Home > L Murbandono Hs > Makna Dan Maksud Salib

Makna Dan Maksud Salib

Oleh L Murbandono Hs

BAGI umumnya umat Nasrani di seluruh bumi, hari Jum’at yang tahun ini jatuh pada 29 April dimuliakan dan disebut Jum’at Suci serta menjadi salah satu ritual pokok dalam seluruh liturgi Paskah. Itulah hari saat Yesus wafat. Wafat secara khas.

Lepas dari “obyektivitas” kesejarahan kasus itu yang tentunya masih menjadi masalah atau misteri atau status questionis dan atau diskursus teologis yang tetap terbuka sebagai objek kajian, catatan kecil ini sekadar upaya memahami substansi Salib dalam tinjauan moralitas politik.

Misteri dan Relevansi

Dalam tinjauan sospolekbudhankam zamannya, kematian di salib adalah cara mati nista khusus bagi sampah masyarakat. Bagaimana dengan penyaliban Yesus? Bahasa religi biblis-teologis gereja alias ecclesia (solidaritas suatu kelompok orang yang memanifestasikan semangat-keyakinan-spiritualitas yang sama) menyebut cara wafat semacam itu adalah kehendak Tuhan untuk menebus dosa dunia. Rumusan itu mungkin cuma bermakna dan relevan dan berlaku bagi sirkuit tertentu sebab menyangkut iman, tetapi bukan berarti makna universalnya bagi peradaban pluriformitas tidak bisa ditelusuri.

Meski upaya panjang ilmu, filsafat, teologi dan sejarah tentang hal tersebut mungkin masih berupa “misteri” yang belum selesai tuntas, obyektivitas salib bukanlah misterius sebab bisa ditelusuri dengan logika dan niat positif. Toh dengan itu pun, “penemuan” tetap akan terbatas ialah mentok bahwa rupanya Salib Yesus itu lebih mengacu Salib Cita-cita alias Salib das Sollen. Ia tetap misteri, sebagai bagian kehidupan yang juga masih penuh misteri. Jadi, relevansi misteri itu bagi masa kini mungkin terletak dalam niat memahami nilai-nilai sosialnya, khususnya bagi inter-aksi hidup sosial bersesama, yang juga penuh misteri.

Mengingat Salib das Sollen yang bernuansa vertikal itu kompleks sebab menyangkut iman, maka biarlah ia berziarah menempuh jalannya sendiri. Ia tentunya akan tetap berharga menjadi upaya dan pekerjaan rumah manusia menggeluti ihwal perkara keabadian adikodrati dalam hidup sehari-hari, dan atau jadi obyek kajian di pusat-pusat riset filsafat dan teologi atau ilmu-ilmu humaniora pada umumnya.

Meskipun demikian, dalam tataran akal sehat yang biasa-biasa saja, salib realitas dalam arti salib historis, pada hemat saya tetap bisa ditelusuri dengan metode empiris fenomenologis, dan barangkali, dengan sikap proaktif rasional obyektif ia lalu bisa menjadi bahan diskusi/dialog dalam masyarakat yang mengharga kebhinekaan atau pluriformitas.

Dengan fondasi metode di atas, bisa dikatakan bahwa salib di abad pertama itu adalah cara/bentuk penistaan, rekayasa penghampaan dan taktik pelecehan struktural menghadapi aksi konkret Yesus menerjemahkan gagasan basileia alias kerajaan illahi yang maksud utamanya ialah kebenaran-kebaikan-kedamaian. Yesus, sebab dianggap gembong pemberontak, maka dieksekusi infrastruktur politik mafia dan budaya preman kubu statusquo yang bekerjasama dengan penjajah. Kolusi aristrokasi religi dan kubu kekuasaan menilai ajaran dan praktek Yesus akan basileia sebagai ancaman kestabilan politik.

Jadi, salib di masa Yesus hidup adalah sarana politik. Salib digunakan sirkuit kaya-berkuasa Roma Purba untuk meneror para budak. Ia juga dipakai pihak militer Roma untuk mengontrol rakyat jajahan di Tanah Palestina. Salib adalah wujud teror politik, mekanisme kontrol social dan penindasan di segala sektor. Bahwa Yesus akhirnya disalib, itulah konsekuensi pemihakan pada basileia yang konsekuen tanpa kompromi.

Tanpa Kompromi

Konsekuen tanpa kompromi dalam prinsip basileia, yang sekali lagi bermuara pada kebaikan-kebenaran-kedamaian itu, bagi kita saat ini, pasti relevan. Tapi mungkin basileia itu juga menakutkan, sebab memuat resiko bisa mengundang maut, sekalipun dia cuma tawaran kasih.

Prinsip basileia memuat resiko sebab ia bukan cuma teori tapi harus langsung dipraktekkan. Praktek Yesus ialah tidak mau berkompromi dengan legitimasi dan legalitas yang cuma bertumpu pada kontrol Kenisah dan sirkuitnya, yang cuma topeng untuk menghalalkan eksploitasi dan manipulasi sosial. Yesus juga tegar menolak logika sosial dan hirarki politik yang cuma berlandaskan kekayaan, privilese, monopoli akses, status, kekuasaan dan apalagi paksaan. Jadi, basileia punya logika sendiri. Logika itu bermuara pada kelimpahan berbagi akal-hati-batin yang konsekuen ialah sharing dalam sumber-sumber ekonomi-sosial-budaya-politik yang dengan sendirinya adil.

Saling berbagi alias sharing adalah kata kunci basileia. Logika basileia bukan praktek penguasaan melainkan pengabdian, yang dalam bahasa biblisnya, setia menanti di meja perjamuan dan membasuh kaki para tamu. Dalam konteks inilah hakikat kerajaan illahi mestinya difahami, ialah leburnya hirarki sosial menjadi kesetaraan hubungan antar individu konkret dalam masyarakat konkret.

Basileia adalah teori-praktek tentang pembebasan dari opresi, kemiskinan, penjajahan dan pembebasan dari eksploitasi yang menyebabkan ketergantungan dan perbudakan. Basileia adalah pembebasan dari berhala yang diskriminatif terhadap warga tertentu yang dianggap menodai “tradisi dan kesucian” bangsa. Justru “tradisi dan kesucian” itu diguncang-guncang basileia. Sebab tradisi dan kesucian itu semu, berhala, cuma topeng dan alat untuk menghalalkan segala rekayasa yang hanya menguntungkan sirkuit kaya-berkuasa dan tidak memberi akses golongan bawah. Maka, Yesus dicap mbalelo sebab sadar memihak dan memilih golongan bawah, tanpa kompromi dan berani berkata “ya” untuk ya dan “tidak” untuk tidak.”Ya” bagi golongan yang dimanipulasi dan “tidak” bagi si penindas dan manipulator.

Pemihakan dan Konflik

Ungkapan “tidak” Yesus antara lain muncul dalam aksi-aksi gencar menggugat kemacetan statusquo politik Kenisah. Yesus mendobrak kiprah dan tradisi bisnis di sekitar Kenisah, mengobrak-abrik komoditi hewan kurban dan mengutuk kolusi pejabat religi dalam bisnis tersebut. Bisnis di sekitar Kenisah hanyalah satu dari sekian praktek manipulasi dalam peta sospolekbud Palestina di abad pertama itu.

Jadi, gebrakan Yesus bukan cuma lambang melainkan upaya konkret mewujudkan pembebasan dari belenggu kemunafikan. Kemunafikan itulah sumber kolusi penguasa lokal dan penjajah yang tertutup dan memungkinkan praktek-praktek yang manipulatif. Sebab, gerak ekonomi negara di bawah kontrol tak adil kekuasaan politik yang direkayasa segelintir preman, cuma 2% jumlah penduduk, ialah sirkuit kaya-berkuasa, yang merugikan 98% penduduk ialah khalayak luas.

Teori-praksis Yesus yang mempromosikan kesamaan derajat itu dianggap jadi sandungan bagi posisi kubu yang punya privilese dan juga jadi ancaman bagi imbangan kekuasaan politik yang menguntungkan mereka. Apalagi, ini bukan cuma teori tapi diikuti praktek yang tegas-transparan mempromosikan kebaikan-kebenaran-kedamaian yang emoh pada gincu-gincu dan keculasan sirkuit kaya berkuasa yang punya privilese, tapi memihak si miskin, tertintas, dina, lemah dan yang tersingkir.

Basileia akhirnya di mata kekuasaan jadi provokatif secara sosial dan eksplosif secara politik. Provokatif, sebab memihak yang tersingkir dan kaum papa yang dikejar-kejar. Eksplosif, sebab praksis itu member harapan bagi kelompok jelata. Ia memberi keberanian bagi kubu tersingkir untuk bangkit melawan atau sekurangnya menggugat dominasi politik elit penguasa yang demikian mencolok manipulatifnya.

Teori-praksis basileia menandai secara radikal transformasi sospolekbud ke arah yang lebih egaliter dan era baru di mana kebhinekaan agama, sosial dan politik bukanlah halangan bagi kerukunan. Ini menawarkan alternatif terhadap dominasi elite Kenisah dan sirkuit atas Yerusalem dengan militerisme Imperium Roma yang melibatkan sejumlah preman kelas gajah semisal Herodes Antipas dan Ponsius Pilatus.

Resiko Pemihakan

Visi dan target basileia memang akhirnya menjadi krusial. Ia tidak dimaksudkan sebagai pengambilalihan atau apalagi perebutan peran. Sebab target macam itu cuma akan membuahkan lingkaran setan penyalahgunaan kekuasaan. Jika sang tertindas muncul jadi penguasa, akhirnya akan balas dendam. Itu justru dihindari basileia. Maka visi basileia “kerajaanku tidak di bumi ini”, dalam bahasa politik perlawanan sezaman, makin jelas. Basiliea tidak punya kepentingan politik praktis jangka pendek. Dalam konteks inilah kita lalu bisa dengan gampang membedakannya dari berbagai kubu gerakan yang lain semisal sirkuit kaum zealot, radikalisme Yohannes Pemandi, sampai dengan “salah duga “persepsi” Yudas Iskariot akan visi Yesus.

Jadi, sekalipun visi supernatural basileia (kerajaan illahi) dalam praktek sosial-horizontalnya (kebenaran-kebaikan-kedamaian) memang di tempat pertama memihak si miskin-dina-lemah tapi bukan berarti harus jadi gerakan balas dendam terhadap kubu penguasa. Basileia di dalam praktek adalah gerakan moral agak kekuasaan tidak menjadi penindasan sebab itu menodai fitrahnya sendiri. Jadi, kekuasaan harus kembali ke jatidirinya, back to the basic. Bahwa kekuasaan itu cuma titipan dan atau mengambil bagian dalam Kemahakuasaan yang Sejati ialah memperkembangkan dan mendistribusikan kasih.

Sayang! Kubu kekuasaan tak mau memahami visi tawaran alternatif itu sebab telah menutup nurani. Yesus dianggap cari perkara. Dan alternatif dianggap musuh. Yesus dianggap biangkeladi konflik. Basileia itu dipahami sirkuit penguasa sebagai provokatif secara politik, yang mengancam statusquo, privilese, dan 1001 akses yang telah mereka nikmati.

Maka, rekayasa gelap di antara mereka lalu membangun opini publik dan mencap basileia sebagai subversif. Gembongnya harus dilenyapkan! Tapi eksekusi itu harus “sesuai dengan kehendak rakyat” (Yerusalem) dan “legal” (Roma). Dalihnya adalah Yesus menantang dan melawan Dewan Kenisah. Itu berarti juga melawan kekuasaan kaisar. Sebab para imam agung Yahudi di Yerusalem ditunjuk oleh perfek kekaisaran Roma. Dus, “halal dan legal” sudah eksekusi tersebut.

Begitulah, visi dan praktek basileia mengantar Yesus ke “pengadilan” yang penuh keanehan. Mula-mula Yesus diseret ke hadapan mahkamah imam agung yang mewakili elite kekuasaan Yerusalem. Lalu diseret ke hadapan Pilatus, boneka pemanjangan ambisi penjajah. Terakhir, dijerat antara lain dengan pasal sang mesiah palsu yang mengancam kestabilan politik, Yesus dieksekusi di kayu salib. Itulah cara legal struktur control sosial dan penindasan politik dalam membungkam kebenaran-kebaikan-kedamaian.

Tapi ada keterangan lebih mendasar tentang kasus di atas. Yesus disalib sebab berani berkata “ya” untuk ya dan “tidak” untuk tidak. Bukankah keberanian berkata “ya” untuk ya dan “tidak” untuk tidak, alias ketegasan menyatakan kebenaran itu, bisa menjadi fondasi yang mempersatukan bagi setiap insan beragama? Agama apa pun!

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang Humaniora dan Budaya

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: