Home > L Murbandono Hs > PEMILIK BANK

PEMILIK BANK

Oleh L Murbandono Hs

JADI pelamun itu enak. Saat ini misalnya, saya melamun menjadi trilyuner. Bisnis saya multi-kompleks, termasuk memiliki bank, ialah BOM, Bank of Maigot. Gara-gara telanjur jadi trilyuner, saya panik. Ekonomi dihadang 1001 perkara, kurs rupiah terhadap dolar tetap megal-megol gara-gara tidak sedikit elite negara yang kerjanya melawak melulu, KKN, ketidakpastian hukum, gegap gempita demonstrasi dll. Juga, entah berapa belas bank sudah terkena likuidasi. Jangan-jangan bank saya pun bisa bangkrut, tanpa perlu likuidasi segala!

Maka kepanikan itu saya simpan di dalam tiga gudang BOM. Tapi sial. Tiga gudang itu dibongkar maling dan diangkut seluruh isinya. Maka, saya serukan kepada khalayak, harap waspada. Mungkin saat ini para maling sedang memasarkan kepanikan yang dicuri dari gudang BOM itu dengan gencar.

Gudang Pertama

Di dalam gudang pertama itu berisi tiga kepanikan umum. Kepanikan pertama menyangkut dampak megal-megol nilai tukar rupiah terhadap dolar-AS. Ia mengakibatkan omzet banyak perusahaan menurun dan pendapatan masyarakat merosot. Banyak orang menjadi lebih miskin (baca: diatur dan diperintahkan menjadi miskin oleh para mafia pasar bursa) sehingga mulai irit dan atau pelit mengeluarkan uang.

Akibat yang lain: harga barang-barang naik. Itu keniscayaan yang logis! Banyak barang kita produk impor dan atau paling kurang berbahan baku luar negeri. Atau, barang-barang itu dipasarkan oleh PT-PT Modal Panas yang berhutang dalam dolar-AS dan atau matauang asing lain. Sebab modalnya panas, wajar kalau mereka lalu menaikkan harga jual, karena anggaran pengeluaran mereka juga naik. Maka, penjualan dan atau omzet dunia usaha di RI menurun. Itu terjadi praktis di segala bidang, khususnya properti. Maka berbahagialah pabrik-pabrik yang mengandalkan bahan kampung sendiri dan atau tak punya hutang dalam dolar-AS dan atau uang asing lain.

Kepanikan kedua menyangkut kebijakan uang ketat, ialah pengetatan suplai uang untuk menahan depresiasi Rupiah terhadap dolar-AS. Akibatnya, likuiditas jadi langka dan tingkat bunga meroket. Maklumlah, praktis semua PT di Ibu Pertiwi memiliki hutang bank, umumnya relatif besar dibandingkan dengan modalnya, yang DER (debt to equity ratio)-nya acapkali melebihi kemampuan mencicil. Banyak PT terpuruk dalam kesulitan keuangan, usahanya macet, dan terpaksa mendorong para buruh memasuki gua pengangguran.

Kepanikan ketiga: PT-PT yang masih berputar pun pusing. Omzet penjualan mereka turun. Di samping karena berbagai faktor di atas, juga karena tingkat bunga sangat tinggi, yang memacu tiap kapitalis teri sampai kakap menaruh uangnya di bank. Ini berdampak negatif di pasar modal, PT-PT dan 1001 sektor lain yang memiliki pinjaman ke bank. Jadi, kebijakan uang ketat itu rupanya tak efektif. Buktinya, inkrediblitas AS gara-gara perang Irak tidak otomatis membuat dolar-AS hancur-hencuran kredibilitasnya. Relatif masih jaya! Maka PT-PT Modal Panas mengalami kesulitan besar.

Gudang Kedua

Gudang pertama itu cuma introduksi dari seluruh kecemasan saya, yang tersimpan di gudang kedua. Ini menyangkut kemungkinan kebangkrutan bank saya yang relative sehat. Kecemasan itu berlapis-lapis seperti kue lapis. Di lapis pertama, terjadi drama deposito. Saat tingkat bunga deposito tinggi, nasabah umumnya menaruh uang dalam deposito jangka pendek, karena bunganya jauh lebih tinggi dibandingkan deposito jangka panjang. Jadi, deposito mereka akan jatuh tempo dalam waktu dekat.

Di lapis kedua, ada tangis dampak likuidasi dan isu-isu ikutannya yang telah membuat banyak penyimpan uang menarik uangnya. Ini khususnya terjadi pada bank kecil, menengah dan bank-bank yang diisukan buruk. Bank-bank tersebut butuh dana besar untuk menutup kepanikan dan akibatnya bisa terjadi kredit macet di bank-bank terkait. Bank-bank sulit menarik dana dari PT-PT yang berhutang sebab usaha mereka sedang kalut. Akhirnya, bank-bank itu pun mengalami kesulitan likuiditas.

Di lapis ketiga tersedia penjelasan substansial perihal tragedi di lapis kedua, yaitu, krisis kepercayaan masyarakat terhadap bank. Apa pun kilah atas krisis kepercayaan terhadap bank itu, tetap krusial. Hakikat bank adalah pembisnisan kepercayaan. Bank tanpa kepercayaan adalah sepur tanpa rel!

Gudang Ketiga

Di gudang ketiga tersimpan kepanikan saya menemukan cara mengatasi kesulitan likuiditas. Memang terdapat banyak cara, tapi semuanya penuh kendala. Misalnya, menarik deposan baru atau membujuk deposan lama agar tidak menarik uangnya. Tapi krisis kepercayaan membuat itu sukar dilakukan.

Cara lain ialah meminjam dari sumber lain. Tapi dari mana? Hampir semua bank swasta mengalami kesulitan likuiditas. Di bank-bank pemerintah pun, banyak debitur yang kreditnya macet atau harus direstrukturisasi. Atau, meminjam dari luar negeri? Tapi dalam sikon macam sekarang, kreditur LN mana yang mau meminjamkan uangnya kepada kita? Bahkan banyak kreditur LN yang tak ingin memperpanjang pinjaman.

Satu-satunya penyelamat cuma BI. Mampukah BI? Sebab jumlah bank di RI yang mengalami kesulitan likuiditas, tidak sedikit. Okelah, kita optimis saja, bahwa saat ini keadaaan memang belum gelap gulita. Tapi manakala seabrek deposito yang jatuh tempo mulai ditarik dan kredit-kredit bank yang jatuh tempo ternyata macet (tidak semua, tapi banyak), maka bank-bank yang saat ini sehat seperti bank saya, BOM (Bank of Maigot), akan sakit, lalu bangkrut.

Dalam kesulitan likuiditas seperti ini, rasanya sulit bagi pemerintah  menurunkan tingkat bunga deposito. Ini akan membuat Rupiah makin babak-belur sehingga berkurang daya tariknya. Orang akan cenderung menyimpan dalam mata uang asing, termasuk USD.

Sebagai bankir, hal itu tentu tidak saya inginkan. Menarik dana nasabah, itu jadi kewajiban utama bankir sejati. Kalau perlu saya pasang tingkat bunga yang lebih tinggi lagi untuk “membayar” keberanian resiko dan kredo para nasabah terhadap BOM. Sebab dalam krisis kepercayaan macam sekarang, bahkan dengan penawaran tingkat bunga tinggi pun, banyak nasabah lebih memilih menyimpan dalam USD di bank asing, meski tingkat bunga mereka amat rendah, misalnya cuma 4 persen. Padahal, BOM sudah memasang tingkat bunga 47 persen. Coba, apa tidak mumet?

Positif dan Optimistik

Kepanikan sebanyak tiga gudang itu sudah lenyap. Entah di mana. Tapi untunglah. Di dalam laci masih tersimpan sebuah kaleng yang tidak digondol maling. Di kaleng itu tersimpan resep tentang dunia perbankan RI yang sehat. Resep itu sebetulnya panjang lebar. Tapi intinya cuma menyangkut dua hal.

Pertama, dalam situasi krisis keuangan, maka agar bank-bank sehat tak menjadi bangkrut, dituntut kerjasama yang erat antara pemerintah, bank-bank dan khalayak. Ini melahirkan kewajiban-kewajiban. Pemerintah wajib membantu bank-bank yang bermasalah. Bank-bank wajib menjalankan bisnisnya secara bermoral (bertanggungjawab penuh jika terjadi kesulitan atau bangkrut, tanpa merugikan nasabah). Rakyat wajib percaya kepada pemerintah, perbankan nasional dan Rupiah.

Kedua, tuntutan agar BI berkiprah lebih tegas, jelas, konsekuen. Aturan main yang lebih ketat dalam perbankan nasional menjadi absolut! Misalnya, kredit bank kepada nasabah maksimal 25 persen ekuitas bank. Jika lebih, harus dengan konsorsium, untuk memecah resiko. Kredit tak boleh diberikan tanpa agunan. Kredit macet harus ditangani tuntas. Jika ekuitas bank sudah kurang dari 25 persen modal dasar, pemegang saham harus menyetorkan kembali modalnya agar bank sehat kembali. Dan seterusnya. Pokoknya aturan-aturan lain sejenis yang ketat, transparan, profesional dan tegas.

Keketatan aturan itu pasti membuat bankir merasa repot. Biarin aja! Sebab  hanya yang mampu memenuhi peraturan yang ketat itulah yang berhak mengelola kepercayaan, ialah membisniskan uang rakyat. Yang tidak mampu, silakan cari usaha lain.

Jadi, bagaimana nasib BOM? No problem! Sebab ada teriakan dari dapur, anak saya memanggil-manggil. Lamunan jadi trilyuner buyar. Saya kembali ke alam nyata. Mencuci piring.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: