Home > L Murbandono Hs > Negara Mobrotmobrot

Negara Mobrotmobrot

Oleh L Murbandono Hs

Dongeng mengenai Negara selalu menarik. Setiap aku bangun tidur, Derkuku sahabatku selalu menyanyikan dongeng itu untukku. Dongeng itu membuat aku tenang, menjadi modal untuk hidup, dan mungkin juga bisa menjadi perskot visa memasuki jagat kematian. Berikut ini, dongeng Derkuku tersebut.

Manakala banyak manusia sudah kawin dan atau kumpul kebo dengan 1001 jenis makhluk yang tak jelas wujudnya mungkin bekicot atau babi atau kalajengking, maka dongeng mengenai Negara bisa dimulai. Itulah yang kini terjadi di Negara. Amat berbeda dibandingkan dahulu.

Dahulu, sewaktu Negara memproklamasikan kemerdekaan, penduduk antusias mencintai Negara. Penduduk bersukacita menggotong-gotong sebongkah makhluk yang bernama Royong – Gotong Royong! Situasi sospolekbudhankam Negara lumayan wajar sebagai sebuah negara bangsa manusia. Sistem yang diperlakukan di Negara masih di jalur pemerintahan bangsa manusia.

Waktu berjalan. Tahun-tahun menguap. Lama-lama penduduk menjadi macam-macam. Mereka sikut-sikutan. Kian lama kian parah. Semakin dahsyat. Semua berantakan. Apa saja, asal hidup, menjadi dahsyat. Maka makan dan minum gontok-gontokan, sampai meja kursi berantakan. Pidato dan seminar sudah elus-elusan sedemikian erotis, sampai bunting semua yang terlibat. Konperensi dan pabrik-pabrik berpelukan mesra, melahirkan menteri-menteri, jendral dan presiden. Undang-undang dikupas dan disahkan, lalu memproduksi sungai mati, hutan terbakar, dan segala rupa rasa kunyuk.

Dalam pada itu, Ondhel-ondhel bermahkota emas sudah mulai memamerkan pantatnya di depan umum. Rakyat terkekeh-kekeh. Kelihatan gigi-gigi mereka. Besar-besar. Putih bersih bercahaya. Mereka tetap disiplin sikat gigi tiga sampai lima kali sehari, sebab harus selalu bersiaga untuk tertawa. Di Negara, kejadian yang lucu-lucu terjadi setiap hari.

Ternyata terlalu banyak tertawa itu dahsyat akibatnya. Banyak orang menjadi kembung perutnya. Lalu, tak penting bagaimana proses psikisnya, ternyata juga membawa dampak negatif dalam sel-sel otak. Kian lama kian parah, dalam arti berdenyut-denyut, menjadikan banyak orang leha-leha dalam hidupnya, tidak mempedulikan letak otaknya. Di Negara, tidak semua otak manusia otomatis terletak di kepala. Mau dikantongi atau disimpan di brankas, terserah saja kepada sang pemilik otak.

Ketika ketidakjelasan letak otak sudah menjadi mode di seluruh pelosok kehidupan, saat itulah bermunculan para penguasa baru di Negara. Namanya penguasa, mereka lalu berkuasa sebaik-baiknya. Mereka menjalankan kekuasaan dengan jitu, sehingga wajah-wajah mereka makin bersinar-sinar, lebih terang dari cahaya lampu petromaks. Negara kian lama kian maju di dalam perubahannya. Berubah di dalam martabat. Negara yang semula berada dalam sistem kekuasaan bangsa manusia itu, lalu berubah menjadi negara pemerintahan bangsa mobrotmobrot. Mobrotmobrot adalah makhluk yang sulit diterangkan zat-zatnya, setengah matang campuran antara manusia, 1001 model kunyuk, dan segala jenis vampir.

Dalam kekuasaan kaum mobrotmobrot itu logis belaka jika Negara meledak. Menjadi macam-macam benda, aneka jenis makhluk, berhala-berhala, dan anehnya, masih juga bisa ditemukan buku-buku yang berserakan di mana-mana. Sebagian tidak jelas hurufnya, sehingga tidak bisa dibaca. Sebagian lagi amat besar huruf-hurufnya, hingga amat mencolok betapa jeleknya. Dan bagian yang terbesar tanpa huruf samasekali. Jadi tidak diketahui apa maksudnya.

Dalam situasi macam itu, logis saja di Negara semua orang leha-leha bisa apa saja. Ajaibnya, negara bangsa manusia yang sudah dikuasai kaum mobrot-mobrot  itu tidak pernah tahu bahwa mereka diperintah kaum mobrot-mobrot. Itulah sebabnya segala istilah yang sejatinya cuma pas bagi manusia, tetap saja diberlakukan, seolah-olah jagat dan jalan pikiran kaum mobrot-mobrot itu sama dengan jagat dan jalan pikiran manusia. Padahal sangat berbeda di dalam segala sesuatunya.

Begitulah. Ngomong bisa berarti kentut dan kentut bisa berarti nyanyi. Marah bisa berarti maut dan maut bisa saja berarti kue lapis. Benar, baik, bagus, mulia, suci dan segala kata-kata bagus bisa berarti apa saja semisal kecoak dan gundhul njebluk. Agama bisa bararti bencana dan bencana bisa berarti bisnis miliar dolar. Kekuasan dan maling sudah tidak bisa dibedakan. Impunitas bisa berarti patriotisme kesatuan nasional. Pendidikan bisa saja cuma berarti berjualan lumpia. Dan seterusnya.

Dan seterusnya.

Derkuku lelah mendongeng. Dia kehausan. Minta minum air tawar. Dengan tergopoh-gopoh kuambilkan segelas air tawar berwarna kaca dari kran. Begitu gelas itu di tangan Derkuku, warna kaca air tawar berubah. Menjadi merah. Atau kuning. Atau jingga.

Warna-warna darah dan lendir serta nanah

Warna-warna yang semakin membudaya

Di Negara Mobrot-mobrot

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Tinggal di Hilversum, Nederland

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: