Home > L Murbandono Hs > Memuliakan Vagina

Memuliakan Vagina

Oleh L Murbandono Hs

Bicara tentang sesuatu yang tentangnya lidah kita diandaikan bakal kelu.” ( Eve Ensler, aktris teater, aktifis feminis, penulis Vagina Monologues)

PADA Jum’at 8 Maret 2002 kita bisa dan boleh menonton serta memuliakan vagina.  Eve Ensler – lewat karyanya Vagina Monologues .- masuk Jakarta dan menawarkan hal itu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM). Dengan karya itu publik diharapkan tergerak memuliakan vagina, sebagai sosok merdeka, bebas dari keterkungkungannya sebagai istilah yang tabu. Sebab, apa yang menakutkan dengan kata “vagina”? Ujar sang penulis, dalam berbagai kesempatan.

Dalam kaitan itu, sebagai bagian kiprah kaum feminis global, sejumlah perempuan aktifis dan aktris semisal Niniek L Karim, Ratna Riantiarno, Rima Melati, Ayu Azhari, Sarah Azhari, Devi Permatasari, Ria Irawan, Nursjahbani Katjasungkana, dll bergotong royong mempresentasikan sang vagina dalam pementasan Vagina Monolog. Disutradarai Jajang C Noer dan tata musik oleh Marusya Nainggolan, pementasan itu untuk menggalang dana bagi program penanggulangan perdagangan perempuan dan anak, sekaligus memperingati Hari Perempuan.

Tapi sebelum menonton sang vagina dalam pementasan itu, jangan lupa, secara artistik sejatinya urusan mengagumi dan memuliakan vagina itu sudah dilakukan ribuan tahun silam. Para pematung, pemahat dan pelukis di sekitar candi Hindu sudah amat lihai dalam urusan memuja misteri di balik vagina yang mulia, menjadi “dewi” adorasi.

Tantra, Feminisme, HAM

Dalam selebrasi puja-puji Tantra, pemeluk melakukan adorasi di depan patung sekuntum bunga indah segitiga, oval terbelah menjadi dua bagian kembar, melambangkan vagina. Itulah Yoni, yang bersebelahan dengan Linga, lambing penis. Yang pertama disembah dan dimuliakan secara lebih “macam-macam” sebab Yoni dianggap lebih perkasa katimbang pasangannya. Sikap pemuliaan ini dimaksudkan bukan untuk melecehkan lelaki, tapi sekedar mengingatkan bahwa lelaki tak akan bisa mencapai pemenuhan spiritual tanpa melewati persekutuan emosional dan spiritual dengan energi spiritual dahsyat perempuan — vagina! Vagina adalah keniscayaan bagi lelaki. Tanpa vagina, lelaki tak pernah penuh, menjadi “minus” dan puyeng secara spiritual!

Jadi agaknya, sejauh cuma menyangkut selebasi dan puja-puji – yang hakikat dan maksudnya di dunia nyata berarti harapan – seluruh diskursus kegelisahan feminisme sudah terselesaikan, bahkan ribuan tahun silam. Tapi kenyataan, bahkan di negara-negara “Barat” yang adalah gudang para feminis, gempuran secara politis terhadap feminisme masih bisa dirasakan begitu telak di sana sini. Itu terselang-seling jadi sedikit santai dalam “sense of humor” ketika soalnya menyangkut seksualitas dan seksisme. Tapi toh ujungnya selalu menimbulkan perpecahan gagasan dan kerumitan menjawab ihwal perkara pemberdayaan perempuan secara menyeluruh.

Di tengah kecamuk semacam itulah Eve Enster muncul secara bertahap di bumi asalnya, AS. Sebagai naskah panggung, Vagina Monologues yang mendapat The Obbie Award Winning Play itu, dipentaskan seolah melalui jalan merangkak, tetapi terus bertahan, sampai akhirnya melangkah tegak. Manggung kali pertama di lingkaran  off-off-Broadway pada 1996, sebagai one man show. Lalu meningkat ke off-Broadway pada tahun 2000. Dan sementara itu, pada 1998 sudah main di sekitar 65 sekolah, pada 1999 lebih 150 sekolah, dan pada 2000 sekitar 300 sekolah. Pada 2001, meraih sukses besar ketika dimainkan 70 pemain di Madison Square Garden, New York, dengan pengunjung 18.000 orang. Karya ini sampai sekarang menjadi tontonan andalan dalam rangka perayaan tahunan Valentine Day.

Banyak kota telah mementaskannya. Dan Jakarta, menjadi kota ke-252. Artinya, tontonan itu sukses. Bukan cuma dibicarakan, tapi ditanggapi secara nyata oleh masyarakat, yang singkatnya adalah: menjadi diskursus cukup “serius” di Negara yang acapkali mengklaim diri sebagai pengawal HAM itu.

HAM dan Vagina

Melihat judul, orang boleh saja mengira sebagai sebuah tontonan aksi-aksian  cari perkara cuma bermain-main dengan istilah. Tapi yang jelas, fondasi Vagina Monologue yang dilahirkan dari kalbu Eve Elsner, perempuan aktris, aktifis dan praktisi feminis, pada awalnya berangkat dari soal HAM. Ia menulisnya semasa Perang Bosnia berkecamuk, berkisah tentang para pengungsi Bosnia, utamanya para perempuannya. Itu diawali setelah Eve Elsner melihat sebuah foto sampul majalah Newsday, yang memotret enam gadis yang dibebaskan dari kamp-kamp pemerkosaan pengungsi Bosnia. Ia tergetar! Pada 1993, bagaimana mungkin terdapat kamp-kamp yang sebiadab itu?

Itulah tonggak yang mendorongnya untuk melanglang jagat, menelusuri dan meriset segala hal yang ada sangkut pautnya dengan peristiwa tersebut. Ia konsentrasikan pada hal ke-perempuan-an, yang ujungnya bermuara ke — vagina! Maka ia ke mana-mana. Dari Los Angeles ke Rio de Jainero, Moskwa, Afghanistan, Turki, Paris, Kepulauan Bahama, Nigeria, Afrika Selatan, India, Muangthai, Tokio, dan tentu saja dengan sejumlah perempuan AS sendiri. Tidak kurang dari 200 perempuan ia wawancarai secara intensif. Ia bertanya mengenai bagian-bagian raga mereka.

Mengapa mereka berkerudung? Apakah pakai jilbab itu tidak sumuk dan tersiksa? Bagaimana perasaan mereka harus menyembunyikan tubuh sendiri agar selaras dengan budaya tempat mereka hidup? Lalu ujungnya, bagaimana kira-kira kata vagina mereka mengalami itu semua? Berdasar pada wawancara itulah Eve Ensler menyusun drama berisi monolog-monolog. Siapa bermonolog? Perempuan-perempuan itu? Bukan! Tetapi vagina-vagina mereka.

Sebab berasal dari lebih 200 perempuan dari berbagai latar belakang dan tempat, tentu saja monolog-monolog vagina itu menjadi amat kaya. Dalam wawancara, Enster menemukan betapa antusias tiap orang yang ditemuinya menceritakan penghayatan dan pergaulannya dengan vaginanya sendiri. Mereka begitu dahaga, menurut versi masing-masing, berkisah tentang vaginanya. Ternyata vagina, bagi sang pemilik sendiri, begitu mulai dideskripsikan, menjadi cerita yang seolah tak bisa tamat.

Terpenting, begitu los dalam hal vaginanya sendiri, perempuan jadi menemukan pencerahan — “lho, vagina saya ini betul-betul eksis, ada, aktif, bisa macam-macam dan sekaligus bisa dimacam-macami, dan — suci!”. Dengan pencerahan itu, menurut Ensler, para subyek wawancara lalu merasa mengalami pembebasan.

Pesan dan “Kecerdasan” Linguistik

Lewat monolog-monolog itu, sandiwara Ensler lalu diwarnai segala perkara menyangkut vagina, baik karena faktor dalam mau pun faktor-faktor luar. Maka, manakala sang vagina bernyanyi, merintih, atau bengok-bengok, kita akan dibawa dalam suasana hati yang riang, suksma yang gelisah, gangguan pada perut menyentak, 1001 suasana kalbu perempuan yang mengalir, menelusuri rambut, aroma, masturbasi, seks, orgasmus, onani, main rahasia, datang bulan, kelahiran, pemerkosaan, pelecehan suami, dll. Lalu pada ujungnya, sang vagina juga bertanya, apakah vagina itu? Apa busananya jika harus berbusana? Apa yang akan ucapkan jka mereka berbicara? Dan seterusnya. Yang singkatnya adalah pengakuan bahwa vagina itu eksis. Vagina adalah tali-temali dan pertemuan dari segala persoalan tersebut. Sebagai contoh, silakan simak monolog berikut.

“Vaginaku menyanyikan semua nyayian gadis kecil, semua bunyi lonceng, semua nyanyian padang liar di musim gugur, nyanyian vagina, nyanyian rumah vagina.

Tidak sejak tentara meletakkan bedilnya yang panjang dan keras, masuk kedalamku — “

Terpenting dari tontonan itu tentu saja pesannya. Sebab tidak sedikit yang mengira bahwa drama itu anti-lelaki. Padahal menurut sang penulis Vagina Monologues sekedar imbauan kepada lelaki dan perempuan untuk sama-sama bertanggungjawab atas begitu banyaknya pelecehan dan eradication terhadap perempuan di seluruh jagat, yang terjadi saat ini dalam bentuk pemer aneka 1001 bentuk pembakaran, pembunuhan, penyiksaan, penyekapan, diperjual belikan di tiap negara di dunia ini seperti sudah di luar kontrol. Jika imbauan semacam ini, dan akhirnya menuntut sesuatu untuk tebusannya, lalu disebut anti lelaki apakah lalu boleh bisa disebut sebagai anti lelaki? Yang pasti, sutradara dan produser Vagina Monologue di off-Broadway adalah lelaki.

Alhasil, lepas dari entah apalah pesan tontonan tersebut, bagi publik Indonesia, drama karya Eve Ensler itu agaknya akan membawa dampak budaya yang lebih menggebrak dan lebih total optimal apabila Vagina Monolog itu diterjemahkan ke dalam kata Indonesia yang betul-betul asli. Atau minimal ke dalam bahasa ibu kita masing-masing. Silakan, dirasakan.

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang Humaniora dan Budaya

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: