Home > L Murbandono Hs > Potret, Budaya, dan Simbol Negara

Potret, Budaya, dan Simbol Negara

Oleh: L Murbandono Hs

Berita Utama Suara Merdeka Kamis, 9 Januari 2003, antara lain menginformasikan, Megawati Tidak Terima Pembakaran Patungnya di Makassar.

”Saya memang nggak terima boneka saya dan Pak Hamzah yang katanya dibakar. Apalagi bendera diinjak-injak,” kata Megawati di Jakarta, Rabu (8/1) siang.

Sejak kapan ya bangsa kita mulai pakai cara-cara seperti itu,” lanjut Presiden. Dia menyatakan kejadian itu bakal membuat rakyat Indonesia menjadi bangsa yang tak solid. ”Jika menjadi bangsa yang setengah-setengah, negara akan rapuh,” ucap dia. Karena itu dia mengimbau seluruh elemen masyarakat tetap menghormati budaya bangsa.

Mbak Mega mungkin sedang melucu. Sebab, menurut saya, cara-cara demonstrasi semacam itu manusiawi. Nggak ada hubungannya dengan Budaya Bangsa, wong kebudayaan Indonesia itu masih menjadi, masih dicari-cari, dan sampai detik ini belum ketemu. Potret-potret dibegini begitukan, semisal diciumi, juga nggak ada hubungannya dengan solid dan kiwir-kiwirnya sebuah bangsa!

Justru tindakan-tindakan para demonstran tersebut amat “menghormati” proses pembentukan kebudayaan Indonesia, dalam arti, membebaskan orang-orangm mejen dan mampet yang mengatasnamakan “budaya bangsa” untuk beronani-ria agar bisa terus bergayutan dengan budaya-budaya feodal yang sudah karatan.

Nginjek-injek potret dan lambang orang-orang, entah itu potret orang goblok atau potret orang pinter, nggak ada sangkut pautnya samasekali dengan kebudayaan Indonesia, kebudayaan yang tidak jelas. Contohnya ya Megawati itu, jika ucapan, sikap dan tindak-tanduknya dianggap sebagai kebudayaan Indonesia. Sampai detik ini nggak bisa ngapa-ngapain Soeharto, nggak bisa ngapa-ngapain sama antek-anteknya Soeharto semisal Hamzah Haz, malah eeeeiii, dijadikan Wapres pula. Membuat Indonesia menjadi bahan lelucon tiap hari. Kok bisa-bisanya, Indonesia mempunyai Wapres yang lucunya enggak ketulungan.

Lha, perkara potret dan kehormatan, adalah sudah kuno dan majenun belaka, mengait-ngaitkan kehormatan presiden dan wapres dengan potret mereka yang dinjek-injek atau dikencingi. UU yang masih mengatur kehormatan presiden dan wapres dengan potret dan atau patung mereka yang diberakin, apalagi jika  presiden itu cuma presiden-presidenan dan wapres itu cuma wapres-wapresan, adalah UU badut! Harus dibuang ke comberan!

Nggak penting potret presiden, potret cecunguk, potret guru, potret penari, potret tukang becak, potret jendral, potret pak cilik, potret babu, kacung, jongos, potret-potret pelacur, potret simbah kita, dan potret orang bersetubuh, semua pantas dihormati, jika memang pantas dihormati. Jika orang-orang tersebut tidak pantas dihormati, dan memang pantas dikencingi, ya memang sudah betul dikencingi potretnya! Maka, kalau ingin potretnya tidak dikencingi dan atau diberaki, ya harus bersikap dan berbuat sopan santun kepada rakyat, sedemikian rupa, sehingga dipercaya betul-betul sebagai orang terhormat.

Apalagi, sebagai presiden dan wapres, mengapa pula perlu-perlunya membuat potret berjuta-juta dan disebar-sebarkan ke mana-mana? Supaya orang-orang punya potretnya. Apakah memang penting memasang potret begituan? Buat apa? Lebih sial adalah jika disuruh dan malah dipaksa-paksa harus beli pula! Karena itu, sebab terlanjur sok dicintai rakyat lalu menyebar jutaan potret ke mana-mana, karena terlanjur terkenal, karena terlanjur menjadi orang hebat, menjadi manusiapublik, ya harus lebih hati-hati menjaga diri dan menjaga citra, jangan malah lalu kelihatan rakus dan atau ganas, sehingga publik percaya bahwa potret tersebut memang potret orang yang terpercaya dan pantas dihormati.

Jika demikian halnya, tidak akan ada tragedi potret dikencingi atau diberakin! Bahwa potret, patung dan ini itunya dibegini begitukan, itu adalah resiko sebagai manusia publik. Kalau nggak siap dibegitukan, ya jangan menjadi manusia publik.

Lebih konyol, dalam aksi itu dua demonstran yang menyeret gambar Mega-Hamzah ditangkap polisi. Mereka didakwa menghina simbol negara. Ini dungu. Hanya terjadi di negara yang masih dikuasai para dukun dan tukang sulap!

Gambar Mega-Hamzah bukanlah simbol negara. Gambar Mega dan Gambar Hamzah ya Cuma gambar Mega dan gambar Hamzah. Simbol negara itu adalah bendera Merah Putih, misalnya! Atau Gambar Garuda Pancasila.

KESIMPULAN, selama presiden dan wapres masih manusia, maka gambar dan potret mereka bukanlah simbol negara. Manusia itu banyak baunya, tidak pantas menjadi simbol negara! Jadi perlakuan terhadap potret dan simbol-simbol mereka, tidak berbeda dengan potretnya simbah-simbah kita, paklik, dan atau potret-potret semua juru kunci dan tukang bakso yang ada di seluruh Indonesia. Nggak ada bedanya! Perlakukan dengan hormat potret-potret tersebut, jika memang pantas dihormati. Jika pantasnya dibakar, ya dibakar saja.

Lha kalau itu dianggap penghinaan, ya diurus sajalaaaaaaaah, dengan KUHP biasa. Dus, nggak ada sangkut pautnya dengan Mega dan Hamzah itu simbol negara. Mereka simbol negara? Amit-amit!

Salam,

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

Tinggal di Hilversum, Nederland

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: