Home > L Murbandono Hs > Orang Kaya Indonesia Pada Zaman Orde Baru!

Orang Kaya Indonesia Pada Zaman Orde Baru!

L Murbandono Hs

Setelah data survei dihitung, ternyata orang kaya Indonesia paling unggul dalam urusan cinta keluarga. Ini dalam arti mereka tetap menyediakan waktu bagi istri atau suami dan anak. Yang gara-gara jadi kaya lalu kekurangan waktu untuk keluarga “cuma” 24%. Mendekati kehebatan orang Indonesia dalam hal cinta keluarga adalah Philipina, Malaysia, Muangthai dan Australia.

Orang Korea Selatan, Singapura dan Jepang kadang-kadang menyediakan waktu untuk istri atau suami, orang Hongkong jarang, warga Asia di rantau hampir tidak, orang Taiwan dan warga Barat di rantau sama sekali tidak menyediakan waktu untuk istri atau suami.

Demi anak, orang Singapura dan Jepang kadang-kadang menyediakan waktu, orang Muangthai jarang, warga Asia di rantau hampir tidak menyediakan waktu. Orang Korea Selatan, Hongkong, Australia, Taiwan dan warga Barat di rantau samasekali tidak menyediakan waktu untuk anak mereka.

Rajin, Sopan, HAM, Stres

Responden Indonesia menyebut yang penting-berlaku dalam budaya RI adalah harmoni, membantu orang lain dan sopan terhadap penguasa.

Harmoni juga disebut penting oleh orang Malaysia tapi dianggap tak penting orang Australia dan warga Barat di rantau, dan sisanya tak berkomentar. Membantu orang lain juga disebut penting orang Muangthai dan Philipina tapi tak digubris orang Korea Selatan, dan sisanya bungkam. Sopan terhadap penguasa juga dianggap penting orang Philipina, Malaysia dan Singapura tapi dianginkan orang Australia dan warga Barat di rantau. Sisanya tak berkomentar.

Kalau diukur dari masuk kerja tiap Sabtu, ternyata orang Jepang paling malas (37%) dan paling rajin orang Korea Selatan (78%). Urutan dari rajin ke malas sebagai berikut: setelah Korea Selatan lalu menyusul Malaysia dan Taiwan (sama 71%), warga Barat di rantau (68%), Philipina dan Hongkong (sama 67%), Singapura 53%, warga Asia di rantau 53%, menyusul Indonesia dan Muangthai (sama 51%), Australia (50%) dan terakhir orang Jepang yang hanya 37% bekerja di hari Sabtu. Jadi, Indonesia dan Muangthai sama. Bisa disebut juara malas ke-2 atau juara rajin ke-9.

Temuan penting menarik yang lain adalah sikap politik orang kaya Asia akan HAM. Formulasi survei “Secara pribadi saya tak peduli pada HAM” itu diiyakan 14% warga Barat di rantau dan 14% orang Australia, 16% Jepang, 21% Philipina, 24% Indonesia, 26% Korea Selatan, 27% Taiwan, 29% warga Asia di rantau, 31% Malaysia dan 31% Muangthai, 39% Hongkong dan 47% Singapura.

Prosentase di atas menunjuk bahwa kepedulian orang Indonesia akan HAM, setelah Philipina, melebihi semua negara anggauta Asean. Juga menunjuk bahwa di Negara relatif kaya atau cukup lama menikmati kemakmuran, terjadi kesadaran moral sosial klas menengah untuk membela yang tertindas.

Temuan lain, peningkatan ekonomik itu meningkatkan mobilitas. Warga Barat di rantau melakukan perjalanan ke luar negeri tiap tahun lebih 10 kali. Hongkong dan warga Asia di rantau dan Australia sama sekitar 8 kali. Indonesia sekitar 6-7 kali. Singapura, Muangthai, Malaysia, Jepang dan Korea Selatan sekitar 5-6 kali. Taiwan 5 kali. Dan orang-orang Philipina sekitar 4 kali.

Menjadi kaya mengundang stres? Orang Korea Selatan, 65%, mengalami stres. Berturut-turut adalah Hongkong 62%, Taiwan 61%, warga Barat di rantau 59%, warga Asia di rantau 58%, Malaysia 57%, Philipina dan Singapura sama 56%, Jepang dan Australia sama 52%, Indonesia 47% dan Muangthai 42%.

Tujuh Nilai Masih Berkabut

Terakhir, tentang tujuh nilai budaya.

Pertama kejujuran, dianggap penting orang Singapura, Philipina dan Malaysia tapi tak dianggap penting orang Korea Selatan dan Taiwan.

Kedua kerja keras, dianggap penting Hongkong, Singapura dan Philipina tapi tak digubris orang Jepang dan Korea Selatan.

Ketiga disiplin diri, dianggap penting orang Philipina, Singapura dan Malaysia tapi tak jelas disikapi semua yang lain.

Keempat respek pada studi, dianggap penting orang Singapura dan Philipina tapi dianggap tak penting orang Australia.

Kelima dan keenam ialah berdikari dan kestabilan sosial, dianggap penting orang Singapura, Malaysia dan Philipina tapi tak dianggap penting orang Korea Selatan.

Ketujuh kebebasan berpendapat, diakui penting orang Australia, Philipina dan warga Barat di rantau tapi tak digubris Singapura dan Taiwan.

Dihadapkan pada tujuh nilai di atas, tanggapan responden orang kaya RI tak jelas. Survei tidak mencatat sikap mereka atas kejujuran, kerja keras, disiplin diri, respek pada studi, berdikari, kestabilan sosial, dan sikap terhadap kebebasan berpendapat. Entah ada atau tidak. Jadi, berkabut. Itu sekitar lima tahun lalu. Adakah sikap itu mewakili segenap kaumnya di Indonesia? Dan, bagaimana pula sekarang? Masih semacam itukah?

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser senior bidang Humaniora dan Budaya

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: