Home > L Murbandono Hs > Pers Pembela Rakyat

Pers Pembela Rakyat

Oleh: L Murbandono Hs

Perayaan Hari Pers Nasional itu baru ada gunanya jika Indonesia bisa menghasilkan pers yang bermutu, ialah pers media yang konsisten membela dan memihak rakyat. Di zaman susah dan ruwet gara-gara masih diombang-ambingkan oleh sisa-sisa Orde Baru macam sekarang ini, maka salah satu prinsip pers yang bermutu adalah tidak membela Orde Baru dan sebangsanya entah dengan cara apa pun. Dengan demikian, segala terbitan dalam sebuah pers media yang ujungnya Cuma membuat rakyat bingung dan ragu-ragu melenyapkan Orde Baru, menandai pers terkait bukan cuma tidak bermutu, tetapi juga mengkhianati bangsa dan Negara yang sedang pusing menegakkan reformasi dan demokratisasi.

Apakah itu tidak melanggar azas objektivitas dan profesionalisme? Samasekali tidak! Fakta dan kebenaran objektif adalah Indonesia babak belur karena Orde Baru. Jadi, Orde Baru harus dipensiun untuk selamanya. Semua pengikutnya harus diganjar sesuai “jasa-jasanya” membangun Orde Baru. Jadi, membela dan atau memoles-moles dosa Orde Baru justru melawan kebenaran yang objektif. Berarti mengolor-olor dan memperpanjang kekeliruan dan keblingeran yang objektif.

Apakah itu bukan berarti pers media partisan dan primordial? Justru harus! Dalam arti, partisan dan primordial membela rakyat. Jika di masa sulit macam sekarang pers media tidak tegas memilih opsi ini, berarti mengkhianati rakyat. Padahal, hampir semua pers di Indonesia, rata-rata bersemboyan “demi rakyat” dan tidak ada yang bersemboyan “demi uang” atau sejenis itu. Maka jika tidak betul-betul membela rakyat, sebaiknya pers semacam itu harus memasang slogan “demi kebohongan”.

Seluruh harapan di atas akan menjadi kenyataan jika pers Indonesia di masa reformasi ini konsekuen berwatak independen, objektif, dan luhur mulia.

Independen

Menurut akal sehat, kata independen tak mampu berdiri sendiri. Ia selalu diikuti dari dan untuk. Independen dari apa/siapa, dan untuk apa/siapa. Independensi pers/media tentu saja cuma diketahui oleh para pengelolanya. Orang luar, semisal pembaca seperti saya, tak bisa ikut menentukannya, kecuali Cuma berharap. Mudah-mudahan semua pers/media di Indonesia independen dari racun sisa-sisa penjajahan Belanda dan Jepang. Independen dari sisa-sisa bius Orla dan Orba. Independen dari semua kepentingan kerdil dan ekslusif. Dan terpenting: independen dari kengototan mentalitas partisan yang tidak rikuh memasang premis dan prakonsep sirkuit sempit semisal SARA tertentu yang seolah-olah harus diterima oleh publik luas yang memuat kebhinekaan yang kompleks

Dengan independensi semacam itu, pada gilirannya independen itu akan berarti  independen untuk berkiprah menuju pers yang inklusif, terbuka, dan tidak gentar membongkar segala kesalah kaprahan. Independen untuk menjadi pers yang mendidik dan membebaskan warga bangsa dari keterkungkungan sisa-sisa dekandensi system fasis-militeristik. Independen untuk menolak segala pembodohan dari mana pun. Independen untuk mengurus hal-hal substansial dan sekaligus independen dari tetek-bengek yang mengaburkan kebenaran dari kepalsuan.

Tapi, independensi semacam itu hanya terwujud jika konsisten memastikan opsi ialah memihak pluriformitas dan demokrasi sebagai ujung tombak negara sipil sejati. Praktik dan aplikasi konkretnya, untuk jangka pendek ialah konsisten menggembosi militerisme dan tidak kenal lelah mengusili KKN serta membuang semua sisa mental Orde Baru. Jangka panjang? Boleh apa saja. Akan nggelinding sendiri. Asal yang jangka pendek sudah bagus, kebagusan yang lebih hebat akan menyusul dengan sendirinya.

Objektif

Independensi di atas juga tak mungkin terjadi tanpa objektivitas. Pers yang independen selalu objektif. Harus diakui, begitu objektivitas ini menyangkut pers, soalnya memang menjadi tidak mudah. Pers, sebagai bagian komunikasi, pendidikan, dan sosialisasi humanitas, penuh nuansa yang tidak sederhana hitam putih sebagaimana halnya objektivitas matematis. Objektivitas dalam pers adalah dialektika dikotomi subjektivitas-objektivitas yang dinamis. Ia jadi gamblang atau ruwet, terpulang dari bukan cuma kejujuran, tapi lebih krusial adalah memahami hakikat dan makna kejujuran itu sendiri.

Di dalam praktek, yang disebut objektivitas pers itu ujungnya adalah hasil akhir tawar-menawar yang melibatkan minimal tiga kubu kekuatan, ialah kekuatan moral, kekuatan politik dan kekuatan modal. Jika moral dominan, bisa diperoleh objektivitas unggul. Objektivitas merosot, jika politik paling dominan. Dan objektivitas menjadi amat bobrok, jika modal menjadi paling dominan.

Apabila objektivitas unggul tersebut sudah menjadi sikap batin pers, maka tembang klemak-klemek yang masih acapkali dipraktekkan sebagian insan pers manakala menghadapi tarian para gajah, akan terkikis habis dengan sendirinya. Sejuta soal tetek bengek semisal kode etik pers, prosedur kartu pers, pemberitaan miring, kegugupan menurunkan hak jawab, pengaruh pers asing, ihwal perkara posisi pers di hadapan jagat legislatif-eksekutif-yudikatif, akan menjadi soal kecil bagi jagat pers sejati.

Manakala objektivitas itu telah mendarah daging, maka peran dan kedudukan pers dalam membangun kehidupan yang demokratis, ibarat roda, akan menggelinding lancar dan tanpa perlu terasing dari tatanan budaya dan peradaban masyarakatnya sendiri. Oleh karena itu, pers terkait akan otomatis peka terhadap tanda-tanda zaman.

Aplikasi konkret pers yang objektif, minimal ditandai dengan tiga butir berikut:

Pertama, mengakomodasi secara proaktif akan tuntutan masyarakat yang makin terdidik dalam hal informasi yang lebih mendalam, komprehensif, ketimbang hanya yang formal-formal saja. Dengan demikian sikap dan aspirasi masyarakat yang  kritis bisa terartikulasikan dengan jelas dan lengkap dalam pers produk bangsa sendiri, sehingga tidak merasa perlu mencari-cari alternatif ke tempat lain.

Kedua, aplikasi butir pertama itu otomatis menjadi tantangan pers nasional untuk terus-menerus meningkatkan kualitas pemberitaan, menyikapi aspirasi publik yang makin kritis, sebagai suatu perkembangan yang niscaya. Globalisasi telah mempercepat perkembangan tersebut dengan segala dampak baik dan buruknya. Menjadi tugas pers untuk menekan dampak buruk tersebut. Tapi demi objektivitas, jangan secara kerdil “memberangus” tapi justru harus bersaing dari segala hal yang datang dari luar.

Ketiga, pers disebut objektif, jika dia tidak sertamerta segera menolak segala hal serba baru dan atau “aneh” – alias terjangkit xenophobia – tanpa didahului oleh sikap cek dan cek ulang, peningkatan kearifan dan ketajaman analisis.

Dari aplikasi ketiga ini, tampak jelas bahwa objektivitas itu akhirnya juga Cuma menjadi sisi lain dari independensi dan luhur mulia. Jadi, independen, objektif dan luhur mulia itu sejatinya merupakan tritunggal. Satu sama lain saling memuat.

Mulia dan Luhur

Paling krusial adalah menelusuri watak luhur mulia, sebab dalam dirinya sendiri luhur mulia itu memuat independensi dan objektivitas. Jadi, luhur mulia sejatinya cuma gabungan atau taraf lebih tinggi dalam penghayatan independensi dan objektivitas.

Namun untuk hiburan, tak ada jeleknya jika sedikit disinggung ciri-ciri watak  luhur mulia tersebut. Salah satu ciri terpenting luhur mulia ialah tidak mudah curiga dan berprasangka negatif terhadap pihak luar. Ia merupakan sumber segala kebencian dan diskriminasi di antara manusia. Sumber prasangka ini menyangkut banyak faktor ialah politis, ekonomis, sosio-budaya, psikologis, agama, dan bahkan biologis.

Apabila luhur mulia itu menjadi semboyan pers, maka pers terkait secara moral akan terus memperjuangkan agar produksi informasinya terbebas dari dominasi dan pemihakan pada semua faktor tersebut. Secara konkret, ia tidak membuat generalisasi terhadap suatu fakta positip atau negatif atas suatu golongan tertentu. Pers luhur mulia adalah pers yang secara tajam membedakan oknum dari kelompok, substansi dari prosedur, fakta dari fiksi, dogma dari hati nurani, ajaran dari praktik nyata, pidato dari perbuatan, sumber asli dari sumber kedua-ketiga dstnya.

Secara konkret, pers yang luhur mulia tidak memihak pada golongan tertentu tapi berpihak pada kepentingan lebih luas. Jika toh harus terpuruk dalam pers partisan juga, maka pemihakannya adalah pada kebenaran-kebaikan-kemuliaan kemanusiaan.

Aplikasi konkretnya di era reformasi ini akan ditandai minimal dengan kegigihan menginformasikan 1001 koreksi akan segala kesalahkaprahan persepsi publik dalam ziarah kehidupan berbangsa dan bernegara. Sejumlah hal penting tentangnya adalah re-edukasi akan isme-isme tertentu, diskursus agama yang diakui dan tidak diakui, yang muaranya adalah mempraktekkan prinsip masyarakat bhineka yang sejati.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: