Home > L Murbandono Hs > PERANG = KEBIADABAN

PERANG = KEBIADABAN

Oleh L Murbandono Hs

DI kawasan “kumuh” Amsterdam pinggiran, kutatap sebuah coretan di tembok yang kusam, oorlog is barbaar – perang adalah biadab. Bagus! Ini perlu terus digembar-gemborkan. Sebab di bumi saat ini masih banyak perang. Apakah semua yang terlibat perang biadab? Embuh!

Yang jelas dan pasti, Negara Gila dan Negara Edan, sebab para “pemimpin”-nya gila dan edan semua – sudah lama terpuruk perang. Luciferisme berkecamuk di dua negara tersebut. Membela Negara Gila atau Negara Edan, sama sintingnya! Namanya gila dan edan, ya dua-duanya harus dikutuk! Bukan rakyatnya yang dikutuk, melainkan para “pemimpin”-nya. Sebab tanpa para “pemimpin” yang gila dan edan, Negara Gila itu sejatinya Negara Normal dan Negara Edan itu sejatinya Negara Lumrah.

Sektor lain yang juga harus dikutuk adalah orang-orang lain yang terkait – bukan negara ini atau itu – yang juga gila dan edan. Mereka punya akses mengurus dua negara itu tetapi selalu sambil main luciferisme ialah demi kepentingan sendiri dan kliknya. Dus, malah menunggangi konflik. Akibatnya, negara yang sejatinya normal dan lumrah itu terus terpuruk dalam perang.

Keterpurukan dalam perang itu sudah berlangsung lama. Repot jadinya memastikan mana yang lebih normal atau lebih lumrah. Pada kasus itu di saat itu, Negara Gila lebih normal – tapi pada kasus lain pada waktu yang lain, ternyata Negara Edan lebih lumrah. Jadi, orang luar, jika berminat usil atau bercita-cita menjadi pakar dalam bidang Perang Biadab antara dua negara tersebut, harus pintar dan suci plus teliti. Pintar artinya bersikap komprehensif. Suci dalam arti mampu bersikap adil. Dan teliti berarti tajam menganalisis kasus demi kasus secara kasuistik.

Hal pintar dan suci itu sudah banyak diulas dan bisa apa saja. Dus, nggak perlu diurus lagi. Yang ketiga, kasus demi kasus, mungkin masih ada gunanya diurus. Siapa tahu bisa menjadi fondasi bersikap “lumrah”.

KASUS DEMI KASUS

Kasus demi kasusnya? Banyak sekali! Salah satunya semisal kejadian, tak penting kapannya, di suatu tempat dekat pantai yang ada gunungnya. Dalam kasus itu Negara Gila tidak dapat lagi menutup-nutupi apa yang telah dilakukannya. Sebab semua yang selama ini dianggap komplotnya pun secara tegas menyatakan, di wilayah itu telah terjadi “tragedi kemanusiaan yang mengerikan”. Begitu antara lain ujar Asisten Menlu salah satu Negara komplot, sebut saja Negara Togog, yang bersama tim PNS (Perhimpunan Negara Sejagat) mengunjungi sebuah kamp pengungsi di Negara Edan. Ia menambahkan, telah terjadi pertempuran yang menyebabkan “penderitaan ribuan penduduk sipil tak berdosa”, dan menyerukan agar dibuka jalan bagi masuknya bantuan kemanusiaan ke kamp pengungsi tersebut.

Utusan PNS untuk kawasan sengketa, dari Negara Paluarit, juga mengatakan hal sama. “Ini penghancuran besar-besaran. Tidak dapat dibayangkan akibat selanjutnya dari penghancuran ini,” katanya. Sejauh ini jumlah korban tewas di tempat itu belum diketahui secara pasti. Negara Edan menuduh tentara Negara Gila telah melakukan pembunuhan massal di kamp pengungsi di situ, menyebabkan 70 orang tewas. Namun, pihak Negara Gila menyangkal tuduhan tersebut dan menyatakan korban tewas 23 orang, termasuk di antaranya tentara Negara Gila. Menurut versi Negara Gila, tewasnya korban lebih disebabkan oleh terjadinya pertempuran, bukan akibat serangan sepihak.

Lebih jauh Negara Edan menyatakan serangan tentara Negara Gila di salah satu kawasannya telah membawa korban sekitar 500 nyawa. Ini merupakan korban keseluruhan di berbagai tempat termasuk di kamp-kamp pengungsi. Utusan PNS yang lain lagi bilang, suasana di tempat tersebut “sangat menakutkan”. Keadaannya mirip dengan kawasan gempa bumi, banyak bangunan runtuh dan rata dengan tanah. Bau busuk jenazah yang membusuk masih keluar dari balik reruntuhan bangunan menambah suasana perkampungan yang mendapat serangan hebat dan kemudian diduduki itu tambah seram. Pengungsi yang selamat menceritakan, ketika itu tentara Negara Gila melepaskan tembakan membabi buta dan menghancurkan setiap bangunan yang dilaluinya.

Petugas rumah sakit di daerah pengungsian mengatakan, jumlah jenazah di kamp pengungsian yang sudah dihitung ada 39 orang. Angka ini besar kemungkinan akan bertambah bisa mencapai 200-400 orang. Diyakini, masih banyak jenazah yang terkubur di bawah reruntuhan rumah yang diroket dan dibuldoser tentara Negara Gila. Tapi, kawasan yang pada gilirannya menjadi daerah seram tersebut, oleh Negara Gila diyakini sebagai “markas” para pelaku bom bunuh diri, sehingga tidak ada jalan lain kecuali harus disikat!

Alhasil, dalam tiap kasus, baik Negara Gila maupun Negara Edan, sama-sama mempunyai argumen. Sama-sama mempunyai kilah sak-kepenaknya sendiri. Mereka bisa eyel-eyelan sampai tua! PNS alias Perhimpunan Negara Sejagat menjadi kian pusing. Hanya dalam kaitan kasus itu saja!

RESOLUSI PNS

Lantaran pusing, maka tim Dewan Keamanan PNS yang mengunjungi kawasan pengungsi, dengan suara bulat menerbitkan resolusi untuk membentuk dan mengirimkan tim pencari fakta akan dugaan adanya pembunuhan massal di kawasan tersebut oleh tentara Negara Gila. Resolusi itu mengekspresikan keprihatinan atas situasi kemanusiaan yang parah di tempat sipil warga Negara Edan.

Resolusi muncul akibat desakan negara-negara Mungkinsorga yang menduga keras warga Negara Edan paling banyak menjadi korban di kamp pengungsi akibat operasi militer Negara Gila selama beberapa pekan. Negara Gila memberi lampu hijau terhadap resolusi tersebut setelah Menteri Luar Negerinya melakukan pembicaraan dengan Sekretaris Jenderal PNS. Sang Menlu mengatakan, pemerintahnya akan bekerja sama dengan PNS untuk berbagi fakta tentang kejadian yang dipermasalahkan tersebut. ” Kami tidak menyembunyikan sesuatu menyangkut operasi tersebut,” ujar sang Menlu kepada Sang Sekjen PNS. “Tangan kami bersih.”

Negara Togog – tenar sebagai negara adikuasa dan lama jadi komplot Negara Gila – yang pada awalnya memberi indikasi menahan resolusi, mengubah haluan dan mengajukan usul baru. Maka setelah mendapat tekanan diplomatik kuat dari Negara Gila dan Negara Togog, resolusi PNS itu tidak lagi menyebut misi sebagai investigasi. Duta Besar Negara Togog untuk Negara Gila yang semula menolak resolusi mengatakan, “Adalah penting untuk mendapatkan fakta tentang apa yang terjadi di kawasan yang dipermasalahkan itu.”

Dalam pada itu Wakil Negara Edan untuk Perhimpunan Negara Sejagat, mengatakan, resolusi itu sangat penting karena, “Kami yakin telah terjadi perang kejahatan, pembunuhan massal yang serius, karena itu orang-orang yang bertanggung jawab harus ditangkap dan dibawa ke pengadilan.” Sedangkan Menteri Penerangan Negara Edan, setelah adanya resolusi tersebut mengatakan, “Ini merupakan langkah pertama menuju pengadilan pimpinan Negara Gila sebelum dibawa ke pengadilan internasional.”

Hanya dalam kaitan sekitar kasus di atas, semua yang bersengketa masih saja main argumen. Merasa diri paling benar. Negara Gila menyatakan akan begini dan begitu tapi dengan syarat yang demikian, dan selalu ditangkis oleh Negara Edan akan berbuat sedemikian jika Negara Gila bersedia begini dan begitu. Begitulah, terus menerus yang terjadi, sejak dahulu, sampai detik ini.

BIANG KEBIADABAN

Butir-butir uraian “Kasus Demi Kasus” dan “Resolusi PNS” adalah sekedar contoh betapa mubazirnya tiap upaya untuk mendiskripsikan perang, lantaran perang itu sudah amat jelas hakikatnya, yaitu, biadab! Kebiadaban tidak perlu dikupas, tapi langsung dihentikan. Sukar? Mustahil?

Ya! Tentu saja sukar dan mustahil, sebab biang kerok kebiadaban ini, yaitu mesin-mesin pembunuh, berupa industri senjata dan penggunanya ialah kaum tukang kepruk alias kaum serdadu, masih dianggap layak hidup, dan amat mengherankan bahwa mesin-mesin pembunuh itu sampai detik ini masih disebut produk peradaban.

Dus, bicara perdamaian dalam urusan perang, bisa dipastikan cuma akan membuahkan frustrasi yang dalam. Dalam konteks frustrasi inilah, dalam kelelahan yang tak terlukiskan, mungkin kita masih bisa membuat lima butir catatan yang paling prinsip di sekitar perang.

Pertama, perang, atas nama apa pun, semisal atas nama mawar surgawi atau ibu pertiwi atau segala jenis ayat atau segala model hal adikodrati atau atas nama segala sabda nabi, rabi, guru, Tuhan, dewa, dan entah apa lagi sejenisnya, atau apalagi cuma atas nama ucapan segala jenis orang gedean yang biasanya disebut politikus atau kaum yang merangkul bom, adalah biadab!

Kedua, siapa pun yang masih terkesima bisa terbujuk dan atau terpancing untuk berperang dan atau memerangi orang atau bangsa lain atau apa pun, adalah orang-orang yang masih primitif dan tidak mampu menggunakan akal budi. Sebab, perang adalah buah kebiadaban manusia yang belum terbebas dari kebiadabannya.

Ketiga, para arsitek perang adalah manusia berhati iblis yang bengis. Instrumennya semisal bom, mesiu, tentara dan segala jenis wujud ikutannya adalah produk kebiadaban yang mubazir dan ketinggalan zaman. Yang sejatinya tidak diperlukan. Jika manusia memang beradab, berarti mampu menggunakan akalbudi dalam segala persoalannya sehingga jijik menggunakan kekerasan, maka segala instrumen dan mesin kekerasan tersebut betul-betul bisa dibuang dari jagat manusia dan segala ikutannya.

Keempat, pabrik senjata yang ujungnya adalah para industrialis senjata, adalah sumber kebiadaban. Para produsennya aalah manusia rakus dan kejam sejenis Rahwana, penganggu peradaban yang santun. Bumi yang beradab tidak butuh manusia-manusia semacam itu. Sebab mekanisme kerja mereka adalah manipulasi model Drakula.

Kelima, fondasi berpikir macam ini hanya dimungkinkan, jika manusia masih punya mimpi, cita-cita, harapan, dan tidak menyerah pada alasan dan rembukan yang bermuara pada “kenyataannya begini” yang ujung-ujungnya cuma mengabsahkan perang sebagai peradaban. Itulah produk peradaban macet pragmatisme taraf paling rendah. Sebab perang itu bukan kecelakaan! Dia dibikin! Lalu melembaga, lembaga perang, lembaga yang paling primitif. Maka segala jenis mulut yang masih dengan begitu mudahnya melantunkan lagu-lagu perang adalah mulut-mulut yang primitif.

Alhasil, mudah-mudahan coretan di tembok di awal tulisan ini, “oorlog is barbaar” – perang adalah biadab – masih terus digembar-gemborkan, oleh siapa pun, tanpa kenal lelah. Selama masih ada perang, gembar-gembor macam ini tetap relevan. Entah apa pun, hasilnya. Paling tidak, harus ada orang yang memaki-maki perang. Dimaki-maki saja masih ada perang, apalagi jika tidak ada yang memaki-maki.

L Murbandono Hs

Jurnalis/produser Senior bidang Humaniora dan Budaya

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: