Home > L Murbandono Hs > Rokok dan Manusia

Rokok dan Manusia

Oleh: L Murbandono Hs

ROKOK sebagai bagian peradaban manusia telah lama mengundang pro-kontra di seluruh dunia, juga di Tanah Air. Hari-hari ini fatwa haram merokok mengundang kontroversi tanpa titik temu. Mengharapkan titik temu semua umat manusia di bumi dalam soal rokok adalah iman dan cinta yang sia-sia.

Dalam peradaban dengan sisi eksistensial manusia sebagai kunci, fatwa haram merokok sejatinya hanya bagian arus besar antirokok yang sudah lama bergulir. Yang telah terjadi di sejumlah negara maju misalnya promosi kesehatan, bantuan bagi yang ingin berhenti merokok, perlindungan bagi yang tidak merokok, menaikkan cukai rokok, pengaturan iklan rokok, penelitian di banyak sektor rokok, dan lain-lain. Dalam rangka ini, Indonesia sudah memiliki UU Antirokok bersama 191 negara anggota WHO lainnya.

Argumen antirokok amat banyak dan sudah menjadi klasik. Misalnya merokok itu bunuh diri pelan-pelan dan menjerumuskan orang lain menjadi perokok pasif (tahun 1981 di Jepang ada penelitian besar tentang masalah ini). Gara-gara rokok ekonomi dunia merugi lebih 200 miliar dollar AS tiap tahun. Merokok mengundang maut, bikin impoten, bikin miskin, menyebabkan TBC, merusak paru (sudah dikatakan filsuf Tiongkok Fang Yizhi pada tahun 600), membuat luka lambung, merusak hati dan jantung, biang kanker. Rokok membuat kita bau, lemas, kurus, dan bisa menyulut kebakaran. Asap rokok mengandung sekitar 4000 zat kimia, sebagian beracun, menyebabkan polusi udara yang dahsyat.

Namun, argumen kubu perokok juga banyak. Misalnya merokok membantu berpikir, memacu daya cipta, menenangkan saraf, membuat santai pergaulan, menghilangkan rasa lelah dan sedih, berbagi rokok merupakan tanda keakraban dan penerimaan, membuat perasaan makin sehat dan seimbang dan sebagainya. Terhadap UU dan peraturan yang membatasi hak mereka, kubu perokok berpendapat bahwa UU Antirokok itu tidak adil, tidak manusiawi, melanggar privacy, antipluriformitas ekspresi hidup, tidak alamiah, diskriminatif sebab memihak kubu satu sambil menafikan kubu lain.

Punya Pengikut Dua kubu itu sama kuat. Mustahil menafikan salah satu! Sikap atas rokok mirip sikap atas agama? Bagi kubu antirokok, tentu saja ‘’agama’’ rokok adalah takhyul yang harus dibasmi dengan ayat-ayat kedokteran, psikologi, ekonomi, demografi, hukum dan lain-lain. Ternyata tidak mudah! Seaneh apa pun suatu ‘’agama’’, ia punya penganut. Pengikut ‘’agama’’ rokok saat ini di dunia sekitar 1,3 miliar orang, lebih dari 200 juta adalah perempuan. Diramalkan, tahun 2030 akan ada 1,6 miliar perokok (15% di negara maju dan 85 persen di negara-negara miskin), dengan 10 juta kematian tiap tahun (70% di negara berkembang) gara-gara rokok dan pada tahun itu 770 juta anak menjadi perokok pasif.

Apa yang sebenarnya terjadi? Tak lain lebih setengah abad misi antirokok tak menghasilkan transformasi budaya apapun dalam proses peradaban. Nyaris tak ada status-questionis filosofis yang jitu menyoal jagat rokok. Yang terjadi baru menyangkut masalah permukaan secara kuantitatif, empiris, fenomenologis, informasional, formal-legal, acapkali dengan ‘’pemaksaan’’ rezim-rezim doktriner tertentu (sehingga di sana sini masih memuat persoalan objektivitas dalam dirinya sendiri). Ini menyangkut tiga butir besar.

Pertama, kelahiran informasi babon. Tahun 1950 sudah terbit dua publikasi utama tentang hasil penelitian dampak buruk merokok bagi kesehatan. Sejak itu, informasi mengenai bahaya rokok makin banyak.

Kedua, pertambahan kuantitas info perihal kenegatifan rokok. Menurut WHO, rokok menyebabkan 3,5 juta kematian tiap tahun atau 10 ribu kematian tiap hari. Di AS, tiap tahun sekitar 346 ribu orang tewas gara-gara rokok. Di Indonesia, yang menduduki peringkat ke-4 jumlah perokok terbanyak dunia dengan jumlah perokok sekitar 141 juta orang, gara-gara rokok, sekitar 57 ribu meninggal dan sekitar 500 ribu menderita berbagai penyakit.

Ketiga, bahaya dampak keajegan pola merokok. Menurut Bank Dunia, dengan pola merokok saat ini, 500 juta orang terancam nyawanya. Lebih setengahnya anak-anak dan remaja. Kalau saat ini epidemi penyakit kronis dan kematian dini masih terjadi di negara maju, dengan peningkatan jumlah perokok di negara berkembang, tahun 2020 situasi akan terbalik. Tujuh dari 10 orang yang mati akibat rokok akan terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Tiga butir besar tersebut tetap belum menyoal perkara dasar rokok —tanpa rokok— dengan manusia sebagai ”entitas” korelasi. Ini makin membuka tabir kerancuan seluk-beluk rokok di ranah publik. Soal dasar antirokok bukan rokok atau perokok, melainkan bagaimana perilaku merokok di kawasan publik. Data-angka-info kejelekan rokok memang fakta kemanusiaan. Tapi ‘’kesulitan’’ para perokok yang ingin memanusiakan diri secara optimal dengan rokok juga fakta kemanusiaan.

Secara moral, menjadi perokok atau antirokok, sebagai gejala peradaban dalam rangka fitrah kemanusiaan, adalah masalah pilihan pribadi. Secara sosial, UU dan peraturan macam apapun diberlakukan, masalah rokok akan terus marak, selama tembakau, cengkih, seluruh bahan baku rokok, kiprah niaga industri rokok, dan pajak atas mereka tetap bergulir sinergis —melibatkan deret panjang apa-siapa saja dari hulu sampai hilir— sehingga menciptakan mata rantai saling ketergantungan yang tidak bisa diputus.  (10)

L Murbandono Hs,

Peminat dan pengamat peradaban, tinggal di Ambarawa, Kabupaten Semarang

Sumber: SUARA MERDEKA, 29 Maret 2010

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: