Home > L Murbandono Hs > Rakyat Tidak Takut Teror

Rakyat Tidak Takut Teror

Oleh : L Murbandono Hs

Para teroris sudah meneror banyak tempat di bumi dengan ledakan bom dan 1001 cara teror yang lain. Banyak korban berjatuhan. Amat memilukan dan menjengkelkan, karena korban umumnya orang-orang yang tak ada sangkut pautnya dengan teror-teror itu sendiri. Apakah rakyat takut? Sama sekali tidak. Ini pasti tak bisa dipahami para teroris. Tak ada seorang normal pun di bumi ini takut kepada teroris. Rakyat dan masyarakat itu cuma tampaknya saja ketakutan atau merasa terteror.

Buat apa takut teroris? Sebab, teroris pengecut. Beraninya sembunyi-sembunyi, keroyokan, menculik, mengancam, memakai senjata, melarikan diri. Mana ada teroris berani secara ksatria datang, bertolak pinggang dengan tangan kosong, seorang diri, di tanah lapang, lalu meneror orang? Tidak ada!

Tetapi, mengapa teror, teroris, dan terorisme tampak begitu hebat dan dahsyat? Itu karena dihebat-hebatkan dan didahsyat-dahsyatkan. Oleh siapa? Oleh para penakut dan kaum pengecut. Jadi, jangan terjebak cara-cara begituan. Dianginkan saja. Ini perkara keyakinan. Saya yakin, rakyat dan masyarakat umum sama sekali tidak takut pada teroris. Teroris itu kecil dan dekil. Lebih kecil dari kutu. Jika Anda tega dan mau mengencinginya, para teroris itu pasti lari pontang panting. Jadi, tidak usah takut kepada teroris. Kalau ketemu teroris, tatap matanya dalam-dalam, lalu ludahi wajahnya. Ingat dan camkan sekali lagi. Rakyat dan masyarakat sama sekali tidak takut kepada teroris.

Contoh ketidaktakutan rakyat adalah Derkuku, sahabatku, tempat aku mengadu. Dia bercerita, kemarin menemukan seekor teror, dan langsung ia makan tandas. Katanya, rasanya enak. Saat ini teror yang seekor itu sudah jadi bagian darah dan dagingnya. Oh ya, satuan teror bukan selalu sebuah, sebutir, sebatang, segudang, seorang dan atau satuan-satuan lain sejenis itu, kadang-kadang juga seekor. Derkuku tak peduli akan tetek bengek itu. “Apa pun nama satuannya, begitu kutemukan, langsung kuterkam dan kumakan!” kata Derkuku.

Entah cerita Derkuku itu sekadar iseng atau melucu, yang mau dikatakan Derkuku adalah, teroris itu tak berharga untuk ditakuti. Mengapa harus konyol hanya untuk melayani kaum pengecut. Sekali takut terhadapnya, selama hidup Anda akan terus diteror, oleh siapa dan atau apa saja. Jika Anda tidak tega memakan teror, minimal harus bersatupadu dengan semua orang yang berkehendak baik untuk melenyapkan teror! Caranya? Amat gampang! Itu kata Derkuku, lho! Aku sih Cuma menonton saja sepak terjangnya melawan kebiadaban yang oleh politikus disebut teror, teroris, dan terorisme itu.

Pada suatu hari Derkuku berpidato. Begini: Gara-gara reformasi total di Indonesia mulur mungkret belaka, segala jenis teror kini sudah jadi lumpia. Malah lebih empuk. Tanpa teror, kita semua, sudah lama mati. Ia sudah menjadi bagian badan dan jiwa kita sehari-hari. Oknum-oknum pejabat yang tugas hariannya jadi bandit kaliber berat dan menikmati impunitas yang tiada taranya itu, sejatinya adalah teror yang lebih dahsyat katimbang bom dan nuklir. Sebab yang diteror adalah akal budi kita. Karena itu, bicara mengenai teror tragedi Bali tetapi melupakan teror impunitas yang amat dahsyat ini, adalah kemubaziran yang amat mengerikan.

Yang jelas, ‘berkat’ tragedi Bali banyak orang di delapan penjuru lalu berdikusi soal terorisme. Maka kita tahu bahwa para teroris itu ternyata telah membunuhi bukan cuma ribuan, tetapi jutaan orang di mana-mana. Di Bali, New York, Paris, Poso, Ambon, di belantara Papua, di Bosnia, Palestina, Israel, Iran, Irak, Kuwait, di banyak negara Afrika dan Amerika Latin, dan jangan-jangan di dekat-dekat jembatan yang sering kita lewati.

Juga, ‘berkat’ aksi kaum teroris yang memuat kegilaan itu, air mata para korban sudah bisa jadi telaga. Gedung-gedung jadi ambrol, jebol, terbakar, njebluk. Banyak orang kehilangan anggota keluarga dan teman yang mereka cintai serta tidak sedikit yang jadi senewen, gila atau bunuh diri. Juga, bergudang-gudang dolar AS ludes untuk urusan terorisme yang babar blas tak dibutuhkan oleh bumi beradab di abad ke-21 ini. Nama-nya gila, dalam melancarkan aksi, kaum teroris justru selalu mengatasnamakan kebaikan, kebenaran dan kemuliaan. Bingung? Tidak usah! Sebab, cuma orang-orang dungu dan keblinger yang percaya terorisme bisa seiring kebaikan, kebenaran dan kemuliaan.

Jadi, yang terpenting adalah mengobati kedunguan dan keblingeran itu. Obatnya gampang, yaitu bersekolah di sekolah yang betul dan atau mendengarkan nasihat orang-orang yang jujur akal budinya. Tapi namanya masih hidup di bumi konkret alam fana yang konon penuh kelemahan. Ditambah karena zaman mungkin sedang edan, ada juga orang-orang yang justru terkesima kepada orang, lembaga, grup, organisasi, negara dan apa pun yang sejatinya keblinger. Bagai robot mengikuti segala komando mereka sebagai sabda suci mulia yang tak terbantahkan satu titik dan komanya.

Di samping kegilaan, terorisme juga secara intrinsik selalu main rusak-rusakan. Ada sebagian orang di bumi, tak penting dari utara, selatan, timur atau barat, dalam rangka melawan kaum teroris tersebut, lalu memaklumkan perang, dan sekaligus ajak-ajak orang lain ikut perang. Namanya perang, ya dengan senjata. Senjata-senjata itu tidak diperoleh gratis dari simbahnya manusia-manusia yang ngajak perang. Harus beli! Harganya, seabrek-abrek, lebih dari cukup membangun ribuan gedung sekolah. Jika urusan perang dikaitkan dengan sekolah, selama sekian tahun tidak akan ada pembangunan gedung sekolah. Sebab, ludes untuk membiayai pabrik-pabrik bedil dan segala ikutannya ialah saudagarnya, tukang tadah, tukang catutnya, pengemis komisinya, dan para penggunanya.

Menurut kaum yang hobi berperang, perang diperlukan untuk menumpas kejahatan kaum teroris. Mungkin ada sedikit benarnya, tapi lebih banyak bohongnya. Kalau jujur, target utamanya bukan menumpas kejahatan, melainkan soal memenuhi kebutuhan akan musuh. Musuh diperlukan bukan cuma melegitimasi kegilaan perang, tetapi juga untuk memperkokoh ‘kemuliaan’ perang. Lantaran perang sudah dimuliakan, maka gegap gempitalah industri senjata dan segala ikutannya. Di luar yang telah disebutkan di atas, ikutan industri senjata ini antara lain bengkel, montir, kasir, sekretaris, aneka tambang bahan baku, laboratorium, para pakar, makelar, mandor, tukang dan apa saja yang bersangkut senjata misal tentara, polisi, algojo, tukang culik, dan tentu saja para teroris sendiri.

Dalam konteks semacam itu, perang yang disangkut-pautkan dengan teror, teroris dan terorisme itu, menjadi tidak pernah jelas mana malaikat dan mana setan. Malaikat bisa tampak kayak setan, sebab jangan-jangan memang setan, dan setan bisa menjadi malaikat sebab memakai topeng malaikat. Yang terjadi adalah drama malaikat versus setan. Para pelakunya tergantung sang sutradara. Dan jalan cerita, dari awal pengenalan konflik, peningkatan dramatik konflik, klimaks, sampai akhir cerita tergantung keahlian sang penulis skenario.

Abstrak? Berikut ini, dua contoh. Contoh pertama. Dulu, Si Kunyuk dianggap ksatria putih oleh Gentho ketika menggunakan senjata kimia melawan Bandot. Dia tiba-tiba berubah sebutan, menjadi lucifer, ketika Gentho yang baru saja menyerbu Kebun Karet, lalu menyerbu Negara Si Kunyuk, gara-gara Si Kunyuk menyerbu sumur minyak. Ratusan ribu warga Si Kunyuk tewas menjadi korban, yang mayoritasnya kaum sipil, terbunuh saat itu.

Contoh kedua. Manakala Si Kunyuk masih tetap dalam posisi kelamnya, dunia diperkenalkan dengan sosok kelam baru. Namanya Kunyuk Baru. Dulunya, ia berpangkat malaikat, ketika menjadi cantrik di padepokan intel Gentho, untuk mempelajari segala seluk beluk terorisme. Sebagai malaikat, dicintai dan dipersenjatai oleh pemerintah Gentho, Kunyuk Baru adalah satu-satunya ‘pejuang kemerdekaan’ melawan para hantu komunis di negara Kunyuk Baru. Di negara Gentho, kala itu Si Kunyuk Baru dielu-elukan sebagai bagian para heroes, yang the moral equivalent of Gentho’s founding fathers. Jadi, ada masa ketika Kunyuk Baru dan gangs-nya dianggap the good guys, dan ada masa, di sekitar hari-hari ini, ketika mereka dianggap the worst of the worst.

Dua contoh di atas, dengan pola dan garis merah sama, bisa diperpanjang di banyak tempat di lima benua dengan aktor yang berbeda-beda. Jadi, dalam urusan perang yang campuraduk dengan terorisme, ada tiga perkara penting. Pertama, perang dan terorisme tidak akan ada, jika industri senjata tidak ada. Kedua, perang dan terorisme itu cuma bikinan orang-orang yang gila kekuasaan dan gila harta. Ketiga, dalam perkara perang dan terorisme, hati-hati, tak usah ngotot menganggap ini malaikat dan itu setan. Sebab ini atau itu bisa sama gobloknya.

Karena itu, sekali lagi kami tegaskan, demikian Derkuku menutup pidatonya- sudah logis jika rakyat tidak takut teroris. Rakyat tahu, teroris itu selalu pengecut, keblinger dan dungu. Sama sekali tidak ada harganya untuk ditakuti.

L Murbandono Hs,

Warga negara RI tinggal di Hilversum, Nederland

Sumber: Harian Surya, Surabaya, 4 November 2002

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: