Home > L Murbandono Hs > Majikan Yang Baik (Berdasar “karya liar” Thomas Paine)

Majikan Yang Baik (Berdasar “karya liar” Thomas Paine)

Oleh L Murbandono Hs

SAYA kacung yang beruntung sebab majikan saya orang yang baik. Beliau member saya pangan, sandang, papan, pekerjaan, komputer, obeng, pedang dan lain-lain. Cuma satu hal beliau tuntut. Kepatuhan saya kepada beliau. Saya pun patuh. Sebab selain baik, beliau juga bertuah. Segala jenis binatang buas menjadi jinak di hadapan beliau. Jadi, apa salahnya beliau menyetir hidup saya? Beliau berwajah halus, bersuara merdu, dan sapuan pandang beliau amat teduh.

Beliau juga pintar. Sudah kenyang makan garam dunia. Beliau sudah terpilih, teruji dan tersaring begitu banyak penyaring. Pantas jika beliau disinari bintang dan rembulan. Sesekali saya mengeluh juga tentang beliau. Tapi saya gamang hidup tanpa beliau. Sebab beliau orang pintar.

Lantaran pintar, beliau luwes dan lincah melindungi dompet saya dari incaran para maling, setelah mengambil separuh isi dompet. Hanya beliau yang mampu melindungi dompet saya. Lagipula, setelah meraup uang tersebut, beliau bilang, uang itu tetap milik saya. Saat beliau shopping dengan uang tersebut, beliau mengatakan barang-barang yang beliau beli adalah milik saya. Tapi, saya tidak bisa menjualnya. Juga, saya juga dilarang keras ikut-ikutan memutuskan bagaimana menggunakannya. Agar saya tidak menjadi kebingungan, kata beliau. Yang penting, barang-barang itu milik saya. Saya memang tidak faham. Tetapi percaya saja. Sebab beliau bukan saja baik, melainkan juga peka.

Kepekaan itu membuat beliau menyediakan pendidikan bagi anak-anak saya. Dengan lembut beliau mendidik mereka agar jadi anak-anak yang baik ialah patuh dan hormat kepada beliau. Dan demi masadepan, mereka juga telah dipersiapkan untuk mematuhi dan menghormati para majikan masa depan. Beliau mengatakan, anak-anak saya telah mendapat pendidikan yang baik, ialah mempelajari segala hal yang diperlukan. Saya percaya. Apa saya sudah gila jika tidak percaya? Bukan karena banyak profesor juga percaya kepada beliau. Bagi saya, yang terpenting adalah karena beliau orang yang baik.

Sebagai orang yang baik, majikan saya juga peduli kepada para majikan yang lain. Para majikan yang lain itu sial, sebab tidak mempunyai kacung-kacung yang baik. Beliau sesekali memerintahkan saya ke rumah majikan yang sial tersebut. Untuk gotong royong. Biasanya untuk menceboki anak-anak sang majikan yang masih ingusan. Saya tidak mudheng mengapa para kacung harus melayani beberapa majikan. Tapi majikan saya bilang itu perlu, baik, benar dan mulia. Sebab beliau sudah bilang begitu, ya saya percaya saja. Sebab beliau orang baik.

Pada suatu hari seorang rekan sesama kacung mohon kepada majikan saya untuk menggunakan sebagian uang simpanan saya. Sebab penuh belas kasih, beliau mengabulkan permohonan itu. Maka beliau mengambil uang saya lebih banyak katimbang biasanya dan berkata bahwa hal itu akan berdampak positif bagi keimanan saya ialah menabung surga. Saya bertanya mengapa para kacung tidak menyimpan sendiri uangnya. Beliau menjawab, itu semua demi kepentingan kami sendiri dan beliau tahu apa yang terbaik bagi kami.

Jawaban beliau betul. Sesuai dengan nihil obstat, konstitusi, dogma, UU, aturan dan ayat-ayat di dalam kitab resmi. Saya lega, percaya, meski tidak mudheng. Sebab, beliau itu orang yang baik.

***

PADA kesempatan lain, saat langit menjadi berwarna merah darah lantaran hutan-hutan terbakar, atau dibakari, tiba-tiba majikan saya berkata: “Awas! Di kampung-kampung lain sekitar kita ada majikan-majikan yang jahat dan berbahaya. Sebetulnya mereka itu titisan setan tetapi mengaku-aku anak malaekat. Mereka mengancam kesejahteraan dan kedamaian hidup kita. Mereka harus disikat!”

Begitulah, beliau lalu mengirim anak-anak saya ke garis depan untuk mengganyang para kacung pengabdi majikan-majikan yang jahat tersebut. Banyak anak saya yang mati. Saya menangis meraung-raung. Beliau menghibur saya dengan lemah-lembut dan berkata mereka yang gugur adalah kusuma pembela kesejahteraan manusia. Lalu beliau memberi saya medali yang besar sekali sebagai silih kerelaan dan pengurbanan saya. Beliau memang bijaksana.

Sebab lama mengabdi beliau, saya faham, adalah menjadi tugas para majikan yang baiklah sesekali memberi indoktrinasi dan kalau perlu membunuh majikan-majikan yang jahat termasuk para kacung mereka. Tentang hal tersebut, beliau berkata: “Perang yang semacam itu bukan saja penting, melainkan suci, demi kelestarian kesejahteraan kita. Maka, kepada kaum sontoloyo yang bertebaran di sekitar tempat kita, perlu ditunjukkan bahwa kita punya cara tersendiri untuk mengatasi segala masalah. Dan cara kita yang terbaik.”

Saat saya tanyakan mengapa para kacung juga dibunuh dan bukan cuma para majikan yang jahat saja, beliau menjawab: “Tidak bisa lain dan harus begitu. Logika biasa. Itulah keniscayaan menjadi orang-orang yang tolol dan tidak peka sehingga mau mengabdi majikan-majikan yang jahat. Kacung yang baik dan benar hanya akan mengabdi majikan-majikan yang baik dan benar.” Lalu beliau menghela nafas sejenak, menatap tajam ke arah saya. “Nah, seperti apa majikan yang baik dan benar itu?”

“Seperti Paduka!” sahut saya, tidak terlalu mudheng.

Beliau menepuk-nepuk bahu saya. Sebab beliau orang baik.

***

BUKAN cuma baik tapi majikan saya juga demokratis. Setiap tenggang waktu tertentu tergantung kesempatan dan kelonggaran hati, beliau mengizinkan kami, para kacung, memilih majikan yang baru. Tapi saya tak boleh memilih untuk tidak memilih sebab beliau telah menetapkan sejumlah nama kandidat majikan yang baru untuk kami pilih. Agar kami tidak keliru, beliau juga memberi arahan tentang apa dan bagaimananya kandidat yang pas. Sekalipun tidak mudheng, peristiwa itu membuat saya bergairah sebab saya bisa sejenak melupakan substansi dan hakikat saya yang tak lebih, tak kurang, cuma kacung.

Jumlah kandidat majikan yang baru itu, bervariasi, tapi selalu berdasi jika lelaki dan bergaun panjang berparfum wangi jika perempuan. Semua kandidat itu tanpa kecuali selalu tersenyum ke semua arah. Ketika saya tanyakan mengapa para kandidat selalu berpenampilan begitu, beliau menjawab, hal itu sesuai sistem  tradisi tatakrama peradaban kita.

Saya bertanya apakah suatu saat nanti saya juga bisa menjadi majikan, dengan bersemangat beliau menjawab: “Tentu! Mengapa tidak? Asal kamu tidak macem-macem. Asal kamu berjanji setia dan menjunjung tinggi Sumpah Perkacungan.” Saya lega dan menjadi bersemangat karena janji tersebut. Ah, majikan saya bukan cuma baik, benar, demokratis, tetapi juga sumber harapan.

Dengan tradisi tersebut dan harapan bisa mengubah nasib seperti yang dijanjikan, maka kami para kacung bergairah menuju ke bilik-bilik pemungutan suara, untuk memilih para majikan baru. Mereka terdiri atas berbagai tingkat dan jenis termasuk memilih Majikan Baru ialah majikan dari segala majikan.

Majikan Baru itu selalu terpilih karena mendapat suara 0,1 persen jumlah kertas yang dicoblos para kacung. Maka saya bertanya, mengapa Majikan Baru boleh mengatur semua kacung dengan perolehan 0,1 persen tersebut? Bagaimana dengan yang 99,9 persen?

Dengan lemah lembut beliau menjawab: “Yang 99,9 persen menguap karena berbagai penyebab semisal tidak penting karena dipilih para kacung, kacau-balau, salah nyoblos, keliru prosedur, dan lain-lain lagi yang gampangnya adalah tidak absah. Jadi, tidak apa-apa jika diabaikan sebab itu sesuai teladan leluhur. Tapi terpenting dan yang harus selalu kamu ingat adalah: kamu kacung dan saya majikan.”

Saya tidak mudheng dan lagi-lagi hanya bisa percaya sebab beliau orang baik. Apalagi, beliau juga berulang kali mengatakan, kami para kacung sebetulnya  majikan yang sebenarnya. Buktinya, kami selalu boleh memilih majikan yang baru. Sementara para majikan, tidak punya pilihan lain selain hanya untuk dipilih. Karena itu, percaya atau tidak, tak ada tujuan lain dalam hidup para majikan selain cuma ingin membahagiakan para kacung, sejauh setia menjadi kacung. Saya tidak mudheng, tapi percaya. Sebab yang mengatakan, majikan saya. Orang yang baik.

Tetapi, tidak mudheng terus-menerus itu lama-lama tidak enak juga. Maka untuk kali yang terakhir saya bertanya, apakah boleh tidak menjadi keduanya, ialah tidak menjadi kacung dan tidak menjadi majikan. Beliau menjawab tegas: “Tidak bisa. Kamu harus memilih salah satu. Tidak ada pilihan lain.”

Saya belum mudheng. Tapi jawaban terakhir majikan saya yang baik, benar, mulia dan bijaksana tersebut, membuat saya mulai berpikir lebih serius …

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Tinggal di Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: