Home > L Murbandono Hs > Multimedia Bagi Rakyat

Multimedia Bagi Rakyat

Oleh L Murbandono Hs

JUDUL di atas sebetulnya nekat. sebab mengandaikan banyak soal sudah beres. Padahal belum. Sebab di negara kita, menyebut multimedia artinya bicara tentang dua kubu sosial.

Kubu pertama adalah khalayak umum yang terpencil dari akses multimedia. Ini kubu mayoritas, populasinya seabrek, yang jumlah kasarnya paling kurang 210 juta minus jumlah komputer yang ada di Indonesia kali empat (dengan asumsi tiap komputer dipakai 4 orang).

Kubu kedua ialah khalayak khusus bernasib mujur yang berkesempatan bisa kiprah dalam multimedia. Ini kubu minoritas, jumlahnya pasti masih sedikit, yang kasarnya maksimal sekitar 5 kali jumlah komputer/PC yang terdapat di Indonesia, sudah terhitung komputer-komputer yang beroperasi di kios-kios dan warung-warung internet.

Kemutlakan Komputer

Mengapa komputer segera disebut di tempat pertama? Sebab ia pintu gerbang multimedia. Tanpa dia, kita tak bisa bicara multimedia. Hakikat multimedia adalah media massa berdasar komputer. Itulah karakter khas dan muatan filosofis multimedia di hadapan semua model media massa yang lain. Terpenting, mestinya, ia lebih berbau sekolah katimbang mall atau pasar.

Maka, multimedia sebagai media-plus tak disebut media tapi imedia. Huruf “i” berarti intellegent, interaktif, integratif, independen. Secara filosofis, multimedia adalah medium berdasar komputer yang lebih mengedepankan eksplorasi berkarakter riset katimbang performance teknologi demi bisnis.

Terpenting: multimedia sebagai perangkat dan kajian riset dalam waktu yang sama, memuat berjuta-juta validitas gagasan yang akan member dampak bagi teknologi masa depan. Ia adalah penegasan bahwa computer bukan sekadar piranti tapi “suksma” media. Dan sekalipun otonom, komputer tetap tidak menyimpang dari metafor-metafor media yang lebih tua.

Sebutan multimedia sebagai media baru, integratif, media interaktif dsbnya adalah menunjuk daya jangkau yang seolah tanpa batas. Interaktif menunjuk bahwa dia menawarkan aneka pilihan dan skenario. Begitu program terbuka, sang pemakai akan ditawari jutaan akses, yang bukan hanya dalam info, melainkan juga dalam bentuk.

Integratif, sebab multimedia memungkinkan kita menikmati dan atau menggunakan grafik, musik, sound-effects, suara, video atau animasi, juga aneka varian kombinasinya, pada program atau presentasi yang sama. Ibarat bangunan, keserbanekaan media adalah batu-batu yang berserakan. Batu-batu itu baru jadi bangunan, manakala sang pemakai mampu menatanya. Penataan itu, dalam multimedia, adalah reaksi spontan sang pemakai dalam menggarap info dan atau simbol dan atau gambar-gambar yang muncul dalam komputer.

Sebagai ilustrasi, versi elektronis cut-paste, replace, edit dan graphics misalnya, membuat perangkat multimedia mampu menyediakan stimulasi dan sumber-sumber untuk berpikir kritis dan kemampuan memecahkan masalah.

Mau Tak Mau

Berada dalam sikon obyektif macam apapun, tiap negara di dunia tanpa kecuali akan terpuruk dalam era Masyarakat Informasi. Tak satu negarapun bisa lepas dari “takdir” teknologi macam itu. Maka, jika negara kita tak sudi dipecundangi, dalam arti cuma jadi obyek kajian-riset-pengamatan, RI mau tak mau harus jadi “periset”. Artinya, kita harus menunggangi multimedia tersebut. Ini dimungkinkan, jika kita punya skenario yang tepat untuk mengantisipasi era informasi masa depan.

Rekayasa makro ke arah itu di negara kita sudah dan pernah digarap oleh sirkuit yang berwenang. Itu pada gilirannya telah melahirkan deret panjang istilah hightech yang bagus-bagus, menyangkut 1001 faktor.

Dalam jaringan misalnya, sejauh saya ingat, kita pernah punya konsep Nusantara-21 (N-21) yang intinya adalah integrasi 5 sistem teknologi komunikasi (satelit, kabel serat optik, TV kabel, seluler dan system penyiaran). Konsep N-21 ini menata RI menjadi 6 Ring (Ring Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Nusatenggara plus Timtim, dan Ring Kepulauan). Ring-ring itu berfungsi sebagai network of networks, saling berhubungan (konon pada 1999 beres), yang akhirnya membuat RI kita secara keseluruhan menyatu dalam jaringan global.

Itu cuma satu dari sekian upaya. Upaya realisasi N-21 itu “murah” – konon sekitar 14 miliar dolar-AS tiap tahun, perhitungan sekitar tiga tahun lalu (sekitar akumulasi gaji 1000 guru SD selama 4000 tahun). Yah, itulah harga kemajuan. Mau mundur?

Lagipula, banyak alasan mengapa kita mau tak mau harus terjun dalam multimedia. Jika penggunaannya tepat, manfaat multimedia seperti tanpa batas. Di bawah ini, sebagian dari belantara manfaatnya.

Manfaat paling depan di antaranya adalah mempercepat proses belajar. Sekalipun pada awalnya mahal, tapi jika fondasinya sudah tertata, operasinya akan murah. Program tak pernah minta tambahan biaya. Makin banyak penggunaan, makin murah jika dihitung tiap penggunaan.

Multimedia juga konsisten sebab logis, pasti, tepat. Ia menjaga privacy, sebab kita bisa mencari info dan bertanya apa saja tanpa bisa dilecehkan. Ia aman, kita bisa “mengalami” njebluknya nuklir atau kecelakaan pesawat, toh tetap selamat. Personal, sebab ia tak pernah lelah memotivasi lewat feedback yang positif setiap saat. Terpenting: multimedia mempercepat pencarian informasi. Juga, fun – sebab dalam menambah wawasan lewat komputer itu kita seperti main-main saja. Jadi, asyik dan hebat bukan?

Bagi Khalayak Umum

Memang, multimedia asyik dan hebat. Tapi itu bagi khalayak khusus. Sebab bagi khalayak umum RI, multimedia masih ibarat dongeng. Bahkan computer saja, masih dianggap benda asing bagi banyak orang di pinggir hutan, desa dan atau di kampung-kampung negara kita. Mungkin masih banyak yang belum pernah menyentuhnya. Jarak antara khalayak umum dengan komputer, masih seluas langit.

Padahal, komputer adalah fondasi tempat berdiri rumah multimedia. Ia ibarat sampan (bagi pemula) dan kapal induk (bagi yang sudah mahir) untuk mengarungi lautan multimedia. Jadi terbatas pada komputer saja, jika negara berniat semua rakyatnya melek media sebagai bagian hak kesejahteraannya, ia sudah harus berhadapan dengan, paling sedikit, tiga perkara.

Pertama, sebab komputer itu mutlak maka ia harus tersedia jika Negara berniat rakyatnya melek multimedia. Yang ideal bagi Indonesia adalah jika saat ini sudah tersedia paling kurang 50 juta komputer dan atau PC. Artinya, tiap keluarga punya 1 komputer. Mungkinkah?

Kedua, teknologi komputer terus berkembang baik dalam perangkat lunak dan keras. Tiap 3-5 tahun sekali, 50 juta komputer itu harus direvisi, dipermodern dan atau samasekali diganti. Mungkinkah?

 Ketiga, selama “main” komputer, kerewelannya yang serius atau ringan,akan selalu dijumpai. Kita butuh “dokter” untuk urusan perangkat lunaknya dan “montir” serta toko untuk perangkat kerasnya. Mungkinkah itu tersedia? Seberapa jauh? Di tingkat desa, kecamatan atau cuma di tingkat kabupaten?

Tiga soal di atas, sebenarnya soal sepele sebab “cuma” mengacu perangkat keras yang dampaknya “cuma” ekonomi. Jika kita semua kaya, tiga soal di atas gugur. Kenyataan, komputer itu masih jadi kebutuhan nomor kesekian. Jika kita serius mengajak rakyat berkiprah dalam multimedia, tiga soal di atas mutlak harus digarap tuntas pihak-pihak terkait. Entah bagaimana caranya!

Tanpa penyediaan komputer (dengan konsekuensi ikutannya semacam penyebaran listrik, jaringan dsbnya) di tiap keluarga, sebenarnya mubazir bicara tentang multimedia bagi rakyat. Rasanya tak etis, bisa melukai perasaan umum, ibarat orang nyinyir belaka. Sebab sikon obyektif sekarang, diskursus multimedia artinya pelayanan bagi khalayak khusus bernasib mujur yang punya komputer/PC.

Padahal, kenyinyiran tersebut baru sebatas ihwal-perkara “fisik” belaka. Sebab ada masalah lebih penting ialah kesiapan mental masyarakat menyikapi karakter multimedia sendiri. Tentang ini sudah pernah kami tulis dalam berbagai kesempatan. Jadi, tidak perlu diulang.

Satu hal sudah pasti: multimedia itu cuma berdayaguna jika disikapi dengan etos keilmuan. Etos ini tak kenal usia dan latar belakang. Hakikatnya cuma hasrat mengetahui secara bertanggungjawab. Maka, anak umur TK sampai usia lansia, tidak bebas dari etos keilmuan tersebut.

Akhirnya jelas bahwa diskursus multimedia bagi rakyat pada ujungnya adalah ihwal-perkara pendidikan. Ialah soal tentang bagaimana agar kiprah pendidikan membuahkan etos keilmuan bagi khalayak seluas-luasnya.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: