Home > L Murbandono Hs > Presiden Kaum Miskin

Presiden Kaum Miskin

Oleh L Murbandono Hs

Di bawah diktator militer Jenderal Alfredo Stroessner, Paraguay menjadi pusat perdagangan gelap kokain, kopi, dan mobil mewah, yang hanya menguntungkan para politikus, kaum kaya, dan pembesar-pembesar militer. Yang terjadi di Indonesia jujur saja tidak kurang seramnya.

DALAM waktu dekat suka atau tidak seluruh rakyat Indonesia akan memperoleh Presiden RI keenam yang akan harus bekerja keras sekali karena negara kita terlanda dua bencana besar. Pertama,  krisis multidimensi dan macet pada banyak masalah mendasar. Kedua, di Tanah Air masih banyak orang miskin tetapi lebih setengah abad RI merdeka dan kita belum pernah punya presiden kaum miskin yang sejati.

Dua bencana tersebut membuat saya terdorong ”menonton” sebuah negeri kecil mungil: Paraguay! Ya, negeri tersebut mungkin kurang dikenal di Indonesia.

Tapi apa yang terjadi sekitar setahun lalu di negeri kecil dan miskin di Amerika Latin itu bisa menjadi ilham bagi calon-calon pemimpin kita  (utamanya calon presiden) yang bertekad membela kaum miskin.

”Kita akan membangun Paraguay yang nantinya terkenal bukan karena korupsi dan kemiskinannya, melainkan karena kejujurannya!”

Ucapan tersebut berulang-ulang dikobarkan Fernando Lugo (57), mantan uskup Katolik Roma yang pada 22 April 2008  terpilih sebagai presiden di negara berpenduduk sekitar 6 juta.

Penduduk itu terkenal miskin dan penuh korupsi itu. Mirip RI mini kita? Ia pegiat teologi pembebasan. Semasa uskup dijuluki ”uskup kaum miskin”, dia menyatakan diri bukan kiri bukan kanan. Ke mana-mana suka mengenakan sandal. ”Di Paraguay hanya ada para maling dan korban-korbannya!” ucapnya berulang-ulang.

Keterpilihan Lugo itu segera mengingatkan kita pada tiga hal. Pertama, di Indonesia belum pernah ada presiden kaum miskin dalam arti sebenarnya. Kedua, Indonesia sudah lama kesepian merindukan para patriot. Ketiga, mekanisme politik di Indonesia membuahkan banyak ”pemimpin” yang berubah menjadi kaya atau bermasalah dalam ihwal perkara uang negara.

Dengan meraih lebih 43% suara dalam pemilu presiden, Lugo mengalahkan dua kubu lawan politik yang sama-sama ”kaum status quo yang maunya enak sendiri”. Pertama, partai Colorado (‘’Golkar’’ ala Uruguay) lama jadi mesin politik diktator Jenderal Alfredo Stroessner. Itu meraih suara sekitar 30 %. Kedua, calon dari kalangan militer mendapat 22 %.

Kemenangan mantan uskup kaum miskin itu diperoleh lewat gotong-royong politik menggalang persatuan bersama 20 partai dan gerakan rakyat dalam ”Aliansi Patriotik untuk Perubahan”. Agenda utama mereka: Wahai para patriot! Bersatupadulah untuk menegakkan dan melaksanakan perubahan!

Ya, maksudnya reformasi. Jadi mirip RI. Kemiripan lain Paraguay dengan RI cukup banyak. Terpenting menyangkut lima perkara.

Pertama, di Paraguay banyak rakyat marah, kecewa, tak berdaya karena dijajah korupsi dan penyelenggaraan negara yang brengsek. Ini membuat para petani, buruh, prajurit, nelayan, singkatnya seluruh golongan akar rumput alias wong cilik  sangat menderita selama berpuluh-puluh tahun.

Kedua, politik ”memihak rakyat miskin” di Paraguay hanya isapan jempol para elite selama puluhan tahun dan tidak pernah terbukti dalam kenyataan.

Tak pernah ada mekanisme politik yang mampu memperjuangkan keadilan dan melawan kemiskinan sebab upaya tersebut selalu dijegal ”kaum status quo yang maunya enak dan menang sendiri terus”. Ini mempunyai sarana dan akses lengkap untuk melaksanakan penjegalan tersebut.

Ketiga, Paraguay dijajah ”kaum statusquo yang maunya enak sendiri” dan berbasis kekuatan militer selama 61 tahun. Hal kurang lebih sama diderita Indonesia selama nyaris 50 tahun (1959 – 2008) dengan rakyat kurang makan di zaman RI Bung Karno pasca-Dekrit Presiden, lalu ”dijajah”  Orde Baru lebih 30 tahun, dan akhirnya diperdaya ”reformasi”; reformasi yang diceraiberaikan kaum statusquo nyaris sepuluh tahun.

Keempat, di Paraguay 77% tanah pertanian dikuasai tuan tanah yang hanya 1% jumlah penduduk (di RI lebih parah; 87% tanah pertanian dikuasai bukan petani). Kemiskinan di pedesaan meluas. Banyak orang Paraguay cerai-berai, mencari hidup di daerah-daerah lain atau negeri lain sebagai emigran gelap. Ihwal ”sang sedikit makan amat banyak” ini di tanah air kita lebih gila.

Karbitan

Sang sedikit adalah konglomerat hitam karbitan dan para pejabat negara penerima upeti serta seluruh ikutannya. Sampai kini sang sedikit itu masih terus memacam-macami sumber-sumber alam negara yang sejatinya hak milik seluruh rakyat untuk dinikmati sendiri. Mereka masih memonopoli jejaring, akses, aset, informasi, dan seluruh ikutannya menyangkut peluang-peluang ekonomi (bahkan juga peluang-peluang politik, sosial, budaya, pendidikan) yang sejatinya hak rakyat pula.

Kelima, dalam tenggang waktu lama ”kaum status quo yang mau enak sendiri” memegang kendali negara. Di bawah diktator militer Jenderal Alfredo Stroessner, Paraguay menjadi pusat perdagangan gelap kokain, kopi, dan mobil mewah, yang hanya menguntungkan para politikus, kaum kaya, dan pembesar-pembesar militer.

Sementara itu rakyat hanya mengais remah-remahnya. Yang terjadi di Indonesia jujur saja tidak kurang seramnya. Pengeruk untung kue pembangunan terbanyak juga hanya kaum elite. Rakyat banyak juga hanya terciprat remah-remahnya. Dengan komoditas yang lebih aneka rupa: kayu, minyak, emas, dan seribu satu sumber alam lainnya.

Apa pun, sejak 22 April 2008 itu Paraguay memasuki zaman baru di bawah pimpinan Presiden Fernando Lugo yang bertekad melakukan perubahan besar-besaran. Ia telah menanggalkan jubah resminya sebagai uskup Katolik Vatikan dengan hukum gerejanya yang memasang harga mati pelarangan pejabat gereja berpolitik langsung. Tujuannya agar bisa total berpolitik untuk memperjuangkan kepentingan kaum miskin.

Tentu saja perjuangan Lugo akan sangat besar dan berat. Lawan-lawan politiknya tidak akan tinggal diam. Mereka akan merecoki dan mempertahankan kenikmatan yang pernah mereka peroleh selama lebih setengah abad. Dengan segala cara! Apalagi, modal dan alat mereka untuk itu berlimpah. Nyaris seluruh birokrasi dan aparat pemerintahan masih tetap orang-orang mereka.

Mirip Indonesia?

Apapun, berkat tekad utamanya untuk tetap setia membela kaum miskin dan teguh menjaga kejujuran dan keadilan, dengan kerja keras terus mempersatukan kaum tertindas, mudah-mudahan sang mantan uskup itu bisa membawa Paraguay menjadi negara sejahtera. ”Sekarang saatnya untuk perubahan! Jangan takut!”

Itulah seruan berulang-ulang Presiden Fernando Lugo memberi semangat rakyat untuk menghadapi tipu daya ”kaum status quo”.

L Murbandono Hs

Peminat dan pengamat peradaban

Sumber: SUARA MERDEKA, 12 Juni 2009

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: