Home > L Murbandono Hs > RINDU AIR RINDU SUNGAI RINDUKAN ANARKI SEJATI

RINDU AIR RINDU SUNGAI RINDUKAN ANARKI SEJATI

Oleh: L Murbandono Hs

Saat sungai rindu air, ia cuma melihat bulan, langit, mega dan Tuhan. Di sela-selanya meleleh gejolak tragedi yang menyayat hati. Manusia-manusia berdasi dan atau bergincu tebal, naik jet dan membawa-bawa bom di pinggangnya. Semua! Lho? Kok telanjang?

Saat sungai rindu air, sakit hati, menyaksikan seabrek berhala masih dijilati sekujur tubuhnya oleh segala satwa apa pun jenisnya. Apa pun profesinya. Sebagian penjilat meletus perutnya, kekenyangan suap, menyebarkan dolar bercampur nanah dan rupiah, menjadi rebutan manusia-manusia berkepala cacing.

Saat sungai rindu air, matanya jumpalitan ke mana-mana, terpuruk ke tepian kawasan berjuta warna. Pinggiran jurang menyala. Nyala api atau nyala kunang-kunang, indah atau brengsek, dia tidak tahu. Nyala neraka atau nyala surga? Dia makin tidak tahu. Dan apa pula pedulinya pada dua butir dadu perjudian, yang tak berdampak nyata bagi jagat nyata tempatnya hidup, selain bahan nyamikan basa-basi yang sedap belaka.

Saat sungai rindu air, kepalanya jadi pusing lalu bengkak kemudian meletus dan menjadi keping-keping entah, tempat segala-gala bercampur aduk. Para nabi menangis. Dewa segala jenis dewa ajojing. Kitab Suci, kitab indah, kitab jelek, kitab jorok, kitab baru, kitab hitam, kitab mahal, kitab asli, kitab jiplakan, kitab sekolah, kitab di halte, kitab picisan, kitab impor, kitab terlarang, kitab wajib, kitab segala kitab, kitab-kitab kakekku yang dibakari orang, kitab apa saja termasuk kitab porno lucah cabul yang entah apa namanya, semua maunya minta dibaca, jumlahnya bergudang-gudang dan tak satu pun merdeka dari keterbatasan insani, masih bisa abadi dimacam-macami, menjadi fondasi gebuk-gebukan semua kaum yang otaknya terbuat dari plastik, robot, racun, virus, dan dogma-dogma primitif yang amat sayup-sayup dari akal sehat.

Saat sungai rindu air, sekian letup arus mantra mengandung uap setan. Berhamburan. Para robot dan kloning menunjukkan taringnya di riak gelombang sibernetika dengan gagahnya, kuat, perkasa, sexy, cantik, sensual, sambil menebarkan jala-jala raksasa kisah-kisah cinta yang berbaur dengan kekecewaan, kegilaan, bunuh diri, pembunuhan, pemerkosaan dan pengadilan yang penuh dengan ular berbisa, raksasa, raksesi, biawak, dan tukang sihir.

Saat sungai rindu air, pohon-pohon pisang meratapi bulan, barisan perawan dan perjaka merobek-robek dan membakar layar teater, tempat persembunyian semua orang gedean. Sedang bermesraan. Saat tertangkap basah menjadi luar biasa lembut dan manisnya, nggak ketulungan merem-meleknya, sambil nangis atau pura-pura, nyanyi, tertawa, tersenyum, diam, bicara nggak nggenah, dan tidur. Maka logis belaka banyak orang setengah atau seperempat gedean menjadi jempolan, kayak jempol cerutu. Semua meludah dan kencing di sembarang tempat, lalu tanpa malu-malu memperlihatkan penis dan vagina mereka yang lelah,menangis, menghiba-hiba, dibebani 1001 jenis kemunafikan yang tak mungkin tertanggungkan oleh masadepan.

Saat sungai rindu air, alam menjadi ayah, ayah menjadi ibu, ibu menjadi tiri, tiri menjadi kandung, kandung menjadi minggat, minggat menjadi istri, istri menjadi ratu, ratu menjadi hantu, hantu menjadi suami, suami menjadi kucing, kucing menjadi tikus, tikus menjadi paman dan bibi dan segala sebutan keluarga besar, semua menjadi dinamika yang amat kucel, lalu akhirnya menjadi aku. Menjadi kamu juga?

Maka sungai dilarang keras rindu air! Sungai pun patuh. Lalu air rindu sungai.

Saat air rindu sungai, menjadi kolam, menjadi telaga, dan menjadi laut. Laut rindu ikan. Ikan rindu akuarium. Akurium rindu kaca. Kaca rindu cermin. Cermin rindu wajah. Wajah rindu salep. Salep rindu luka. Lukarindu pisau. Pisau rindu perut. Perut rindu bunuh. Bunuh rindu culik. Culik rindu tentara. Tentara rindu jendral. Jendral rindu bintang. Bintang rindu polisi. Polisi rindu partai. Partai rindu duit. Duit rindu pengadilan. Pengadilan rindu hakim. Hakim rindu jaksa. Jaksa rindu advokat. Advokat rindu kita. Kita rindu tempeleng. Tempeleng rindu maharaja. Maharaja rindu surga. Surga rindu neraka. Neraka rindu gebuk. Gebuk rindu MPR. MPR rindu banteng. Banteng rindu DPR. DPR rindu tanduk. Tanduk rindu kabinet. Kabinet rindu mulut. Mulut rindu haus. Haus rindu air. Air rindu sungai.

Saat air rindu sungai, maka di langit terlukis sejuta bintang, bintang menatap bulan, bulan menangisi bumi, bumi menantang banjir, banjir menyebar rezeki, rezeki dicaplok gedung bertingkat, gedung bertingkat membakar sungai, sungai dirayu buaya, buaya meneror bank, bank memuntahkan kertas-kertas, kertas-kertas mendatangi kantor-kantor, kantor-kantor menagih janji, janji mengingkari rakyat, rakyat meminta hak, dan hak meminta rindu. Dan rindu meminta air, yang masih saja merindukan sungai.

Maka, air rindu sungai, sukar dilarang. Dia terus merindu. Sungai tersetrum. Tak mau dilarang-larang merindu. Akibatnya air dan sungai saling merindu, lalu ketemu, entah kawin atau kumpul kebo, lalu melahirkan secercah anarki yang berkilauan. Menjadi cahaya, bunga, puisi, persembahan, dan seribusatu aroma kasih.

Saat air rindu sungai dan sungai rindu air

Anarki menjadi tunas putra putri harapan

Bagi yang terpanggil terpilih untuk mengerti

 

Yang mengerti berbahagialah karena mengerti

Yang tidak mengerti ya silakan tidak mengerti

 

Sebab anarki sejati cuma dimengerti

Oleh mereka yang mampu mengerti

Hingga tidak menggunakan kata anarki

Tanpa mengerti betul apa artinya anarki

 

Hilversum, Mei 2002

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: