Home > L Murbandono Hs > JUDI DAN MANUSIA HIDUP

JUDI DAN MANUSIA HIDUP

Oleh L Murbandono Hs

DI Negara Manusiawi pada hari Kamis Pahing seseorang bernama Negarawan berpidato mengenai judi. Pidatonya jelas, enak, tegas. Dia bilang, agenda pemerintah kota menjadikan Pegunungan Sejuta sebagai lokalisasi perjudian itu jempol. Itulah resep paling ciamik untuk menjalankan hakikat-makna-maksud Negara Manusiawi.

Negara Manusiawi? Ya! Ia adalah negara sipil demokratis yang nyata dan membumi. Ciri utamanya meniscayakan pluriformitas, ogah teokrasi, dan betul-betul memisahkan urusan negara dari urusan agama. Dan terpenting, adalah tempat manusia-manusia yang masih hidup, berkorelasi. Negara manusiawi lebih berurusan dengan manusia-manusia yang masih hidup katimbang manusia-manusia yang sudah mati. Setiap pejabat publik, begitu berurusan dengan urusan publik, dilarang keras membawa-bawa agama dan atau apa pun, yang muaranya berurusan manusia-manusia kuburan. Itu kriminal, ada KUHP-nya, dengan ancaman hukuman penjara minimal 25 tahun dan maksimal 50 tahun.

Pidato Negarawan disampaikan dalam kapasitasnya sebagai Abdi Umum PAS ialah Partai Akal Sehat. Pidato itu dalam catatan sejarah menjadi dokumen penting. Ia diucapkan dengan penuh gelora di hadapan ratusan ribu massa PAS yang memadati Stadion Raya, tempat pelaksanaan puncak acara peringatan hari lahir PAS ke 500, dua abad silam. Pidato tersebut juga disiarkan langsung oleh banyak stasiun multimedia global. Ada kemungkinan sudah disimak dan menjadi urat syaraf beberapa miliar manusia.

“Paling tidak orang tahu,” ujar Negarawan, “Negara Manusiawi mementingkan manusia. Manusia yang masih hidup. Bukan manusia-manusia yang entah kapan mati. Manusia hidup nomer satu, dan yang lain-lain, semisal surga dan neraka, tempat manusia-manusia yang sudah mati, menjadi nomer yang entah keberapa. Jadi gampangnya, negara itu tidak boleh disamakan dengan kuburan atau calon kuburan. Camkanlah ini!”

Tepuk tangan massa bergemuruh. Lha Tuhan? Tuhan tetap nomer satu, di tempat-tempat ibadah agama terkait, dan bukan di tempat-tempat umum, apalagi tempat-tempat milik negara. Di negeri yang menempatkan akal sehat yang membumi di tempat pertama dengan konsekuensi lalu sebodo amatlah soal akherat, memastikan pedoman bahwa lokalisasi perjudian adalah keniscayaan peradaban manusia yang hidup.

“Ini bukan soal pro judi,” ujar Negarawan lebih lanjut, “tapi soal mengatur hobi yang primitif itu supaya jelas juntrung dan tempatnya. Akherat nggak jelas juntrungnya, sebab berurusan dengan orang sudah mati. Judi itu urusan orang hidup, tidak mementingkan urusan orang sudah mati. Perkara tukang judi itu nantinya terjungkal ke neraka, itu urusan mereka sendiri. Yang penting, selama mereka berjudi di sini, harus memakai aturan orang hidup. Sebab memakai aturan orang hidup, maka menjadi terang, bisa logis diatur, dengan kepastian rambu-rambu hokum positif yang rasional. Jangan lupa, para penjudi tidak identik dengan bandit semisal tukang KKN dan tukang ngibul. Sejelek-jelek penjudi, mereka masih lebih mulia katimbang tukang KKN, tukang ngibul, dan kaum munafik!”

Tepuk tangan makin bergemuruh. Langit di atas stadion berwarna biru kencana. Matahari menaburkan sinar putih. Negarawan melanjutkan, “Rasakan desau angin. Reguklah hawa rimba. Alamraya merestui segala yang masuk akal. Karena usaha-usaha lokalisasi judi itu sesuai akal sehat, maka harus menjadi kenyataan. Percayalah, Tuhan pasti memaklumi dan memberkati upaya kita yang sederhana, realistis, dan ogah munafik!” teriak Negarawan lantang yang disambut riuh suara massa PAS di dalam stadion.

“Dan terpenting,” ujar Negarawan dengan artikulasi yang amat jelas, “jangan lupa! Tuhan itu Mahasegala, jadi bisa saja Beliau itu juga Mahapenjudi. Umpama Tuhan bukan Mahapenjudi, tidak mungkin Beliau membiarkan kita, yang dalam urusan makhluk disebut manusia yang insani, mempunyai kehendak bebas. Nah, kehendak bebas itulah perjudian Tuhan. Itulah taruhan Tuhan yang terbesar bagi manusia. Kita bisa memilih, pertama, memihak akal sehat yang realistik. Atau kedua, kaok-kaok segala hal suci-suci penuh kemustahilan yang telah terbukti tidak sesuai dengan kenyataan! Nah, mana yang kalian pilih?”

“Yang pertamaaa!” teriak massa. Gegap gempita. Bisingnya bukan main.

Negarawan mengangat tangan. Stadion terdiam. Matahari menyinarkan cahaya kaya nada. Di langit terdengar musik. Melantunkan nada mega dan irama angin. Negarawan, dasar musikal – hanya orang yang peka akan musik bisa menjadi negarawan – langsung mengacungkan tangan kirinya lurus-lurus ke atas, tangan kirinya membentuk busur menukik ke bawah, dan langsung menggoyang-goyangkan tubuhnya. Ia menari-nari dengan amat luwes di podium. Massa di stadion ikut bergerak. Semua menari. Dengan kepekaan musikal yang sama. Bianglala purba menyambar-nyambar angkasa. Burung-burung berkicau riang. Alam raya bersenandung. Tak seorang pun mempersoalkan di mana dan dari mana nada-nada yang fitri itu mendominasi suasana.

Semua bahagia. Maka ketika Negarawan berhenti menari dan mulai melanjutkan pidato, seluruh warga kaum PAS kontan menjadi hening. Mendengarkan dengan serius. Tanpa dipaksa. Tanpa ganjalan di dalam rongga dada mereka. Sambung rasa manusiawi antar mereka nyaris sempurna.

Maka, pidato Negarawan itu, segera menjadi persepsi yang amat jelas butir-butirnya di dalam akalbudi publik. Terpenting memuat enam butir berikut.

Pertama, adalah rahmat bahwa para penjudi dalam negeri yang banyak duitnya itu bisa dengan tenang berjudi di negeri sendiri, katimbang lari-lari ke luar negeri. Jika tempat judi di dalam negeri tidak diresmikan, rugi sendiri. Duitnya lenyap digondol luar negeri. Ini dari sudut ekonomi dan bisnis adalah sok kemaki. Bukalah kalbu, reguk segala pengalaman, dan kita akan tahu bahwa dalam 1001 perkara di sekitar judi ini, harus diakui tidak sedikit kota, daerah, dan bahkan negara bisa hidup cukup karena hebat mengatur dan mengelola industri judi.

Kedua, judi itu, bagi manusia-manusia yang bermental primitif, ya memang bisa menjadi rusak. Jika dasarnya sudah primitif, ada atau tidak ada lokalisasi judi, sama saja. Tidak ada lokalisasi judi, akan membikin-bikin tempat judi sendiri. Sudah sejak zaman purba dilarang, diancam dan ditakut-takuti dengan hukuman neraka jahanam dan tetek bengeknya, masih saja ada orang berjudi. Jadi, buat apa mengulang-ulang resep yang sudah berabad-abad tidak mempan. Resep moral yang mengacu akhirat, surga atau neraka, ya baik-baik saja untuk urusan pribadi. Jadi, harganya ya cuma iseng-iseng. Sebab nggak ada sanksi hokum sipilnya. Jadi, urusan lokalisasi judi itu, di tempat pertama, mengacu hukum positif negara sipil.

Ketiga, tidak usah diulang-ulang, judi memang jelek. Sejak anak mulai belajar berjalan kaki, sudah tahu betul hal itu. Bahwa agama apa saja ngomong judi itu jelek, sumber dosa dan segala macamnya, tiap orang amat faham. Tidak usah diberitakan dan digembar-gemborkan, tiap orang, asal normal, sudah tahu. Jadi, semua omongan tentang kejelekan judi yang disangkut pautkan dengan moral, etika, Tuhan Allah, dosa, dan sejenisnya itu, tidak ada faedahnya. Tidak produktif. Sebab semuanya itu tidak bisa melawan judi, dalam arti menghilangkannya. Yang bisa melawan judi adalah hukum positif, sehingga kegiatan judi transparan dan mencolok. Karena itu lalu bisa diatur, ditertibkan, direkayasa, dan terpenting dipajaki dengan pajak khusus. Kalau perlu pajak yang tinggi sekali, sehingga tiap industrialis judi akan berpikir seribu kali sebelum memulai usahanya. Dengan kata lain, negara harus mampu menunggangi judi, perjudian dan tukang-tukang judi secara kepenak.

Keempat, gembar-gembor melawan judi dengan pameran ayat Kitab Suci dan petuah-petuah para nabi itu, malah memuakkan. Apalagi di tengah banyak pejabat yang suka ngibul, korupsi, dan malah tidak sedikit yang suka membunuh dan menjadi tukang suruh bunuh. Babar blas tidak produktif. Apalagi jika yang bengok-bengok soal surga dan neraka itu, kerjanya Cuma bercabul melulu dengan segala kebohongan. Dus, malahan menjadi bahan lawakan di pinggir-pinggir kali.

Kelima, melarang-larang segala barang yang tidak bisa dilarang Cuma dengan dogma-dogma agama yang urusannya cuma untuk orang-orang yang sudah mati adalah keblinger. Merugikan agama sendiri. Agama lalu menjadi tidak simpatik dan malah tampak dungu bagi orang-orang lain, apalagi bagi orang-orang yang tidak beragama. Sebab di tempat pertama, judi itu urusan manusia hidup. Memboroskan enersi doang! Tidak produktif dan samasekali tidak efektif serta mengganggu akal sehat. Di semua Negara yang relatif “pintar”sebab mengedapankan akal sehat, justru judi dan hal-hal jelek lain semisal pelacuran itu justru diberi tempat yang jelas dan diatur. Urusan judi itu, sebagaimana urusan pelacuran, adalah urusan pribadi. Tiap individu bebas memilih. Mau jadi bejat mentalnya karena dua hal tersebut, lalu masuk neraka setelah mereka mati, itu urusannya sendiri. Yang penting tidak mengganggu orang lain secara sosial, selama dia masih hidup. Harus diatur dengan hukum positif!

ALHASIL, soal pokok judi adalah bagaimana menyusun UU-nya, yang betul-betul cocok bisa dicerna akal sehat, tanpa perlu menyangkutpautkannya dengan urusan-urusan akherat, sekali pun secara moral bisa klop secara insani. Sebagai contoh, salah satu ayat UU Judi yang penting itu akan berbunyi begini, “Barangsiapa yang karena perbuatan judinya menelantarkan anggauta keluarga dan yang menjadi tanggungjawabnya adalah kriminal dan karena itu diancam hukuman minimal dua tahun dan maksimal sepuluh tahun tergantung kualitas penderitaan yang ditelantarkan.”

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang humaniora dan budaya

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: