Home > L Murbandono Hs > Makna Kematian yang Positif

Makna Kematian yang Positif

Oleh: L Murbandono Hs

Fakta kematian sungguh-sungguh bersifat positif karena itu kita tak perlu bersikap pesimistis

PADA 28 Maret 2011, Mbak Ratna Indraswati Ibrahim, pengarang wanita dari Malang yang amat khas itu, meninggal dunia dalam usia 62 tahun. Catatan kecil ini saya tulis sebagai tanda hormat kepadanya dalam perspektif harapan kepada alam keabadian. Tiap kali mendengar berita kematian dan merenungkannya, saya merasa ”terkuras habis”.  Ya, karena tahu saya juga akan mati sebagaimana semua orang akan meninggal dunia karena 1001 penyebab. Tak ada orang bebas dari kematian. Mengapa kita harus mati? Lalu apa guna hidup kalau kematian adalah keniscayaan? Pertanyaan lugu ini sukar dijawab sekalipun peradaban manusia sudah maju hebat. Di depan kematian, kita menghadapi fakta gelap seolah ‘’semua habis’’, jika pendekatan kita melulu dengan akal rasional.

Karena itu, fakta gelap kematian harus didekati dengan akal lain: akal budi eksistensial rasional. Dengan akal budi ini pada jalurnya yang benar (dalam interrelasi positif-dinamis dengan semua iman keagamaan dan semua ilmu pengetahuan yang tak ada klaim mengingat klaim selalu mengundang klaim lain) maka fakta kematian yang seakan-akan segala setop, menyatu dengan kehidupan bentuk lain sehingga si mati berkembang ke terus, ke tempat-saat kesementaraan menyatu dengan keabadian.

Kehidupan bentuk lain adalah misteri alami tetapi nyata. Ini menjadi fondasi iman agama apapun dan ”iman” segala paham hidup sebagai salah satu keputusan individu paling penting. Berdasar ini, muncul banyak butir keniscayaan untuk memahami kematian kita. Terpenting lima pedoman dasar berikut:

Pertama; kematian kita adalah kristalisasi seluruh akumulasi aktualisasi kita semasa hidup. Seluruh kedwiartian kita, lebur. Seluruh otonomi-korelasi kita, dinamika-kestastisan kita, waktu-ruang, kebebasan-keterikatan, aktualitas-potensialitas, materialitas-spiritualitas, actus primus-secundus kita, dan semua unsur penting kemanusiaan kita menyatu dalam fakta kematian, dan diberi stempel yang definitif dan purna.

Kedua; fondasi kematian kita bukan dari luar (bahkan meski kita dibunuh atau karena kecelakaan), tapi diri kita sendiri, yang proaktif menyelesaikan diri. Makin kita matang-dewasa-tua dan berpengalaman, actus menyelesaikan diri itu akan makin sarat dan bermakna, yang bisa positif atau negatif. Kematian bayi akan lebih enteng sebab akumulasi makna hidupnya lebih tipis.

Bentuk Lain Ketiga; dalam kematian kita, segala yang pernah kita aktualisasi tetap eksis. Bukan cuma secara rohaniah melainkan juga badani. Jika tidak, kita tidak utuh, terbelah, tak mampu menyelesaikan dualisme badan-jiwa. Sebab segala aktualisasi hanya lewat badan kita, yang identik dengan ”volume” kerohanian. Kita tak bisa lepas dari badan  meski mungkin menjadi abu dalam kremasi atau zat-zat apapun dalam tanah. 

Keempat; sejauh perkembangan diri memperkembangkan masyarakat dan dunia sekitar adalah positif, maka kristalisasi kehidupan kita disebut ”surga”, tapi dalam pengertiannya yang dinamis. Jika perkembangan diri kita hampa nilai bagi dan merusak solidaritas dan otonomi-korelasi insani yang otentik maka kristalisasi kehidupan kita adalah ”neraka”.

Kelima; nilai-nilai metafisik tentang kebangkitan badan atau alam baka yang selama berabad-abad digeluti semua agama itu, tetap tak bisa mengabaikan nilai-nilai empiristik. Meski kebangkitan badan fisikal sulit direkonstruksi karena segala yang fisik telah mengalami distorsi dahsyat dalam kematian, eksistensi manusia individual tetap ditentukan oleh kepribadian yang cuma mengaktualisasi diri di dalam badan.

Dengan lima pedoman dasar itu kiranya jelas fakta kematian sungguh-sungguh bersifat positif karena itu tak perlu bersikap pesimistis. Kematian adalah hidup kita dalam bentuk lain. Mengingat hidup kita di bumi fana hanya bagian proyek seluruh eksistensi maka saat kematian adalah terminal menuju keabadian kita. Maka, dengan kepekaan ‘’rasa’’ akal budi, kita harus optimistis menghadapinya.

Di depan kematian, dengan sikap positif kita menjadi berpengharapan sehingga berani menerima misteri kematian itu seorang diri (kematian itu bersifat absolut individual), tanpa protes mengapa harus mati mengingat kita akan sampai ke ruang-waktu tempat-saat kita menjumpai kristalisasi diri dan mengalami kesatuan-persatuan dengan semua korelasi kita termasuk relasi-dialog dengan inti keabadian, Sang Mahacinta, Tuhan, dan lain-lain sejenis itu … Momentum Agung! (10)

L Murbandono Hs

Peminat dan pengamat peradaban, tinggal di Ambarawa, Kabupaten Semarang

Sumber: SUARA MERDEKA, 05 April 2011

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: