Home > L Murbandono Hs > Merdeka Air Telaga

Merdeka Air Telaga

Oleh: L Murbandono Hs

Rakyat Indonesia adalah mayoritas kita yang bersyukur, hormat dan membela 17 Agustus 1945 Hari Proklamasi. Siapa yang tidak? Sekalipun mungkin bingung. Lalu sebagian kami, yang jauh dari tanah air, merindukannya.

Termangu di telaga Loosdrecht. Memandangi gelisah aroma dunia industri. Bermuara di air. Hanya air. Apa bergerak di situ? Roh siapa di situ? Mengapa hanya air? Mengapa lepas bebas mengalir? Air Telaga Loosdrecht tanah asing dan air rawa-rawa di tanah air, katakan, apa perbedaan kalian?

Di sini, hidup di negeri mantan penjajah, rasanya tak ada ihwal luar biasa antara kita dan mereka. Apabila mereka begini dan begitu, kami pun bisa begini dan begitu semau kepentingan RI kami. Di KBRI Den Haag Sang Dwiwarna bebas berkibar, dikawal polisi-polisi sini saat kita punya hajat akbar. Berkat kemerdekaan bukan? Perlukah dipersoalkan?

Itulah pertanyaan di telaga Loosdrecht, saat dinamika airnya membuat rasa kangen kepada rawa-rawa Nusantara semisal Rawapening, seolah mengalir bagai air. Di sini hakikat merdeka seolah selesai, hening dan bening. Tentu, harus diakui memang rasa syukur itu campur baur dengan kebingungan mayoritas kita tentang hakikat makna dan maksud kemerdekaan sendiri. Nanar merenungi sejarah Nusantara, plus dan minusnya. Yang tidak semudah bakal menjadi apa atau siapa. Akan bisa berarti apa saja, paling kurang di langit. Sebab kemerdekaan rakyat adalah kerelaan memahami anak-anak zamannya. Yang nakal. Yang kebetulan kita jumpai dalam kesepian ziarah, di rak-rak buku, diskusi, dan ketemu macam-macam orang.

Sebagian kami, yang kebetulan terdampar di sini bersama empat musim, sekian mendung surya merenungi katulistiwa dogma tropis. Menyaksikan cerai-berai orang terbuang, bagian Indonesia Merdeka juga. Yang tersingkir karena tragedy hilangnya kepercayaan kita semua. Kepada Cinta. Saudara kembar Kemerdekaan

Kemerdekaan adalah puisi berjuta kata. Jadi sejarah. Filsafat. Ia melewati era dewa. Nabi-nabi. Ilmu dan sulap. Agama. Kasèt. Ia hadir di segala cuaca budaya bawah langit, termasuk tentara. Dan tetap tidak mengubah makna kemerdekaan itu sendiri. Itulah sebabnya Indonesia Merdeka menjadi konsep akbar. Ia menyangkut belasan ribu pulau, menjalari akar-akar. Melibatkan kepentingan sekitar duaratus duapuluh juta nyawa.

Karena itu, sini bisa jadi waktu dan ruang yang lain bagi sana. Ia, kemerdekaan itu, bukan sekedar soal keresahan menyangga beban kepentingan. Ia adalah kita yang masih lalu-lalang mencari tempat berpegang. Semua boleh dipersoalkan. Dengan cinta. Dan, jangan menakut-nakuti kemerdekaan itu sendiri!

Kemerdekaan berarti rakyat berhak mengatur. Agar semua kepentingan lancer berjalan jujur. Semua itu kau rasakan di telaga Loosdrecht. Saat kangen kepada rawa-rawa Nusantara, seperti menggebu tak tertahankan. Bukti cinta kepada Indonesia Merdeka? Jawabnya mengapung di air.

Hilversum, Agustus 2002

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: