Home > L Murbandono Hs > Korupsi Menurut Rakyat

Korupsi Menurut Rakyat

Oleh: L Murbandono Hs

Korupsi kian mantap karena semua orang hebat selalu mantap pula dalam berkilah menutup-nutupi korupsi. Korupsi ditutup-tutupi sebab enak!

HAMPIR semua peristiwa korupsi di negara kita selalu berakhir dengan kekecewaan rakyat. Siapapun bicara apapun tentang korupsi ujung-ujungnya hampir selalu cuma menyakiti rakyat. Maka jika bisa bersuara lantang terus terang, mungkin akan beginilah kata-kata rakyat:

Korupsi adalah entah. Korupsi amat kerasan di negara kita sebab orang-orang hebat selalu bisa berbuat ganjil dalam kasus korupsi. Ada juga yang bernyanyi saat diajak perang melawan korupsi. Misalnya, kita diajak bermurah hati terhadap bekas penilep uang negara dalam jumlah gila-gilaan dan diimbau mengendapkan perkaranya.

Dari tahun ke tahun korupsi makin kerasan di sini. Ia jadi selebriti top. Ada di mana-mana. Masuk koran-koran, televisi-televisi, radio-radio, dan internet-internet. Korupsi makin mantap!

Dahsyat akibatnya. Hari-hari ini barang kali makin banyak orang baik-baik menjadi muak begitu mendengar kata korupsi. Konferensi dan seminar mengupas korupsi tak terhitung. Berlangsung sudah puluhan tahun. Tapi korupsi tinggal tetap menjadi entah yang merugikan rakyat. Jika rakyat mampu bermeditasi, mungkin akan membuat puisi begini:

di sini apa saja jadi korupsi sogok dalam ini itu pagi-pagi knalpot bising dicegat polisi lalu bersalaman enak sekali korupsi kelas teri tapi abadi

dalam korupsi kelas gajah cuci uang tertawa gagah bobol bank milik sendiri

bikin aturan demi klik sendiri politik dan cukong saling sokong atas dan bawah gotong-royong semua mendapat jatah pidana dibikin mentah

Di samping bikin puisi,  dengan mudah rakyat juga akan mampu bikin daftar kemantapan korupsi. Amat panjang dan rinci. Butir-butirnya banyak sekali. Yang terpenting enam butir seperti ini:

Pertama; gara-gara korupsi kerasan di sini maka kita dianugerahi gelar jago korupsi nomor empat di bumi. Gelar itu dirakit berdasar data-fakta-angka-info yang sudah tersebar luas dan mudah diuji berkat sibernetika. Gelar tersebut ditolak orang-orang hebat. Itulah entah nomor sejuta!

Watak Korup Kedua; korupsi kian mantap karena semua orang hebat selalu mantap pula dalam berkilah menutup-nutupi korupsi. Korupsi ditutup-tutupi sebab enak! Siapa saja punya kesempatan, rata-rata lalu jadi koruptor. Sekarang jenis koruptor makin banyak. Paling sedikit terdapat delapan jenis: pejabat, pemimpin partai politik dan politikus, eksekutif perusahaan swasta, anggota legislatif, pejabat BUMN, manager, pegiat LSM, dan khalayak luas.

Ketiga; jadi korupsi juga marak di sektor swasta, utamanya kaum saudagar karena dipengaruhi watak korup birokrasi pemerintahan. Cara korupsi sektor ini rupa-rupa: menilap uang di brankas, mengutip dana proyek, menggelembungkan biaya, menjual sarana dan fasilitas perizinan dan lain-lain. Namun paling lahap korupsi adalah oknum-oknum penegak hukum. Korupsi di kalangan ini sudah jadi kebiasaan dan kerap dilakukan dengan cara bodoh vulgar sekali. Maka sekarang rakyat bikin puisi begini:

pengadilan adalah tawar-menawar di restoran, hotel, semak belukar advokat hakim jaksa polisi acara harian hari demi hari bersidang sendiri-sendiri

kongkalikong terjadi membaptis korupsi

Keempat; korupsi juga aman di negeri ini sebab lebih 70 persen hakim praktisi adalah hakim-hakim katrolan tidak lulus teori. Dan sungguh mengerikan, di vonis hakim-hakim katrolan itulah nasib para koruptor terletak. Ini menyangkut sekitar 30-40% APBN setiap tahun yang bocor. Lebih 30% biaya tidak resmi masuk dalam komponen biaya produksi sektor-sektor swasta. Paling sedikit Rp 100 triliun dana negara lewat bank negara menguap, akibat ambruknya belasan bank swasta yang dicuri para pemilik dan pengelolanya sendiri.

Kelima; semua orde di negara kita terkena korupsi. Di zaman Orba cara-cara slintutan korupsi amat canggih. Banyak peraturan yang ngibul. Lebih 70 keppres jadi benteng keculasan kekuasaan dan banyak kerabat dekat penguasa diuntungkan. Banyak koruptor terlindungi secara legal, terus-menerus, dalam waktu lama.

Keenam; hal sama dalam banyak kasus terjadi dalam orde mutakhir. Korupsi kian seru manakala demokratisasi korupsi tingkat nasional dan desentralisasi korupsi di daerah-daerah berkecamuk. Korupsi karena nepotisme menteri-menteri tertentu yang menempatkan orang-orangnya sendiri pada jabatan dan fungsi-fungsi tertentu.

Kalangan legislatif hanya sibuk mengurus kekuasaan dan tidak punya waktu menjalankan fungsinya sebagai pengawas eksekutif dan pembela rakyat. Singkat kata, banyak penguasa mutakhir juga korup. Apalagi, sisa-sisa penguasa lama yang korup tetap bergentayangan. Menyebarkan pengaruh dan watak korupnya!

L Murbandono Hs

Peminat dan pengamat peradaban, tinggal di Ambarawa, Kabupaten Semarang

Sumber: SUARA MERDEKA, 22 Juli 2010

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: