Home > L Murbandono Hs > MISTERI JAGAT BURSA

MISTERI JAGAT BURSA

Oleh: L Murbandono Hs

JIKA di New York 5 dolar-AS berarti sepiring nasi goreng, mengapa 5 dolar-AS yang sama bisa menjadi belasan piring nasi goreng di banyak kota di Indonesia? Itulah salah satu kajian keadilan ekonomi humanistic yang tidak pernah ditelanjangi untuk umum. Sampai kiamat hal itu mungkin akan selalu disembunyikan, sebab merupakan misteri di sorgaloka bank dan bursa. Tanpa misteri semacam itu, dunia tidak akan pernah melahirkan konglomerat atau kaum saudagar – yang sejati, palsu, mau pun yang karbitan. Berkibarnya info versi IMF di Betawi Modern bahwa ekonomi makro Indonesia “bakal oke”, haruslah dipahami dalam konteks bagian misteri dari sorgaloka yang semacam itu.

Misteri tersebut – mungkin suci sebab dari sorgaloka – nggak bisa diapa-apain, sebab ekonomi makro selalu meniscayakan tiga kerumitan dasar. Pertama, sarat terminologi teknis yang cuma mengasyikkan “orang dalam”. Kedua, alur logika (tesis-antitesis-sintesis) sebagai penarik garis merah dan dasar legitimasi suatu konsep, tidak jelas. Ketiga, terdapat sejumlah tesis/premis dalam wacana ekonomi makro – apalagi jagat bursa dan bank – yang masih bermasalah, dengan konsekuensi, bangunan logika di dalamya amat meragukan.

Dengan fondasi sikap pikir semacam itu, sejatinya info “ekonomi makro RI bakal oke” itu juga sulit dibicarakan. Objek kajiannya “eksklusif” dan membutuhkan penguasaan jargon-jargon “kudus” sorgaloka pasar bursa. Memang, ia bisa inspiratif. Tapi juga bisa cuma terhenti jadi story yang ruwet bagi publik akibat 1001 terminologinya yang ekslusif. Ia bisa ditangkap keliru dan tak difahami publik. Dan di lingkungan para snob bisa menjadi ajang onani demi snobisme itu sendiri. Masih untung jika cuma begituan, sebab siapa tahu juga bisa jadi tempat rendevouz para penipu. Sialnya, sukar digugat! Sebab objek kajian melibatkan fenomena yang lagi mode secara politis, sekalipun secara humanistik, atau minimal sosiologis, amat kabur substansinya.

Apapun soalnya, upaya para malaekat dan dewa-dewi sorgaloka bank dan bursa untuk memasyarakatkan (jika sikap publik positif pro-aktif), atau memprogandakan (jika sikap publik sinis dan apriori menolak) latar-belakang dan penyebab ramalan “ekonomi makro Indonesia bakal oke” tetap enak untuk dimacam-macami, sekedar dengan fondasi akal sehat manusia yang biasa-biasa saja.

Garis Merah

Sejauh yang bisa saya fahami dengan akal rakyat biasa, garis merah “teori” ekonomi makro RI bakal oke tersebut – menurut Kepala Perwakilan IMF di Jakarta, David Nellor – menyangkut antara lain enam hal berikut, (1) Perekonomian Indonesia mulai membaik dilihat dari indikator makro ekonomi, seperti menguatnya nilai tukar, penurunan inflasi dan tingkat suku bunga yang cenderung turun, (2) IMF menilai proses divestasi BCA dilaksanakan dengan baik sehingga menambah sinyal positif, (3) Banyak kabar gembira sejak misi terakhir IMF, ini merupakan sinyal positif dari ekonomi yang berkelanjutan, (4) Review keenam Letter of Intent (LoI) yang akan datang, tidak akan ada perubahan medasar, sebab tidak akan ada masalah penting yang membutuhkan perubahan mendasar, (5) Dalam kaitan review tersebut, Indonesia hanya perlu meninjau kembali apa yang sudah diputuskan, (6) Sejauh menyangkut IMF, ekonomi Indonesia cukup bagus, dilihat dari inflasi yang makin rendah disbanding bulan-bulan sebelumnya.

Enam hal tersebut, “terjemahan” bahasa rakyatnya berbunyi, “Enam butir deal ekonomi artifisial yang ujungnya sekedar mengiiyakan sejumlah petuah”. Artinya, ramalan “ekonomi Indonesia bakal oke” itu, lebih bertumpu pada jalin-menjalin 6 wacana “ekonomik”. Dalam tanda petik sebab ia cuma bagian kecil kiprah ekonomi ialah berputar-putar di sekitar wacana artifisial di kuil-kuil bursa yang misterius. Ini menjadi lebih misterius, saat mekanisme di sorgaloka bank dan bursa itu, dikaitkan dengan soal utang piutang. Itulah sebabnya, disebut ekonomi artifisial. Ekonomi yang dibikin-bikin. Ekonomi sabun. Ekonomi – yang siapa tahu – kibul-kibulan belaka. Dan itulah yang sampai detik ini, disebut-sebut secara gagah tapi salah kaprah: ekonomi makro!

Jika ekonomi makro itu memang serius mau menjadi ekonomi yang bukan ekonomi sabun, alias ekonomi sejati, maka apa pun kiprahnya, harus menghasilkan optimalisasi akibat baik bagi publik luas, bukan cuma untuk segelintir manusia. Apalagi, kiprah ekonomi bukan cuma ekonomi makro (apalagi cuma game-nya), sebab yang makro tersebut tercipta dari akumulasi ekonomik berupa komoditas/harta/produksi para pelaku ekonomi ialah kaum Saudagar, Saudagar Semu dan atau Saudagar Karbitan (S-SS-SK).

Hakikat-martabat kaum S-SS-SK cuma pekerja. Majikan yang sebenarnya adalah khalayak luas sebagai pemilik potensi 1001 sumber alam dan SDM di sebuah masyarakat / daerah / negara / kawasan tertentu. Tanpa khalayak luas alias rakyat, S-SS-SK tak punya apa-apa. Jadi, wajar jika mereka lalu berterimakasih kepada sang pemilik, misalnya dengan tak menelantarkan mereka. (Dalam hal kita adalah potensi belasan ribu pulau, lautan luas dan segala yang ada di dalamnya, milik sekitar 210 juta warga RI. Ia sumber segalanya, antara lain bisa jadi modal-borg sehingga “PT RI” dipercaya memperoleh pinjaman yang berlimpah. Jadi, tanpa itu di RI tak akan pernah eksis kiprah konglomerat dan konglomerasi dengan 1001 dampak ikutannya berupa bank, pasar bursa bersama segala macam terminologinya, dan pergaulannya dengan berbagai lembaga keuangan semisal IMF itu.)

Kenyataan, nggak pentinglah bagaimana IMF dan “sekutunya”serta para pengurus ekonomi di Indonesia pada itung-itungan di masa lalu, rakyat biasa yang jumlahnya banyak tetap hidup susah dan makin susah, sementara rakyat “luar biasa” yang jumlahnya segelintir – nah itulah kaum S-SS-SK tersebut – jatuhnya ya masih kepenak. Keadaan semacam ini, kita sebut krisis. Krisis ekonomi, kata orang-orang yang pada bengok-bengok di koran-koran. Padahal bukan! Bukan krisis ekonomi, melainkan krisis kaum S-SS-SK.

Krisis Indonesia dewasa ini adalah semata-mata urusan S-SS-SK (plus sirkuit kekuasaan yang memungkinkan kelahiran mereka), bukan urusan khalayak luas. Jadi, S-SS-SK inilah yang harus menanggung seluruh pahit racunnya, akibat kiprah mereka sendiri. Banyak yang bisa mereka lakukan. Misalnya: melego segala yang mereka miliki untuk mengurangi jumlah hutang luar negeri. Merepatriasi segala harta karun yang terdampar di luar negeri dan atau entah di mana. Bersatupadu menuntut penundaaan pembayaran. Menuntut penurunan dan atau pembebasan suku bunga. Dll. Dan jika mau “habis-habisan” ya ngemplang saja sekalian. Pendeknya, apa saja, asal (!) ujung game tersebut akhirnya tidak mengajak khalayak luas menanggung akibat buruk game yang tidak pernah mereka ikuti tersebut. (Banyak analisa ekonomi normatif di media non-RI dan atau yang tidak beredar luas di media RI menyebut-nyebut RI pasti mampu memberesi sebagian besar krisis JIKA para S-SS-SK berlaku ksatria.)

Ketidak-ksatriaan itulah sebetulnya sumber krisis ekonomi RI sebenarnya, yang akhirnya menyeret-nyeret publik luas menanggung akibat buruknya. Ini tidak adil. Krisis ini adalah dampak dan bagian game ekonomi global tempat/saat khalayak luas relatif tak diajak ikut bermain hingga tak bisa bersenang-senang dan atau cuma kecipratan tetes madu yang samasekali tak berarti prosentasenya. (Dalam konteks ini bisa dipahami jika diskursus “segelintir makan banyak” itu sudah lebih seperempat abad ini jadi amat populer di dunia).

Jadi, dengan kiprah itu pula mereka di masa lalu telah menikmati manis madunya. Mereka dulu pokoknya pernah pesta pora. Siapa yang berpesta? S-SS-SK! Bukan khalayak luas! Nah, sejatinya, cuma itulah inti cerita versi IMF mengenai “ekonomi makro RI yang bakal oke” itu. Cuma itulah yang bisa saya tangkap dalam 1001 jenis uraian para malaekat dan dewa-dewi yang bertahta di sorgaloka bursa dan bank. Yang lain-lainnya, babar blas tidak bisa saya tangkap. (Barangkali arwah Robert Marjolin masgul melihat kebodohan saya berusaha memahami jalan pikiran para penghuni sorgaloka tersebut. Siapa tahu kemasgulan alam baka itu, entah bagaimana caranya, lalu terkirim ke alam fana dan memberi inspirasi para tokoh ekonomi bidang bank/uang/bursa seperti Raymond Barre, Lord Roll of Ipsden, Toyoo Gyohten, John Flemming, Rudiger Dornbusch, Bruce MacLaury, Kevin Pakenham, Richard O’Brien dll, hingga mereka bergotong-royong membawa oncor untuk menerangi kegelapan yang kini begitu pekat rasanya di bumi yang bernama Indonesia.

Lepas dari ketidak-mudheng-an saya dan entah apa pun “rasionalisasi” lewat jargon-jargon “misterius” yang ada di dalamnya, saya tetap berharap moga-moga ramalan “ekonomi makro RI bakal oke” itu memang menyajikan pesan kebenaran.

Sekadar Bertanya

Jangan salah mengerti. Harapan saya tersebut serius. Bukan sarkastis dan atau apalagi lupasan emosi orang frustrasi. Hingga misalnya bermasa-bodoh lalu menganggap beres substansi yang masih bermasalah. Apalagi, wacana “ekonomi makro RI bakal oke” itu sudah telanjur jadi milik publik, sebab sudah tersebar di pers media. Maka, sebagai komunikan, tentunya berhak menanyakan hal-hal yang tidak jelas dalam wacana tersebut. Peradaban komunikasi akan membukakan pintunya lebar-lebar bagi sikap-tanya macam ini bukan?

Jika sikap-tanya itu dianggap positif, maka dalam kaitan dengan wacana “ekonomi makro RI bakal oke”, kita bisa dengan tenang bertanya. Begini: bapak-bapak dan ibu-ibu, krisis kami dalam hal ekonomi ini, bukan sekadar soal ekonomi dogmatik dan atau apalagi cuma perhitungan kering pasar bursa yang norma-norma dan genesisnya masih perlu dikaji keabsahannya. (Debat tentangnya, sampai detik ini belum tuntas.)

Apalagi, keabsahan tahta Dollar sebagai alat pembayaran sah itu pun sampai kini masih dipersoalkan, bahkan di di AS sendiri. (Jangan lupa, ihwal perkara utang piutang RI dengan semua pengutang itu terkait langsung dengan dolar.) Silakan simak misalnya kajian Edwin Vieira, Jr. Dalam papernya yang berjudul What is a “Dollar” – An Historical Analysis of the Fundamental Question in Monetary Policy, 1994, terbitan National Alliance for Constitutional Money, Inc, ia antara lain menyimpulkan bahwa: “In the light of this history, the present monetary provisions of the US Code demonstrate that official Washington DC has no conception of what a “dollar” really is. The reason for this self-imposed ignorance is obvious. By reducing the “dollar” to a political abstraction, the national government has empowered itself to engage in limitless debasement (depreciation in purchasing power) of the currency. (Versi http://www.fame. org/research/library/ev-002.htm, halaman 17).

Uraian di atas menjelaskan maksud kerumitan “ekonomi makro RI bakal oke” tersebut. Ia mempersoalkan keabsahan prakonsep sebagai fondasi yang melegitimasi logika sebuah konsep. Sebab, justru itulah yang tak dipenuhi Kaum Saudagar dan apalagi kaum S-SS-SK.

Jadi, ramalan “ekonomi makro RI bakal oke” baru berharga jika ia mampu membuktikan tahta Dollar dan seabrek-abrek dampak ikutannya (sebab lalu menciptakan aneka games artifisial sirkuit bank-pasar-bursa dengan 1001 nama-jabatan-fungsi seperti index Dow Jones, deflasi, kondisi bullish-bearish, parameter ekspor-impor dll) memang sah. Dengan bahasa rakyat bisa dikatakan: Mengapa kita harus percaya dan lalu tunduk pada segala acuan yang akarnya masih bermasalah ….

Nah dalam kerangka itulah, mengapa di awal tulisan, saya buka wacana ini dengan, “Jika di New York 5 dolar-AS berarti sepiring nasi goreng, mengapa …”

L Murbandono Hs

Produser/jurnalis senior bidang humaniora

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: