Home > L Murbandono Hs > Saat Musim Sedang Setan

Saat Musim Sedang Setan

Oleh L Murbandono Hs

Pohon-pohon merangsang

Hutan-hutan tenggelam

Teriakan-teriakan kuburan

Berpesta pora di katulistiwa

Manakala musim sedang setan dan cuaca sedang iblis dan udara sedang terkutuk, maka wajar belaka jika bagai sulapan sebuah negara ujug-ujug sudah dikuasai secara tidak nggenah oleh 1001 jenis kaum sontoloyo yang meski tidak semua tapi rata-rata tanpa celana dan atau tanpa rok alias telanjang, sehingga penis dan vagina dan entah apa mereka melambai-lambai dengan amat jenaka. Jenaka? Ya! Sebab kesimpang-siuran kelamin yang jelas jenisnya mau pun nggak nggenah modelnya itu tiap hari dipamer-pamerkan ke mana-mana dan tampak repot sekali digelantungi segala jenis pabrik, bank, saham, obligasi, kasak-kusuk, kongkalikong, dolar, teror, darah, peluru, bom, kuburan masal, istana, kolam renang, kapal pesiar, tukang kepruk dan lain-lain sejenisnya

Sebab langit sedang setan dan bumi sedang iblis dan negara sedang lucifer, maka jika seekor ketimun kaliber raksasa terbebas entah dari tahanan atau dari penjara, adalah biasa. Sekalipun semua akal waras menjadi gundah, marah, atau berduka akan tetap percuma, sebab segala jenis ular dan ketonggeng dan virus yang terkait di dalamnya sudah saling jilat menjilat dan onani dan berzinah dan saling bertukar dusta, sehingga mereka semua orgasmus terus selama punya akses memberaki hokum formal dan mengencingi prosedurnya, sambil asyik mencabuli kekuasaan munafik yang terus mereka dekap sekuat tenaga sehingga urat atau syaraf mereka menjadi sowak, kiwir-kiwir, dan jebol semua.

Langit sedang setan dan bumi sedang iblis! Lihatlah dubur-dubur mereka! Sebab tiap hari bercabul dengan dusta dan tipu dan beronani dengan lidah yang dipelintir-pelintir, kenyang memakan kemunafikan, minum sejuta kedurhakaan, dan mabuk segala jenis keterkutukan, kini sudah memanjang dan melingkar-lingkar menjerat seluruh katulistiwa!

Gara-gara musim tak mau juga berubah dan cuaca tetap saja mengandung lucifer maka logis belaka jika di langit tetap saja terjadi tontonan mesum yang amat primitif – dengan tetek-bengek alasan yang paling gombal mutunya begitu banyak orang gedean yang sontoloyo mentalnya saling gontok-gontokan, tuduh menuduh sendiri, adu otot sendiri, saling kibul dan saling tipu, maling teriak maling, preman teriak preman, lalu setelah keributan yang amat menjijikkan itu mereka lalu saling memakan lendiri-lendir yang keluar dari segala jenis lubang yang mereka miliki.

Saat langit sedang setan dan bumi sedang iblis sehingga negara sedang lucifer itulah, maka kita harus menonton mereka rapat, sidang, lobi, makan minum, tersenyum-senyum, pidato, kotbah, seminar, fatwa-fatwa, konperensi, dan lain-lain aktifitas sejenis itu yang intinya adalah melakukan perbuatan mesum. Setelah itu dan hampir selalu, kemudian mereka semua meludahi wajah kita semua. Dan lebih sial lagi, segala jenis pers media entah cetak atau elektronik atau sibernetik yang tidak sedikit masih asyik merem melek keenakan dicabuli duit dan atau sudah terbiasa ketakutan diancam pelor lalu jadi latah ikut-ikutan menyebarkan kebusukan perbuatan mesum tersebut. Maka sempurnalah ludah-ludah tersebut berpesta-pora tersemprot-semprot ke wajah kita semua.

Sebab wajah kita semua sudah berlepotan dengan ludah, yang sialnya kita tidak tahu entah ludahnya siapa, sebab tertumpah dari langit, maka jangan kaget atau menjadi pingsan jika penjara bisa diubah menjadi istana sebab duit itu enak sekali yang enaknya melebihi air zam zam dan ayunya melebihi segala dewi di kahyangan atau di surga.

Sebab wajah kita semua sudah diludahi, jangan biarkan hati terluka, ketika menonton segala jenis lidah terjulur-julur memamerkan pelor dan mesiu, sambil cengengesan berdansah-dansah, menyebut-nyebut nama Tuhan Allah Dewa Segala Zaman, berkaok-kaok gembar-gembor soal nasionalisme murahan (yang intinya mengentuti nasionalisme yang sejati) dan tetek bengek yang tidak masuk akal, lalu tiba-tiba memlotrokkan celana atau rok atau sarung atau kebaya, lalu mengencingi segala macam jenis aturan kenormalan akal sehat dan memberaki segala model tatakrama peradaban yang patut.

Tiba-tiba petir menyambar-nyambar

Sebagian menendang gundhulku

Yang serasa sudah mau njebluk.

Sebab otak dan jari-jariku marah sekali dan maunya memaki-maki melulu maka Derkuku sahabatku, satu-satunya makhluk tempatku mengadu, ujuk-ujuk menjambak rambutku. Aku berhenti mengetik.

“Jangan menulis dengan benci!” bentaknya. “Tulislah dengan cinta! Dengan otak dan jari-jarimu!”

Aku menurut. Coba sekuat tenaga menulis dengan cinta. Tentu saja tidak bisa lain, kecuali cuma dengan jari-jari. Sebab, di sebuah situasi obyektif manakala langit sedang setan dan bumi sedang iblis dan negara sedang bercuaca lucifer, otak sudah tidak bisa digunakan lagi. Tapi nyatanya, aku bisa terus mengetik. Seperti sulit dibendung. Entah nafsuku atau keringatku atau surgaku atau nerakaku atau pori-poriku begitu menggebu-gebu, membuat aku ingin mengetik terus, sampai nanti entahku, menjadi puas. Siapa tahu fondasi dan enersi yang mengerakkan jari-jariku itu memang bukan otakku. Bagaimana jika ternyata otak lucifer atau hati iblis atau suksma setan? Kalau pun iya, apakah lalu keliru, di zaman yang sedang musim setan dan bercuaca iblis plus berhawa lucifer semacam sekarang?

Maka aku mengetik terus. “Jika sebuah negara masih dipercayakan kepada makhluk-makhluk berhati batu, tidak tahu malu, ndablek, bermental comberan, jago dusta, maka bukan hal yang aneh jika segala-gala amburadul, dan ….” Aku terhenti mengetik, sebab tiba-tiba Derkuku tertawa. Aku terganggu, bertanya, mengapa? Dia menjawab, sebab geli melihat fondasi dan enersi yang menggerakkan jari-jariku. Apakah itu? Derkuku mengangkat bahu dan berkata, “Lihat dirimu sendiri!”

Aku menurut, bercermin, melihat diriku sendiri. Iya! Aku pun telanjang. Tapi memangnya kenapa?

“Lihat itu!” teriak Derkuku sambil menunjuk sekitar pangkal depan pahaku. Lalu dia terbahak-bahak.

Aku menurut dan mengamat-amati apa yang ditunjukkannya. Aku kaget. Ternyata kelaminku sudah tidak ada! Hilang tak berbekas. Ke mana dia pergi? Dengan fondasi dan enersi macam apa aku mengetik ini semua? Padahal, otak pun sudah mustahil digunakan. Aku lalu terkekeh-kekeh.

L Murbandono Hs

Rakyat Biasa Warganegara RI

 

Categories: L Murbandono Hs
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: