Home > L Murbandono Hs > Kebohongan Tak Ada Matinya

Kebohongan Tak Ada Matinya

Oleh: L Murbandono Hs

SALAH satu berita penting pada harian ini edisi Selasa (18/01/11) adalah mengenai sejumlah tokoh agama yang dengan lantang menyatakan pemerintah melakukan berbagai kebohongan kepada rakyat. Para tokoh itupun, sebagaimana dikatakan Din Syamsuddin, bertekad melanjutkan gerakan melawan kebohongan (SM, 21/01/11). Pemerintahan SBY pun tanggap, sibuk membantah dan berkeberatan dengan istilah bohong itu. Puncaknya, para tokoh lintas agama diundang ke Istana untuk mendapat klarifikasi.

Perkenankanlah saya takjub kepada kebohongan. Ia tidak ada matinya. Kebohongan telah digunakan triliunan orang sejak berabad-abad silam sampai kini, dan, tidak kunjung lelah. Kebohongan tetap awet malah tambah lincah Kebohongan awet dan makin lincah? Ya. Sebab tatanan moral simpang siur. Atas nama kebenaran orang bisa berbohong (Alfred Adler). Dusta bisa dilakukan dengan diam (Miquel de Unamuno). Kebohongan itu rumit sebab sering dinyatakan dengan amat sopan (John Ruskin). Kebohongan menjadi biasa saat banyak ukuran moral macet sehingga segala penyimpangan tampak absah (Susan Sontag).

Jadi, kebohongan itu apa? Menurut St Agustinus (354-430) dan St Thomas Aquinas (1224-1274), kebohongan adalah ungkapan diri yang mengingkari hati nurani. Dua pemikir besar berbeda zaman itu menunjuk tiga jenis kebohongan: kebohongan jahat, kebohongan putih, dan kebohongan iseng. Kebohongan jahat memang jahat . Kebohongan putih dianggap tidak merugikan siapapun, bisa dimaafkan, dan dalam hal tertentu malah harus dilakukan misalnya untuk menolong. Kebohongan iseng ya cuma iseng, bahkan dianggap positif sebagai sarana pergaulan, misalnya untuk melucu.

Dari tiga jenis tersebut, kebohongan putih menjadi krusial. Bermoralkah kebohongan semacam itu? Muncul dua kubu pro dan kontra. Kubu pro antara lain dimulai dari Plato (427-347 SM). Dalam karyanya, Republica, disebutkan dokter yang sesekali berbohong demi kepentingan pasien, dinilai bermoral. Negarawan juga boleh sesekali berbohong, demi kepentingan lebih luas.

Ajaran Plato itu gilirannya mengilhami asas ‘’kebohongan sebagai keharusan’’ demi kepentingan lebih luas, maka mempunyai kekuatan hukum, jadi bermoral. Argumen prokebohongan putih cukup banyak. Terpenting ada dua. Pertama; termutlak dalam laku moral adalah dampak positifnya bagi masyarakat dan individu yang terkait. Kedua; bohong atau jujur itu soal kebenaran, yang selalu relatif.

Pengingkaran Nurani

Namun, kubu kontra mempunyai banyak argumen yang kuat pula. Ini juga sudah dimulai sejak zaman purba. Misalnya Aristotetles (384-322 SM).

Dalam karyanya, Ethica, ia melarang segala bentuk dan cara berbohong. Dalam dirinya sendiri, kebohongan itu jahat: amoral. Kadar kejahatan berbohong setaraf membunuh. Maka kebohongan, dengan alasan apapun, dilarang keras.

Moralitas abad-abad sesudahnya yang sehaluan dengan Aristoteles bisa dilacak dari banyak pemikir.

Misalnya Origenes dari Alexandria (185-253), St Agustinus (354-430), dan Paus Innocentius III (1160-1216). Dari tiga pemikir besar tersebut bisa kita rumuskan empat wacana kunci yang melawan kebohongan putih.

Pertama; kebohongan sebagai keharusan demi alasan tertentu adalah amoral sebab menggiring dunia ke relativisme moral, permisifisme ekstrem, sampai tanpa moral.

Kedua; keterpaksaan berbohong dalam kebohongan putih mirip orang sakit ketagihan obat. Harus dilarang sebab membahayakan si sakit sendiri.

Ketiga; kebohongan putih tetap kebohongan=penipuan=melanggar hukum=antikebenaran. Maka relativisme kebenaran sebagai argumen membela kebohongan adalah omong kosong: amoral. Keempat; jika relativisme moral yang nyanthel dalam keterpaksaan berbohong dibiarkan berlarut maka peradaban wajar dunia manusia akan kacau-balau.

Kita memilih mana? Memang, dua kubu tampak sama kuat. Namun lebih penting, inti masalahnya adalah mengapa kebohongan putih dilakukan? Alasannya, itu dilakukan demi ini atau itu. Karena alasan luar. Padahal —kita kembali ke St Agustinus dan St Thomas Aquinas— kebohongan adalah ungkapan-diri yang mengingkari hati nurani. Kebohongan yang macam apapun adalah urusan di dalam diri. ‘’Demi-demi’’ apapun dari luar tidak relevan. Apalagi, alasan-alasan luar itu sendiri masih acapkali memuat permasalahan epistemologis yang belum terselesaikan. (10)

L Murbandono Hs,

Peminat dan pengamat peradaban, tinggal di Ambarawa, Kabupaten Semarang

Sumber: SUARA MERDEKA, 22 Januari 2011

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: