris di bawah Dinas Museum. Atraksi dan shows itu begitu meyakinkan, sehingga para turis asing yang belum kenal kemakmuran Indonesia mengira bahwa atraksi tersebut kejadian sesungguhnya. Padahal, semuanya itu main-main belaka.

Alhasil, shows keprihatinan masasilam itu mengundang minat banyak turis dari dalam dan luar negari. Atraksi tersebut dianggap unik di dunia. Bagi Jakarta khususnya dan Indonesia umumnya, ia menjadi sesuatu yang produktif dan selaras dengan GBHN. Di samping menjadi sumber devisa bagi Jakarta, hal itu juga sesuai dengan watak bangsa ialah tidak menutup-nutupi obyektivitas sejarah masasilam. Sejarah yang bernilai positif menjadi kebanggaan bangsa. Dan sejarah yang bernilai negatif bisa meningkatkan sikap mawas diri, agar tidak terulang lagi. Maka jangan heran jika warga Jakarta tetap mampu bertahan hidup bahagia dan Indonesia tetap bertahan makmur sejahtera.

Jakarta dan Indonesia! Terberkatilah Dikau!

L Murbandono Hs

Jurnalis/Produser Senior Bidang Humaniora dan Budaya

Radio Nederland Wereldomroep, Hilversum, Nederland

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: