Home > L Murbandono Hs > Maksud dan Tahun Baru

Maksud dan Tahun Baru

Oleh: L Murbandono Hs

TAHUN Baru 1 Januari alias pergantian tahun sudah “telanjur diakui” universal, meski ia sejatinya cuma satu dari sekitar 40 model Tahun Baru lain yang eksis di bumi, semisal Tahun Baru Arab, Byzantium, Tiongkok, Jawa, Yahudi, dan seterusnya.

Tahun Baru model 1 Januari tersebut dirayakan di banyak tempat di dunia. Mungkin juga oleh sebagian kita. Mudah-mudahan bukan cuma karena hura-hura atau  ikut-ikutan. Sebab, hakikat-makna-maksud pergantian tahun di tempat asalnya, peradaban Barat purba, sejatinya memuat nilai-nilai edukatif, moral dan cultural yang cukup kaya dan bisa dipetik manfaatnya untuk masa sekarang.

Berbagai studi menunjukkan, secara historis banyak bangsa merayakan tahun baru berdasar hitungan astronomis dan pergantian cuaca. Fondasi perhitungan aneka macam, maka outputnya juga macam-macam. Di Eropa Purba sendiri, terdapat keanekaragaman tersebut. Tahun baru kalender Keltis misalnya, jatuh pada 1 Nopember.

Banyak negara Eropa purba memulai tahun baru dengan 25 Maret, sebagai awal musim semi. Tahun Baru yang berfondasi musim semi ini, agaknya memberi pengaruh dalam dunia pajak. Sampai kini di banyak negara Eropa, awal tahun buku pajak adalah  25 Maret atau di sekitar awal April.

Akan halnya perayaan Tahun Baru model 1 Januari yang amat populer mendunia itu, usianya juga belum terlalu tua. Ia baru mulai belum tiga abad lalu, di Inggris, pada 1752 saat penanggalan Gregorius diterima meluas. Kalender ini pun berupa proses panjang perkembangan berabad-abad. Dimulai dari kalender Dionysius Exiguus (526 SM), dikoreksi Julius Caesar (46 SM), dan setelah digunakan sekitar 16 abad pada gilirannya dikoreksi oleh kalender Paus Gregorius atas saran Clauvius (1582).

Dalam perkembangannya, Tahun Baru juga disangkut-pautkan dengan religi, semisal Natal. Tapi sisa-sisa tradisi Keltis masih berperanan dalam ritus Tahun Baru. Misalnya, 1 Januari dianggap hari khitanan dan 31 Desember dianggap hari Santo Silvester.

Lepas dari gegap gempitanya, yang terpenting, semua perayaan tahun baru itu mengacu pada era simbolisme Eropa baheula yang penuh lambang. Jumlahnya banyak, tapi semua bermuara pada empat hal: (1) mengawali kebaikan, (2) membuang kejahatan, (3) melakukan penyucian, dan (4) dilakukan dengan suka cita dan gegap gempita.

Kebaikan

Gagasan dasar pertama perayaan pergantian tahun ialah mengawali aktifitas demikian rupa hingga segala sesuatu berjalan lancar. Segala yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula. Awal tahun adalah saat terbaik untuk menanam benih-benih yang baik dan bersih ke dalam hati.

Pergantian tahun adalah kesempatan melihat potensi masa depan. Di era purba Eropa, harapan masa depan dikaitkan dengan musim dan cuaca yang baik, kesuburan tanah dan berkembang-biaknya ternak. Semua itu diatur dewa Yanus.

Yanus, berarti pintu, adalah salah satu dewa era Roma kuno yang menguasai bulan Januari. Ia konon punya dua wajah. Wajah yang satu menengok ke kiri dan wajah lainnya menengok ke kanan, melambangkan masalalu dan masadepan.

Lambang kesuburan dan kesejahteraan ialah pohon. Di Inggris misalnya, masih ada kebiasaan orang bangun pagi-pagi buta dan berkerumun mengelingi sebatang pohon, sambil minum-minum dan bernyanyi. Di sejumlah negara Eropa yang lain, untuk maksud dan tujuan yang sama, orang justru ramai-ramai melempari sebatang pohon.

Lambang pergantian tahun yang juga masih sering digunakan di banyak negara Eropa adalah Sang Kakek-Moyang Waktu. Ia berjenggot, terbang, menggendong bayi. Kakek adalah lambang masasilam dan bayi melambangkan masa depan.

Mengusir Kejahatan

Gagasan dasar kedua perayaan tahun baru peradaban Barat purba ialah melewati segala yang gelap dan jahat, untuk menuju ke segala yang terang dan baik. Yang gelap dan jahat ini antara lain berupa dengki, iri, marah, sebal, frustrasi, dendam dan segala rasa negatif yang lain. Kegelapan dan kejahatan ini dianggap sumber sial. Dan asal-usul sumber sial tersebut adalah hantu, setan, iblis dan sejenisnya.

Maka segala yang gelap dan jahat itu harus dilenyapkan. Lambang si gelap-jahat-sial ini beraneka macam. Lambang yang paling umum di banyak Negara Eropa purba ialah domba atau kambing hitam, yang lalu disembelih sebagai persembahan.

Di Skotlandia, wujud kejahatan itu ditimpakan pada anjing dan kucing. Maka pada masalalu, anjing dan kucing tak boleh berada dalam rumah pada saat Tahun Baru. Di Hungaria, sang jahat-sial-gelap dilambangkan dalam boneka. Boneka diarak berkeliling. Tiap orang yang melihat boneka itu, lalu merenungi dosanya. Setelah dibawa berkeliling, boneka itu dibakar. Di banyak negara Eropa masih ada tradisi membakar sisa-sisa hiasan pohon Natal, untuk membuang sial.

Sebab segala yang jahat dan gelap itu berasal dari hantu dan roh-roh jahat, maka harus diusir. Caranya dengan berbuat gaduh dan bising, sehingga hantu dan roh-roh jahat itu kaget dan lari. Itulah sebabnya perayaan tahun baru selalu ditandai dengan hiruk pikuk. Ada mercon, kembang api, musik yang riuh-rendah, atau cuma bengok-bengok.

Di Antwerpen, Belgia, misalnya, awal Tahun Baru ditandai dengan peluit dan sirene-sirene kapal laut. Di Italia, Prancis, Belanda, Jerman dan hampir semua negara Eropa, ciri utama perayaan tahun baru adalah meriah dan gegap gempita. Tujuan utamanya adalah membuat kaget segala jenis roh jahat.

Pembersihan Diri

Gagasan dasar ketiga Tahun Baru, bernuansa religi, adalah pembersihan atau penyucian diri. Maka, di samping pengusiran roh-roh jahat, pembersihan jadi aktifitas penting. Di Skotlandia masih ada kebiasaan melakukan pembersihan rumah secara besar-besaran pada akhir tahun. Rumah diguyur air dan diasapi dengan dahan-dahan pohon jenever yang dibakar. Semua pintu dan jendela ditutup. Padahal, asap memenuhi ruangan. Akibatnya seisi rumah batuk-batuk dan bersin. Ini dimaksudkan mengusir segala penyakit, bakteri dan kejahatan. Selanjutnya  seluruh keluarga minum air kendi yang sudah diberkati dan sisanya masih dipercikkan ke seantero rumah.

Tahun Baru juga tidak sepi dari kegiatan saling memberi hadiah. Ini berasal dari budaya Romawi kuno. Mereka saling memberi hadiah pada 1 Januari, untuk saling membahagiakan. Sebab bahagia maka semua selamat. Kebiasaan ini sampai sekarang masih berlaku nyaris di semua negara Eropa.

Serba-serbi tahun baru ini tak ada habisnya jika diulas. Ia berkembang sesuai tempat dan zamannya. Sekalipun ungkapannya bisa menjadi amat bervariasi, namun maksud dasarnya tak berubah dari empat faktor di atas. Ia selalu melambangkan harapan ke arah yang lebih baik. Harapan ini akan terpenuhi, jika orang ikhlas punya niat baik dan serius membuang segala yang jahat dan gelap. Tapi harapan tersebut tak akan ada, tanpa pintu gerbang – dan itulah awal tahun. Soal terfundamental terkrusial terletak saat melewati pintu gerbang tersebut. Di situ, orang bukan cuma berniat, tapi harus memulai suatu perbuatan baik. Maka sepanjang tahun akan diperoleh hal-hal yang baik pula.

Di Indonesia

Bagi bangsa Indonesia, agaknya tidak terlalu sukar untuk melaksanakan hakikat-makna-maksud Tahun Baru dari bumi asalnya itu secara konsekuen sesuai situasi konkret kita dewasa ini. Di negara kita, “modal” yang menandai 4 karakter Tahun Baru tersebut, bisa ditemukan berlimpah ruah.

Pertama, umumnya kita semua mempunyai niat baik, dan bisa berbuat baik.

Kedua, simbol-simbol kejahatan, mudah dicari. Misalnya kita bisa membuat lambing dewa-dewi KKN, raja penjahat, pentholan maling yang ramah tamah dan 1001 lambang kejahatan lain entah dalam rupa patung, gambar atau apa pun. Lalu dibakar secara beramai-ramai sebagai lambang mengusir semua simbol kesialan dan kejahatan.

Ketiga, untuk membuat kebisingan kita tidak kekurangan modal. Instrumen music kita beraneka ragam, atau cukup bermodal mulut untuk teriak-teriak.

Keempat, tradisi pembersihan diri juga gampang. Kita punya banyak sungai, danau, rawa atau laut. Mungkin bagus jika lambang pembersihan diri itu dengan ramai-ramai nyebur ke kali. Sebab di samping gegap gempita (artinya bisa mengusir roh-roh jahat), juga barangkali amat merakyat.

Bermodal “harta” warisan kita yang semacam itu, menurut situasi dan kondisi masing-masing, tentunya kita bisa membuat acara Tahun Baru yang meriah, yang sekaligus tidak “melanggar” prinsip Tahun Baru yang otentik.

Selamat Tahun Baru!

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: